Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 48


__ADS_3

"Ibu? Ini benar Ibu 'kan?"


Ya. Perempuan yang menghampiri Widya adalah anak sambungnya, Suci.


"Suci? Kamu, Nak?"


"Aku tidak menyangka bisa bertemu Ibu di sini," ucap Suci.


"Ibu minta maaf, Nak," ucap Widya.


"Kenapa Ibu minta maaf? Ayo kita duduk di sana."


Suci mendorong kereta bayi yang biasanya digunakan untuk mengajak Arsen keluar rumah itu menuju salah satu bangku yang berada di taman itu.


"Bagaimana kabarmu, Nak?"


Suci terdiam sejenak. Selama ini perlakuan ibu sambungnya padanya sama sekali tidak ramah bahkan cenderung kasar. Lantas, apa yang membuat sikapnya berubah?


"Alhamdulillah, kabarku baik, Bu. Ibu sendirian saja ke taman ini? Mana Siska?"


Suci mengedarkan pandangannya di taman itu namun ia tak menemukan apa yang dicarinya.


"Ibu tidak bersama Siska."


"Oh, siang-siang begini Siska pasti sedang kuliah."


"Entahlah, ibu tidak lagi peduli padanya."


"Apa maksud Ibu? Ibu datang ke kota ini untuk menyusul Siska 'bukan?"


"Ibu tidak tinggal bersama anak durhaka itu."


"Apa maksud Ibu? Kenapa Ibu mengatakan Siska anak durhaka?"


"Ibu memang sempat tinggal dengannya. Tapi seminggu yang lalu dia mengusirku."


"Me-me-mengusir Ibu? Tapi, mana mungkin?"


Widya tersenyum getir.


"Nyatanya begitu. Dia hanya menganggapku sebagai beban. Selama tahun tinggal dengan Siska, aku diperlakukan seperti seorang pelayan. Hingga puncaknya saat Siska pulang dari kuliah. Dia marah besar padaku lantaran aku belum mencuci baju seragam kerjanya. Padahal saat itu aku sedang sakit. Siska pun mengusirku dari tempat kostnya," ungkapku.


"Astaghfirullahaldzim. Aku tidak menyangka Siska setega itu."


Suasana hening sejenak.


"Sekarang Ibu tinggal di mana?" tanya Suci.


"Setelah aku pergi meninggalkan tempat kost Siska, aku berjalan tanpa arah. Aku kelelahan hingga akhirnya aku tak sadarkan diri."


"Lantas, Ibu tinggal di mana?"


Widya terdiam dan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Aku diselamatkan sepasang suami istri. Tapi, …"


"Tapi, kenapa, Bu?"


Tiba-tiba tangis Widya pecah.


"Ya Allah, kenapa Ibu menangis? Apa ada perkataanku yang menyinggung perasaan Ibu?" tanya Suci.


Widya menggeleng pelan.


"Lantas, apa yang membuat Ibu menangis?"


"Sepasang suami istri itu bernama Aldi dan Kanaya. Mereka sudah cukup lama menikah namun belum dikaruniai anak. Bu Kanaya begitu baik padaku. Ia bahkan tak keberatan saat aku melamar pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumahnya. Namun tidak dengan pak Aldi. Dia menentang keras keinginan istrinya. Mereka berdebat sengit hingga akhirnya malam itu … malam itu …" Widya kembali terisak.


"Malam itu kenapa, Bu?"


"Malam itu pak Aldi marah dan pergi meninggalkan rumah. Hingga akhirnya tengah malam itu dia pulang dalam keadaan mabuk. Keadaan ruang tamu yang gelap membuatnya berpikir jika aku adalah bu Kanaya. Dia pun memaksaku berhubungan layaknya suami istri di sofa ruang tamu."


"Astaghfirullahaldzim."


"Setelah pak Aldi menuntaskan hasr*tnya, tiba-tiba bu Kanaya muncul dan menghidupkan lampu di ruang tamu. Awalnya dia marah besar melihat kami bertelanjang bulat di ruang tamu. Namun setelah tahu jika yang terjadi di antara aku dan pak Aldi hanyalah sebuah kesalahan yang tidak disengaja, bu Kanaya pun justru meminta pak Aldi untuk menikahiku. Statusku sekarang adalah sebagai istri ke dua," ungkap Widya.


"Kenapa semuanya jadi begini, Bu?"


"Jujur, aku tidak nyaman berada di posisi ini. Di depan semua orang aku harus mengaku sebagai adik bu Kanaya. Sementara pak Aldi sendiri selalu bersikap acuh padaku. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Mau pergi, aku sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Tapi aku juga tidak yakin jika aku sanggup bertahan."


"Aku minta maaf, untuk saat ini aku belum bisa membantu Ibu."


Tiba-tiba pandangan Widya tertuju pada Arsen yang tengah tertidur pulas di kereta bayi.


"Namanya Arsen, dia adalah bayi yang kuasuh."


"Orangtuanya pasti bukan orang sembarangan."


"Arsen hanya memiliki ayah. Ibu kandungnya meninggal dunia sehari setelah melahirkan."


"Apa kamu tidak berniat mengajakku tinggal di rumah yang sekarang menjadi tempat tinggalmu? Aku tidak keberatan walaupun harus menjadi pelayan sekalipun. Daripada harus berlama-lama tinggal di rumah Aldi, rasanya seperti tinggal di neraka.


"Maaf, Bu. Di rumah itu sudah ada juru masak dan juru kebersihan. Tuan Ray juga belum mengatakan mencari tenaga lagi."


"Kamu bisa membuat salah satu dari mereka diberhentikan dari pekerjaannya. Dengan menuduh mereka mencuri, misalnya. Jika salah satu dari mereka diusir, pemilik rumah itu pasti mencari tenaga baru."


"Jika Ibu menyuruhku berbuat curang, maaf, aku tidak bisa."


"Jadi, kamu lebih memilih ibu menderita dengan tinggal di rumah itu sebagai istri ke dua? Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan Siska!"


"Bukan begitu, Bu. Aku hanya- …"


"Sudahlah, tidak ada gunanya lagi kita mengobrol. Aku pergi dulu. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi." Widya berlalu dari hadapan Suci.


"Tunggu! Bu!" seru Suci.


"Oek …oek …"

__ADS_1


Suci terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengejar ibu sambungnya itu lantaran Arsen tiba-tiba terbangun dan menangis.


"Arsen Sayang, tenang ya, Sayang," ucapnya sembari membopong tubuh Arsen dari dalam kereta bayi kemudian mendekapnya. Seperti biasanya, Arsen akan langsung berhenti menangis saat Suci membopongnya.


Setelah menenangkan Arsen, Suci pun meninggalkan taman dan pulang ke rumah Ray.


"Duh, yang habis main dari taman. Kelihatannya Tuan muda Arsen senang sekali," ucap mbok Asih.


"Iya, Mbok. Tadi aku bertemu seseorang di taman."


"Siapa, Nduk? Hanafi, atau dokter Nara?"


"Bukan dua-duanya."


"Lantas?"


"Aku bertemu ibu sambungku."


"Ibu sambungmu yang membuat kamu dan keluargamu terancam meninggalkan rumah 'bukan? Ternyata dia ada di kota ini juga."


"Ibu Widya pergi sehari sebelum aku berangkat ke kota ini."


"Oh, jadi dia kini tinggal bersama anak kandungnya itu?" tanya mbok Asih.


Suci menggelengkan kepala.


"Seminggu yang lalu Siska mengusir ibu Widya dari tempat kostnya.'


"Anak tidak tahu diuntung! Ibunya selalu menuruti semua keinginannya, tapi begini balasannya."


"Siska menganggap ibu Widya hanya menambah bebannya saja. Kurasa itulah alasannya membuatnya mengusir ibu. Jadi, dimana sekarang ibumu tinggal?"


"Ibu Widya sekarang tinggal di rumah sepasang suami yang menolongnya."


"Syukurlah jika ibumu tinggal di tempat yang layak," ujar mbok Asih.


Suci menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


Obrolan keduanya terhenti saat tiba-tiba Suci tidak sengaja mendengar obrolan Zola dengan seseorang melalui sambungan telepon.


"Ya, Nyonya. Saya mengerti." Kalimat itulah yang diucapkan Zola sebelum ia mengakhiri percakapan.


"Nyonya? Apakah lawan bicara Zola di telepon tadi adalah nyonya Sofia? Apakah mereka tengah merencanakan sesuatu? Walaupun sudah tidak lagi tinggal di rumah ini, bisa saja nyonya Sofia justru menjadikan Zola sebagai robotnya," gumam Suci.


"Ngapain kamu di sini 'hah!"


Suci berjingkat saat tiba-tiba Zola menoleh ke arahnya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading..


__ADS_2