Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 97


__ADS_3

"Sepertinya aku mengenal pria itu," ucap Ray.


"Sungguh?"


Ray mengamati sekali lagi pria itu sebelum memastikan jika dia benar-benar mengenalnya.


"Itu 'kan tuan Freddy."


"Apa dia kawan Tuan?"


Ray menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya tahu saja, tapi tidak mengenalnya secara dekat. Tuan Freddy adalah ayahnya dokter Kinara."


"A-a-pa? Ayahnya dokter Kinara?"


"Benar, Mbok."


"Maaf, Tuan. Apa tuan Freddy itu masih memiliki istri?"


"Tidak, Mbok. Ibunya Kinara sudah lama meninggal dunia."


"Oh. Jika dilihat dari kedekatan mereka, saya yakin mereka sudah cukup lama saling mengenal."


"Saya juga berpikir begitu," ujar Ray.


"Mbok tahu sekarang dari mana handphone dan barang-barang mahal itu berasal. Pasti dari tuan Freddy. Tapi saya curiga Siska mendekatinya hanya karena dia memiliki banyak uang. Dia 'kan masih muda, mana mau jalan dengan pria seumuran pak Bondan."


"Kita tak pernah tahu isi hati orang. Mungkin saja Siska benar-benar memiliki perasaan pada tuan Freddy. Sudahlah, biar itu menjadi urusannya. Kita jalan lagi ya, Mbok."


"Ya, Tuan."


Ray menghidupkan kembali mesin mobilnya. Tidak berselang lama mobil itu pun meninggalkan tempat tersebut.


Sementara itu di dalam tempat karaoke.


"Kenapa Tuan mengajak saya ke tempat ini?" tanya Siska sesaat setelah memasuki ruang karaoke.


"Ah, tidak apa. Pikiran saya sedang penat, jadi saya butuh hiburan. Kamu hanya perlu menemani saya menyanyi saja kok."


Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Tampak beberapa orang pria seumuran Freddy masuk ke dalam ruangan kedap udara itu. Semuanya terlihat menggandeng pasanganya masing-masing dan jika dilihat dari wajahnya usia gadis-gadis itu masih sangat belia.


"Aku pikir aku sudah terlambat, ternyata aku datang paling awal," ucap Freddy.


"Stay calm, Mister," ucap salah satu kawan Freddy.


"Siapa gadis manis ini?" tanya pria bernama Willy sembari mencolek dagu Siska."


"Heh! Jaga tanganmu. Jangan usil," tegur Freddy.


"Semua gadis yang berada di dalam ruangan ini 'kan milik kita bersama." Pria paruh baya itu terkekeh.

__ADS_1


"Siska ini berbeda dengan gadismu," ujar Freddy.


"Ah, apanya yang beda? Mereka 'kan kita bayar untuk kita ajak bersenang-senang."


"Aku akan memperlakukan Siska dengan istimewa karena aku akan menjadikannya pendampingku."


Pernyataan yang baru saja meluncur dari mulut Freddy tentu saja membuat Siska tercengang.


"Apakah tuan Freddy benar-benar tulus mencintaiku? Sedangkan aku hanya menginginkan uangnya saja," batinnya.


"LC," panggil Willy pada seorang pemandu lagu yang sedari berdiri di dekat pintu."


"Ya, Tuan."


"Saya ingin melihat minuman anggur dan camilan."


"Baik, Tuan."


Gadis yang mengenakan atas ketat dan rok mini itu pun meninggalkan ruangan. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi beberapa botol minuman berwarna pekat dan beberapa bungkus camilan.


"Mari kita berpesta," ucap seorang pria bernama Juan.


Gadis pemandu lagu mulai membuka tutup botol kaca lalu menuangkannya ke dalam gelas sesuai jumlah orang yang berada di dalam ruangan itu. Satu persatu dari mereka pun mulai meraih gelasnya, tapi tidak dengan Freddy.


"Kamu nggak minum, Fredd?" tanya Juan.


Freddy menggelengkan kepalanya.


"Aku kapok terakhir kali minum dirawat di rumah sakit. Kinara memarahiku habis-habisan."


"Aku tidak mau minum lagi sampai kapan pun."


"Hai … apa kawan kita si Freddy ini benar-benar sudah tobat?" Pria bernama John terkekeh.


"Aku sudah berjanji pada putriku untuk tidak minum-minuman beralkohol lagi."


"Putrimu tidak akan tahu kalau kamu minum asalkan kamu tidak bilang."


"Benar. Aku heran, kenapa kamu begitu takut pada putrimu itu."


"Aku sangat menyayangi Kinara, jadi aku tidak ingin membuatnya kecewa."


"Tapi aku tidak yakin kalau dia akan mengizinkanmu menikah lagi, apalagi dengan gadis yang usianya lebih muda darinya," ujar Willy.


"Willy benar. Memangnya kalau putrimu tidak mengizinkanmu menikah, apa kamu akan tetap nekad?"


"Aku akan berusaha meyakinkannya . Meskipun usianya masih muda, Siska bisa menjadi istri sekaligus ibu sambung yang baik bagi Kinara."


"Terserah kamu saja lah Fredd. Semoga semua bisa berjalan sesuai harapanmu."


"LC … nyalakan musiknya!" seru Willy.

__ADS_1


Musik bergenre pop mulai mengalun. Willy yang dari awal paling bersemangat berkaraoke itu pun mulai mengikuti lirik lagu yang terpampang di layar besar yang berada di ruangan itu.


"Kemesraan ini … janganlah cepat berlalu!"


Meski jauh dari kata merdu, semua yang berada di dalam ruangan itu mulai mengikutinya bernyanyi. Awalnya semua terlihat wajar bagi Siska. Namun, ia mulai merasa tidak nyaman saat Willy dan pasangannya mulai bercumbu.


"Ehm … Tuan. Apa aku boleh pulang sekarang? Aku-aku, …"


"Kamu pasti mulai tidak nyaman berada di sini. Ayo, aku antar kamu pulang sekarang," ucap Freddy.


"Fredd … kamu mau kemana?" tanya Juan saat mendapati rekan bisnisnya itu beranjak dari tempat duduknya.


"Aku mau mengantar Siska pulang."


"Kami yang ngajak kita kumpul, kenapa kamu yang pergi duluan," protes Willy.


"Sorry, Siska kurang nyaman berada di ruangan ini."


"Ah, payah!" gerutu Willy.


"Selamat bersenang-senang. Ingat, jangan sampai menerobos benteng pertahanan gadis-gadis ini. Bisa panjang urusannya." Freddy terkekeh.


"Kami membayar mereka hanya untuk bersenang-senang saja." Willy menghentikan sejenak aksinya yang tengah bercumbu dengan gadisnya lalu meneguk gelasnya yang tinggal separuh.


"Aku pergi dulu." Freddy menggandeng tangan Sisk lalu mengajaknya meninggalkan tempat tersebut.


"Freddy tidak seburuk yang kupikir. Dia bahkan berbeda dari kawan-kawannya yang masih suka main perempuan dan menenggak minuman keras. Ah, kenapa aku jadi begini? Apa ini artinya aku mulai memiliki rasa padanya?" batin Siska.


"Kamu mau langsung pulang atau mau kuantar kemana lagi?" tanya Freddy sesaat setelah mereka berada di dalam mobil.


"Ehm … langsung pulang saja, Tuan. Sepertinya saya sudah cukup lama di luar rumah."


"Apa majikanmu galak?"


"Ehm … majikan saya tidak galak sih, tapi asisten rumah tangga yang lebih senior yang suka membuat saya kesal."


"Oh, jadi tempatku bekerja ada dua orang asisten rumah tangga?"


"Benar, Tuan. Dia suka sekali mengatur saya."


Freddy mengulas senyum tipis.


"Kalau kamu jadi istri saya nanti, kamu akan saya perlakukan seperti ratu. Jika perlu kita memakai 5 asisten rumah tangga sekaligus."


"Apa itu tidak berlebihan, Tuan?" tanya Siska.


Tiba-tiba Freddy menatap lekat mata Siska.


"Apapun akan saya lakukan demi kebahagiaan orang yang saya sayangi," ujarnya.


Untuk pertama kalinya Siska menatap sepasang netra Freddy dari jarak yang begitu dekat. Ketulusan, itulah yang ia temukan di sorot mata itu.

__ADS_1


"Sepertinya pria ini begitu tulus mencintaiku. Tapi, apa aku siap jika harus menikah dengannya?" gumamnya.


Bersambung …


__ADS_2