Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 81


__ADS_3

"Suci? Kamu ngapain di depan kamarku?" tanya Siska yang tiba-tiba saja berdiri di belakang Suci.


"Oh, saat kamu mencuci ada yang menelponmu. Aku sudah memanggilmu tapi kamu nggak dengar. Takutnya itu telepon penting, jadi aku berniat menjawabnya. Tapi setelah aku sampai di sini handphone mu nggak berdering lagi," papar Suci.


"Pasti si tua Bangka itu yang menelpon," batin Siska.


"Ehm … Sis. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Kamu mau tanya apa?"


"Aku sempat melihat baju, sepatu, dan tas baru di atas tempat tidurmu. Jika boleh kutahu, dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli barang-barang itu? Kamu belum gajian 'bukan?"


"Apa jawaban itu penting banget bagi kamu?"


"Aku tahu barang-barang itu mahal harganya. Maaf, kamu punya uang dari mana untuk membelinya?"


"Ehm … aku ditraktir kawan lamaku."


"Kawan yang mana?"


"Kawan waktu kuliah dulu. Dia baik, kaya, dan tidak pelit. Apa jawaban itu sudah cukup? Aku mau menjemur pakaian dulu."


Siska berlalu dari hadapan Suci lalu berjalan menuju bagian depan rumah.


"Ada apa, Nduk? Sepertinya kamu terlihat kebingungan," ucap mbok Asih saat Suci kembali ke meja makan.


"Aku menemukan barang-barang mahal di dalam kamar Siska. Saat kutanya dari mana dia mendapatkan uang untuk membelinya, dia bilang ditraktir kawan kuliah nya dulu."


"Dia pasti bohong lagi. Mana mungkin ada kawan sebaik itu. Mbok juga masih penasaran dari mana dia mendapatkan handphone sebagus itu. Jangan-jangan, …"


"Jangan-jangan apa, Mbok?"


"Dia berhutang," ucap mbok Asih setengah berbisik.


"Kalaupun dia memang berhutang, dia harus punya jaminan."


"Benar juga ya. Dia 'kan tidak punya jaminan apa-apa."


"Ibu," panggil Arsen.


"Ya, Sayang."


"Aku sudah selesai."


"Kamu sekarang tidur siang ya, Nak."


"Oh ya, Bu. Tadi saat istirahat ada seorang perempuan yang memanggilku di dekat pintu gerbang."


"Perempuan?"


"Benar, Bu. Dia tahu namaku."


"Lantas?"

__ADS_1


"Dia mau memberiku mainan tapi saat itu bel tanda masuk berbunyi, jadi aku langsung masuk ke dalam kelas."


"Apa kamu bisa jelaskan bagaimana ciri-ciri perempuan itu?" tanya Suci.


"Ehm … kulit nya putih dan badannya cukup tinggi."


"Ada ciri-ciri lain? Rambutnya mungkin."


"Perempuan itu menutupi rambutnya dengan kain. Oh ya, saat aku pulang sekolah perempuan itu muncul lagi. Tapi dia langsung pergi setelah mas Davin datang menjemputku. Apa perempuan itu orang jahat, Bu?"


Suci mengulas senyum tipis.


"Kamu tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain, tapi ada baiknya kalau kamu selalu hati-hati dan waspada dengan orang asing atau orang yang tidak kamu kenal. Jangan pernah mau diajak kemanapun dan jangan menerima benda apapun darinya. Kamu paham, Sayang?"


Arsen menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kamu masuk ke kamar dulu ya," ucap Suci.


Arsen beranjak dari ruang makan lalu berjalan menuju kamarnya.


"Jangan-jangan perempuan yang dimaksud tuan muda adalah nyonya Sofia," ucap mbok Asih sesaat setelah Arsen berlalu.


"Aku juga berpikiran begitu. Tapi, Arsen anak yang cerdas, aku yakin dia paham dengan apa yang tadi kukatakan."


"Kamu juga harus bilang pada Davin, jangan pernah sekalipun terlambat menjemput tuan muda."


"Lagi ngomongin apa sih, kelihatannya serius sekali," ucap Siska yang baru selesai menjemur pakaian di halaman rumah.


"Kamu pasti capek habis mencuci, makan siang dulu, Sis," ucap Suci.


"Aku masuk kenyang."


"Kenyang? Terakhir kamu makan saat sarapan pagi tadi 'bukan?"


"Ah, maksudnya aku belum lapar. Nanti saja makan siangnya."


"Baiklah kalau begitu. Aku tinggal ke kamar Arsen dulu." Suci berlalu dari hadapan Siska lalu berjalan menuju kamar Arsen.


****


Sore hari di rumah dokter Kinara.


"Ayah hari ini kemana saja?" tanya Kinara pada Freddy saat dirinya melintasi ruang tamu di rumahnya.


"Ehm … ayah hanya memantau toko sebentar lalu pulang."


"Siapa gadis itu?"


"Gadis yang mana?"


"Siang tadi aku diundang oleh menantunya pak Frans karena anaknya sakit."


"Lantas?"

__ADS_1


"Pak Frans salah satu peserta reuni di cafe 'bukan?"


"Ayah tidak paham arah pembicaraanmu."


"Sudahlah, jangan berpura-pura tidak tahu. Siapa gadis bernama Siska itu, dan kenapa Ayah memperkenalkannya sebagai calon istri Ayah?" cecar Kinara.


"Ah, Frans hanya mengada-ada. Ayah tidak tahu menahu tentang acara reuni siang tadi," bantah Freddy.


"Bagaimana dengan foto ini? Apa Ayah masih mau menyangkal?" Kinara meraih ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto pada Freddy. Di foto yang diambil secara diam-diam itu tampak dirinya tengah duduk bersebelahan dengan seorang gadis yang usianya sekitar 25 tahun.


"Astaga. Rupanya si Frans mengambil fotoku secara diam-diam," batin Freddy.


"Ayah jangan diam saja, aku butuh penjelasan sekarang," desak Kinara.


"OK … OK! Ayah mengaku, gadis itu bernama Siska. Kami belum lama ini bertemu di sebuah Mall. Saat itu ayah tidak sengaja menabraknya hingga membuat handphone nya rusak parah. Sejak saat itu kami menjalin komunikasi secara intens hingga akhirnya dia mau menjadi pacar ayah."


"Jika boleh kutahu, apa pekerjaan gadis itu? Dia masih kuliah, pengusaha, atau mungkin anak dari rekan bisnis Ayah?" tanya Kinara penuh selidik.


"Dia-dia seorang asisten rumah tangga."


"Astaga. Apa Ayah sudah kehilangan akal? Bagaimana mungkin ayah menjalin hubungan dengan seorang babu?"


"Kamu jangan salah, meskipun seorang pembantu, dia pernah kuliah. Dia berhenti kuliah karena ibunya meninggal dunia."


"Tetap saja dia seorang babu. Aku mau Ayah memutuskannya sekarang juga!"


"Mana bisa begitu, Nak. Ayah mencintai Siska. Kami saling mencintai."


"Gadis miskin itu pasti hanya ingin memanfaatkan Ayah saja. Jika Ayah tidak memiliki banyak uang, mana mungkin dia mau mendekati Ayah."


"Siska bukan gadis seperti itu, dia tulus mencintai ayah."


"Sekarang Ayah pilih, aku atau gadis miskin itu. Jika Ayah bersikeras melanjutkan hubungan ini, aku akan pergi dari rumah ini!"


"Mengerti lah, Nak. Selama bertahun-tahun semenjak kepergian ibumu, ayah begitu kesepian. Ayah begitu sulit membuka hati untuk perempuan. Karena Siska lah perasaaan itu tumbuh kembali," ujar Freddy.


"Kenapa harus seorang pembantu, dan usianya lebih muda dariku?"


"Cinta tidak bisa memilih kemana ia akan berlabuh. Seperti perasaan pada Siska, ini di luar kendali ayah."


"Sekali tidak tetap tidak!" Jika Ayah masih keras kepala, aku akan pergi jauh dari kehidupan Ayah dan jangan berharap Ayah bisa melihatku lagi!" ancam Kinara.


"Jangan bicara begitu, Nak. Ayah menyayangimu. Mungkin Siska masih begitu muda, tapi ayah yakin dia mampu menjadi ibu sambung yang baik untukmu."


"Kenapa Ayah mengkhianatimu Ibu?"


Suara Kinara terdengar bergetar.


"Ibumu sudah tiada, Nak. Hidupnya sudah usai, tapi kehidupan ayah masih terus berlanjut," ujar Freddy.


"Ayah pengkhianat! Aku benci Ayah!" pekik Kinara. Detik kemudian tangisnya pun pecah.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2