
Siang itu Siska telah berjalan-jalan bersama pacarnya, Dion. Siska terkejut saat tiba-tiba Dion menghentikan laju sepeda motornya.
"Kenapa berhenti? Bukankah kita mau berbelanja ke mall?"
"Lihat perempuan yang duduk di pinggir jalan itu. Dia ibumu 'bukan?"
Siska pun mengedarkan pandangannya di sekitar jalan yang dilewatinya. Benar saja dia mendapati sang Ibu tengah duduk di pinggir jalan.
"Astaga. Ibu! Apa yang dilakukannya di sana?" gumamnya.
"Ayo cepat kita pergi!" seru Siska.
"Yang benar saja. Dia ibumu, kenapa kamu malah meninggalkannya?"
"Ibu yang memilih pergi dari tempat kost ku."
"Itu tidak mungkin, pasti kamu yang sudah mengusirnya."
"Ibuku itu hanya menjadi beban buatku."
"Astaga. Tidak sepantasnya kamu bicara begitu. Memangnya kamu terlahir dari mana? Dari batu?"
"Kamu bisa bicara begitu karena kamu tidak merasakan bagaimana rasanya berada di posisiku. Kamu pikir aku tidak pusing setiap bulan harus membayar uang kuliah, uang sewa kamar kost, sekarang masih harus ditambah lagi dengan memberi makan ibu yang artinya pengeluaranku bertambah dua kali lipat."
"Sama ibu sendiri saja perhitungan sekali."
"Ini hidupku, kenapa kamu ngatur-ngatur aku?"
"Aku sayang sama kamu, Sis. Aku hanya ingin mengingatkanmu jika yang kamu lakukan pada ibumu tidak baik."
Tiba-tiba Siska turun dari sepeda motor Dion.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau pulang saja."
"Bukankah tadi kamu bilang ingin berbelanja ke mall?"
"Mood ku sudah hilang," ucap Siska sembari berlalu dari hadapan Dion. Laki-laki itu hanya menggeleng heran dengan sikap dari pacarnya itu.
Dion menentukan sepeda motornya lalu menghampiri Widya.
"Apa yang Ibu lakukan di sini?" tanyanya.
"Dion? Kamu, Nak."
Laki-laki berusia 25 tahun itu meraih tangan Widya lalu mencium punggung tangannya.
"Kenapa Ibu tidak tinggal bersama Siska lagi?"
Widya membuang nafas.
"Daripada tinggal bersama anak tidak tahu balas budi lebih baik aku jadi gelandangan," ujarnya.
"Aku sudah mencoba menasehati Siska akan tetapi dia keras kepala. Tadi dia sempat melihat keberadaan ibu di sini namun dia justru memilih pergi dari tempat ini," ungkap Dion.
"Aku menyesal telah melahirkan anak sepertinya."
"Jadi, sekarang Ibu tinggal di mana?" tanya Dion.
"Aku tidak memiliki tempat tinggal, bahkan sekarang aku tidak tahu kemana arah dan tujuanku."
"Maaf, Bu aku tidak bisa membantu. Di kota ini aku sendiri juga tinggal di tempat kost sempit."
__ADS_1
"Tidak apa, Nak. Aku bisa tinggal di mana saja."
"Ini ada sedikit uang untuk Ibu. Maaf aku tidak bisa membantu banyak," ucap Dion seraya menyelipkan dua lembar uang pecahan lima puluh ribu di tangan Widya.
"Terima kasih, Nak . Sungguh mulia hatimu."
"Saya tinggal dulu ya, Bu. Ibu hati-hati."
Dion pun lantas berlalu dari hadapan Widya.
Bingung. Itulah yang dirasakan Widya kini.
Hidupnya benar-benar telah hancur ditambah lagi dengan kehamilannya dari perbuatan yang dilakukan Aldi. Pulang ke kampung, rasanya tidak mungkin. Bimo sudah menjatuhkan talak padanya. Sementara tetap bertahan di kota pun hal yang sulit.
"Untuk apa lagi aku hidup jika harus menderita begini?" gumamnya.
Entah setan apa yang merasukinya saat itu. Tiba-tiba Widya berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dengan langkah lesu dia beranjak dari tepi jalan dan bergerak menuju keramaian lalu lintas. Dia tak menghiraukan seruan dan teriakan para pengguna jalan yang memintanya untuk minggir. Hingga tiba-tiba sebuah truk bermuatan semen melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
*****
Hari ini Suci dan Ray memulai pencarian Arsen. Pencarian dimulai dari rumah Sean. Bener dugaan Suci. Rumah itu telah dikosongkan pemiliknya sejak pagi tadi.
Menurut keterangan security di perumahan itu, beberapa hari yang lalu Nyonya Sofia melakukan operasi pada matanya, dan pagi tadi dia meninggalkan rumahnya tanpa memberi tahu tujuannya.
"Aku semakin curiga jika itulah otak dari perampokan di rumahku sekaligus penculikan Arsen," ucap Ray.
"Kalau boleh saya tahu kenapa kalian berdua mencari keberadaan tuan Sean dan nyonya Sofia?" tanya security itu penuh selidik.
"Kami mencurigai mereka menjadi dalang perampokan sekaligus penculikan pada putera saya," ungkap Ray.
"Semoga kalian bisa cepat menemukan mereka," ucap security.
"Terima kasih."
"Di mana Kita harus mencari keberadaan mereka, Tuan?" tanya Suci.
"Kemungkinan besar mereka pergi ke luar kota. Kita akan mencoba menyisir hotel dan restoran di kota ini. Saya rasa mereka pasti berhenti di salah satu tempat itu," ucap Ray. Suci mengganggu setuju.
Pencarian mereka dimulai di sebuah cafe.
Rini memperlihatkan foto nyonya Sofia melalui ponselnya. Namun pegawai cafe mengatakan dia tidak melihat wajah di foto tersebut.
Pencarian berlanjut hingga ke hotel. Namun hasilnya pun nihil. Tidak ada seorangpun yang mengenali nyonya Sofia.
Hingga hari beranjak sore pun mereka belum juga menemukan titik terang keberadaan mereka.
"Seharian ini Tuan belum makan. Bagaimana kalau kita berhenti di rumah makan itu sebentar," ucap Suci.
"Aku tidak lapar."
"Apa Tuan lupa saat kita ke kampung saya kemarin? Tuan sempat sakit perut karena terlambat makan."
"Bagaimana aku bisa makan, sementara aku tidak tahu di mana dan bagaimana keadaan Arsen sekarang," ujar Ray.
"Tuan masih ingin mencari keberadaan tuan muda 'bukan? Bagaimana kita akan melanjutkan pencarian juga Tuan jatuh sakit?"
Suci terus mendesak sang tuan agar mau berhenti untuk mengisi perutnya. Akhirnya Ray pun menuruti permintaannya.
Suci memesan dua porsi nasi goreng beserta dua gelas teh hangat untuk Ray dan untuk dirinya sendiri. Setelah mengisi perut mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
"Tu-an, …"
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ehm … anu … anu. Maaf, apa kita berhenti bisa berhenti di pom bensin?"
"Bahan bakar mobil saya masih penuh."
"Bukan itu maksud saya."
"Lantas?"
"Perut saya mulas sekali. Sepertinya saya kekenyangan."
"Ya sudah jika nanti melintasi POM bensin kita berhenti," ucap Ray. Suci mengangguk paham.
Beberapa saat kemudian
"Bau apa ini?" tanya Ray seraya menutup lubang hidungnya.
"Ma-ma-af, Tuan, kelepasan," ucap suci kikuk.
Ray pun bergegas menghentikan mobilnya saat melintasi sebuah stasiun pengisian bahan bakar.
"Sudah sana cepat ke toilet."
Suci turun dari mobil lalu menuju toilet.
Suasana di toilet umum itu begitu sepi. Tidak ada antrean di dalam sana. Dari beberapa toilet, entah mengapa Suci merasa curiga dengan sebuah ruangan yang tertutup rapat. Demi menjawab rasa penasarannya Suci pun menghampiri ruangan tersebut.
"Apa ada orang di dalam?" tanyanya.
Tak ada jawaban.
"Mungkin kamar mandinya rusak, jadi ditutup," gumamnya.
Setelah usai dari toilet Suci pun bergegas meninggalkan tempat itu. Namun lagi-lagi toilet yang tertutup itu mengundang rasa penasarannya saat tiba-tiba terdengar suara seperti seseorang memukul pintu itu dari dalam.
"Siapa di dalam sana?" Suci mengulangi pertanyaannya.
"Jangan-jangan ada hantu yang ingin bermain denganku. Ah! Siang-siang begini mana ada hantu!" gumamnya.
Suci baru dua langkah meninggalkan toilet. Lagi-lagi ia mendengar suara ketukan dari dalam sana. Kali ini ketukan dari dalam ruangan itu terdengar lebih keras.
"Pasti ada yang tidak beres," gumamnya.
"Maaf Pak, apa toilet itu rusak?" tanya Suci pada penjaga toilet.
"Sepertinya tidak ada toilet yang rusak di SPBU ini. Memangnya kenapa Mbak?"
"Jika tidak keberatan saya ingin Bapak membantu saya membuka pintu toilet itu dengan kunci cadangan. Saya merasa ada sesuatu di dalam sana."
"Baiklah."
Penjaga toilet itu pun mengambil kunci cadangan dari dalam sebuah kotak. Keduanya lalu toilet yang tertutup rapat itu.
Penjaga toilet mulai memasukkan anak kunci dan mendorong gagang pintunya. Suci terperanjat saat melihat apa yang ada di hadapan matanya.
"Astaghfirullahaldzim!" jeritnya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading..
__ADS_1