Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 95


__ADS_3

"Jauhkan benda itu dari kami! Kamu sudah gila, Rossa!" pekik Nico.


"Kalian lah yang gila!"


"Rossa mundur!" sentak Nico.


Alih-alih menurut ucapan pria yang sudah menikahinya lebih dari delapan tahun itu, Rossa yang tengah dikuasai amarah mulai menyerang kedua pasangan mesuum itu dengan membabi buta.


Dua lawan satu. Tentu saja tenaga Rossa masih kalah kuat dengan tenaga Nico dan sang kasir. Wina mendekap tubuh Rossa sementara Nico merebut paksa pisau dari tangannya lalu melemparnya ke lantai.


"Perempuan sintiing!" maki Wina.


"Pergi dari hadapanku sekarang dan jangan pernah berani lagi menginjakkan kaki di toko ini! Dan satu lagi, rumah yang selama ini kita tempati adalah atas namaku. Mulai detik ini aku jatuhkan talak padamu!"


"Ambil! Ambil rumah dan toko ini. Aku tidak butuh semuanya! Aku akan membawa Cherry pergi darimu, dan jangan pernah berharap menemuinya lagi!"


"Bagus lah kalau kamu bawa juga anak manja yang merepotkan itu."


"Suatu hari nanti kamu akan menyesal, Nico!"


Rossa berlalu dari hadapan mereka lalu menuju bagian depan toko. Ia cukup kaget saat mendapati beberapa orang pembeli telah berada di dalam ruangan itu. Mustahil jika mereka tidak mendengar perdebatan sengit yang terjadi di ruang belakang barusan.


"Bu Rossa yang sabar, ya," ucap salah satu pengunjung.


Rossa hanya menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Saya pamit Ibu-ibu. Saya minta maaf jika selama ini banyak salah."


"Loh, Bu Rossa mau kemana?" tanya pembeli lainnya.


"Saya harus meninggalkan rumah saya."


"Pasti ini gara-gara pak Nico dan pelacuur kecil itu. Ayo Ibu-ibu! Kita labrak mereka!"


Salah seorang pembeli menghasut para pengunjung toko yang semuanya perempuan untuk mendatangi Nico dan Wina yang masih berada di ruang belakang toko.


"Woii! Pelakor dan pengkhianat! Kalian manusia tidak punya malu! Kalian yang sepantasnya angkat kaki dari toko ini!" Perempuan paruh baya itu berkacak pinggang.


"Ibu tidak tahu urusannya, jadi tidak usah ikut campur!"


"Siapa bilang saya tidak tahu urusannya. Sedari tadi saya berada di toko ini, saya melihat dan mendengar semua yang terjadi di belakang."


"Kami juga tahu toko ini dibangun dari hasil kerja keras bu Rossa. Kami juga tahu betul siapa kamu sebelum menikah dengan bu Rossa. Kamu hanyalah tukang sayur keliling yang berpenghasilan pas-pasan."


"Dasar laki-laki tidak tahu diri! Sudah diangkat derajatnya, begini balasan kamu hah!"


"Kamu juga! Gadis gatal! Diberi hati malah minta jantung! Memangnya di luar sana tidak ada laki-laki lajang, hingga laki-laki yang sudah bersuami kamu embat juga!"

__ADS_1


Nico dan Wina hanya bisa diam dan tertunduk malu saat satu persatu ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya melontarkan makian pedas pada mereka. Sepertinya dihakimi ibu-ibu lebih mengerikan daripada dihakimi di persidangan.


"Kalian berdua, cepat angkat kaki dari toko ini atau kami akan memanggil pegawai balai kota untuk datang ke sini dan mengarak kalian keliling komplek perumahan ini!" ancam salah satu pengunjung toko.


"Rossa, aku minta maaf, aku mengaku salah." Tiba-tiba saja Nico menjatuhkan lututnya di lantai dan bersimpuh di hadapan Rossa.


"Alah! Laki-laki model begini buat apa dipelihara. Sudah ketahuan salah saja masih berani mengusir kamu kok. Kalau kamu maafkan dia pasti akan mengulangi perbuatannya," sela seorang pengunjung toko.


"Rossa, jangan dengarkan apa kata mereka. Aku tahu kamu masih memiliki perasaan padaku. Aku berjanji akan meninggalkan perempuan ini dan berubah menjadi lebih baik," ucap Nico.


"Kamu ngomong apa, Mas? Setelah apa yang kita lakukan, kamu mau ninggalin aku begitu saja. Aku sudah memberikan semuanya bahkan tubuhku sekalipun," sela Wina.


"Diam kamu! Jika kamu tak menggodaku, aku tidak mungkin berbuat begitu."


"Kalian berdua sama-sama menjijikkan! Aku tidak mau menerima kembali suami yang sudah begitu mudahnya menggadaikan ikatan suci pernikahan hanya demi nafsuu sesaat. Cepat tinggalkan tempat Ini sekarang!"


"Rossa, kumohon, beri aku kesempatan ke dua. Aku janji tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama."


"Bangunlah," ucap Rossa.


"Kamu mau memaafkanku, Rossa?" Tiba-tiba sorot mata Nico berbinar.


"Semua kesalahan mungkin bisa kumaafkan, tapi tidak untuk pengkhianatan. Kami harus membayarnya dengan mahal. Pergilah."


Keadaan berbalik. Rossa yang kini mengusir Niko dari toko.


"Terima kasih, Ibu-ibu," ucap Rossa dengan sorot mata haru.


"Apalagi yang kalian tunggu! Cepat angkat kaki dari tempat ini atau kami akan melaporkan perbuatan mesuum kalian pada polisi!"


"Aku tidak terima dengan perlakuan ini. Tunggu saja pembalasanku," gumam Nico sembari beranjak meninggalkan toko, Wina di belakangnya mengekor.


"Ada apa ini?" ucap seorang perempuan berusia empat puluh tahunan yang baru saja muncul di depan toko.


"Ini loh, Lam. Adik laki-laki kamu kepergok mesuum di toilet dengan kasir toko."


"Astaga! Apa ini benar, Nic?" cecar Nilam.


Perempuan yang baru saja muncul itu adalah Nilam, kakak kandung Nico yang tinggal yodu jauh dari rumah Rossa.


"Kenapa kamu diam saja, jawab!" Ibu dua anak itu meninggikan suaranya.


"Ehm … "


"Apakah yang diucapkan ibu ini benar, Ros?"


"I-i-iya, Mbak. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mereka berduaan di dalam toilet," ungkap Rossa.

__ADS_1


"Memalukan! Plak!" Nilam mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi adik semata wayangnya itu.


"Mbak … aku ini adik Mbak. Harusnya Mbak membelaku, bukan malah ikut-ikutan mengeroyokku," protes Nico sembari mengusap pipinya yang masih terasa panas karena tamparan barusan.


"Hanya orang bodoh yang membenarkan sebuah perselingkuhan!"


"Tolong aku, Mbak. Mereka mengusirku dari toko ini."


"Tindakan mereka sudah benar, aku tidak sudi memiliki adik seorang pengkhianat!"


"Sudah, sana pergi. Sampah tidak pantas berada di lingkungan ini!" seru seorang pengunjung toko.


"Mbak, tolong aku, Mbak. Aku tidak punya tempat tinggal lain," rengek Nico.


"Apa yang kamu tanam, maka itulah yang akan kamu petik," ujar Nilam.


"Bahkan kakak kandungku pun tidak mau menolongku. Aku tidak akan melupakan hari ini," gumam Nico. Dia pun lantas meninggalkan toko.


"Ayah, Ayah mau kemana?" tanya seorang bocah perempuan yang baru saja muncul di depan toko.


"Ayah harus pergi, Nak."


"Ayah mau pergi kemana? Kenapa aku dan ibu tidak diajak?"


"Tidak, Nak. Ayah harus pergi sendiri."


"Aku mau ikut Ayah," rengek gadis kecil bernama Cherry itu.


"Kamu di sini saja ya, Sayang. Di sini ada ibu dan bibi mu."


"Aku mau ikut Ayah!" tegas Cherry.


"Tidak bisa, Nak. Ayah tidak bisa membawamu. Kalau kamu ikut dengan ayah, bagaimana dengan sekolahmu?"


"Aku mau ikut Ayah. Hu … hu … hu …"


Tangis Cherry mulai pecah.


"Ayah! Jangan pergi!" pekik Cherry.


Beberapa pasang mata yang berada di tempat itu hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan iba.


"Sayang … sini sama ibu." Rossa menghampiri Cherry lalu merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.


"Kenapa Ibu tidak melarang ayah pergi, dan kenapa kita tidak ikut?" isak Cherry.


"Maafkan ibu, Nak. Mungkin sekarang kamu belum mengerti. Tapi suatu hari nanti kamu akan tahu alasan ayahmu pergi," ucap Rossa lirih.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2