Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 30


__ADS_3

"Sudahlah, ucapan nyonya jangan terlalu diambil hati. Kamu tahu 'bukan? Bagaimana sifatnya," ucap mbok Asih sesaat setelah nyonya Sofia berlalu.


"Tapi, Mbok. Aku ini manusia yang punya perasaan. Terus terang aku tersinggung dengan ucapannya."


"Nyonya Sofia sebenarnya iri padamu karena tuan muda Arsen lebih dekat denganmu dibandingkan dengannya sebagai neneknya."


"Kalau saja dia bukan nyonya besar, aku pasti sudah merobek mulutnya!"


"Kamu masih ingat 'kan, tujuanmu bekerja di sini?" tanya mbok Asih.


"Iya, Mbok. Aku ingin segera melunasi hutang keluargaku."


"Semua ucapan yang tidak mengenakkan hati, biarkan masuk melalui telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri."


"Ya, Mbok."


"Mbok mau siapin makan malam dulu."


Mbok Asih berlalu dari hadapan Suci kemudian melangkah menuju dapur.


Malam harinya.


Suci baru beberapa saat memejamkan matanya, namun ia dikejutkan dengan suara tangisan Arsen yang cukup lantang.


Suci bergegas beranjak dari tempat tidurnya lalu membuatkan sebotol susu untuknya.


"Astaghfirullahaldzim!"


Raut wajah Suci tiba-tiba berubah panik saat kulit tangannya bersentuhan dengan kulit sang tuan muda lantaran badannya terasa begitu panas.


Suci bergegas mengambil baskom berisi air hangat dan kain untuk mengompres dahi Arsen. Berkali-kali ia mengompres dahinya, namun panas badannya tak kunjung turun.


"Mbok! Tolong! Tuan muda badannya panas tinggi!" teriaknya dari depan pintu kamar.


Tidak berselang lama pintu kamar pun terbuka.


"Masyaallah, Nduk. Ada apa tengah malam begini membangunkan simbok?"


"Tuan muda Arsen demam, Mbok. Aku sudah mengompresnya tapi panasnya tak kunjung turun."


"Astaghfirullah! Apa kamu sudah mengukur suhu badannya?" tanya mbok Asih. Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Sebentar, mbok ambil termometer dulu."


Setelah mengambil termometer dari dalam laci, ia pun lantas menuju kamar Arsen.


"Masyaallah! Suhu badannya 39 derajat Celcius. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" seru mbok Asih.


"Jadi, bagaimana ini, Mbok?"


"Mbok akan membangunkan tuan Rayyan."


Mbok Asih beranjak dari kamar Arsen lalu menaiki anak tangga menuju kamar Rayyan yang berada di lantai dua.


"Tuan … Tuan …" panggilnya seraya mengetuk pintu kamar.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka.


"Ada apa, Mbok?" tanyanya.


"Tuan muda Arsen panas tinggi. Suci sudah mengompresnya tapi panasnya tak kunjung turun."


Rayyan masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengambil kunci mobilnya.


"Sekarang juga saya akan membawa Rayyan ke rumah sakit!" tegasnya.


Sesampainya di kamar Arsen.

__ADS_1


"Cepat rapikan perlengkapan Arsen. Kita akan membawanya ke rumah sakit!"


"Baik, Tuan."


Keduanya pun lantas membawa Arsen menuju rumah sakit.


"Bagaimana keadaan putera saya , Dok?"


tanya Rayyan sesaat setelah dokter keluar dar ini ruang periksa."


"Tubuh pasien mengalami panas tinggi dikarenakan adanya serangan virus."


"Apa ini berbahaya, Dok?"


Dokter itu menggeleng pelan.


"Apa yang dialami pasien seringkali dialami anak seusianya. Tapi anda jangan khawatir, saya sudah memberikan anti virus pada pasien."


"Baik, Dok. Terima kasih."


Dokter itu pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Tuan bisa beristirahat di sofa," ucap Suci.


"Sepertinya saya akan berjaga sepanjang malam."


"Tapi itu tidak baik bagi kesehatan."


"Jika bisa, saya bersedia menggantikan apa yang sekarang dialami Arsen," ujar Rayyan.


Suci lekas menutup mulutnya saat tiba-tiba ia menguap.


"Kamu bisa tidur di sofa."


"Tidak, Tuan. Biar saya tidur di kursi ini saja."


Suci menarik sebuah kursi lalu mendudukinya. Dia lantas menyandarkan kepalanya di atas ranjang pasien. Beberapa saat kemudian ia pun terlelap.


"Dia begitu mirip dengan Arini, hanya saja kepribadian dan cara berpakaiannya saja yang berbeda," batinnya.


"Terima kasih, sudah menjaga Arsen dengan baik," gumamnya.


Rayyan mengecilkan suhu pendingin ruangan sebelum ia meninggalkan ruangan tersebut.


Keesokan paginya.


Suci terbangun lantaran mendengar Arsen yang meminta minum. Ia menoleh ke arah sofa, namun Ray tidak berada di sana.


Tidak berselang lama pintu ruangan terbuka.


"Selamat pagi, anak tampan," sapa perawat itu dengan senyum ramahnya.


"Selamat pagi, Suster," sahut Suci.


"Arsen habiskan makanannya, lalu minum obatnya, ya," bujuk perawat. Bocah laki-laki itu menanggapinya dengan senyuman.


"Anak pintar."


"Apa Suster melihat ayah anak ini?" tanya Suci.


"Tadi saya melihatnya berjalan ke arah kantin."


Beberapa saat kemudian pintu kembali terbuka.


"Selamat pagi, Tuan Rayyan.


"Selamat pagi, Suster."

__ADS_1


"Saya mengantar sarapan sekaligus obat untuk Arsen. Saya harap putera Tuan banyak makan dan rajin meminum obatnya."


"Baik, Sus."


"Saya tinggal dulu."


Perawat itu pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Arsen makan dulu ya, Sayang. Biar ayah yang suapi," bujuk Rayyan.


Bocah tampan itu menggelengkan kepalanya.


"Mam … Ci …"


"Ayah paham. Pasti kamu minta mbak Suci yang nyuapin ya?"


Dari Arsen, Rayyan mengalihkan pandangannya pada Suci.


"Sepertinya kamu benar-benar telah mencuri hati Arsen," ucapnya.


Suci menanggapi ucapan Ray dengan senyum simpul di bibir.


"Tuan muda makan dulu ya, lalu minum obat," bujuk Suci. Arsen menganggukkan kepalanya.


Suci pun lantas meraih mangkuk berisi bubur hangat itu lalu menyuapi Arsen dengan telaten dan penuh kasih sayang.


"Oh ya, saya membelikanmu sarapan di kantin," ucap Rayyan.


"Tuan tidak perlu repot-repot."


"Memangnya kamu tidak lapar?"


"Ehm … lapar sih."


"Ya sudah, setelah selesai menyuapi Arsen, kamu makan sarapannya."


"Baik, Tuan."


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Rupanya Zola dan sang nyonya yang memasuki ruangan tersebut.


"Kasihan sekali cucu nenek. Mana yang sakit, Sayang?" ucapnya seraya berjalan menghampiri ranjang pasien. Tentu saja dengan sedikitnya mendorong Suci agar menjaga jarak darinya.


"Tidak ada yang sakit, Bu. Arsen hanya demam karena terkena serangan virus."


"Sebenarnya kamu ini becus tidak sih mengasuh Arsen?!" sungut nyonya Sofia yang tentunya ditujukan pada Suci.


"Kenapa saya yang disalahkan? Selama ini saya selalu merawat tuan muda Arsen dengan baik."


"Kalau kamu merawatnya dengan baik, mana mungkin Arsen berada di tempat ini?"


"Tidak usah menyalahkan Suci, Bu. Dokter mengatakan anak seusia Arsen rentan sekali terkena serangan virus." Rayyan menimpali.


"Kamu kok berani melawan ibu demi gadis kampungan ini?!"


"Aku tidak bermaksud melawan Ibu. Aku hanya ingin Ibu berhenti selalu memojokkan Suci."


"Astaga. Apa otak kamu ini memang sudah berhasil dicuci isinya oleh pengasuh kampungan ini?!" Saya yakin Suci menggunakan ajian pengasihan untuk merebut hati Arsen. Jika dia sudah berhasil merebut hati Arsen, giliran kamu selanjutnya."


"Cukup! Selama ini saya selalu diam dan bersabar. Tapi saya pun mempunyai hati dan perasaan!"


Suci meletakkan mangkuk yang belum kosong itu di atas meja dengan kasar hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


"Maaf, Tuan. Detik ini juga saya berhenti jadi pengasuh Rayyan.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2