Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 86


__ADS_3

"Bukankah itu Dina? Apa yang dilakukannya di sini, dan kenapa dengan kakinya? Dia 'kan tidak cacat," batin Suci.


"Saya turun di sini saja, Pak," ucap Suci pada pengemudi taksi.


"Baik, Bu."


Setelah membayar ongkos taksi, Suci dan Arsen pun turun dari dalam taksi tersebut lalu menghampiri peminta-minta itu.


"Sedekahnya, Bu," ucap perempuan peminta-minta itu sembari menengadahkan tangannya. 


"Astaghfirullahaldzim! Dina! Kamu Dina 'bukan?"


"Maaf, Dina siapa? Saya tidak mengenal anda."


"Kau tidak usah berpura-pura, kamu Dina dari kampung 'kan? Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mengemis?" cecar Suci.


"Maaf, saya tidak mengenala anda." Perempuan berpenampilan kumuh itu lantas mendorong papan beroda nya dengan kedua tangannya hendak meninggalkan tempat itu namun Subi menahannya.


"Dina! Tunggu! Aku tahu kamu Dina kawanku saat SMP dulu!"


Perempuan yang dipanggil Dina itu pun mematung.


"Apa yang kamu lakukan, Din? Kaki kamu tidak cacat 'bukan? Kenapa kamu bisa berpikir untuk mencari uang dengan cara begini?" cecar Suci.


Dina menundukkan wajahnya. Detik kemudian tangisnya pun pecah.


"Kamu bisa jelaskan ini 'kan?" tanya Suci.


"Aku-aku baru setahun belakangan menjadi peminta-minta. Tapi aku melakukannya karena terpaksa."


"Aku tahu kamu bisa berjalan, ayo kita mengobrol di sana." Suci mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah bangku yang berderet di sepanjang trotoar.


Dina yang berpura-pura cacat itu pun lantas membuka perban kakinya lalu beranjak dari papan beroda yang mungkin setiap saat menjadi sarana mencari nafkah.


"Kenapa kamu bisa jadi begini, Din?" tanya Suci.


Dina terdiam sementara wajahnya tertunduk.


"Din … bicaralah."


"Aku terpaksa mencari nafkah dengan berpura-pura cacat demi menghidupi suami dan kedua anakku."


"Kamu sudah menikah?"


"Ya, aku menikah tiga tahun yang lalu. Kedua anakku kembar, usia mereka kini menginjak dua tahun."


"Maaf, memangnya suami kamu nggak kerja?" tanya Suci lagi.


Dina tersenyum getir.


"Sejak mengalami kecelakaan, suamiku hanya bisa duduk di atas kursi roda. Mau tidak mau aku yang harus menggantikannya mencari nafkah," paparnya.


"Aku ikut prihatin atas apa yang kamu alami," ujar Suci.


Dari Suci, pandangan Dina beralih pada Arsen yang duduk persis di samping kawan lamanya itu.

__ADS_1


"Hai, Anak tampan," sapanya.


"Bibi temannya ibu ya?"


"Ibu?" Dina mengerutkan keningnya.


"Ya, dia adalah ibuku."


"Aku pikir anak laki-laki ini bayi yang dulu kamu asuh. Anak kamu sudah besar rupanya."


"Arsen ini memang bayi yang pernah kuasuh, tapi takdir menjadikanku sebagai ibu sambungnya," jelas Suci.


"A-a-pa? Jadi … kamu dan ayah anak ini, …"


"Ya, aku dan tuan Ray sudah menikah."


"Takdirmu manis, tidak sepertiku, pahit. Entah sampai kapan aku akan menjalani kehidupan getir ini," ujar Dina.


"Din … jika aku boleh jujur, aku tidak menyukai pekerjaanmu ini. Ini sama artinya kamu bekerja dengan cara membohongi orang lain. Kedua kakimu baik-baik saja 'bukan? Kenapa kamu harus berpura-pura menjadi orang cacat?"


"Hanya cara ini yang bisa kulakukan. Orang yang melihatku akan iba lalu mereka memberiku uang."


"Apa suami kamu tahu pekerjaanmu ini?"


"Dia tahu, bahkan dia yang memiliki ide ini. Aku tidak mungkin mengajak kedua anakku mengemis dan berpanas-panasan di jalanan, jadi aku yang memilih bekerja sementara suamiku menjaga mereka di rumah.


"Apa kamu memiliki niat untuk berhenti dari pekerjaan ini?" tanya Suci.


"Niat itu ada. Jujur, aku lelah. Tapi aku tak tahu harus bekerja apa agar setiap hari bisa pulang untuk mengurus suami dan kedua anakku."


"Ambillah," ucapnya.


"Apa ini?" 


"Kamu bisa menggunakan uang ini untuk modal berdagang atau membuka warung di rumahmu."


"T-t-tapi, …"


"Ambillah. Aku tidak ingin kamu terus menerus memberi makan anak-anakmu dengan cara begini."


"Suci … kamu benar-benar malaikat penolongku. Kamu datang di saat aku benar-benar terpuruk." Suara Dina terdengar bergetar.


"Hal itulah yang dulu pernah kamu lakukan padaku. Kamu ingat, beberapa tahun yang lalu saat keluargaku tengah terlilit hutang yang begitu besar dengan rentenir dan kami nyaris diusir dari rumah kami sendiri. Lalu kamu datang menawarkan pekerjaan sebagai seorang pengasuh bayi di rumah seorang pengusaha bernama tuan Rayyan Bimantara. Dari sana lah kehidupanku membaik. Aku bisa melunasi hutang itu, juga membiayai sekolah adik-adikku. Jasamu sungguh besar, dan aku tidak akan pernah melupakannya sampai kapanpun," ungkap Suci. Tanpa ia sadari buliran bening itu telah mengalir dan membasahi pipinya.


"Terima kasih, Dina," ucap Suci. Kedua sahabat yang sudah begitu lama tidak bertemu itu lantas saling merengkuh tubuh satu sama lain. 


"Oh ya, rumah kamu di mana?" tanya Suci sesaat setelah pelukannya melonggar.


"Di belakang pasar itu. Aku dan keluargaku masih tinggal di rumah kontrakan. Tidak seperti kamu yang kini bisa tinggal di rumah besar dan nyaman."


"Percayalah, suatu hari nanti kamu akan memiliki rumah sendiri."


"Aamiin. Semoga. Kalian mau kemana?"


"Oh, aku dan Arsen mau mengantar makan siang ke kantor mas Ray."

__ADS_1


"Aku do'akan semoga kebahagiaan selalu menyertaimu dan keluargamu," ujar Dina.


"Aamiin, do'a yang sama juga untuk kalian. Aku pergi dulu, sampaikan salamku untuk suami dan kedua anak kembarmu. Jika ada waktu aku pasti bertandang ke rumahmu."


Beberapa saat kemudian sebuah taksi melintas. 


"Sampai ketemu lagi." Suci membuka pintu taksi lalu mengajak Arsen masuk ke dalam taksi tersebut.


"Hati-hati."


"Assalamu'alaikum."


Taksi itu pun lantas berlalu dari hadapan Dina.


"Kamu perempuan yang baik, Suci. Mungkin ini alasan Tuhan memberimu takdir yang baik pula," gumamnya.


*****


Suci dan Arsen tiba di kantor Rayyan.


"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" sapa security yang berdiri di dekat pintu utama.


"Selamat siang, Pak. Kami ingin menemui tuan Rayyan."


Tiba-tiba pria berseragam itu mengamati penampilan Suci.


"Maaf, ada keperluan apa mencari tuan Rayyan?"


"Kami ingin mengantar makanan ini untuknya."


"Anda ini siapa nya tuan Rayyan? Asisten rumah tangga, atau kerabatnya?" tanya security.


"Dia ibuku, dan tuan Rayyan adalah ayahku," timpal Arsen.


"Maaf, Adik kecil. Jika ingin membuat lelucon bukan di sini tempatnya." Security bernama Dion itu terkekeh.


"Kenapa Bapak tertawa? Tuan Rayyan memang ayahku. Di mana ruangannya?"


Arsen berniat menerobos masuk ke dalam namun security itu menahannya.


"Sebelum saya bertindak kasar, cepat kalian tinggalkan kantor ini!" tegas security.


"Ada apa ini?" tanya seorang perempuan muda yang baru saja muncul dari dalam kantor.


"Perempuan dan anak kecil ini mengaku sebagai istri dan anak tuan Ray. Mana mungkin aku percaya. Mereka pasti sedang membuat lelucon," jelas Dion.


Perempuan berpenampilan rapi itu pun lantas mengamati wajah Suci dan Arsen secara bergantian.


"Kamu dalam masalah besar, Gion."


"Maksud kamu apa?"


"Apa kamu mau tahu siapa mereka?"


"Memangnya siapa mereka?"

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2