Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 79


__ADS_3

Lima belas menit kemudian sebuah mobil sedan berhenti tepat di hadapan Siska.


"Siska Sayang, ayo naik," ucap pria paruh baya sembari menurunkan sedikit kaca mobilnya.


"Issh! Seenaknya saja manggil sayang. Kalau gak berduit sih ogah!" batin Siska.


"Kenapa kamu diam saja? Ayo naik."


Pria itu kini membuka pintu depan mobilnya.


"Ehm … maaf, Tuan Freddy. Kalau boleh saya tahu, Tuan mau mengajak saya kemana?"


"Naik lah dulu, nanti kamu tahu."


Siska yang sempat ragu akhirnya menuruti ajakan pria tersebut.


"Harus saya bilang berapa kali, jangan memanggilku dengan sebutan tuan. Kamu panggil nama saja," ucap Freddy sesaat setelah melajukan mobilnya.


"Astaga. Apa dia nggak pernah ngaca. Dia lebih pantas menjadi ayahku," gumam Siska.


"Kamu panggil saya mas saja ya."


"I-i-iya, Tuan … eh maksud saya Mas."


"Nah, begitu 'kan lebih enak didengar," ujar Freddy.


"Ehm … Mas Freddy mau ajak saya kemana?"


"Ke salon."


"Ke salon?" Siska mengerutkan keningnya.


"Benar. Saya mau mengajak kamu ke acara reuni SMA."


"Yang benar saja. Masa aku mau diajak ke acara reuni kawan-kawan SMA nya. Aku harus kumpul sama orang-orang lanjut usia, gitu?" Untuk ke sekian kalinya Siska berucap dalam hati.


"Kamu mau 'kan, Sayang?"


"Ehm … tapi, …"


"Kalau kamu mau nemenin saya, nanti saya ajak kamu ke Mall. Kamu boleh belanja apapun yang kamu mau."


"Beneran?" tanya Siska. Sorot matanya tiba-tiba saja berbinar.


"Apa sih yang nggak buat kamu."


Tangan kiri Freddy kini telah menggenggam tangan Siska. Jika boleh memilih, dia ingin menepis tangan pria itu namun akhirnya ia memilih membiarkannya saja.


Siska mengedarkan pandangannya di dalam mobil itu. Tiba-tiba saja netranya menangkap selembar foto yang tergantung di langit-langit mobil.


"Maaf, ini siapa, Mas?" tanyanya.


"Oh, dia putri semata wayang saya, namanya Kinara."


"Sepertinya usianya masih sangat muda."


"Tidak juga, bulan ini usianya tepat dua puluh lima tahun."


"Apa dia sudah menikah?" tanya Siska.


Freddy menggelengkan kepalanya.


"Saya pikir sebagai seorang dokter dia tidak akan kesulitan untuk menemukan jodohnya. Namun nyatanya hingga sekarang saya tidak pernah melihatnya dekat dengan laki-laki manapun. Adapun laki-laki yang dikaguminya sejak lama, justru membuatnya patah hati karena tiba-tiba saja laki-laki itu sudah menikah," paparnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Freddy menepikan mobilnya.


"Kita sudah sampai di salon, ayo turun."


"Ehm … tapi, …"


"Kamu jangan khawatir. Salon ini adalah salon langganan saya. Pemilik dan para karyawannya sudah mengenal saya."


Siska turun dari dalam mobil lalu melangkah perlahan menuju salon yang menyatu dengan butik itu.


"Selamat siang, Tuan Freddy," sapa seorang karyawan yang berdiri di dekat pintu.


"Selamat siang. Tolong kalian ubah penampilan gadis ini menjadi lebih cantik dan berkelas," titah Freddy.


"Maaf, Tuan. Gadis ini bukan nona Kinara 'kan?" tanya karyawan lainnya.


"Bukan urusanmu! Cepat kamu kerjakan saja apa yang saya perintahkan !"


"Ba-ba-ik, Tuan. Mari, Nona, ikut saya."


Karyawan itu berjalan menuju sebuah kursi, Siska di belakangnya mengekor.


"Rambutnya mau dipotong nggak, Nona?"


tanya karyawan itu.


"Sudah bertahun-tahun aku tidak memotong rambutku. Mungkin penampilanku akan terlihat lebih segar jika aku memangkas sedikit rambutku," gumam Siska.


"Bagaimana, Nona?"


"Ehm … dipangkas saja sampai sebatas bahu."


"Baiklah."


Karyawan itu dengan sigap memangkas rambut Siska yang panjangnya sudah melebihi bokong itu.


Siska hampir tak mengenali wajahnya sendiri saat memandang pantulan dirinya di cermin.


"Aku tidak salah mengambil keputusan, penampilanku sekarang terlihat lebih segar dengan potongan rambut baru ini," gumamnya.


"Mari saya antar ke depan," ucap karyawan salon. Kedua pun lantas menghampiri Freddy yang kini berada di ruang depan.


"Siska? Apa benar ini kamu?" Freddy tercengang melihat Siska dengan potongan rambut barunya. Ditambah lagi riasan dan baju yang dikenakannya kini benar-benar membuatnya seperti gadis yang berkelas.


"Benar, Tuan. Nona ini adalah nona Siska yang datang ke salon ini bersama Tuan," jelas karyawan salon.


"Kamu cantik sekali," puji Freddy.


"Ish! Rasanya aneh dipuji cantik oleh pria setua ini," batinnya.


"Terima kasih, Mas."


"Ayo kita berangkat ke cafe tempat reuni."


Meski sebenarnya risih, Siska terpaksa membiarkan saja saat Freddy menggandeng tangannya lalu mengajaknya keluar meninggalkan salon untuk selanjutnya menuju cafe tempat diadakannya reuni.


"Kamu tidak keberatan 'kan, jika di depan kawan-kawan saya nanti saya memperkenalkan sebagai calon istri baru saya?"


"Sial! Kenapa jadi begini sih!" umpat Siska. "Ehm … boleh saja kok."


Setibanya di tempat reuni.


"Siapa gadis ini?" tanya salah kawan Freddy.

__ADS_1


"Dia-dia calon istriku."


"Dapat daun muda ceritanya." Kawan lainnya menimpali.


"Freddy ini seperti buah kelapa saja, semakin tua semakin berisi," celetuk salah satu orang kawannya yang sontak mengundang tawa semua orang yang berada di cafe itu.


"Astaga. Kenapa aku malah jadi bahan tertawaan mereka begini? Sabar, Siska. Kamu harus tetap santai menghadapi ini," batinnya.


"Siapa namamu, Nona manis?" tanya salah satu kawan Freddy.


"Ehm … Siska, Nek."


"Tidak sopan sekali. Masa aku dipanggil nenek," gerutu wanita itu.


"Maaf, maksud saya Nyonya."


"Kapan rencana pernikahan kalian?"


"Aku-aku belum tahu."


"Jangan lama-lama. Keburu hilang tenaganya." Sekali lagi tawa kawan-kawan Freddy pecah.


"Aku minta maaf kalau ucapan mereka kurang enak didengar," ucap Freddy.


"Ah, tidak apa kok. Aku tahu mereka hanya bercanda saja."


Meski sebenarnya hatinya begini kesal, Siska memilih untuk tetap terlihat baik-baik saja.


"Ehm … aku permisi ke toilet dulu," ucap Siska.


"Kamu berani 'kan sendiri?"


"Berani kok."


"Ya sudah, jangan lama-lama."


"Memangnya kenapa?"


"Nanti aku rindu."


"Ish! Rayuan klasik. Membuatku mau muntah saja," batin Siska.


Siska beranjak dari tempat duduknya lalu menuju toilet yang berada di bagian belakang cafe.


Sial, di tempat itu dia harus bertemu dengan Clara, salah satu kawan sekelasnya saat dia masih kuliah.


"Siska? Kamu apa kabar?" sapanya.


"Oh, kabarku baik kok."


"Kenapa kamu tiba-tiba berhenti kuliah?" tanya Clara.


"Aku-aku pindah kampus."


"Pindah kampus? Memangnya kenapa dengan kampus lama?"


"Tidak semua hal tentangku harus kamu tahu, permisi," ujar Siska. Dia pun lantas meninggalkan toilet.


Satu jam kemudian acara reuni pun selesai. Siska yang dari awal tidak berminat di acara itu pun bergegas mengajak Freddy meninggalkan cafe.


"Ehm ... Mas Freddy tidak lupa 'kan janji yang tadi?" tanya Siska.


"Tentu saja tidak. Setelah dari sini kita akan menuju mall. Kamu bisa berbelanja apapun yang kamu mau."

__ADS_1


"Lihat saja, aku akan menguras isi dompetmu," batin Siska.


Bersambung …


__ADS_2