Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 64


__ADS_3

"Bapak perhatikan semenjak kamu kembali dari kota, kamu kok sering murung, Nduk," ucap Bimo.


"Nggak apa-apa kok, Pak. Mungkin aku hanya kangen dengan tuan muda Arsen."


"Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanmu dan kembali ke kampung? Di sini 'kan sudah ada Fitri dan Murni yang merawat bapak."


"Tuan muda Arsen sudah tumbuh besar. Dia sudah bisa melakukan apapun sendiri. Aku merasa kehadiranku sudah tidak lagi dibutuhkan di rumah itu. Lagipula aku tidak tenang bekerja jika Bapak sering sakit-sakitan begini," ungkap Suci.


"Apa anak yang kamu asuh itu tidak keberatan saat kamu tinggal?"


"Mungkin awalnya dia merasa sedih saat kutinggalkan, tapi lama-lama dia pasti terbiasa."


"Oh ya, apa kamu sudah mendengar kabar tentang Widya?"


"Belum, Pak. Memangnya kenapa dengan ibu Widya? Saat masih bekerja di kota dulu, aku sempat sekali bertemu dengannya. Dia diusir Siska dari tempat kost nya."


"Widya sudah meninggal, Nduk. Dia ditemukan tewas tertabrak truk di jalan Raya. Dari keterangan beberapa saksi mata di tempat kejadian, mereka mengatakan jika Widya memang sengaja mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri pada kendaraan di jalan raya."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Ibu," lirih Suci.


"Bapak tidak tahu nasib Siska sekarang. Bapak sempat mendengar jika Siska diusir dari tempat kost nya karena tidak bisa membayar uang sewa kost."


"Kenapa nasib mereka jadi begini?"


"Mungkin itu hukuman dari Allah untuk mereka yang selalu membangkang bapak."


"Oh ya, siang ini Bapak sudah makan dan minum obat?" tanya Suci.


"Bapak bosan setiap hari minum obat."


"Jangan bicara begitu, Pak. Memangnya Bapak mau sakit terus? Sekarang Bapak makan lalu minum obat ya."


"Tapi, Nduk, …"


"Tidak usah bandhel."


Suci pun beranjak dari ruang tamu kemudian menuju dapur. Tidak lama ia kembali dengan membawa sepiring makanan dan segelas air putih.


Dengan penuh kasih sayang dia menyuapi pria yang sangat dikasihinya itu. Dia juga membantu sang ayah minum obat setelahnya.


"Bapak istirahat ya, aku mau cuci piring dulu," ucap Suci setelah membantu sang ayah berbaring di atas tempat tidurnya.


Baru beberapa langkah meninggalkan kamar sang ayah, tiba-tiba terdengar teriakan si bungsu Fitri dari arah teras rumah.


"Mbak Suci! Mbak Suci!" teriaknya.


"Ada apa sih, Dek? Kok teriak-teriak begitu."


"Itu, Mbak. Ada tamu."


"Tamu? Siapa?"


"Tamu nya pakai mobil mengkilap."

__ADS_1


"Sudah, sana lihat dulu siapa tamunya," ucap sang ayah.


Fitri menggandeng tangan Suci lalu mengajaknya menuju teras rumah. Alangkah terkejutnya gadis itu saat melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya siang itu.


"Itu kan mobil tuan Rayyan. Apa ini mimpi?" Suci mencubit pipi Fitri. Sontak sang adik yang kini duduk di kelas empat SD itu menjerit kesakitan.


"Aww! Sakit, Mbak. Kenapa aku dicubit?" protesnya.


"Ma-ma-af, Dek. Mbak hanya ingin memastikan jika ini bukan mimpi."


Beberapa saat kemudian pintu mobil terbuka. Yang pertama terlihat adalah seorang bocah laki-laki berusia empat tahun. Ya, dia lah Arsen.


"Mbak Suci!" teriaknya seraya berlari ke arah Suci. Ia lantas menghambur ke dalam pelukannya.


"Mbak Suci … jangan pergi … pulang ke rumah Arsen. Hu … hu … hu …"


Tidak berselang lama seorang wanita paruh baya juga turun dari dalam mobil lalu menghampirinya.


"Mbok Asih, …"


"Nduk, …"


Suci lantas mencium punggung tangannya penuh takdzim kemudian merengkuh tubuh yang sudah mulai renta itu ke dalam pelukannya.


"Semenjak ditinggal kamu, tuan muda sering sakit-sakitan. Dia juga susah makan dan susah sekolah. Saat tidur pun dia sering mengigau memanggil namamu," papar mbok Asih.


"Ya Allah, Tuan muda. Kenapa Tuan muda begitu?"


"Ehm … mbak Suci … tidak bisa, Sayang."


"Hu … hu … hu …" Tangis Arsen kembali pecah.


"Kamu sudah membuat putera semata wayang saya menangis dan bersedih sepanjang hari. Saya bisa menuntutmu," ucap seorang pria berperawakan tinggi yang tiba-tiba saja di hadapan Suci.


"Siapa pria ini? Apa dia tuan Ray? Ini tuan Ray atau bukan?" batinnya.


Pria itu pun lantas membuka kacamata hitamnya. Suci tercengang. Pria yang kini berdiri di hadapannya adalah pria tampan dan berpenampilan rapi.


"Bukan … bukan. Dia bukan tuan Rayyan," gumamnya.


"Anda siapa?" tanya Suci.


"Astaga. Bagaimana mungkin kamu tidak mengenali saya. Saya Ray, ayah Arsen."


"Tuan Ray? Rambut gondrong Tuan kemana? Jambang Tuan kemana?"


"Tuan Ray sudah memotong rambutnya dan mencukur jambangnya, itu semua karena kamu, Nduk," ucap mbok Asih.


"Ka-ka-rena saya? Apa maksudnya?"


"Mbak Suci … bekerja lagi di rumah Arsen ya," rengek Arsen lagi.


"Tidak. Ayah tidak akan mengizinkan mbak Suci bekerja di rumah kita lagi," ucap Ray.

__ADS_1


"Kamu dengar sendiri 'kan, Sayang? Ayahmu tidak mengizinkan mbak Suci bekerja kembali di rumahmu."


"Ya, saya memang tidak mengizinkan kamu bekerja kembali di rumah saya. Tapi saya memintamu untuk merawat dan mengasuh Arsen sebagai ibu sambungnya," papar Rain.


"A-a-pa?"


"Suci … maksud kedatangan saya ke rumah ini adalah untuk melamarmu. Saya baru sadar Arsen begitu membutuhkanmu," ucap Rayyan.


"Apa Tuan melamar saya hanya demi tuan muda Arsen?" tanya Suci.


Ray menggelengkan kepalanya.


"Bukan hanya itu, saya tidak tahu sejak kapan perasaan itu datang. Saya … saya mencintai kamu, Suci," ungkapnya.


Tiba-tiba Ray mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati dari dalam saku jas nya.


"Kamu mau 'kan menikah dengan saya?" tanyanya seraya menatap lekat Suci.


"Saya… saya… tidak bisa."


"Sudah kuduga. Kamu tidak memiliki perasaan apapun pada saya." Ray memasukkan kembali kotak berbentuk hati itu ke dalam saku jas nya.


"Saya belum selesai bicara. Saya- saya tidak bisa menolak lamaran Tuan. Sebenarnya saya sudah lama mengagumi Tuan."


"Sungguh? Kamu tidak sedang bercanda 'bukan?" Sekali lagi Ray menatap lekat mata Suci.


"Tidak, Tuan. Saya sungguh-sungguh dengan ucapan saya."


"Ja-ja-di, kamu mau menikah dengan saya sekaligus menjadi ibu sambung untuk Arsen?" tanya Ray.


Suci menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tanpa ia sadari, buliran bening itu menetes begitu saja membasahi pipinya.


"Terima kasih."


"Ibu … apa Arsen boleh memanggil Mbak Suci dengan sebutan ibu?" tanya Arsen.


"Tentu saja, Sayang."


Suci lantas merengkuh tubuh Arsen ke dalam pelukannya.


"Bapak … Bapak merestui hubungan saya dan Suci 'kan?" tanya Ray pada Bimo.


"Ya, bapak merestui hubungan kalian," jawabnya dengan sorot mata berkaca-kaca.


"Terima kasih, Pak."


"Selamat, Mbak Suci," ucap kedua adik perempuannya, Murni dan Fitri.


Ketiganya lantas saling merengkuh satu sama lain. Perasaan haru dan bahagia kini memenuhi rongga dada mereka.


Ya, seorang pengasuh tomboy bernama Suci itu benar-benar telah mencuri hati seorang duda tampan bernama Rayyan dan putera semata wayangnya, Arsen.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2