Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 65


__ADS_3

"Hari ini kamu cantik sekali, Nduk," ucap mbok Asih ketika dia memasuki kamar Ray. Gadis yang biasanya berpenampilan tomboy itu kini terlihat begitu anggun dengan balutan gaun pengantin berwarna putih cerah. Riasan yang tidak begitu tebal justru membuat aura kecantikannya makin terlihat.


"Mbak Suci cantik sekali seperti puteri raja," ucap Arsen dengan mata polosnya.


"Loh, kok manggilnya mbak Suci. Mulai hari ini Tuan muda bolah memanggil Mbak Suci dengan sebutan ibu."


"Oh iya, aku lupa. Mbak Suci kan mau menikah dengan ayah."


Suci menanggapi ucapan bocah laki-laki tampan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Penghulu nya sudah datang. Kamu sudah siap 'kan?" tanya mbok Asih.


Suci menghela nafas panjang sebelum menganggukkan kepalanya.


"Biar aku saja yang menggandeng mbak Suci … eh, Ibu." Arsen meraih tangan Suci lalu mengajaknya menuju ruang tamu.


Sebagai seorang pengusaha sukses, mengadakan pesta mewah bukanlah hal yang sulit bagi Ray. Akan tetapi atas permintaan Suci, acara pernikahan mereka hanya digelar secara sederhana dengan dihadiri dan disaksikan keluarga terdekat saja diantaranya Bimo, ayah kandung Suci sebagai wali nikah, sementara pak Bondan dan seorang lagi dari pihak Kantor Urusan Agama sebagai saksinya.


"Masyaallah, Nduk. Bapak hampir tidak mengenalimu," ujar pak Bimo.


"Ini benar Mbak Suci ya?" Murni sang adik mengamati wajah kakak perempuannya itu dengan seksama.


"Masa kamu pangling sih, Dek sama Mbak."


"Tidak hanya mereka saja, saya juga pangling sama kamu," timpal Ray yang saat itu duduk persis di hadapan penghulu.


Suci menundukkan wajahnya demi menyembunyikan pipinya yang tiba-tiba merona.


"Silahkan duduk, Mbak Suci. Kita akan segera memulai acara ijab qobul nya," ucap bapak penghulu.


Suci pun lantas duduk di samping Ray yang pagi itu terlihat tampan dengan setelan jas berwarna senada dengan gaun yang dikenakannya. Keduanya saling bertukar pandang sesaat sebelum Suci kembali menundukkan wajahnya.


"Ya Allah Gusti, suamiku tampan sekali," batinnya.


"Mas Rayyan sudah siap?" tanya penghulu.


Ray membuang nafas sebelum menganggukkan kepalanya.


Penghulu itu pun lantas menjabat tangan Ray.


"Saudara Rayyan bin almarhum Bayu, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Suci binti Bimo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar seratus juta dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Suci binti Bimo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana, Saksi?


"Sah!"


"Alhamdulillahi robbil 'alamin."


Untuk pertama kalinya Suci menyentuh tangan Ray lalu menciumnya. Dilanjutkan dengan Ray yang kemudian mencium kening Suci. Sementara itu seorang fotografer yang sedari berada di ruangan itu dengan lincah mengabadikan setiap momen yang selama acara berlangsung.


"Ibu," panggil Arsen.


"Ya, Sayang."


"Aku bahagia banget punya ibu sepertimu," ujarnya.


"Ibu juga bahagia bisa menjadi ibu sambungmu," ucap Suci. Dia lantas merengkuh tubuh bocah berusia tujuh tahun itu ke dalam pelukannya.


****


"Kalian tinggal di sini saja," ucap Suci pada sang ayah dan kedua adik perempuannya setelah acara selesai.

__ADS_1


"Maaf, Nduk. Bapak harus kembali ke kampung."


"Bapak tidak perlu bekerja keras lagi. Saya yang akan menjamin kebutuhan Bapak, Murni, dan Fitri." Ray menimpali.


"Ini bukan masalah pekerjaan, Nak. Jika Bapak tinggal di sini, siapa yang akan merawat makam ibunya Suci dan Tini?"


"Bapak benar, Mbak. Mengurus kepindahan sekolah juga tidak mudah. Aku dan Fitri di kampung saja menemani bapak," ucap Murni.


"Tapi, Pak, …"


"Bapak dan adik-adikmu sudah begitu bahagia karena kamu memiliki suami sebaik nak Rayyan. Bapak bisa tenang walaupun harus tinggal berjauhan darimu," ujar Bimo.


"Mbak janji akan sering-sering mengunjungi kalian di kampung," ucap Suci sembari menggenggam erat tangan kedua adik perempuannya.


"Bapak do'a kan semoga kalian berdua selalu diliputi kebahagiaan."


"Aamin. Terima kasih, Pak."


"Ya sudah, kami pamit pulang sekarang."


"Sekarang, Pak?"


"Benar, Nduk. Kedua adikmu sedang tes kenaikan kelas."


"Aku pasti akan merindukan kalian." Suci memeluk kedua adik perempuannya secara bergantian.


"Bapak titip Suci ya, Nak. Jaga dia baik-baik. Mungkin bapak belum pernah memberinya kebahagiaan, jadi bapak harap kamu akan membuatnya selalu bahagia dan tersenyum," ucap Bimo.


"Saya janji akan selalu membuat puteri Bapak bahagia."


"Bapak percaya sama kamu."


"Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum."


Bimo dan kedua adik perempuan Suci pun lantas meninggalkan rumah Rayyan.


"Kenapa Ibu menangis? Ibu sakit ya?" tanya Arsen.


"Ah, tidak kok, Sayang. Ibu tidak sakit. Ibu hanya sedih ditinggalkan keluarga ibu."


"Kenapa Ibu harus sedih? Ibu 'kan sudah punya keluarga baru. Ada aku, ayah, mbok Asih, dan pak Bondan."


"Benar, Nduk. Kami sekarang adalah keluargamu," timpal mbok Asih.


"Aku benar-benar beruntung dipertemukan dengan kalian semua," ujar Suci.


"Ayah … Ibu. Kita jalan-jalan yuk."


"Jalan-jalan kemana?"


"Kemana saja. Aku ingin semua orang tahu kalau sekarang aku sudah punya ibu baru."


"Ehm … bagaimana kalau ke taman?"


"Ya. Setelah itu makan es krim."


"Bagaimana, Suci. Kamu mau 'kan?"


"I-i-iya, Tuan. Eh … aduh apa ya. Pak. Eh … Mas. Ya Allah, ini aku harus manggil siapa?"


"Panggil sayang saja biar romantis," ledek mbok Asih.


"Ah, Mbok ini."

__ADS_1


"Tidak apa, Nyonya. Kan kalian sudah menjadi suami istri."


"Jangan panggil aku begitu."


"Loh, sekarang 'kan kamu sudah menjadi nyonya di rumah ini. Nyonya Rayyan." Mbok Asih terkekeh.


"Pokoknya aku nggak mau dipanggil nyonya. Mbok Sumi panggil saja aku dengan sebutan yang biasanya itu."


"Masa sama istri majikan manggil Nduk. Nggak sopan banget."


"Biarin. Pokonya aku nggak mau bicara sama Mbok Asih kalau memanggilku nyonya."


"Iya, Nduk. Mbok paham."


"Ayo, Yah, Bu. Kita pergi sekarang," rengek Arsen.


"Yang benar saja, masa ayah dan ibu pergi dengan pakaian pengantin begini."


"Oh iya, sampai lupa." Arsen terkekeh.


"Ehm … Mbok," panggil Suci pada mbok Asih.


"Ya, Nyonya."


"Kok nyonya lagi sih."


"Ya, Nduk. Ada apa?"


"Temani aku ke kamar yuk."


"Loh, memangnya kenapa?"


"Aku-aku takut."


"Takut kenapa? Kamar tuan Ray kan sekarang menjadi kamarmu juga."


"Ehm … pokoknya ayo temenin."


Mbok Asih haji hanya bisa pasrah saat Suci menarik tangannya lalu mengajaknya menuju kamar utama.


"Jangan bilang malam nanti kamu minta ditemani lagi di kamar ini."


"Loh, memangnya kenapa?"


"Ya Allah Gusti, Nduk. Masa mbok mengganggu malam pertama kalian." Mbok Asih membungkam mulutnya.


"Apa, Mbok? Malam pertama? Apa itu?"


"Malam pengantin bagi pasangan yang baru saja menikah."


"Memangnya kalau malam pertama ngapain saja?"


"Nanti malam kamu akan tahu sendiri. Mbok permisi dulu, masih banyak pekerjaan di dapur," ucap mbok Asih. Ia lantas beranjak meninggalkan kamar tersebut.


"Kamu beneran nggak tahu istilah malam pertama?" tanya Ray yang tiba-tiba saja berdiri di ambang pintu.


"Ti-ti-tidak, Tuan. Eh … Mas."


"Biar aku kasih tahu." Tiba-tiba-tiba Ray menutup pintu kamar.


"Loh, Tuan mau apa? Jangan dekat-dekat!"


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2