Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 36


__ADS_3

Keadaan Tini sudah membaik, dokter pun memperbolehkannya pulang hari ini.


"Saya harap Bapak dan keluarga membantu agar ingatan pasien segera pulih," ucap dokter sesaat setelah perawat mencabut selang infus dari tubuh Tini.


"Saya justru takut jika ingatan mbakyu saya kembali, Dok. Saya takut mbakyu Tini mengalami trauma berat terutama pada laki-laki."


Dokter itu mengulas senyum.


"Sebagai keluarganya, tugas Bapak adalah memberi dukungan agar pasien bisa sembuh dari rasa traumanya."


"Baik, Dok."


"Setelah mengurus administrasi, Bapak bisa membawa pasien pulang."


Bimo pun berlalu dari hadapan dokter dan bergegas menuju bagian administrasi untuk membayar biaya rumah sakit Tini.


"Alhamdulillah dokter sudah mengizinkan Mbakyu pulang hari ini," ucap Bimo.


"Pulang? Memangnya di mana rumahku?"


"Mbakyu akan pulang dan tinggal bersamaku juga bersama kedua keponakan Mbakyu, Murni dan Fitri.


"Siapa Murni dan Fitri? Aww!" Tiba-tiba Tini memekik kesakitan seraya memegangi kepalanya.


"Mbakyu jangan memaksakan diri untuk mengingat jika itu hanya akan membuat kepala Mbakyu sakit," ucap Bimo.


Setibanya di rumah.


Kedatangan Tini disambut sukacita oleh kedua adik perempuan Suci, Fitri dan Murni.


"Budhe!" seru kedua anak perempuan itu sembari berlari ke arahnya.


"Siapa kalian? Kenapa memanggilku dengan sebutan budhe?" tanya Tini dengan raut wajah keheranan.


Ketua gadis itu saling memandang.


"Kami keponakan Budhe. Ini aku, Murni dan ini adikku Fitri," jelas Murni.


"Aku tidak mengenal kalian." ucap ini dengan tatapan mata kosong.


"Bude kenapa, Pak. Kenapa dia tidak mengenali kami?" tanya Murni.


Bimo membuang nafas.


"Kecelakaan itu mengakibatkan Budhe kalian kehilangan ingatannya."


"Apa budhe tidak akan mengingat kami sampai kapanpun, Pak?" tanya Murni lagi.


"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdo'a agar ingatan budhemu segera pulih dan kembali seperti semula," ucap Bimo. Kedua gadis itu mengangguk paham.


"Mari kita masuk ke dalam, Budhe."


Si bungsu Fitri menggandeng tangan Tini lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


****


Sementara itu di sebuah rumah.


"Ibu kenapa menangis?" tanya seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun saat mendapati sang ibu menangis di dalam kamarnya.


"Sudah beberapa hari bapak tidak pulang. Memangnya Bapak ke mana, Bu?" Giliran sang adik yang masih berusia 5 tahun itu bertanya.


Sang ibu menyeka air matanya. Meski berat dia berusaha tersenyum.


"Bapak kalian sedang ada pekerjaan ke luar kota, Nak."

__ADS_1


"Kapan bapak pulang?" tanya si bungsu lagi.


"Ari berdo'a saja agar pekerjaan bapak segera selesai jadi dia bisa cepat pulang," ucap sang ibu.


Ya. Percakapan itu terjadi antara bu Panji dengan kedua anak laki-lakinya, Ari dan Adi. Sejak pak Panji berada di dalam penjara bukannya seringkali menangis di dalam kamarnya. Bukan hal yang mudah untuk memberikan penjelasan kepada kedua anaknya yang masih belia itu jika kini ayah mereka berada di dalam tahanan karena kasih pelecehan sek*ual serta percobaan pembunuhan."


"Iya, Bu. Ari akan berdo'a agar pekerjaan bapak cepat selesai dan bisa segera pulang ke rumah. Ari kangen pergi memancing bersama bapak."


"Kalian sudah makan siang?" Sang Ibu mengalihkan pembicaraan.


"Belum, Bu. Kami sengaja menunggu Ibu untuk makan bersama kami."


"Belakangan ini Ibu sering menangis di dalam kamar. Adi takut Ibu sakit," ucap si sulung Adi.


"Ya sudah, mari kita makan. Ibu sudah memasak makanan kesukaan kalian."


Sang ibu beranjak dari tempat duduknya. Tidak berselang lama ketiganya pun keluar dari kamar tersebut.


******


Pagi itu suci tengah mengajak Arsen berjemur di halaman rumah. Dia heran lantaran tidak mendapati mobil sana. Iya betul di jam itu biasanya Seto tengah membersihkan mobil dengan Sofia sembari bersenandung kecil. Demi menjawab rasa penasarannya, ia pun memutuskan untuk bertanya pada security di rumah itu, pak Bondan.


"Selamat pagi Mbak Suci, Tuan muda Arsen," sapanya.


"Selamat pagi, Pak."


"Tuan muda lagi berjemur ya?"


"Iya, Pak. Biar sehat. Oh ya Kenapa pagi ini saya tidak melihat mobil Nyonya, Pak? Sedari tadi saya juga tidak melihat Seto."


"Memangnya Mbak Suci belum tahu kejadian di rumah ini?"


"Kejadian apa, Pak?"


"Astaghfirullahaladzim. Bagaimana bisa mobilnya dirampok, Pak?"


"Saya tidak tahu pasti, Mbak. Nyonya hanya mengatakan mobilnya dirampok di dekat rumah saudaranya."


"Bagaimana dengan Seto?"


"Nyonya Sofia mengatakan jika Seto diajak serta oleh perampok itu. Nyonya tidak berani melaporkan peristiwa perampokan ini pada polisi dengan alasan keselamatan Seto menjadi taruhannya."


"Malang benar nasib Seto," ujar Suci.


"Maem … maem …" celoteh Arsen.


"Sepertinya tuan muda Arsen mulai lapar. Saya permisi masuk ke dalam dulu, Pak," ucap Suci.


"Baik, Mbak."


Suci banyak dari halaman, lalu ia masuk ke dalam rumah.


"Aku dengar dari Pak Bondan katanya Nyonya kehilangan mobilnya," ucap Suci pada Mbok Asih yang baru selesai memasak untuk sarapan pagi.


"Kita bicara di tangan belakang sambil menyuapi tuan muda Arsen," bisik mbok Asih.


"Kenapa harus di taman belakang, Mbok? Di sini kan juga bisa."


"Ini makanan untuk tuan muda." Mbok Asih meletakkan semangkuk bubur hangat di atas meja." Mbok keluar dulu menyiapkan sarapan di meja makan," imbuhnya.


Tentu saja Suci penasaran dengan maksud mbok Asih yang mengajaknya berbicara di taman belakang rumah.


Usah menyiapkan makanan di meja makan, dia pun menghampiri Suci yang lebih dulu sampai di taman tersebut.


"Sebenarnya kita mau bicara apa, Mbok? Kenapa kita harus bicara di sini?" tanya Suci.

__ADS_1


"Mbak tidak yakin jika Nyonya Sofia benar-benar kehilangan mobilnya karena dirampok."


"Kenapa Mbok bisa berpikiran begitu?" tanya Suci.


"Sebenarnya … "


"Kenapa, Mbok?"


"Mungkin Suci juga berhak tahu tentang rahasia ini," gumam mbok Asih.


"Apa yang selama ini dikatakan Nyonya Jika dia pergi perumahan Anyelir untuk mengunjungi saudaranya tidaklah benar."


"Apa maksud Mbok?" tanya Suci.


"Nyonya Sofia menyembunyikan rahasia besar dari siapapun."


"Rahasia besar apa, Mbok?"


"Rumah yang selama ini nyonya kunjungi bukanlah rumah saudaranya melainkan rumah suami dan anaknya."


"Apa?!"


"Mbok curiga dengan raibnya mobil nyonya dan hilangnya Seto."


"Apa maksud Mbok?" Suci mengerutkan keningnya.


"Selama ini kita tahu Seto selalu mengantar ke manapun Nyonya pergi, Tapi mbok yakin jika Nyonya juga menyembunyikan identitas suaminya dari Seto."


"Lantas?"


"Seto itu masih muda, rasa penasarannya pasti masih besar."


"Sepertinya masuk akal jika Seto diam-diam mencari tahu siapa sebenarnya orang yang sering dikunjungi Nyonya Sofia di perumahan itu. Saat dia tahu ternyata nyonya mengunjungi rumah seorang laki-laki ia pun mengintai dan merekam pembicaraan atau bahkan video mereka di dalam rumah si pria.


Suci terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Apa Seto merekam kejadian di rumah itu dan tertangkap basah? Dan mobil itu sebenarnya tidak dirampok melainkan …"


gumamnya.


"Apa pemikiranmu sama dengan pemikiran mbok?"


"Seto berhasil merekam video di dalam rumah itu namun tertangkap basah oleh Nyonya Sofia ataupun suaminya. Seto pun lalu dipaksa untuk menghapus video itu namun ia mengajukan syarat dan syaratnya adalah …"


"Pemikiran kita sama, Nduk."


"Mobil nyonya Sofia tidak benar-benar hilang melainkan diberikan cuma-cuma untuk Seto lantaran ia takut videonya sampai di tangan tuan Rayyan."


"Cerdas sekali!" puji mbok Asih.


"Apa Tuan Rayyan sudah tahu mengenai peristiwa ini?" tanya Suci.


"Ya, akhirnya Mbok mengungkap semua rahasia nyonya Sofia termasuk rahasia mendiang tuan Bayu."


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa kalian menyebut mendiang tuan Bayu?!"


Suci dan Mbok Asih tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang muncul di taman tersebut.


Bersambung ….


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2