
"Astaga, Siska?! Apa yang kau lakukan di kamar saya 'hah?!" sentak Ray.
"Ma-ma-af, Tuan. Tadi saya hanya, …"
"Gadis tidak punya tata krama!" Selama ini saya memilih diam dengan semua tabiat burukmu. Tapi maaf, kali ini kesalahan kamu tidak terampuni. Detik ini juga kemasi barang-barangmu dan tinggalkan rumah ini!"
"Ampun, Tuan. Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya, …"
"Kembalikan gaun itu pada tempatnya!" tegas Ray.
"Siska pun lantas melepas gaun berwarna maroon yang merangkap pakaiannya lalu mengembalikannya ke dalam lemari pakaian milik Suci.
"Sekarang juga kamu saya pecat!"
"Saya mohon jangan pecat saya, Tuan. Saya tidak memiliki tempat tinggal lagi."
"Itu bukan urusan saya! Selama ini kami sudah begitu baik padamu. Tapi apa balasanmu? Kamu benar-benar sudah melewati batas!"
Tiba-tiba Siska menjatuhkan lututnya di lantai lalu merengkuh kakinya.
"Ampun, Tuan. Jangan pecat saya." Sorot mata Siska mulai berkaca-kaca. Detik kemudian tangisnya pun pecah.
"Cepat keluar dari kamar ini!" Ray meninggikan suaranya.
Beberapa saat kemudian mbok Asih muncul dari arah dapur. Ia keheranan mendapati Siska tengah bersimpuh di hadapan Ray sambil terisak.
"Ya Allah, ada apa ini, dan kenapa kamu bisa berada di dalam kamar ini?" tanyanya.
"Gadis tak punya tata krama ini memasuki kamar saya tanpa izin. Dia juga memakai gaun dan peralatan make up milik Suci."
"Siska. Kurang baik apa keluarga ini sama kamu. Meskipun kamu bekerja semaumu sendiri tuan Ray masih membayarkan gajimu. Apa yang kamu lakukan kali ini sudah melampaui batas," ucap mbok Asih.
"Aku sudah minta maaf, memangnya apalagi yang harus kulakukan? Yang penting aku tidak mencuri kan?"
"Menyelinap ke dalam kamar orang lain tanpa izin tidak jauh beda dengan pencuri! Sekarang juga tinggalkan rumah ini!"
"Saya mohon jangan usir saya, Tuan. Saya berjanji ini yang pertama dan terakhir saya membuat kesalahan. Saya berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik lagi."
Ray tampak terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengambil keputusan.
"OK! Kali ini saya ampuni kamu. Kamu hebat ingat, saya melakukannya demi Suci. Meskipun hanya mantan saudara tirimu, saya tahu jika dia sangat menyayangimu."
"Terima kasih, Tuan." Siska meraih tangan Ray lalu menciumnya.
"Tinggalkan kamar ini dan lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik, Tuan. Apa ada yang bisa aku kerjakan, Mbok?"
"Pakaian di ruangan sebelah belum disetrika."
"Baik, Mbok. Aku akan mengerjakannya sekarang." Siska beranjak dari kamar utama lalu menuju ruang khusus menyetrika.
__ADS_1
"Semoga kejadian ini bisa membuatnya berubah," gumam mbok Asih.
"Mbok …"
"Ya, Tuan."
"Tolong siapkan baju ganti Arsen dan Suci."
"Ya Allah. Apa tuan muda harus dirawat inap, Tuan?"
Iya, Mbok. Kata dokter Arsen mengalami demam tifoid atau tipes. Jadi dia harus dirawat selama 3 sampai 4 hari."
"Ya Allah, berilah segera kesembuhan untuk tuan muda," ujar mbok Asih.
"Tuan muda mau langsung ke rumah sakit?" tanya mbok Asih usai menyiapkan baju ganti untuk Suci dan Arsen.
"Iya, Mbok."
"Apa tidak makan malam dulu?"
"Nanti aku bisa makan malam di kantin."
Setelah berganti pakaian, Ray pun meninggalkan kamarnya dan menghampiri mobilnya yang berada di halaman rumah.
Ray baru saja menarik handle pintu mobil ketika tiba-tiba terdengar suara obrolan dari arah pos security. Dia pun beranjak dari halaman lalu menghampiri pos security. Alangkah terkejutnya saat melihat siapa yang tengah mengobrol dengan pak Bondan. Dia lah ibu angkatnya, Sofia.
"Ray," sapanya.
"Ibu ingin tahu kabar kalian. Ibu kangen sama Arsen".
Ray menyeringai kecut.
"Kangen? Apa anda lupa apa yang sudah anda lakukan beberapa tahun silam padanya? Anda meninggalkannya begitu saja di toilet pom bensin lalu menguncinya. Jika saja waktu tu Suci tidak bersikeras untuk membuka pintu toilet itu, mungkin aku tidak bisa menemuinya lagi."
"Ibu tahu ibu salah. Ibu benar-benar minta maaf."
"Anda masih punya muka untuk menyebut sebagai ibu di hadapanku? Sejak hari itu aku merasa tidak lagi memiliki ibu angkat."
"Kamu berhak bicara apapun tentang ibu, bahkan ibu pantas untuk dibenci. Di mana cucu ibu? Ibu ingin sekali bertemu dengannya."
"Arsen ada di dalam bersama ibunya."
"Oh ya, ibu juga mau mengucapkan selamat atas pernikahanmu dengan Suci. Ibu benar-benar tidak menyangka jika ternyata kalian berjodoh," ucap Sofia.
"Maaf, apa anda bisa minggir sebentar? Saya mau pergi keluar."
"Sore-sore begini kamu mau kemana, Nak?"
"Aku ada urusan."
"Apa Arsen diajak juga?" tanya Sofia lagi.
__ADS_1
"Tidak. Pak Bondan, tolong buka pintunya."
"Baik, Tuan."
Tidak berselang lama mobil Ray pun meninggalkan halaman rumah untuk selanjutnya menuju rumah sakit.
"Sampai kapan anda akan terus berdiri di sini?" tanya pak Bondan sesaat setelah Ra berlalu.
"Saya hanya ingin bertemu cucu saya."
"Untuk apa? Saya rasa tuan muda tidak perlu tahu tentang anda."
"Saya sadar pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Tapi, apa saya tidak bisa memperbaiki kesalahan saya? Saya akan membuktikan jika saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik."
"Maaf, saya tidak mau membuang waktu hanya untuk mengobrol dengan pengkhianat keluarga seperti anda."
"Dulu Pak Bondan begitu takut dan tunduk pada saya. Tapi, kenapa sekarang jadi ketus begini? Jangan-jangan pengasuh kampungan itu yang meracuni pikiran Pak Bondan agar membenci saya."
"Bu Suci sekarang adalah nyonya di rumah ini, jadi saya harap anda tidak memanggilnya dengan sebutan itu. Lagipula Bu Suci hatinya begitu baik dan tulus. Dia tidak pernah sekalipun meminta saya untuk membenci anda atau siapa pun."
"Tetap saja dia pengasuh kampungan yang hanya tamat SMP."
"Mungkin bu Suci tidak berpendidikan tinggi, tapi dia lebih pandai dari anda dalam hal bersikap. Bu Suci sangat menghargai orang lain dan bisa menjaga lisannya agar tidak menyakiti perasaan sesamanya," ujar pak Bondan.
"Menyesal aku datang ke sini kalau hanya untuk membahas pengasuh kampungan itu."
"Jika anda mau pergi, silahkan. Saya rasa itu lebih baik."
"Hanya jadi security saja berani mengusirku. Lihat saja nanti, aku akan kembali memasuki istana ini dan kamu akan kembali tunduk padaku," batin Sofia.
"Silahkan anda tinggalkan tempat ini."
"Hufht!" Sofia mendengus kesal sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
"Kesalahan yang pernah diperbuat nyonya Sofia padaku dan para penghuni rumah ini tidak akan pernah kami lupakan sampai kapan pun," batin pak Bondan.
"Yang barusan itu siapa, Pak?" tanya Siska yang baru saja muncul di halaman rumah.
"Kamu tidak perlu tahu."
"Apa dia perempuan bernama nyonya Sofia yang pernah tinggal di rumah ini?"
"Memangnya kenapa kalau iya?"
Tiba-tiba Siska mendorong pintu gerbang.
"Loh, kamu mau kemana?"
"Aku ada perlu sebentar." Siska meninggalkan halaman rumah lalu mengikuti Sofia yang kini berada di luar pintu gerbang.
Bersambung …
__ADS_1