Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 40


__ADS_3

Sore menjelang petang Kanaya yang sehari-harinya bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah SMA Negeri itu heran saat mendapati rumahnya dalam keadaan bersih dan rapi.


"Siapa yang membersihkan semua ini?" batinnya.


"Selamat sore, Bu Naya," sapa Widya saat keduanya berpapasan di ruang makan. Ia terlihat membawa sapu lantai dan serbet.


"Selamat sore. Apa Bu Widya yang membersihkan rumah saya?"


"Iya, Bu. Tadi pak Aldi sudah kesiangan jadi tidak sempat beres-beres."


"Saya jadi tidak enak sama Ibu. Masa tamu bersih-bersih."


"Tidak apa, Bu. Saya bosan berdiam diri saja. Oh ya, kalau boleh saya ingin melamar sebagai asisten rumah tangga di rumah ini. Saya lihat Ibu Naya dan pak Aldi sama-sama sibuk bekerja sampai-sampai tidak sempat merapikan rumah. Ibu tidak usah memikirkan gaji untuk saya. Yang terpenting saya memiliki tempat tinggal dan bisa makan."


Kanaya terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Sepertinya aku memang butuh asisten rumah tangga untuk membantuku membereskan rumah ini," gumamnya.


"Ehm … nanti coba saya bicarakan dengan mas Aldi."


"Oh ya, Bu. Saya juga sudah memasak untuk makan malam. Maaf, jika saya lancang masuk begitu saja ke dalam dapur rumah ini saat rumah kosong," ucap Widya.


"Kenapa saya jadi merepotkan begini? Saya benar-benar tidak enak pada Ibu."


"Ehm … sepertinya kita seumuran. Biar enak, Ibu panggil saya Widya saja."


"Assalamu'alaikum," sapa seseorang dari arah ruang tamu. Rupanya Aldi.


"Waalaikumsalam, Mas."


Kanaya meraih tangan Aldi lalu menciumnya.


"Tumben rumah rapi. Apa tadi kamu pulang awal?"


"Ehm … tidak, Mas. Bu … eh Widya ini yang sudah membersihkan rumah kita saat kita berdua berada di luar rumah."


Entah mengapa jawaban itu membuat raut wajah Aldi berubah masam.


"Widya juga sudah memasak untuk makan malam kita loh, Mas. Bagaimana kalau kita terima saja dia bekerja di rumah ini?"


"Selama ini kita baik-baik saja hidup berdua tanpa asisten rumah tangga. Kita sudah terbiasa berbagi tugas dan aku sama sekali tidak keberatan."


"Bapak tidak perlu membayar gaji untuk saya. Yang terpenting adalah saya memiliki tempat tinggal dan bisa makan."


"Kita perlu bicara di kamar."

__ADS_1


Aldi menggandeng tangan Kanaya lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Tanpa mereka ketahui, Widya menguping pembicaraan mereka.


"Kita memang membutuhkan Widya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga," ucap Kanaya.


"Apa kamu lupa pesan mendiang ibu, jangan pernah sekalipun memasukkan orang asing ke dalam rumah ini sekalipun dia hanya asisten rumah tangga ataupun pengasuh."


"Menurutku Widya itu sopan, penampilan dan cara berpakaiannya juga santun. Aku yakin dia tidak akan berani berbuat macam-macam di rumah kita. Anggap saja kita menolongnya."


"Aku tidak setuju. Kita beri saja uang untuk Widya untuk ongkos pulang kampung."


"Widya tadi bilang tidak memiliki keluarga di kampung. Mau tinggal di mana dia kalau pulang kampung?"


"Kenapa kamu jadi mikirin dia? Dia itu bukan saudara ataupun kerabat kita. Terlalu beresiko jika membiarkannya tinggal di rumah kita."


"Tidak baik berprasangka buruk pada orang lain," ujar Kanaya.


"Ini di kota, Nay. Apapun bisa terjadi. Sudah banyak berita di televisi ataupun di internet, kejahatan terjadi justru berasal dari orang terdekat kita. Pokoknya aku tidak setuju jika Widya tinggal di rumah ini. Kalau kamu memang tidak sanggup bekerja sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah, berhenti lah dari pekerjaanmu. Penghasilanku sudah lebih dari cukup untuk menafkahimu."


"Kita sudah seringkali membahas ini, aku tidak akan pernah meninggalkan pekerjaanku sebagai tenaga pengajar."


"Itulah, entah kapan sifat keras kepalamu ini bisa hilang. Kita sudah menikah selama delapan tahun dan hingga saat ini kamu belum bisa memberiku keturunan. Seharusnya kamu introspeksi, kesibukan mu lah yang membuatmu sulit hamil."


Aldi menyeringai kecut.


"Apa aku harus jadi kakek-kakek dulu untuk memilliki anak?"


"Pembahasan kita tadi soal Widya. Kenapa jadi merembet ke masalah lain?"


"Widya tidak akan tinggal di rumah ini, titik!" tegas Aldi.


"Tapi, Mas, …"


Aldi meninggalkan kamarnya. Ia lantas kembali menuju halaman tempat mobilnya diparkir. Tidak berselang lama terdengar deru mobil yang semakin menjauh.


"Saya minta maaf jika kehadiran saya membuat Ibu dan bapak jadi bertengkar begini. Lebih baik saya tinggalkan rumah ini," ucap Widya sesaat setelah Aldi berlalu.


"Sebentar lagi gelap, memangnya kamu mau tidur di mana?"


"Itu bukan perkara sulit buat saya. Saya bisa tidur di masjid di emperan toko ataupun di bawah jembatan," ucap Widya yang ia maksud untuk mengharap iba.


"Kamu ini perempuan. Di luar terlalu berbahaya buat kamu. Sudahlah, malam ini kamu tidur di kamar tamu."


"T-t-tapi bagaimana kalau pak Aldi marah?"

__ADS_1


"Itu akan menjadi urusan saya. Sekarang bawa tasmu, mari saya antar ke kamar tamu, kamar saya sendiri ada di lantai atas."


Widya pun mengambil tasnya lalu membawanya masuk ke dalam kamar tersebut.


"Setelah shalat Maghrib, kita makan malam," ucap Kanaya.


"Apa pak Aldi selalu begini kalau marah, Bu?" tanya Widya di sela makan malamnya.


Kanaya menggelengkan kepalanya.


"Mas Aldi nyaris tidak pernah marah. Baru kali ini dia sampai pergi meninggalkan rumah."


"Bagaimana kalau pak Aldi tidak pulang?"


"Mas Aldi tidak memiliki saudara di kota ini. Aku yakin dia pasti pulang."


****


Widya baru saja terlelap ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Ia berpikir Kanaya masih terjaga jadi dia pasti akan membukakan pintu untuk suaminya itu. Namun setelah pintu diketuk berulang, Kanaya tak kunjung keluar dari dalam kamarnya. Akhirnya Widya memutuskan untuk membukakan pintu untuknya.


Lampu depan yang sudah dimatikan membuat Aldi tidak bisa melihat wajah Widya dengan jelas, apalagi jika dilihat dari cara berjalannya yang sempoyongan, laki-laki itu pasti habis menenggak minuman beralkohol.


"Naya … kenapa lama sekali buka pintunya?" tanyanya.


"Saya bukan- …"


"Aku menginginkanmu sekarang."


Tiba-tiba saja Aldi mendorong tubuh Widya hingga membuatnya terjatuh di atas sofa. Aldi yang tengah dalam pengaruh minuman keras itu tiba-tiba saja menyingkap daster Widya.


"Jangan, Pak!" pekiknya.


"Kamu ini kenapa?" Sesekali tidak apa kita main di sini.


"Jangan! Bu Naya! Tolong saya!" teriak Widya saat Aldi mulai menindih tubuhnya.


Aldi semakin beringas. Dia melucuti pakaian Widya hingga benar-benar telanjang. Ruang tamu yang gelap itu pun menjadi saksi bisu saat pusaka Aldi menerobos masuk ke dalam sana.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2