
Teriakan bu Panji dari luar pintu itu tentu saja membuat pak Panji dan Tini yang masih berada di dalam kamar mandi kebingungan.
"Cepat pakai kembali pakaianmu! Awas kalau kamu bicara macam-macam pada istriku! Kubunuh kamu!" ancam pak Panji.
"Pak! Pak! Bapak di dalam?" Sekali lagi Bu Panji menggedor pintu kamar mandi yang terbuat dari seng itu.
"Bu Panji tolong saya!" teriak Tini.
"Breng*ek! Kenapa kamu malah teriak? Dasar perempuan go*lok!"
"Astaga. Tini. Kamu kenapa?" tanya bu Panji dari luar sana.
"Sakit, Bu," pekiknya.
"Diam kamu!" Pak Panji membekap mulut Tini dengan tangannya. Namun perempuan itu justru menggigitnya.
"Perempuan si*lan! Bisa-bisa aku dicincang istriku!" umpat pak Panji.
Pak Panji terus berusaha membekap mulut Tini sementara di luar sana bu Panji berusaha membuka paksa pintu kamar mandi itu. Setelah berusaha keras, Akhirnya pintu ruangan itu berhasil terbuka. Matanya terbelalak saat melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Rupanya tidak hanya Tini saja yang berada di dalam sana, namun juga suaminya. Tini tampak terduduk lemas di lantai dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya.
"Astaga! Bapak! Tini! Apa yang kalian lakukan di sini?!" cecarnya.
"Pak Panji … Pak Panji … hu … hu … hu…"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pak Panji diam dan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Jawab!"
Dari suaminya, pandangan bu Panji beralih pada Tini. Mendapati perempuan itu kesakitan seraya memegangi bagian intinya, sudah cukup memberi jawaban apa yang sebenarnya terjadi.
"Baj*ngan! Plak! Plak!"
Dua kali tamparan itu baru saja mendarat di pipi pak Panji.
"Apa Bapak sudah tidak waras 'hah! Apa jatah yang kuberikan setiap malam kurang?!"
"Ma-ma-af, Bu. Bapak khilaf. Jika Tini tidak menggoda, ini tidak mungkin terjadi."
"Tidak, Bu. Saya tidak pernah menggoda Bapak," bantah Tini.
"Sakit … Astaghfirullahaldzim! Darah!"
Raut wajah Tini berubah panik saat mendapati cairan kental berwarna merah itu terus keluar dari bagian intinya."
"Bagaimana ini, Bu. Saya takut," ucap Tini dengan suara bergetar.
"Cepat kita bawa Tini ke bidan!" seru pak Panji.
"Dasar bo*oh! Bagaimana jika Bu Bidan bertanya penyebab terjadinya pendarahan ini. Bisa-bisa kamu dilaporkan ke polisi."
"Jadi bagaimana?"
"Kamu pakai pembalut saya saja. Mungkin tidak lama pendarahannya berhenti."
__ADS_1
"Saya harus lapor polisi sekarang juga!" seru Tini.
"Tini … saya mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi saya mohon jangan laporkan suami saya pada polisi. Anak-anak kami masih kecil."
"Jadi, kalian menyuruh saya untuk tutup mulut, begitu?"
"Masalah ini bisa kita selesaikan dengan cara kekeluargaan tanpa melibatkan polisi," ucap bu Panji."
"Lantas, di mana keadilan bagi saya? Bayangkan jika hal ini terjadi pada Ibu. Apa Ibu mau diam saja?"
Sepasang suami istri itu terdiam.
"Sebutkan berapa pun yang kamu minta."
"Kalian mau menyuap saya? Tidak! Saya akan tetap melaporkan pak Panji pada polisi!" ancam Tini.
Dengan susah payah ia beranjak meninggalkan ruangan itu. Ia harus segera sampai di rumah dan meminjam handphone Bimo untuk menghubungi polisi.
"Bagaimana ini, Bu? Bagaimana kalau Tini nekat lapor polisi? Bapak tidak mau dipenjara," ucap Bimo.
"Pikir saja sendiri!" seru bu Panji seraya berlalu dari hadapan suaminya.
Pak Panji terus memikirkan bagaimana cara menggagalkan usaha Tini hingga tiba-tiba pandangannya tertuju pada kunci sepeda motor yang tergeletak di atas meja.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…