
"Mas, tadi Arsen bercerita kalau ada seorang perempuan yang mencoba mendekatinya saat jam istirahat di sekolah," ucap Suci saat Ray baru saja memasuki kamar setelah kembali dari kantor.
"Bagaimana ciri-ciri perempuan itu?"
"Arsen bilang kulitnya putih dan tubuhnya agak tinggi."
"Ada ciri-ciri lain?"
"Itu saja yang dikatakannya. Soalnya perempuan itu mengenakan kain penutup kepala. Aku khawatir kalau perempuan itu nyonya Sofia. Selain tahu nama Arsen, dia juga menawarkan mainan padanya."
"Lantas, apa Arsen menerima mainan itu?"
"Tidak, Mas. Di saat bersamaan Davin datang menjemputnya. Jadi perempuan itu langsung pergi."
"Bisa jadi perempuan itu benar ibu Sofia. Wajar jika Arsen tidak mengenalinya. Terakhir mereka bertemu saat usianya masih begitu kecil."
"Kita harus bagaimana, Mas? Aku takut dia berniat jahat pada Arsen."
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan berbicara pada Davin agar dia jangan sampai terlambat menjemput Arsen."
Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar.
"Ayah … Ibu … apa aku boleh masuk?"
ucap Arsen dari depan pintu.
"Masuk lah, Sayang. Pintunya tidak dikunci," sahut Suci.
"Ada apa, Nak?" tanya Rayyan.
"Apa Ibu sudah bicara pada ayah tentang acara pentas seni di sekolahku?"
"Ah, iya. Ibu lupa."
"Pentas seni apa, Nak?" tanya Ray lagi.
"Dua hari lagi sekolahku mengadakan pentas seni untuk dalam rangka ulang tahun sekolah. Setiap siswa diwajibkan tampil di atas panggung bersama keluarganya. Ayah bisa 'kan ikut tampil di acara itu?"
"Ehm … dua hari lagi ya? Ayah minta maaf, Nak. Sepertinya ayah tidak bisa hadir karena ayah ada jadwal keluar kota."
"Ayolah, Yah. Acara ini hanya sekali setahun. Masa Ayah tidak mau menyempatkan waktu," rengek Arsen.
"Sebenarnya ayah juga ingin sekali datang, tapi ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaan ayah."
"Arsen Sayang, tidak apa kalau ayah tidak bisa datang ke acara pentas seni itu, 'kan masih ada ibu. Ibu mau kok naik ke atas panggung," hibur Suci.
"Tapi, Bu. Bu guru bilang jika masih memiliki orangtua, harus mengajak keduanya."
"Arsen 'kan bisa bilang sama ibu guru kalau ayah Arsen sedang bekerja, ibu guru pasti maklum kok," ucap Suci seraya membelai lembut rambut putera sambungnya itu.
"Ya sudah, tidak apa-apa sama Ibu saja. Memangnya kita mau menampilkan apa?"
"Ehm … apa ya? Apa Mas punya ide?"
"Kamu bisa menyanyi?" tanya Ray.
"Bisa, di kamar mandi." Suci terkekeh.
__ADS_1
"Bagaimana dengan membaca puisi?"
"Puisi?"
"Ya. Kalian bisa membacanya secara bergantian, pasti lebih seru."
"Tapi, Mas. Aku tidak bisa membuat puisi."
"Biar aku yang membuat puisinya, kalian tinggal menghafalkannya saja."
"Bagaimana, Sayang? Kamu setuju?" tanya Suci pada Arsen. Bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Tunggu sebentar." Rayyan meninggalkan kamarnya. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa selembar kertas bertuliskan puisi yang sudah dicetak.
"Secepat ini Mas membuat puisi?"
"Kamu tidak tahu kalau aku suka sekali menulis puisi. Aku menyimpannya dia dalam laptop ku. Jadi aku tinggal mencetaknya saja."
"Pasti puisi-puisi itu ditujukan untuk mendiang ibunya Arsen."
"Ehm … sebagian ya, tapi sebagian lagi tidak. Itu bukan puisi cinta."
"Puisi cinta itu apa, Ayah?" tanya Arsen dengan mata polosnya.
"Nanti kamu tahu kalau sudah besar."
"Apa aku boleh tahu apa judul puisi nya, Mas?"
Ray pun menyodorkan kertas tersebut pada Suci lalu dibacanya di hadapan Arsen.
"Cinta tanpa tapi"
Ray mengulas senyum tipis.
"Cinta itu bersifat universal. Tidak hanya untuk seorang laki-laki kepada perempuan, tapi dari orangtua untuk anaknya, ataupun sebaliknya. Bisa juga untuk seorang sahabat," jelasnya.
"Oh, begitu ya."
Tiba-tiba Arsen menutup mulutnya karena rasa kantuk mulai menyerangnya.
"Sepertinya kamu sudah mengantuk. Besok saja kita menghafalkan puisinya," ucap Suci.
"Ibu, aku boleh nggak tidur bersama Ibu?" tanya Arsen.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin tidur bersama ibu? Memangnya kamu takut tidur di kamar sendiri?"
"Aku kangen dipeluk Ibu saat tidur seperti waktu aku kecil dulu," ujar Arsen.
"Aku boleh 'kan, Yah tidur di sini semalam … saja."
"Ehm … boleh nggak ya? Boleh deh."
"Terima kasih, Ayah."
Arsen pun lantas naik ke atas tempat tidur.
"Ayah di samping kananku dan Ibu di samping kiriku ya," pintanya.
__ADS_1
Ray dan Suci mengangguk setuju. Keduanya pun lantas membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi seperti yang diminta Arsen.
"Sebelum tidur kita berdo'a dulu. Arseb yang memimpin do'a ya," ucap Suci.
Bocah itu pun mulai memimpin do'a sebelum tidur.
"Selamat malam, Ayah … Ibu." Arsen mendaratkan kecupan lembut di kening Ray dan Suci secara bergantian.
"Selamat malam, Sayang. Mimpi indah ya." Suci balas mengecup kening bocah itu.
Tidak berselang lama setelah menggenggam kedua tangan ayah dan ibu sambungnya itu, Arsen pun terlelap.
"Selamat malam," ucap Ray pada Suci. Dia lantas mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu meja.
Suci mengamati wajah Arsen yang baru saja terlelap. Dia dapat menangkap kebahagiaan di raut wajah polos itu.
Keesokan paginya.
Adzan subuh membuat Suci tebangun. Biasanya dia akan langsung beranjak dari tempat tidurnya. Namun entah mengapa pagi itu ia merasa begitu nyaman dan hangat di dekapan Arsen, membuatnya sedikit mengulur waktu untuk bangun.
Dia justru mendekap tubuh itu semakin erat.
"Tunggu! Sepertinya aroma parfum ini tidak asing bagiku. Astaghfirullahaldzim!"
Suci kaget bukan main saat tahu jika tubuh yang sedari tadi didekapnya itu bukanlah Arsen, melainkan suaminya, Rayyan.
Untuk pertama kalinya Suci mengamati wajah tampan suaminya itu dari jarak yang begitu dekat.
"Begitu beruntungnya aku memiliki suami sepertimu," batinnya.
"Tapi, di mana Arsen? Apa dia bangun sepagi ini? Atau jangan-jangan dia berpindah ke dalam kamarnya saat aku terlelap," batinnya lagi.
Dengan gerakan yang begitu lembut Suci memindahkan tangan Ray dari atas tubuhnya. Namun yang terjadi kemudian tangan itu justru semakin erat mendekapnya.
"Mas, sudah pagi. Aku harus segera bangun," bisik Suci.
"Hmmm." Ray hanya bergumam.
Entah dalam keadaan sadar atau tidak, tiba-tiba saja tangan Ray menerobos masuk ke dalam pakaian tidur Suci.
"Apa ini isyarat dari mas Ray agar aku melakukan kewajibanku sebagai istri sepenuhnya?"
Jantung Suci semakin berdebar saat Ray tiba-tiba saja wajah Ray berada tepat di hadapannya. Dia lantas menatap lekat matanya sambil sesekali mengusap lembut rambutnya. Suci yang awalnya ketakutan itu mulai merasa darahnya berdesir hangat.
"Mas Ray adalah suamiku, dia berhak mendapatkan hak nya," batinnya.
"Kamu sudah siap?" tanya Ray.
Suci menganggukkan kepalanya.
Suci memejamkan kedua matanya saat bibir Ray mulai menyentuh lembut bibirnya.
"Ah, ternyata seindah ini rasanya," batinnya.
"Selamat pagi, Ayah … Ibu …"
Suci lekas mendorong tubuh Ray saat tiba-tiba Arsen memasuki kamar.
__ADS_1
Bersambung…