Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 51


__ADS_3

Semenjak dinyatakan kehilangan ingatannya, Tini tinggal di rumah Bimo bersama kedua anak perempuannya, Murni dan Fitri. Sudah banyak usaha yang dilakukan Bimo untuk mengembalikan ingatan kakak perempuannya itu, namun hasilnya nihil. Dari sekian banyak nama, entah mengapa hanya satu nama saja yang diingatnya yakni pak Panji. Sepertinya hal itu cukup masuk akal. Orang terakhir yang bertemu dengan Tini di hari naas itu adalah pak Panji. Pun ketika ditanya kenapa dia terus mengingat ketua RT itu, Tini justru langsung menangis.


Sementara itu, semenjak pak Panji ditahan karena kasus pelecehan seksual dan pembunuhan berencana pada Tini, perlahan usaha catering bu Panji mulai sepi hingga akhirnya ia benar-benar menutup usahanya. Mobil dan rumahnya juga sudah dijual untuk memenuhi hidupnya dan kedua anak laki-lakinya, Adi dan Ari. Kini mereka bertiga harus rela tinggal di rumah kontrakan sempit dan jauh dari keramaian. Karena beban pikiran, tubuh bu Panji yang dulunya berisi kini berubah kurus kering. Kedua anak laki-lakinya pun harus berhenti sekolah. Kini kegiatan mereka adalah sebagai pemecah batu kali.


Di siang yang cukup terik itu Bu Panji terlihat tengah memukul berulang batu kali berukuran besar itu dengan palu besi hingga membuatnya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Jika sudah mencapai ukuran tertentu, potongan-potongan batu itu lah yang akan dijual pada pemborong. Sementara kedua anak laki-lakinya, Ari dan Adi duduk di sebelahnya.


"Kenapa Bapak tidak pulang-pulang, Bu?"


"Kenapa aku tidak sekolah lagi?"


"Kenapa kita sekarang tinggal di rumah yang kecil?"


Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur bergantian dari mulut kedua anak laki-lakinya. Pun wanita itu hanya bisa diam.


"Bu, kepalaku pusing, aku mau pulang saja."


"Aku lapar, Bu. Pagi tadi kita hanya sarapan singkong rebus saja."


"Diam kalian! Kalian pikir ibu mau keadaan kita begini? Ibu mau hidup kita berkecukupan. Ibu ingin setiap hari kalian makan makanan yang enak, dan jalan-jalan ke kota seperti dulu. Tapi keadaan kita sekarang tidak seperti dulu lagi," ucap Bu Panji. Ada sedikit penyesalan lantaran ia sempat membentak kedua buah hatinya itu.


"Memangnya Bapak kapan pulang? Kalau bapak pulang dia bawa uang banyak 'kan, Bu?"


Obrolan mereka terhenti saat seorang pria menghampiri mereka. Namanya pak Wira, dia lah yang biasanya membeli batu-batu kali dari warga kampung makmur.


"Anakmu yang kecil ini kelihatan pucat, sudahlah, kamu pulang saja. Kasihan dia. Kalau sampai pingsan di sini aku juga yang disalahkan karena dianggap mempekerjakan anak di bawah umur," ucapnya.


"Tapi, juragan. Batu yang sudah saya pecahkan baru sedikit. Uangnya pasti tidak seberapa," ucap bu Panji.


"Ini upahmu hari ini, pulang lah, beri anak-anakmu makan." Pak Wira mengambil selembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada ibu dua anak itu.


"T-t-tapi, Juragan. Harga batu ini belum mencapai separuhnya."


"Itu urusan nanti. Yang terpenting anak-anakmu tidak kelaparan."


"Terima kasih, Juragan," ucap bu Panji menyalami tangan pak Wira .


"Sudah, sana pulang," ucap pria bertubuh tinggi itu. Ia lantas meninggalkan tempat itu.


Bu Panji baru menyadari jika sedari tadi obrolannya dengan sang juragan menjadi perhatian beberapa pasang mata yang juga berada di tempat itu.


"Saya pulang dulu, Bu … Pak. Anak saya sakit," ucapnya yang ditanggapi lirikan sinis dari warga yang berprofesi sama dengannya.


"Cihh! Bawa-bawa anak untuk mengharap belas kasihan juragan," cibir salah satu warga.

__ADS_1


"Maksud Ibu apa bicara begitu?"


"Pikir saja sendiri!"


"Anak saya memang benar-benar sakit. Lagipula buat apa saya berbohong."


"Hari ini kamu memelas agar diberi uang oleh juragan Wira, paling ujung-ujungnya minta dikawinin," ucap perempuan paruh baya itu hingga mengundang gelak tawa dari kawan-kawannya.


"Benar juga kamu. Suaminya 'kan masih lama di penjara, dia pasti kesepian kalau setiap malam tidur tidak ada yang nemenin."


"Sudah, jangan begitu. Kasihan bu Panji. Sudah tahu hidupnya blangsak gara-gara punya laki penjahat kelam*n, kenapa malah kalian ledek?" Warga lainnya menimpali.


"Ayo, Nak. Kita pulang." Bu Panji menggandeng tangan kedua buah hatinya lalu meninggalkan tempat tersebut.


Jarak dari tempat memecah batu menuju rumahnya cukup jauh. Sebenarnya bisa saja menaiki angkutan pedesaan, namun demi berhemat, bu Panji memilih kedua anak laki-lakinya untuk berjalan kaki.


"Ari lelah, Bu."


"Sebentar lagi sampai kok. Nanti ibu masak opor ayam buat kalian."


Ucapan sang ibu sempat menjadi semangat tersendiri bagi bocah laki-laki berusia lima tahun itu. Dia pun kembali melanjutkan perjalanan. Namun, tiba-tiba saja tubuh Ari terjatuh dan ambruk di tanah yang lembab.


"Tolong!" teriaknya.


"Bu, aku capek," keluh si sulung.


"Jadi, kamu mau minta gendong juga? Apa kamu tidak lihat adikmu ini sudah pingsan 'hah! Ibu harus cepat-cepat membawanya ke bidan desa!" sentak sang ibu yang membuat tangis bocah laki-laki itu pecah. Kali ini teriakannya terdengar oleh seorang warga yang kebetulan melintas dengan sepeda motornya. Pria paruh baya itu terlihat mengangkut rumput di bagian belakang kendaraannya.


"Kenapa anaknya menangis, Bu?" tanyanya.


"Ehm … anak saya kelelahan, Pak."


"Terus, itu kenapa yang satunya lagi, kok minta gendong."


"Sebenarnya anak saya yang ini sudah pingsan. Saya ingin membawanya ke bidan desa."


"Astaghfirullahaladzim. Kita harus cepat-cepat membawanya ke bidan desa."


Ya, pria itu adalah Bimo, ayah kandung Suci yang pekerjaannya sehari-hari menjadi buruh pencari rumput. Ia bergegas menepikan sepeda motornya dan menurunkan sekarung rumput dari atas sana.


"Cepat naik, jangan sampai anakmu terlambat mendapatkan pertolongan," ucap pak Bimo.


Sambil menggendong tubuh Ari yang lemas tak sadarkan diri, bu Panji mengajak si sulung membonceng sepeda motor tua itu menuju rumah bidan desa. Sayang, siang itu rumah tersebut kosong lantaran sang bidan tengah bepergian.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Bu? Saya minta maaf tidak berani mengantar anak Ibu ke puskesmas kecamatan. Sepeda motor saya sudah tua, suka rewel kalau diajak jalan agak jauh. Bagaimana kalau mampir ke rumah saya dulu? Ada mbakyu Tini dan Murni. Mereka pasti bisa membantu merawat Ari," ucap pak Bimo.


Mendengar nama Tini, tentu saja membuat bu Panji panik. Tiba-tiba saja ia merasa begitu bersalah karena suaminya telah meruda paksa kakak perempuannya itu.


"Tidak usah, Pak. Saya tidak ingin merepotkan. Antar saja kami pulang."


"Ibu yakin? Kalian hanya tinggal bertiga 'bukan? Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu pada Ari? Rumah kalian jauh dari tetangga."


"Baiklah, kalau begitu kita ke rumah Pak Bimo saja."


Bimo pun lantas melajukan sepeda motornya menuju rumahnya.


Murni keheranan saat mendapati sang ayah pulang dengan membonceng bu Panji dan kedua anaknya.


"Kenapa Bapak mengajak mereka ke rumah kita? Suami bu Panji sudah berbuat jahat pada budhe Tini," ucapnya.


"Anaknya bu Panji pingsan, kita harus segera menolongnya. Tadi kami sudah ke rumah bidan desa, tapi rumahnya kosong."


"Biarkan saja! Keluarga jahat ngapain ditolong!"


"Apa bapak mengajarimu untuk dendam pada orang lain? Yang berlalu biarkan berlalu, Ari ini masih kecil. Dia


belum tahu apapun," ucap Bimo yang sontak membuat puteri ke duanya itu terdiam.


"Cepat ambilkan minyak angin!"


Meski sambil menggerutu kesal, Murni tidak punya pilihan selain menurut peristiwa sang ayah.


"Di luar ada ribut-ribut apa, Mur?" tanya Tini saat gadis yang kini beranjak remaja itu masuk ke dalam kamar Tini untuk mengambil minyak angin.


"Ehm … tidak ada apa-apa kok, Budhe. Budhe istirahat saja," ucap Murni seraya beranjak keluar dari kamar itu.


Tini yang penasaran itu pun lalu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu. Mereka berpikir Tini yang hilang ingatan itu tidak akan mengenali siapa bu Panji. Namun rupanya mereka salah, tiba-tiba saja Tini berteriak histeris saat melihat wajah perempuan itu.


"Pergi kamu! Kamu jahat!" teriaknya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading..

__ADS_1


__ADS_2