
"Arsen? Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Suci sedikit gugup.
"Maaf, Bu. Tengah malam tadi aku pindah ke kamarku."
"Kenapa kamu pindah? Katanya ingin tidur sambil dipeluk ibu."
"Tempat tidurnya sempit."
"Bukan tempat tidurnya yang sempit, tapi kamu yang tidak bisa diam saat tidur," ucap Suci.
"Masa sih, Bu."
"Kamu tidak tahu karena kamu sedang tidur."
"He … he … he. Arsen menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"Ayah … Ibu … shalat Subuh berjamaah yuk," ajak Arsen.
"Ya, Nak. Kamu tunggu di luar ya, ibu siap-siap dulu."
Suci beranjak dari tempat tidur lalu mengambil sebuah handuk dari dalam lemari pakaiannya.
"Kenapa kamu mengambil handuk?" tanya Ray.
"Ehm … aku mau mandi. Tadi kita 'kan sudah anu, …"
"Anu apa? Kita belum ngapa-ngapain. Jadi kamu tidak perlu mandi sebelum shalat Subuh." Ray terkekeh menertawai kepolosan istrinya.
"Oh, begitu ya. Aku pikir kita sudah melakukan hubungan suami-istri, jadi harus mandi wajib dulu."
"Adegan itu 'kan tadi terjeda iklan." Kali ini keduanya tertawa bersamaan.
"Ayo cepat kita keluar, Arsen sudsh menunggu," ucap Suci.
Keduanya pun lantas meninggalkan kamar.
"Mbak Siska … bangun, shalat Subuh," ucap Arsen saat ia melintasi kamar Siska.
Tidak ada jawaban.
"Mbak Siska …shalat Subuh dulu." Bocah laki-laki itu mengulangi ucapannya.
"Mungkin mbak Siska shalat Subuh di dalam kamarnya, Nak," ucap Suci
Tidak lama kemudian pintu kamar mbok Asih terbuka.
"Selamat pagi, Mbok," sapa Arsen.
"Selamat pagi. Tuan muda sudah bangun ya."
"Iya, Mbok. Aku 'kan mau shalat Subuh berjamaah bersama ayah dan ibu."
"Masyaallah, anak sholeh. Mari, mbok juga mau shalat Subuh."
Mereka pun lantas menuju mushola kecil yang berada di bagian belakang rumah.
****
Seperti hari-hari biasanya, Siska baru keluar dari dalam kamarnya setelah pekerjaan rumah selesai dan sarapan sudah terhidang di atas meja makan.
"Maaf, aku bangun terlambat."
"Bukankah sudah menjadi kebiasaanmu bangun paling siang," sindir mbok Asih.
"Tadi waktu Subuh aku juga bangunin Mbak Siska loh, tapi Mbak Siska diam saja," timpal Arsen.
"Seharusnya kamu malu,anak sekecil Arsen saja mau bangun pagi dan ikut shalat Subuh," ujar Ray.
"Baiklah, mulai besok aku janji akan bangun lebih pagi, jika perlu semua pekerjaan rumah sudah selesai di saat kalian bangun," Siska menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.
"Kami perlu bukti, bukan janji," ujar mbok Asih.
"Kamu mau sekalian sarapan juga, Sis?" Suci menyodorkan sebuah piring pada Siska.
"Boleh." Siska meraih piring itu lalu menuangkan nasi ke dalamnya.
"Mbok, ambilin ayam kecap nya dong."
"Ambil saja sendiri! Masih punya tangan 'kan?" ucap mbok Asih ketus. Dia lantas meninggalkan meja makan.
"Ini ayam kecapnya," ucap Suci seraya menyodorkan wadah berisi lauk itu pada Siska.
__ADS_1
"Ehm … Ibu. Setelah ini kita menghafalkan puisi yang semalam itu ya," ucap Arsen.
"Iya, Sayang."
"Puisi apa sih kok dihafalkan?" tanya Siska penasaran.
"Puisi yang akan kami bacakan di acara pentas seni sekolah," jelas Suci.
"Kenapa nggak menyanyi atau memainkan alat musik? Uppss. Pasti nggak bisa dua-duanya ya. Ehm … Tuan muda, kalau sama mbak Siska nggak bisa ya? Mbak Siska bisa menyanyi dan memainkan alat musik loh."
"Ibu guru bilang acara pentas seni itu hanya untuk siswa dan keluarganya. Mbak Siska 'kan bukan keluargaku."
"Ya sudah kalau nggak boleh," gerutu Siska kesal.
"Aku sudah selesai," ucap Ray. Dia lantas meneguk minumannya yang tinggal separuh.
"Hari Minggu begini Mas tetap berangkat ya?" tanya Suci.
"Ya. Aku harus meninjau lokasi proyek baru di luar kota. Oh ya, ini uang kebutuhanmu dan Arsen selama satu bulan." Ray mengambil sebuah amplop dari dalam koper nya lalu memberikannya pada Suci. Dari ketebalannya bisa dipastikan jika jumlahnya tidaklah sedikit.
"Terima kasih, Mas. Aku akan mengatur uang ini sebaik mungkin."
Ray mengulas senyum tipis.
"Aku percaya kamu bukan perempuan yang boros dan suka menghambur-hamburkan uang."
"Enak sekali jadi Suci. Punya suami kaya, pengertian, tidak pelit lagi. Sementara aku, mau beli ini itu saja harus jalan sama pria tua bangka macam si Freddy itu," batin Siska.
"Aku berangkat kerja dulu."
"Hari-hati, Ayah."
Setelah menyalami Suci dan Arsen secara bergantian, Rayyan pun lantas meninggalkan ruangan itu.
"Kamu sudah selesai sarapan 'bukan? Sekarang cuci piring-piring dan gelas ini, lalu bersihkan halaman belakang," suruh mbok Asih pada Siska.
"Iya … iya. Tidak perlu diperintah, aku sudah tahu kalau habis makan ya cuci piring dan gelas," gerutu Siska sebal.
"Siapa tahu setelah sarapan kamu mau bermalas-malasan lagi di kamar."
Meski sambil menahan kesal, Siska mulai mengumpulkan perabotan kotor di atas meja lalu membawanya ke dapur. Dari ruangan itu bisa terdengar dengan cukup jelas jika Siska mencuci perabotan itu itu dengan terpaksa.
"Aku dan Arsen ke ruang tamu dulu ya, Mbok. Mau menghafalkan puisi," ucap Suci.
"Ya, Nduk. Mbok mau mengumpulkan baju kotor."
Mbok Asih beranjak dari ruang makan menuju kamar utama, sementara Suci dan Arsen berjalan menuju ruang tamu.
"Cinta tanpa tapi. Puisi oleh Arsen dan Suci." Arsen mulai membaca puisi yang dibuat sang ayah untuk acara pentas seni di sekolahnya besok.
"Cinta … satu kata sejuta makna." Giliran Suci membaca baris pertama.
"Ehm … bagus juga puisinya," batin mbok Asih.
****
Sementara itu di rumah Freddy.
"Sampai kapan kamu akan mendiamkan ayah?" ucap Freddy pada Kinara di sela sarapan mereka.
Kinara membisu. Ia lebih memilih memainkan ponselnya.
"Percayalah, ayah melakukan ini bukan tanpa alasan. Ayah ingin ada yang melayani ayah dan mempersiapkan semua keperluan ayah."
"Ada bi Marni 'bukan? Selama ini bibi yang menyiapkan segala kebutuhan Ayah."
"Bukan kebutuhan yang itu, Nak. Tapi, …"
"Jangan bilang Ayah ingin menikah lagi karena ingin memiliki anak."
"Kalau boleh jujur, ayah memang menginginkan anak laki-laki. Dia lah yang kelak akan ayah persiapkan sebagai penerus bisnis ayah."
"Aku ini anak kandung Ayah. Kenapa Ayah tidak percaya padaku?"
"Kamu anak perempuan. Kamu harus menikah dengan laki-laki kaya. Ayah tidak akan rela jika suamimu itu hidup dari hasil bisnis ayah."
"Aku benar-benar tidak paham dengan cara berpikir Ayah." Kinara beranjak dari tempat duduknya lalu mengenakan jas dokter miliknya.
"Aku berangkat sekarang," ucapnya. Dokter muda itu pun lantas meninggalkan ruang makan.
"Kinara, Kenapa kamu keras kepala sekali, Nak?" gumam Freddy.
__ADS_1
****
Di sebuah rumah sakit.
"Pagi-pagi begini wajahmu sudah kusut. Siapa yang membuatmu kesal, Ra?" tegur Rindi, kawan dokter Kinara.
"Ayahku."
"Kenapa dengan ayahmu?"
"Dia ingin menikah lagi dengan gadis yang usianya lebih muda dariku."
"Apa?!"
"Apa ucapanku kurang jelas?!"
"Aku hanya kaget, Nona dokter. Kenapa ayahmu tiba-tiba ingin menikah lagi? Aku pikir di usianya sekarang beliau sudah tidak berpikir ke arah sana."
"Entahlah, aku juga tidak habis pikir kenapa ayah tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk menikah lagi."
"Gadis itu anak kuliahan ya, Ra? Atau puteri salah satu rekan bisnisnya?"
"Masih mending kalau anak kuliahan atau puteri pengusaha. Gadis yang akan dinikahi ayah adalah seorang asisten rumah tangga."
"Apa, Ra? Asisten rumah tangga? Apa aku tidak salah dengar?"
"Gadis itu memang seorang pembantu alias babu."
"Astaga. Memangnya di dunia ini persediaan gadis sudah menipis, sampai-sampai pengusaha seperti ayahmu ingin menikahi seorang pembantu."
"Aku bahkan sudah memberi pilihan, putuskan hubungan dengan gadis itu atau aku yang akan pergi."
"Lantas? Mana yang dipilih ayahmu?"
"Ayahku tetap bersikeras menikahi gadis itu."
"Sepertinya ayahmu benar-benar sudah dibutakan cinta. Aku jadi penasaran, seperti apa wajah gadis itu."
"Sepertinya aku harus mulai mencari tahu siapa gadis itu. Aku berharap dia mau mundur setelah aku memaksanya agar menjauhi ayahku," ucap Kinara.
"Oh ya, bagaimana kabar duda tampan itu?" Tiba-tiba Rindi mengalihkan pembicaraan.
"Rayyan maksudmu?"
"Memangnya siapa lagi duda idamanmu?" Rindi terkekeh.
"Rayyan sudah menikah."
"Hah?! Kapan dia menikah? Dan siapa perempuan yang menjadi istrinya?"
"Ray menikahi pengasuh anaknya sendiri."
"Kamu pasti bercanda 'kan, Ra?"
"Buat apa aku bercanda. Aku mendengar pengakuannya langsung dari Ray. Bahkan aku bisa melihat bagaimana kedekatan Arsen dengan ibu barunya itu."
"Ckckck. Aku semakin heran, ada apa dengan hati para lelaki? Apa sekarang sedang menjadi trend, pengusaha menikahi pelayan?"
"Entahlah, aku pusing memikirnya. Aku harus ke kamar pasien sekarang," ucap Kinara.
"OK, sampai nanti."
Kinara pun lantas berlalu dari hadapan Rindi lalu memasuki sebuah kamar perawatan pasien.
****
Di rumah Sean.
"Kita sudah jatuh miskin sekarang. Apa ku tidak berpikir untuk kembali ke rumah Ray lagi?" ucap Sean pada istrinya, Sofia.
"Aku pun mulai berpikir bagaimana caranya agar kau bisa kembali ke rumah itu lagi."
"Memangnya apa rencanamu?"
"Yang jelas aku tidak akan menggunakan cara kasar seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya.
"Lantas?"
"Aku sudah menyiapkan cara yang begitu halus agar aku bisa kembali memasuki istana itu," ujar Sofia.
Bersambung …
__ADS_1