Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 41


__ADS_3

Tiba-tiba lampu di ruangan itu menyala. Tentu saja Kanaya kaget bukan main dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Bagaimana tidak? Aldi, suaminya yang sudah menikahinya selama delapan tahun itu tengah menindih tubuh seorang wanita dengan bertelanjang bulat.


"Apa-apaan ini?!"


Aldi yang baru saja melakukan pelepasan


di dalam lubang kenikmatan Widya itu pun terperanjat saat melihat Naya berdiri di hadapannya dengan berpakaian lengkap.


Ia baru menyadari jika wanita yang menjadi pelampiasan has*at nya itu bukanlah Naya istrinya, melainkan Widya.


"Astaghfirullahaldzim! Apa yang sudah kulakukan!" pekiknya saat mendapati Widya yang terduduk lesu di atas sofa itu dengan bermandikan keringat. Ia segera memunguti pakaiannya yang tercecer di atas lantai lalu mengenakannya kembali.


"Bia*ab kalian!" pekik Naya.


"Aku bisa menjelaskannya. Tadi aku memang minum beberapa gelas. Saat kamu membukakan pintu, entah mengapa aku ingin sekali melakukannya. Tapi, kenapa jadi perempuan ini? Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya," ungkap Aldi.


Sementara itu Widya hanya duduk dan terdiam. Sepertinya dia begitu terpukul dengan kejadian yang baru saja dialaminya.


Naya bingung, apa yang harus dilakukannya. Apakah dia harus mengusir Widya, ataukah justru suaminya? Tiba-tiba saja ia menyesal kenapa dirinya tidak mematuhi perintah Aldi. Kalau saja sore tadi dia membiarkan Widya pergi, tentu peristiwa menjijikkan ini tidak akan terjadi.


"Widya, bersihkan dirimu lalu istirahat."


Dengan langkah lesu Widya meninggalkan ruang tamu itu lalu masuk ke dalam kamar tamu.


"Aku minta maaf, Nay. Ini semua benar-benar di luar kendaliku," ucap Aldi.


"Aku mau besok Mas nikahi Widya."


"Apa?! Tidak! Mana mungkin aku menikahi perempuan lain sementara hanya kamu saja perempuan yang aku cintai."


"Jadi, setelah apa yang Mas lakukan pada Widya, Mas akan lepas tangan begitu saja? Terlepas dari sengaja atau tidak, apa yang kalian lakukan ini adalah perbuatan z*na."


"Mas benar-benar minta maaf, Nay."


"Apa kata maaf bisa mengembalikan waktu? Sudahlah, aku lelah mau istirahat."


Naya masuk ke dalam kamarnya. Hati perempuan mana yang tidak hancur jika melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya menjelajah bukit perempuan lain? Meskipun ia juga tahu apa yang terjadi di ruang tamu itu bukanlah kesengajaan. Dari lantai dua dia bisa mendengar sayup-sayup suara teriakan minta tolong dari arah ruang tamu. Jika Widya yang menggoda suaminya, mana mungkin dia berteriak begitu.


"Nay," panggil Aldi sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sementara Naya membelakanginya dengan wajah menghadap ke dinding.


"Maafkan aku, Nay."


"Aldi menyentuh lembut punggung Naya namun ia menepisnya.


Meski tak bersuara, ia tahu jika istrinya itu kini tengah menangis.


Keesokan paginya.

__ADS_1


"Ini kebayaku saat menikah dengan mas Aldi delapan tahun silam," ucap Naya saat ia menghampiri Widya di kamar tamu.


"Maksud Ibu apa?" tanya Widya.


"Bersiaplah, tidak lama lagi penghulu datang."


"Penghulu?"


"Mas Aldi akan menikahimu."


"Apa?!"


Aku tunggu di ruang tamu."


Widya tidak tahu harus merasa senang atau sebaliknya. Dia memang sempat terpikir untuk tinggal di rumah ini. Tapi untuk menjadi istri ke dua? Tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Widya binti Fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


Kalimat ijab qabul meluncur dengan lancar dari bibir Aldi yang menandakan dirinya dan Widya sudah menjadi suami istri yang sah di mata agama.


"Mulai sekarang hak kita di rumah ini sama," ucap Naya pada Widya sebelum ia meninggalkan ruang tamu.


"Ingat. Aku menikahimu karena sebuah kesalahan. Jadi jangan pernah mengharapkan apapun dari pernikahan ini," bisik Aldi sebelum menyusul Naya.


****


"Apa kamu datang ke tempat ini naik taksi?" tanya Sean.


"Kamu pikir saja, kalau bukan naik taksi lalu naik apa, jet pribadi?" sungut Sofia.


"Kenapa kamu tidak minta mobil baru pada Ray?"


"Aku sudah bicara padanya, tapi dia tidak mau mengeluarkan uang untukku. Dia bilang agar aku tunggu saja hasil kerja polisi. Mobilku pasti kembali. Sampai harimau makan rumput pun mobilku tidak akan pernah kembali," ungkap Sofia.


"Kamu pakai jurus merayumu yang ampuh itu dong."


"Aku mengenal betul Ray, sekali dia bilang tidak, ya akan selamanya begitu. Sepertinya aku mau tarik mobil Benny."


"Anak itu pasti keberatan. Selama ini dia sangat mengidam-idamkan mobil itu."


"Atau bagaimana jika aku jual sepeda motornya? Harganya tidak berbeda jauh dengan mobil.


"Sepedaku motor itu juga masih sering dipakai kalau dia berkumpul dengan kawan-kawannya."


"Ah! Biarkan saja. Di mana kuncinya? Sekarang juga aku akan menjualnya."


"Memangnya mau kamu jual di mana?"

__ADS_1


"Kuno sekali kamu. Aku hanya tinggal memasang foto dan harga sepeda motor itu di internet dan duduk manis menunggu pembeli."


"Kuncinya ada di dalam kamar Benny," ucap Sean.


Sofia berlalu dari hadapan Sean lalu berjalan menuju kamar anak laki-lakinya itu. Ia memutar gagang pintu lalu mendorongnya. Sayang kamar itu dikunci dari luar.


"Jam berapa biasanya Benny pulang? Pintu kamarnya dikunci."


"Sebentar lagi Benny lulus SMA, sudah pasti dia akan menjaga privasinya."


Tidak berselang lama terdengar deru mobil dari arah halaman rumah.


"Itu dia pulang," ucap Sean.


"Ibu?"


"Duduklah, ibu mau bicara."


Anak laki-laki berusia tujuh belas tahun itu pun lantas duduk di sofa persis di samping Sofia.


"Ada apa, Bu?"


"Kamu 'kan tahu, mobil ibu hilang karena dirampok."


"Lantas?"


"Ibu ingin menarik mobilmu."


"Tidak boleh!"


"Ibu yang membelinya. Jadi ibu juga punya hak atas mobil itu."


"Pokoknya tidak bisa!" tegas Benny.


"Berikan kunci mobilnya!" Sofia merebut paksa kunci mobil sport yang berada di genggaman tangan Benny namun putera semata wayangnya itu menolak. Tarik menarik pun terjad. Bagaimana pun tenaga Benny tetap saja lebih besar. Dengan penuh amarsh Benny mendorong tubuh sang ibu dengan cukup kasar.


"Brukk!" Tubuh itu pun terjatuh di atas lantai. Bagian kening Sofia menghantam tepi meja dengan begitu kerasnya.


"Gelap! Kenapa semuanya gelap begini?"


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2