
"Sejak gadis itu bekerja di rumahmu, apa kamu merasa Arsen semakin jauh darimu? Dia lebih dekat dengannya 'bukan?"
"Kurasa memang sudah seharusnya seorang pengasuh dekat dekat bayi atau anak yang diasuhnya. Hal itu menandakan pengasuh itu bisa mengambil hati si anak."
"Astaga. Kenapa kamu tidak paham juga? Memangnya kamu mau jika gadis itu mempengaruhi pikiran Arsen dengan hal-hal buruk tentangmu?"
Rayyan mengulas senyum.
"Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu? Bisa menemukan pengasuh yang cocok untuk Arsen saja aku sudah begitu bersyukur. Sebelum Suci datang, entah sudah berapa banyak pengasuh yang keluar masuk di rumahku."
Dokter Kinara mendengus kesal. Niatnya untuk menghasut Rayyan gagal lantaran Ray selalu saja berpikir positif pada pengasuhnya itu.
"Suci dan Arsen pasti sudah menungguku. Aku pergi dulu, selamat pagi."
Dokter Kinara hanya mampu berdiri mematung memandang punggung Ray yang semakin menjauh dari hadapannya.
Mobil Rayyan tengah melaju, hingga suatu ketika mobil itu harus berhenti di lampu merah. Dari tempat duduknya Suci bisa melihat dengan cukup jelas seorang pengendara sepeda motor yang tengah berboncengan mesra dengan seorang gadis.
"Bukankah itu Dina? Tapi, siapa laki-laki itu? Sepertinya dia bukan Rio," gumamnya.
"Kenapa sedari tadi kamu terus memandangi kedua orang itu? Apa kamu mengenal mereka?" tanya Rayyan.
"I-i-iya, Tuan. Gadis yang membonceng itu adalah kawan sekolah saya."
"Boleh saja kalau kamu ingin menyapanya."
Rayyan pun menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya.
"Hai, Dina," sapa Suci.
Gadis yang dipanggil Dina pun bergegas melepas kedua tangannya yang sedari
melingkar di pinggang si pengemudi sepeda motor yang ia yakini bukan pacarnya, Ryo.
"Astaga. Suci? Kamu kok, …"
"Kamu mau kemana atau dari mana, Din? Ehm … laki-laki itu bukan Ryo 'kan?"
"Aku-aku baru pulang dari pasar. Dia adalah tukang ojek langgananku."
"Ooh." Suci membulatkan bibirnya.
"Kamu dari mana?" tanya Dina.
"Aku baru dari rumah sakit. Semalam tuan muda Arsen demam."
"Kamu betah 'kan kerja di sana?"
Suci mengulas senyum.
"Insyaallah betah."
"Kapan-kapan kita ketemu dan mengobrol banyak boleh 'kan?"
__ADS_1
Suci memandang Rayyan seolah meminta persetujuan darinya. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Iya, bisa. Kapan-kapan kita bertemu berdua."
"Sampai jumpa."
Rayyan kembali melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah.
"Alhamdulillah, Tuan muda sudah pulang. Mbok dari tadi kepikiran," ucap mbok Asih.
"Iya, Mbok. Alhamdulillah tuan muda hanya demam biasa. Itulah sebabnya dokter mengizinkannya pulang setelah demamnya turun," jelas Suci.
Tiba-tiba Zola muncul dari dalam rumah. Sudah bisa dipastikan dia akan memancing masalah.
"Dasar tidak punya malu! Sudah diusir tapi masih saja kembali ke rumah ini," ketusnya.
"Permisi, aku mau menidurkan tuan muda."
"Memangnya benar ya, kamu memakai aji pengasihan?"
Suci membuang nafas agar emosinya tidak terpancing.
"Masih pagi, jangan membuat keributan."
"Jangan-jangan benar. Ada sesuatu yang tidak beres. Kami pulang ke kampung kemarin bukan karena ada masalah di keluargamu, tapi ke dukun untuk memperbarui ajian itu."
"Kamu ini kenapa selalu nyinyir pada Suci sih? Dia saja tidak pernah mencari masalah denganmu," ucap mbok Asih.
"Melayani kamu tidak ada habisnya. Pekerjaanku masih banyak!" Mbok Asih melengang begitu saja dari hadapan Suci.
"Zola," panggil Rayyan dari arah taman belakang rumah. Dia pun bergegas menghampirinya.
"Ada apa, Tuan?"
"Bagaimana kamu ini? Kenapa daun-daun kering dibiarkan berserakan begini? Aku membayarmu untuk menjaga kebersihan rumah ini dan lingkungan di sekitarnya 'bukan?"
"Ehm … setiap hari saya selalu menyapu taman ini kok, Tuan. Mungkin pohon ini memang sedang menggugurkan daunnya."
"Ya sudah. Bersihkan taman ini sampai benar-benar bersih. Setelah itu kamu pangkas rumput-rumput yang sudah mulai tinggi."
"Itu 'kan pekerjaan laki-laki, Tuan. Kenapa saya disuruh mengerjakannya?" protesnya.
"Kamu tahu 'bukan? Semua orang di sini sudah memiliki tugasnya masing-masing. Kerjakan apa yang saya perintahkan kecuali kamu memang sudah bosan bekerja di rumah ini."
"Ba-ba-baik, Tuan. Akan segera saya kerjakan."
Zola bergegas mengambil alat kerjanya kemudian membersihkan taman tersebut.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Seto, sopir pribadi nyonya Sofia saat Rayyan berjalan mengelilingi pekarangan rumah.
"Selamat pagi. Pagi-pagi begini sudah membersihkan mobil. Memangnya ibu mau kemana?"
__ADS_1
"Biasa lah, Pak. Mengantar nyonya ke rumah saudaranya."
"Saudara? Setahuku ibu anak tunggal, dan kedua orang tuanya pun sudah meninggal," batin Rayyan.
"Kalau boleh saya tahu di mana rumah saudara ibu?"
"Di perumahan Anyelir."
"Saudaranya laki-laki atau perempuan?"
"Saya tidak tahu, Tuan."
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu. Kamu yang selalu mengantar kemanapun ibu pergi."
"Benar, Tuan. Saya memang selalu mengantar nyonya. Akan tetapi nyonya selalu meminta saya agar memarkir mobil agak jauh dari pintu masuk perumahan itu."
"Jadi, kamu tidak tahu siapa saudara ibu?"
"Tidak, Tuan. Saya sama sekali belum pernah melihatnya. Hanya saja nyonya suka berjam-jam bertamu di rumah saudaranya itu hingga saya yang menunggunya seringkali ketiduran di mobil. Pernah saya dibangunkan warga karena mengira saya pingsan di dalam mobil," ungkap Seto.
"Baiklah, lanjutkan perkerjaanmu."
Rayyan lantas berlalu dari halaman rumah dan masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Ibu di mana, Mbok?"
"Di balkon, Tuan. Saya baru saja mengantarkan teh hangat untuknya."
Rayyan menaiki anak tangga dan menghampiri sang ibu yang tebt bersantai di balkon kamarnya.
"Aku perlu bica- …"
Rayyan urung berbicara lantaran mendapati sang ibu tengah mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon. Posisinya yang membelakangi pintu, membuatnya tak menyadari jika kehadiran Rayyan.
//Apa mobilnya sudah dikirim? Aku sudah memesannya dua hari yang lalu//
//Aku memesan warna merah//
//Tentu saja Ray tidak tahu. Aku bilang padanya uang itu mau kugunakan untuk membuka cabang baru toko pakaianku//
//Iya, Sayang. Aku juga kangen sama kamu. Nanti setelah Ray pergi ke kantor, aku datang ke tempatmu//
//Tidak perlu membahas urusan yang satu itu. Setiap kali kita bertemu, aku pasti memberi jatah di ranjang 'bukan//
"Siapa yang sedang mengobrol dengan ibu? Kenapa dia membahas mobil, toko pakaian, dan urusan ranjang?" gumam Ray.
"Apa aku tanyakan langsung saja padanya? Tidak! Lebih baik aku menyelidikinya," gumamnya lagi.
"Ray! Kamu ngapain di sana?" tanya sang ibu yang tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…