
"Permisi, Tuan. Apa kita bisa bicara sebentar?" ucap Ray pada pria yang baru saja keluar dari bangunan berlantai dua itu.
Pria itu pun lantas mengamati penampilan Ray dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Meski beberapa jam yang lalu sempat bertemu, tentu saja pria itu tak mengenali Ray dengan penampilan barunya yang mengenakan kumis dan jambang serta kacamata berwarna hitam.
"Maaf, apa kita pernah bertemu?"
"Kita memang belum pernah bertemu sekali pun. Oh ya, saya adalah pria kesepian. Ada teman yang menyarankan untuk mendatangi tempat ini. Menurut Tuan bagaimana pelayanan di tempat ini?"
Pria itu mengacungkan jempolnya.
"Saya puas sekali dengan pelayanan panti pijat plus-plus ini. Selain cantik, gadis-gadis di dalam sana tidak keberatan saya ajak main asalkan saya memberi uang tips."
"Astaga! Ternyata benar, tempat ini bukan salon kecantikan, melainkan panti pijat plus-plus. Aku harus segera masuk ke dalam untuk mengajak Murni meninggalkan tempat itu," batin Ray.
"Oh ya, Tuan. Istimewa nya tempat ini, Tuan bisa "bermain" dengan tiga orang sekaligus."
"Terima kasih atas informasinya. Saya tidak sabar lagi ingin segera masuk ke dalam."
"Sekali datang ke sini, saya jamin anda akan ketagihan," bisik pria berdasi itu.
"Mari, Tuan." Ray pun lantas melangkahkan kakinya menuju panti pijat plus-plus berkedok salon kecantikan tersebut. Kedatangannya disambut ramah oleh sang asisten pribadi yang bernama Eva itu.
"Selamat siang, Nona," sapa Ray.
"Selamat siang." Diam-diam Eva mengamati penampilan Ray yang baginya begitu "Macho" itu.
"Saya baru pertama kali mendatangi tempat ini. Apa Nona bisa jelaskan apa saja fasilitas yang akan saya dapatkan."
"Anda akan mendapatkan pelayanan istimewa yang belum pernah anda dapatkan di tempat pijit lain."
Tiba-tiba Ray mengedarkan pandangannya di ruangan itu.
"Maaf, di mana saya akan mendapatkan pelayanan? Apa di kamar itu?" Ray mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat.
"Oh, bukan, Tuan. Kamar itu adalah kamar karyawan. Kamar Tuan ada di lantai dua."
"Ehm! Saya begitu haus. Apa boleh saya meminta air mineral?"
"Tentu saja. Tunggu sebentar, Tuan. Saya akan mengambilnya untuk anda." Eva beranjak dari ruang depan lalu berjalan menuju kamar yang diperuntukkan bagi karyawan itu. Ia pun memutar gagang pintu lalu mendorongnya. Rupanya kamar itu tidak dikunci. Tak ada yang mencurigakan dengan kamar itu. Di dalamnya hanya tampak selembar kasur busa tipis, sebuah lemari plastik, serta tiga buah tas yang berada di sudut ruangan.
"Tunggu! Ada tiga buah tas berukuran besar di dalam sini. Apa mungkin ini tas milik Murni dan kedua kawannya?" batin Ray. Ia pun mengeluarkan ponselnya lalu memotret tas tersebut untuk kemudian dikirimkan pada Suci.
Ray harus kembali pada tempatnya sebelum Eva datang dan melihatnya membuka pintu kamar tersebut.
"Silahkan minumannya, Tuan," ucap Eva sembari meletakkan sebuah botol air mineral di hadapannya.
__ADS_1
"Terima kasih. Maaf merepotkan."
"Ah, tidak kok."
Ray membuka segel pada botol itu lalu membuka tutupnya. Ia pun lantas meneguknya hingga tinggal separuh.
"Kalau boleh saya tahu ada berapa orang karyawan di tempat ini?"
"Ada sekitar 20 orang, Tuan."
"Dari dua puluh orang karyawan, apa hanya ada satu kamar saja?"
"Hampir semua karyawan adalah warga lokal. Boss sudah menyediakan tempat kost khusus bagi mereka. Kamar yang di sebelah sana hanya bagi karyawan baru yang masih dalam tahap percobaan."
"Aku semakin yakin Murni dan kedua kawannya benar-benar berada di tempat ini," batin Ray.
"Ah, kenapa kita jadi membahas hal yang tidak penting. Ehm … apa Tuan ingin masuk ke kamar sekarang?"
Jantung Ray berdebar. Meskipun ia hanya berpura-pura, tetap saja ia merasa panik lantaran ini pertama kali baginya mendatangi tempat prostitusii.
"Ehm … boleh."
"Mari saya antar ke lantai dua."
Eva mulai mendekati tangga, Ray di belakangnya mengekor. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada sebuah ruangan yang berada di belakang sana. Lebih mirip sebuah dapur. Dari pintu dapur yang sedikit terbuka itu dia bisa melihat seorang pria tua tengah berada di luar dan tengah membersihkan kebun.
Ray mendongakkan kepalanya. Entah mengapa ia begitu tertarik untuk melihat apa yang ada di bagian belakang sana.
"Tuan … kenapa anda diam di sana?" tegur Eva saat menyadari jika Ray belum mulai menapaki anak tangga.
"Ah, iya. Tunggu sebentar."
Beberapa saat kemudian keduanya tiba di lantai dua. Tempat praktek pijat beserta pelayanan seksuall plus-plus nya.
"Silahkan anda pilih kamar mana saja yang anda mau."
"Astaga! Bagaimana ini? Mana mungkin aku menyewa kamar di tempat menjijikkan ini?" batin Ray.
Beberapa saat kemudian pintu sebuah kamar terbuka. Sepertinya pintu itu dikendalikan oleh remote control. Tubuh Ray gemetar saat melihat apa yang ada di dalamnya. Tampak tiga orang gadis berpakaian bikinii duduk di atas ranjang dan semua melambaikan tangan ke arahnya.
"Ehm … apa saya bisa menumpang ke toilet sebentar?" tanya Ray.
Dis berharap toilet berada di lantai dasar. Namun Eva justru menunjukkan toilet di dalam ruangan tersebut.
"Setiap kamar dilengkapi dengan toilet, Tuan."
__ADS_1
"Sial! Ini artinya aku harus masuk ke dalam kamar mesuum itu," umpat Ray.
"Oh ya, sistem pembayarannya bagaimana?"
"Anda harus membayarnya di muka. Ini tarif per jam nya." Eva mengambil selembar kertas dari dalam laci meja lalu menyodorkannya pada Ray.
"Astaga! Tarif per jam nya setara dengan aku menggaji lima orang karyawanku," batinnya.
"Ah! Saya baru ingat. Dompet saya tertinggal di dalam mobil. Saya boleh 'kan keluar sebentar untuk mengambilnya?"
"Tapi, Tuan, …"
"Tenang, saya tidak akan lari."
"Ehm … baiklah. Tapi anda harus meninggalkan sesuatu sebagai jaminan."
"Apa yang bisa saya jadikan jaminan? Sementara dompet dan handphone saya tertinggal di mobil."
Tiba-tiba Eva mengamati kacamata Ray.
"Sepertinya kacamata itu bisa."
Ray tidak punya pilihan selain membuka kacamatanya lalu memberikannya pada Eva. Beruntung asisten pribadi itu tidak mengenali mata Ray. Meskipun beberapa jam yang lalu mereka sempat mengobrol panjang lebar.
"Baiklah, saya beri waktu sepuluh menit sebelum kembali ke tempat ini," ucap Eva.
"Kembali? Cukup sekali saja aku masuk ke tempat prostitusii ini," gumam Ray.
"Saya permisi dulu."
Ray pun lantas meninggalkan kamar tersebut. Ia harus cepat-cepat menemui Suci dan memberitahu apa yang sudah ditemukannya di dalam bangunan ini.
Sampailah dia di lantai dasar. Ray yang begitu penasaran dengan bagian belakang bangunan itu pun berjalan perlahan mendekatinya. Di sana ia mendapati seorang laki-laki tua tengah memotong rumput.
"Permisi, Pak Husein ya?"
"Kamu siapa? Dan bagaimana bisa tahu nama saya?" tanyanya.
"Tadi saya sempat mengobrol dengan ibu pemilik warung makan. Beliau bercerita jika orang yang bertugas bersih-bersih di tempat ini bernama pak Husein."
"Begitu rupanya."
Ray mengedarkan pandangannya di kebun belakang itu. Hingga tiba-tiba netranya menangkap dua gundukan tanah di sana. Rasa penasaran sekaligus curiga pun mulai menyeruak.
"Maaf, Pak. Gundukan tanah yang di sebelah sana itu apa ya?" tanya Ray.
__ADS_1
Bersambung …