Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 115


__ADS_3

Ke empat orang itu pun mendatangi bangunan berlantai dua yang berada di jalan Dahlia.


"Permisi, Mbak," sapa Suci pada Eva yang baru saja keluar dari dalam tempat itu.


Gadis itu terlihat kebingungan lantaran di hadapannya sekarang Suci dan Ray tidak hanya datang berdua melainkan bersama dua orang warga di lingkungan itu.


"Loh? Kalian kan yang tadi 'kan? Kenapa balik lagi ke sini? Bukankah saya sudah bilang kalian tidak ada di sini."


"Selamat siang, Mbak," sapa pak Zidan sang ketua RT.


"Se-se-selamat siang, Pak."


"Saya mendatangi tempat ini atas laporan seseorang yang mengatakan jika tempat ini adalah tempat prostitusii."


"Tuduhan itu tidak benar. Salon kecantikan ini sudah cukup lama beroperasi," bantah Eva.


"Boleh saya masuk ke dalam?"


"Maaf, hanya pelanggan saja yang diperbolehkan masuk." Eva merentangkan kedua tangannya di tengah pintu masuk.


"Sikap anda justru semakin membuat saya curiga jika ada yang ada sembunyikan."


"Maaf, saya harus kembali bekerja." Eva menarik gagang pintu berniat menutupnya, tentu saja Ray menahannya.


"Tolong bersikap sopan di tempat orang lain!"


"Anda yang memaksa saya bertindak kasar. Pak Zidan, silahkan masuk. Saya yang akan menahan gadis ini," ucap Ray. Dia meraih kedua lengan Eva lalu memeganginya kuat-kuat.

__ADS_1


"Di mana tempat prostitusii nya, Pak?" tanya pak Zidan.


"Di lantai dua."


"Baik, kita ke sana sekarang."


"Kalian tidak sopan! Memasuki tempat usaha orang lain tanpa izin!" seru Eva. Sesekali dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Ray.


"Sudah, jangan hanyak bicara," ucap Ray.


Pak Zidan yang berada di bagian paling depan mulai menaiki anak tangga. Sementara yang lain mengekor tak terkecuali Ray yang tengah menahan Eva agar tidak kabur.


"Berapa kode masuk ke dalam ruangan ini?" tanya Ray saat mereka sudah berdiri di hadapan pintu.


Eva menggelengkan kepalanya.


"Ja-ja-jangan! 596533."


Pak Zidan pun lantas menekan angka tersebut pada tombol yang berada di pintu mirip lift itu.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka.


Rupanya di dalam ruangan itu terdapat kamar pelanggan yang jumlahnya mencapai sepuluh kamar dan semuanya dalam status booked atau dipesan.


"Sebelum membongkar bisnis prostitusii ini bagaimana kalau kita menghubungi polisi lebih dulu?" usul pak Zidan.


"Saya setuju. Kantor polisi tidak jauh dari tempat ini. Pasti hanya dalam waktu singkat mereka sampai di sini," timpal bu Ratna.

__ADS_1


Pak Zidan mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor kantor polisi.


Benar saja, hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, polisi yang berjumlah lebih dari sepuluh orang tiba di ruangan itu.


"Selamat siang, Pak," sapa pak Zidan.


"Selamat siang."


"Tadi saya yang menelpon. Di dalam kamar-kamar ini diduga tengah dilakukan kegiatan prostitusii online," jelas pak Zidan.


"Baiklah, kami akan memulai penyergapan. Anggota!"


"Siap, Komandan!"


"Mulai penyergapan!"


"Siap!"


Satu per satu polisi pun mulai menghampiri pintu kamar yang diduga sebagai kamar tempat melakukan kegiatan seksuall. Tentunya dengan dilengkapi senjata api.


"Room servis," ucap mereka untuk memancing para penghuni kamar-kamar itu. Dari sepuluh kamar, hanya satu pintu yang terbuka. Tampak seorang laki-laki paruh baya bertelanjang dada dari dalam kamar itu. Alangkah terkejutnya saat melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.


"Angkat tangan! Tempat ini sudah dikepung!" seru salah seorang polisi.


Tidak lama kemudian tiga orang gadis berbikinii keluar dari dalam kamar.


"Ampun, Pak. Ampun. Jangan tangkap saya," ucap pria itu. Sementara ketiga gadis belia itu pun mulai menangis ketakutan.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2