
Sore harinya.
"Siska di mana, Mbok? Kok nggak ada di kamarnya?" tanya Suci pada mbok Asih yang tengah memasak makan malam di dapur.
"Tadi mbok suruh buang sampah di depan. Eh, tapi kok lama sekali nggak balik-balik. Tempat pembuangan sampah nya 'kan tidak jauh dari rumah ini."
"Ya sudah, aku susul dia saja. Takutnya dia kebingungan mencari jalan pulang."
"Ah, masa di komplek perumahan saja tersesat. Kaya anak kecil saja."
"Maklum lah, Mbok. Dia kan baru tinggal di sini."
Suci beranjak dari dapur lalu menuju ruang tengah.
"Siska? Kamu di sini ternyata. Bukannya kamu disuruh mbok Asih membuang sampah di depan?"
Siska bergegas mematikan televisi saat Suci tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Ehm … ini baru mau berangkat."
"Ya Allah Gusti, pantesan disuruh buang sampah nggak balik-balik. Rupanya malah asyik nonton tivi!" sungut mbok Asih.
"Ini sudah mau berangkat kok." Siska berlalu dari hadapan keduanya lalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Belum apa-apa sudah ketahuan sifat pemalas nya," gerutu mbok Asih.
"Ya sudah, Mbok. Aku mau ke kamar Arsen dulu, sudah waktunya mandi sore."
Suci berlalu dari ruang tengah kemudian berjalan menuju kamar Arsen.
"Waktunya mandi sore," ucapnya.
Arsen sontak membuka matanya lalu terbangun.
"Memangnya ini sudah sore?" tanyanya.
"Lihat, jam berapa itu." Suci mengacungkan jari telunjuknya pada jam dinding yang berada di dalam kamar.
"Jam lima kurang sepuluh menit. Ternyata aku cukup lama tidur siangnya."
"Ayo mandi, biar segar." Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya menuju kamar mandi.
"Aku bisa kok mandi sendiri."
"Beneran?"
"Benar. Aku 'kan sudah besar. Masa mandi saja dimandiin."
"Ya sudah, ibu tunggu di sini. Ibu mau lihat apa Arsen benar-benar sudah besar," ucap Suci.
Sekitar 10 menit kemudian.
"Aku sudah wangi loh, Bu," ucap Arsen sesaat setelah keluar dari kamar mandi.
"Coba ibu cium, wangi atau nggak."
Suci pun mulai mengendus aroma tubuh Arsen sekaligus memeriksa apakah mandi nya bersih atau tidak.
"Anak pintar. Kamu sudah bersih dan wangi. Sekarang pakai baju."
"Biar aku saja yang mencari pakaianku. Ibu tunggu di luar saja, aku malu," ucap Arsen yang hanya mengenakan handuk itu.
"Baiklah, ibu tunggu di meja makan ya."
Suci pun lantas meninggalkan kamar tersebut kemudian menuju meja makan.
__ADS_1
Tiba-tiba Suci mendengar kegaduhan dari arah dapur. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Siska dan mbok Asih.
"Bisa nggak sih kerja yang benar? Masa ngiris bawang aja nggak bisa," ucap mbok Asih.
"Alah. Masakannya bukan untuk perlombaan 'kan. Kenapa masalah bawang goreng saja dibikin ribet.
"Dikasih tahu orangtua kok ngelunjak sih."
"Mbok saja yang suka membesar-besarkan masalah kecil."
"Mbok … Siska … ada apa kok ribut-ribut?"
"Ini loh, Siska. Kalau dikasih tahu melawan terus. Lihat saja. Masa mengiris bawang kaya mengiris kentang."
"Memang masalah ya?"
"Siska, mbok Asih ini lebih berpengalaman dalam memasak untuk tuan Ray, jadi kamu ikuti saja perintah nya."
"Iya-iya. Aku salah, aku minta maaf. Aku iris bawang yang baru lagi."
"Dari tadi nurut kan enak," ujar mbok Asih.
"Hufht!" Siska mendengus kesal sebelum akhirnya mengiris kembali bawang merah yang baru.
Pukul setengah tujuh malam hidangan makan malam sudah siap tersaji di meja makan.
"Loh, kamu mau ngapain di meja makan ini?" tegur Mbok Asih saat Siska menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.
"Makan malam lah, mau apa lagi."
"Dari dulu asisten rumah tangga di rumah ini tidak pernah makan bersama majikannya di meja makan."
"Jadi?"
"Masa kamu belum paham juga, tempat makanmu bukan di sini, tetapi di meja dapur. Kamu tahu, yang kamu duduki itu kursi tuan Ray."
Siska pun tersenyum puas sembari melirik sinis ke arah mbok Asih.
****
Pukul setengah sebelas malam.
Suci terlihat gelisah karena Ray belum juga pulang. Dia pun memutuskan untuk menunggunya di sofa ruang tamu.
"Loh, kok kamu belum tidur, Nduk?" tanya mbok Asih yang saat itu hendak memeriksa pintu dan jendela.
"Aku nggak bisa tidur, Mbok. Aku khawatir pada tuan Ray."
Wanita paruh baya itu mengulas senyum tipis.
"Tuan Ray terbiasa pulang tengah malam 'bukan? Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Tidak apa, Mbok. Aku menunggu di sini saja. Lagi pula dari tadi aku belum bisa tidur."
"Ya sudah kalau begitu, mbok masuk ke dalam dulu."
Mbok Asih beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju kamarnya.
Suci berusaha keras menahan rasa kantuknya. Namun tetap saja ia tertidur. Iya terbangun ketika mendengar suara dari pintu depan. Tempat pukul dua dini hari tiba di rumahnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Ray.
"Saya-saya menunggu Tuan. Aku tidak bisa tidur sebelum Tuan pulang."
Ray menanggapi ucapan itu dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Tuan mau makan atau minum sesuatu?" tanya Suci.
"Ehm … sebenarnya saya tadi sudah makan malam. Tapi entah mengapa sekarang aku lapar lagi."
"Ya sudah biar saya hangatkan masakan sore tadi."
"Tidak perlu."
"Katanya Tuan lapar."
"Ya, aku lapar tapi saya sedang ingin makan mie instan."
"Tunggu sebentar, saya buatkan mie instannya," ucap Suci sembari melangkah menuju ruang dapur.
Sepuluh menit kemudian Suci kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi satu mangkuk mie instan dan segelas air putih."
"Kok cuma satu, kamu nggak makan juga?"
"Tidak, Tuan. Saya kurang suka mie instan."
"Oh ya, Arsen rewel tidak hari ini?"
Tanya Ray disela makan malamnya.
"Tidak kok, Tuan. Arsen selalu menuruti kata-kata saya."
"Kamu yang sudah membentuknya menjadi pribadi yang baik dan penurut."
"Alhamdulillah."
"Uhuk! Uhuk!" Tiba-tiba Ray tersedak.
"Apa kamu menambah cabe di mie instan ini?" tanyanya.
"Ya Tuan, saya hanya tambah satu biji cabe. Memangnya kenapa, kepedasan ya?"
"Ya, dari kecil saya memang tidak menyukai makanan pedas."
"Oh, maaf ,Tuan, saya tidak tahu. Saya lupa menanyakannya pada mbok Asih."
"Tidak masalah. Yang penting sekarang kamu tahu kalau saya tidak menyukai makanan pedas."
Beberapa saat kemudian Ray sudah mengosongkan isi mangkuknya.
"Saya permisi dulu, Tuan. Saya sudah mengantuk."
Suci berangkat dari ruang tamu lalu berjalan ke arah kamarnya.
"Loh kamu mau ke mana?" tanya Ray.
"Tidur, Tuan. Saya sudah mengantuk."
"Astaga. Memangnya kamu mau tidur di mana?"
"Di kamar Arsen."
"Kita ini sudah suami istri, jadi mulai malam ini dan seterusnya kamu tidur di kamar saya."
"A-a-pa? T-t-tapi, …"
"Apanya yang tapi? Kamar saya sekarang menjadi kamarmu juga. Ayo kita tidur, saya juga sudah mengantuk."
Tiba-tiba jantung Suci berdetak kencang Saat Ray mulai membuka pintu kamarnya.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ, ayo masuk."
__ADS_1
Tak hanya jantung yang berkencang, kini tubuh Suci mulai terasa gemetar.
Bersambung …