
Siang itu jam pelajaran sekolah berakhir. Semua siswa berhamburan keluar dari kelasnya tak terkecuali Arsen. Ia terlihat berlari menuju pintu gerbang. Di tempat itulah biasanya sopir pribadinya, Davin menunggunya. Namun ia heran, mobil berwarna putih itu belum terlihat di sana.
"Arsen, kamu menunggu jemputan ya?" tanya salah satu kawan sekelasnya, Cheryl. Bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Rumah kita 'kan searah. Bareng aku aja yuk," ajak bocah perempuan bermata sipit itu.
"Aku tunggu mas Davin saja. Kalau aku bareng kamu, nanti dia kebingungan mencariku."
"Ya sudah, aku temenin kamu sampai sopir kamu datang menjemput," ucap Cheryl. Dia lantas duduk di samping Arsen.
Sepuluh menit sudah berlalu, namun Davin belum juga muncul.
"Nona Cheryl, kita harus segera menuju tempat les ballet," ucap pria paruh baya yang berdiri di samping mobil berwarna silver.
"Tunggu sebentar, Pak. Aku nemenin Arsen sampai sopirnya datang."
"Ini sudah jam setengah sebelas, Non. Nona Cheryl bisa terlambat."
"Maaf ya, Arsen. Aku harus pergi sekarang," ucap Cheryl sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak apa-apa kok. Sebentar lagi mas Davin pasti datang."
"Ya sudah, aku pergi dulu ya, sampai ketemu besok. Bye."
"Bye."
Cheryl pun lantas memasuki mobilnya. Tidak berselang lama mobil itu pun meninggalkan sekolah.
"Kenapa mas Davin lama sekali ya?" gumamnya.
Di saat Arsen mulai gelisah itulah seseorang tiba-tiba menyapanya.
"Hai, Arsen."
Arsen pun sontak menoleh ke arah suara itu.
"Bibi yang kemarin ya?" tanyanya.
Perempuan yang mengenakan kain pashmina itu menganggukkan kepalanya.
"Kamu belum pulang, Nak."
"Aku menunggu mas Davin."
"Mas Davin?"
"Ya, dia sopir yang mengantar dan menjemputku sekolah."
"Oh, begitu. Bibi pikir ayahmu yang menjemput."
"Ayah sedang keluar kota. Ehm … Bibi kok bisa tahu namaku? Memangnya kita pernah ketemu ya?"
Perempuan berkulit putih itu mengulas senyum tipis.
"Tentu saja bibi tahu namamu, kamu 'kan saudara bibi."
"Saudara?" Arsen mengerutkan keningnya.
"Benar, Nak. Rumah bibi tidak jauh dari rumah ini. Bibi juga tahu nama ayahmu."
"Nama ayah saja? Kalau nama ibuku tahu nggak?"
__ADS_1
"Ehm … ibumu sudah lama meninggal 'bukan?"
"Benar, Bi. Tapi aku sudah memiliki ibu baru. Ibu baruku ini baik sekali. Dia selalu bisa membuatku tersenyum."
"Ibu baru? Memangnya ayahmu sudah menikah lagi?"
"Ya, ibu baruku namanya ibu Suci."
"Astaga!"
"Kenapa Bibi kaget begitu?"
"Ah, tidak apa, Nak. Bibi belum tahu jika ayahmu menikah lagi. Memang kapan acara pernikahannya?"
"Belum lama kok."
Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba saja sebuah taksi berhenti persis di depan sekolah. Tidak berselang lama seorang perempuan turun dari dalam taksi tersebut.
"Ibu," panggil Arsen.
Rupanya Suci yang datang menjemput Arsen.
"Arsen Sayang," ucapnya. Dia lantas merengkuh tubuh bocah laki-laki itu ke dalam pelukannya.
"Mas Davin kemana, Bu? Kok Ibu yang menjemput?"
"Oh, mas Davin tiba-tiba tidak enak badan. Dia ada di rumah, baru minum obat dan ibu suruh beristirahat."
Dari Arsen, pandangan Suci beralih pada perempuan yang duduk tidak jauh dari putera sambungnya itu.
"Maaf, Nyonya datang menjemput juga?" tanyanya.
Perempuan yang sedari tadi menundukkan wajahnya itu pun tiba-tiba mengangkat kepalanya. Alangkah terkejutnya Suci saat memandang wajah itu.
"Suci, …"
"Nyonya mau apa dekat-dekat dengan Arsen?" Suci menarik tangan Arsen lalu mendekap tubuhnya.
"Aku sama sekali tidak berniat jahat pada Arsen, aku hanya kangen padanya."
"Sebenarnya bibi ini siapa, Bu? Apa benar dia saudara kita?"
"Ehm … sebenarnya-sebenarnya beliau ini adalah nenekmu."
"Nenek?"
"Benar, Nak."
"Jika memang benar dia nenekku, kenapa dia tidak tinggal bersama kita?" tanya Arsen.
"Ah, selama ini nenek tinggal di luar kota," jawab Sofia.
"Begitu ya? Bibi ini yang aku ceritakan kemarin, Bu," jelas Arsen.
"Arsen Sayang, kamu masuk ke dalam taksi dulu ya. Ibu mau dan nenek mau bicara sebentar," ucap Suci. Bocah laki-laki mengangguk paham. Dia pun lantas masuk ke dalam taksi yang tadi ditumpangi Suci.
"Aku senang kamu sekarang sudah menjadi istri Rayyan," ujar Sofia.
"Dari mana Nyonya tahu?"
"Arsen sudah menceritakan semuanya."
__ADS_1
"Kami belum lama menikah. Oh ya, ngomong-ngomong kapan Nyonya bebas dari penjara?"
"Baru sekitar dua Minggu ini. Ehm … aku sudah menyesali semua perbuatanku. Aku benar-benar minta maaf atas semua yang pernah kulakukan padamu."
Suci mengulas senyum tipis.
"Aku sudah memaafkan Nyonya jauh sebelum Nyonya meminta maaf," ujarnya.
"Jangan lagi memanggilku nyonya. Kamu 'kan bukan pengasuh Arsen lagi."
"Lantas?"
"Kamu bisa memanggilku ibu."
"I-I-Ibu?"
"Ya. Kamu 'kan istrinya Ray, anak angkatku. Jadi aku ini ibu mertuamu."
"Nyonya … maksudku Ibu. Ibu dan suami Ibu sekarang tinggal di mana?" tanya Suci.
Sofia tersenyum getir.
"Aku dan Sean sekarang tinggal di kontrakan sempit. Aku hanya mengurus rumah sementara Sean menjadi sopir pribadi. Oh ya, bagaimana kabar Ray, mbok Asih dan pak Bondan? Apa mereka masih bekerja di sana?"
"Alhamdulillah, kabar mereka baik."
"Syukurlah. Sebenarnya aku ingin sekali menemui mereka dan meminta maaf, tapi.aku tidak memiliki keberanian untuk menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Kesalahanku terlalu besar pada mereka, mungkin tidak pantas untuk dimaafkan."
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan, dan mereka berhak mendapatkan kesempatan ke dua. Jika Ibu memang sudah menyadari kesalahan Ibu, Ibu tidak perlu takut untuk menemuui mereka," ujar Suci.
"Hatimu begitu baik, Ray beruntung sekali memiliki istri sepertimu."
"Maaf, Bu. Saya harus segera menjemput penumpang di bandara," sela pengemudi taksi.
"Oh, iya, Pak. Ehm … maaf, Bu. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku tunggu kedatangan Ibu di rumah."
"Kalian hati-hati."
"Dadah, Nek," ucap Arsen seraya melambaikan tangannya pada Sofia.
"Sampai bertemu lagi, Cucu nenek yang tampan," sahut Sofia.
Suci berlalu dari hadapan Sofia lalu masuk ke dalam taksi. Tidak lama kemudian taksi itu pun meninggalkan tempat tersebut.
"Kenapa nenek tidak diajak tinggal bersama kita saja, Bu,?" ucap Arsen saat dalam perjalanan pulang.
"Ehm … nanti kita bilang pada ayah ya."
"Aku deg-degan acara pentas seni besok." Tiba-tiba Arsen mengalihkan pembicaraan.
"Deg-degan kenapa?"
"Aku takut tidak hafal puisinya."
"Nanti ibu bantu supaya kamu benar-benar hafal ya," ucap Suci sembari membelai lembut rambut Arsen.
"Terima kasih, Bu," ucap Arsen.
Suci menanggapinya dengan senyum simpul di bibir.
Suci kembali teringat obrolannya dengan Sofia beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Mengapa nyonya Sofia berubah begitu baik padaku? Apa dia benar-benar menyesal dan menyadari kesalahannya? Ataukah itu hanya bagian dari rencananya saja yang ingin kembali mengusik kehidupan kami? Ah, tidak seharusnya aku berpikiran buruk pada orang lain. Setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik 'bukan?" batinnya.
Bersambung …