
"Hanafi? Ngapain kamu di sini?" tanya Suci.
"Kenapa kamu tidak pernah mau menjawab telepon dariku? Aku hanya ingin mengajakmu mengobrol berdua, itu saja."
"Maaf, pekerjaanku di sini sebagai pengasuh. Aku tidak bisa seenaknya pergi keluar dari rumah ini."
"Bilang saja kalau kamu tidak mau berkawan denganku lagi."
"Bu-bu-bukan begitu. Aku hanya, …"
"Ya sudah, mumpung kamu di luar, kamu ikut aku sekarang."
"Tidak bisa. Aku baru pulang dari kampung dan harus kembali bekerja di rumah ini."
"Ayolah, sebentar saja." Tiba-tiba Hanafi menarik tangan Suci.
"Maaf, aku harus segera masuk ke dalam."
"Ayolah. Tidak sampai satu jam."
"Lepaskan tanganku atau aku akan berteriak!" ancam Suci.
Laki-laki yang sehari-harinya bekerja sebagai juru parkir itu menarik paksa tangan Suci hingga menarik perhatian pak Bondan yang saat itu tengah berjaga di dalam pos security.
"Ada apa ini?!"
"Tolong saya, Pak. Dia memaksa saya ikut dengannya."
"Bukankah tadi aku sudah bicara baik-baik, kamu saja yang sok jual mahal!"
"Lepas tangan mbak Suci atau aku akan membawamu ke kantor polisi!" ancam pak Bondan.
"Tidak usah ikut campur, Pak tua. Ini urusan anak muda," ucap Hanafi.
"Jelas saja harus ikut campur. Mbak Suci ini pengasuh tuan muda Arsen. Saya tidak
akan tinggal diam jika ada yang mengganggunya."
"Saya mengenal Suci jauh sebelum dia bekerja di rumah ini."
"Suci sudah menolakmu, kenapa kamu masih saja memaksanya? Apa kamu tidak punya malu? Mbak Suci silahkan masuk."
Pak Bondan membuka pagar besi kemudian mengajak Suci masuk ke dalam pekarangan rumah mewah itu.
"Awas kamu Suci! Suatu hari nanti kamu akan membayar kesombonganmu!" teriak Hanafi dari luar pintu gerbang.
"Laki-laki itu siapa, Mbak?" tanya pak Bondan sesaat setelah mengunci pintu gerbang.
"Namanya Hanafi, dia kawan saya di kampung, Pak."
"Mungkin dia menyukai Mbak Suci."
Suci mengulas senyum.
__ADS_1
"Saat ini saya hanya ingin fokus pada pekerjaan saya agar hutang keluarga saya segera lunas."
"Kamu memang anak yang baik."
Pak Bondan menepuk pundak Suci.
"Ya sudah, saya masuk ke dalam dulu."
Suci melangkah masuk ke dalam rumah berlantai tiga itu. Rupanya mbok Asih dan Arsen sudah menyambutnya di depan pintu.
"Ci … Ci …"
Arsen yang belum lancar berjalan itu berlari ke arah Suci. Namun dia tersandung kakinya sendiri. Beruntung Suci dengan sigap menangkap tubuh kecil itu. Jika tidak sang tuan muda sudah pasti terjatuh, bahkan terluka.
"Tuan muda pasti kangen banget sama kamu, Nduk," ucap mbok Asih.
"Masa baru sehari ditinggal saja sudah kangen," ucap Suci seraya mengusap rambut pirang Arsen.
"Semalam dia beberapa kali terbangun dan mencarimu."
"Tuan muda belum mandi ya? Kok baunya kecut," ucap Suci.
"Daritadi mbok bujuk buat mandi nggak mau. Mungkin dia hanya mau dimandikan kamu."
"Tuan muda mandi dulu ya, biar ganteng dan wangi," bujuk Suci. Bayi tampan itu menganggukkan kepalanya.
"Apa mbok bilang. Tuan muda Arsen hanya mau nurut dengan pengasuhnya."
Suci menggendong Arsen lalu berjalan menuju kamar Arsen diikuti mbok Asih di belakangnya.
"Bagaimana urusan budhemu, Nduk?" tanya mbok Asih saat Suci tengah menyuapi Arsen di taman belakang rumah.
"Alhamdulillah, Mbok. Allah mempermudah urusanku. Aku sudah menemukan siapa pelaku yang sudah mendzolimi budhe Tini yakni ketua RT kami."
"Astaghfirullahaldzim. Kenapa dia setega itu, Nduk? Apa dia punya dendam pribadi dengan budhemu?"
"Sepertinya pak Panji memang memiliki gangguan kejiwaan. Yang dipikirkan otaknya hanya perbuatan me*um."
"Lantas, bagaimana keadaan budhemu sekarang?"
"Akibat kecelakaan itu budhe kehilangan ingatannya. Sampai saat ini budhe masih dirawat di rumah sakit."
"Mbok hanya bisa bantu do'a semoga budhemu cepat diberi kesembuhan."
"Aamiin … terima kasih, Mbok."
Tidak berselang lama Rayyan muncul di taman belakang itu.
"Kapan kamu kembali dari kampung?" tanyanya.
"Saya sampai di rumah ini sekitar satu jam yang lalu."
"Untung lah kamu bisa kembali ke rumah ini tepat waktu. Ditinggal semalam saja seisi rumah dibuat bingung karena dia terus menangis."
__ADS_1
"Alhamdulillah urusan saya sudah selesai, jadi saya bisa cepat kembali ke rumah ini."
"Sepertinya Arsen memang merasa cocok denganmu."
Suci menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Makan yang banyak ya, Sayang. Biar cepat besar," ucap Rayyan seraya membelai lembut rambut Arsen.
Bayi tampan itu tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang sudah tumbuh empat biji. Dua biji di bagian atas, dua biji lainnya di bagian bawah.
"Loh, gigi kamu sudah tumbuh, Nak?" tanya Rayyan.
"Saat saya mulai bekerja di rumah ini pun gigi tuan muda memang sudah tumbuh empat biji."
Rayyan membuang nafas.
"Sepertinya selama ini saya terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga kurang memperhatikan tumbuh kembangnya."
"Arsen sudah tidak memiliki ibu, jangan sampai dia juga merasa kehilangan sosok ayah," ujar Suci.
"Saya baru sadar, apa yang selama ini saya lakukan salah. Tidak sepantasnya saya melampiaskan amarah saya pada Arsen. Saya sempat berpikir dia lah penyebab kepergian Arini."
"Mendiang nyonya Arini pasti akan merasa sedih jika Tuan memperlakukan tuan muda Arsen dengan buruk. Ini tidak adil bagi bayi sekecil dia yang belum mengerti apapun."
"Kamu benar, saya seharusnya bersyukur Arini pergi dengan meninggalkan Arsen, calon penerus garis keturunan keluarga saya. Sudah hampir gelap, sebaiknya bawa Arsen masuk ke dalam."
"Baik, Tuan."
Suci lantas mendorong kereta bayi itu masuk ke dalam rumah.
"Kamu jangan pernah sekali-kali berusaha merebut hati Ray!" ketus nyonya Sofia saat berpapasan dengan Suci di depan kamar Arsen.
"Maksud Nyonya apa? Niat saya merantau jauh-jauh ke kota ini hanya untuk bekerja demi memperbaiki nasib keluarga saya."
"Alah. Omong kosong. Jangan-jangan kamu memakai aji pengasihan untuk merebut hati Arsen dan ayahnya."
"Demi apapun tuduhan itu tidak benar!" tegas Suci.
"Dari sekian banyak pengasuh yang pernah bekerja di rumah ini, Arsen hanya mau menurut denganmu saja. Pasti ada yang tidak beres denganmu."
"Kalaupun tuan muda Arsen menurut pada Suci, saya rasa hal itu karena ketulusan hatinya." Mbok Asih yang baru saja muncul itu menimpali.
"Awas saja kalau sampai kamu benar-benar merebut hati Ray dan Arsen! Kamu akan menanggung akibatnya!"
ancam sang nyonya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1