
Teriakan itu sontak membuat pak Panji dan pelayan toko yang tengah asyik berc*nta itu menghentikan aksinya. Pak Panji yang telah bertelanjang dada pun lantas keluar dari dalam ruang ganti.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan raut wajah bingung.
Sementara pelayan toko yang sudah setengah telanjang pun bergegas
merapikan kembali pakaiannya.
"Sekarang juga kalian ikut kami ke kantor!" seru pria berseragam itu..
"Tidak! Saya tidak melakukan apapun!" bantahnya.
"Buktinya sudah cukup jelas. Anda dan pelayan toko ini sudah melakukan perbuatan me*um di dalam kamar ganti ini!"
"Itu tidak benar, Pak. Saya membantu bapak ini karena kesulitan membuka resleting jaket."
"Bohong! Saya mendengar sendiri obrolan mereka. Pak Panji memberikan uang pada gadis itu lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar ganti!" seru Suci.
"Su-Su-Su-ci? Kamu? Kamu ini tetangga saya. Kenapa kamu tega memfitnah saya sekeji ini?"
"Sudahlah, Bapak bisa menjelaskan semuanya di kantor," ucap petugas keamanan.
Dengan bantuan seorang pengunjung, petugas keamanan itu pun lantas membawa pak Panji serta pelayan toko menuju kantor keamanan pasar.
"Kamu juga ikut sebagai saksi," ucap petugas keamanan. Suci mengangguk setuju.
"Apa kalian pikir pasar adalah tempat untuk berbuat me*um hah?!" sentak kepala keamanan pasar.
"Gadis ini memfitnah kami!" seru pak Panji.
"Anda tidak usah mengelak. Buktinya sudah cukup kalau kalian memang melakukan perbuatan asusila di area pasar. Dan menurut peraturan di pasar ini, siapa yang dengan sengaja melakukan perbuatan tercela tersebut di lingkungan pasar, akan dikenai hukuman kurungan tiga bulan kurungan dan denda sebesar lima juta rupiah," jelas kepala keamanan.
"Tidak! Saya tidak mau dipenjara!" teriak sang pelayan toko.
"Kamu juga! Cantik-cantik tidak punya harga diri!" sungut petugas keamanan.
"Saya-saya butuh uang untuk dikirim ke kampung, Pak."
"Jadi, kamu menghalalkan segala cara, begitu?"
"Semua ini gara-gara kamu, Suci!" ketus pak Panji.
"Loh, Bapak kok nyalahin saya. Apa yang Bapak lakukan memang melanggar aturan di tempat ini. Mana mungkin saya diam saja."
"Awas kamu! Aku pasti akan membalasmu!" ancam pak Panji.
"Sekarang juga kamu hubungi keluargamu."
"Saya bisa digeprek istri saya kalau tahu begini."
"Tidak usah banyak alasan! Cepat minta istrimu datang je tempat ini!"
Dengan suara gemetar, pak Panji pun lantas menelpon bu Panji.
[Ha-ha-ha-lo, Bu. Sekarang juga Ibu ke kantor keamanan pasar]
__ADS_1
[Memangnya ada apa, Pak?]
[Sudah, datang saja. Nanti kamu akan tahu]
Pak Panji mengakhiri percakapan.
Sekitar dua puluh menit kemudian bu Panji tiba di kantor keamanan pasar. Mendapati suaminya duduk bersebelahan dengan seorang gadis, tentu saja membuat wanita pencemburu itu meradang.
"Apa yang terjadi, Pak? Dan siapa gadis ini?" tanyanya.
"Ehm … anu, Bu. Anu … gadis ini adalah pelayan toko."
"Begini, Bu. Suami Ibu dan pelayan toko ini kepergok sedang melakukan perbuatan me*um di dalam kamar ganti," jelas kepala keamanan.
"Apa benar begitu 'hah?!" Bu Panji menatap tajam mata suaminya.
"Maaf, Bu. Bapak khilaf."
"Plak!" Sebuah tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di pipi kanan pak Panji, meninggalkan rasa perih yang teramat sangat.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri! Apa kamu lupa bagaimana aku membela Bapak atas apa yang sudah Bapak lakukan pada Tini?! Itu semua demi anak-anak kita. Tapi, sekarang Bapak justru mengulanginya lagi."
"Astaghfirullahaldzim, ja-ja-di benar pak Panji yang sudah melecehkan budhe saya?" tanya Suci.
"Su-Su-Su-ci? Sejak kapan kamu berada di tempat ini?" Bu Panji balik bertanya.
"Mbak ini yang sudah melaporkan suami Ibu pada saya," ucap petugas keamanan.
"Jadi benar, pak Panji yang sudah melecehkan budhe saya, lalu menabraknya?" desak Suci.
Pak Panji diam dengan wajah tertunduk.
"I-i-iya. Saya yang sudah meruda paksa budhemu. Lalu untuk menghilangkan barang bukti saya sengaja menabraknya."
"Bi*dab! Pak, pria baj*ngan ini sepatutnya mendapatkan hukuman yang lebih berat. Dia sudah melecehkan budhe saya dan sengaja menabraknya hingga budhe saya mengalami koma dan kini kehilangan ingatannya," ungkap Suci.
"Baik, Mbak. Saya akan melaporkan perbuatan pak Panji pada polisi agar dilakukan penyelidikan lebih lanjut," ucap kepala keamanan pasar.
"Istri go*lok! Tidak bisa menjaga mulut! Gara-gara kamu aku terancam mendapatkan hukuman berat!" seru pak Panji.
"Loh, itu 'kan memang kesalahanmu sendiri. Aku tidak mau hidup denganmu lagi. Secepatnya aku akan mengurus perceraian kita!"
"Astaga, Bu. Jangan lakukan itu. Bagaimana dengan anak-anak kita?"
"Lebih baik anak-anakku tidak memiliki Bapak daripada harus memiliki ayah be*at sepertimu!"
"Ini semua gara-gara kamu!" Pak Panji mengacungkan jari telunjuknya di hadapan wajah Suci.
"Sudahlah, tidak perlu menyalahkan orang lain. Bersihkan saja isi otakmu yang penuh dengan pikira kotor itu," cibir bu Panji.
"Bapak mohon jangan ceraikan bapak. Bapak janji akan berubah." Pak Panji menjatuhkan lututnya di hadapan bu Panji lalu merengkuh kedua kakinya.
"Suci. Mari kita pulang. Biarkan saja pria be*at ini mempertanggungjawabkan perbuatannya di dalam penjara. Aku tidak peduli dia akan mati membusuk sekalipun!"
"Bapak mohon, jangan tinggalkan bapak. Bapak mengaku salah," ucap pak Panji.
__ADS_1
Bukannya iba, bu Panji justru menepis tangan suaminya lalu mendorong tubuhnya dengan kasar. Tidak lama kemudian ia pun meninggalkan ruangan tersebut diikuti Suci di belakangnya.
"Mbak Suci dari mana?" tanya si bungsu Fitri saat Suci menjemputnya di toko sepatu.
"Ehm, mbak ada urusan sebentar. Sudah dapat sepatunya?"
"Sudah, Mbak. Tinggal membayar saja."
"Ya sudah, mbak bayar dulu."
Suci pun lantas masuk ke dalam toko sepatu.
"Bu Panji, saya titip adik-adik saya pulang bareng Ibu tidak apa 'bukan? Saya harus ke rumah sakit."
"Oh, tidak apa-apa. Saya benar-benar minta maaf sama kamu karena sudah menutupi perbuatan be*at suami saya pada Tini. Saat itu yang ada di dalam pikiran saya adalah ketakutan saya jika suami saya harus masuk penjara, bagaimana dengan anak-anak saya. Tapi setelah kejadian di pasar tadi saya sadar, pria seperti Panji itu tidak pantas untuk dilindungi. Dia akan terus mengulangi perbuatannya," ungkap bu Panji.
"Sudahlah, Bu. Yang terjadi biarlah terjadi. Semoga di dalam penjara pak Panji bisa merenungi kesalahannya dan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik," ujar Suci.
Tidak lama kemudian sebuah taksi melintas.
"Murni, Fitri, kalian pulang bareng bu Panji ya. Mbak mau ke rumah sakit," ucap Suci.
Kedua gadis itu mengangguk paham.
"Saya titip adik-adik saya, Bu. Assalamu'alaikum." Suci pun lantas masuk ke dalam taksi.
Sesampainya di rumah sakit.
"Kamu kesini lagi, Nduk?" tanya Bimo.
"Tadi aku ke pasar membelikan sepatu untuk adik-adik, jadi sekalian mampir ke sini. Oh ya, Pak. Ada hal penting yang harus aku sampaikan."
"Hal penting apa, Nduk?"
"Aku sudah menemukan siapa pelaku pelecehan pada budhe, dan siapa pelaku tabrak lari itu."
"Siapa pelakunya, dan kenapa dia setega itu pada budhemu?"
"Pelakunya adalah pak Panji."
"Astaghfirullahaldzim. Tapi dari mana kamu tahu? Rasanya tidak mungkin dia membuat pengakuan sendiri."
"Ada sebuah kejadian yang akhirnya membuat bu Panji membuka kartu As suaminya sendiri."
"Lantas, di mana pak Panji sekarang?"
"Bapak tenang saja, dia sudah berada di tempat yang semestinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan bagimu untuk menyelidiki kasus budhemu, Nduk."
"Iya, Pak. Allah tidak pernah tidur. Allah pasti akan menunjukkan jalan untuk mengungkap kebenaran," ujar Suci.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…