Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 50


__ADS_3

Kanaya dan Aldi menghentikan sejenak perdebatan mereka. Kanaya meninggalkan kamar dan bergegas menghampiri Widya di toilet.


"Kamu kenapa?" tanyanya sesaat setelah Widya keluar dari dalam toilet.


"Nggak tahu, Nay. Tiba-tiba saja perutku mual. Sepertinya aku masuk angin.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan obat."


Widya kembali ke dalam kamarnya, tidak lama kemudian ia muncul dengan membawa obat untuk madunya itu.


Baru saja sebutir pil itu masuk ke dalam kerongkongannya, tiba-tiba Widya memuntahkannya kembali.


"Sepertinya kamu harus ke dokter," ucap Naya.


"Tidak apa. Aku hanya perlu istirahat saja."


"Ya sudah, setelah makan malam kami istirahat. Tidak usah kamu pikirkan pekerjaan rumah," ucap Kanaya.


Widya mengangguk paham.


"Widya sakit, mungkin dia kelelahan," ucap Kanaya pada Aldi di sela makan malam mereka.


"Lantas, apa peduliku?"


"Setelah makan malam, kita temani dia ke dokter."


"Kita? Kamu saja antar dia ke dokter."


"Dia istrimu juga, Mas. Apa sedikit saja kamu tidak punya rasa peduli padanya?"


"Harus berapa kali kubilang, sampai kapanpun istriku hanya kamu saja!" tegas Aldi.


Beberapa saat kemudian terdengar suara benda terjatuh dari arah kamar Widya. Kanaya meninggalkan meja makan dan bergegas menuju kamar Widya. Alangkah terkejutnya saat mendapati Widya tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai.


"Astaghfirullahaldzim! Widya!" pekiknya.


"Mas! Mas Aldi! Tolong!"


Mendengar teriakan kepanikan Kanaya, Aldi yang tadinya acuh itu pun bergegas meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamar Widya.


"Widya pingsan. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang," ucap Kanaya.


"Dia pasti hanya berpura-pura."


"Lihat wajahnya, pucat begini. Mana mungkin dia bercanda. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya, kita berdua yang akan disalahkan," ucap Kanaya.


Meski sebenarnya malas, Aldi tidak punya pilihan selain mengikuti keinginan istrinya itu.


Sesampainya di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Widya, Dokter?" tanya Kanaya setelah dokter keluar dari ruang periksa.


"Maaf, di mana suami pasien?"


"Ehm … Itu di sebelah sana." Kanaya mengacungkan ibu jarinya ke arah Aldi yang duduk di bangku di depan salah satu ruang perawatan.


"Anda sendiri siapanya pasien?"


"Saya, ehm … kakaknya."


"Begini, saat ini pasien tengah hamil. Meskipun usia kandungannya masih sangat muda."


"Ha-ha-ha-mil, Dok?"


"Benar."

__ADS_1


"Kandungan pasien sangat lemah, itulah sebabnya pasien tidak sadarkan diri. Sebagai keluarganya, saya harap anda bisa membantu menjaga kandungannya," ungkap dokter.


Kanaya terdiam. Dia tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Di satu sisi dia merasa senang jika Widya mengandung anak yang akan menjadi penerus Aldi, namun di satu sisi hatinya hancur. Dengan sekali berhubungan badan saja Widya bisa hamil, bukankah itu berarti dirinya lah yang memang mempunyai masalah kesuburan? Ataukah dirinya memang mandul?


"Widya hamil," ucap Kanaya pada Aldi.


"A-a-pa? Hamil? Itu tidak mungkin! Aku hanya melakukannya sekali, itu pun di luar kesadaranku."


"Memangnya apa yang tidak mungkin bagi Allah? Kun fayakun. Apa saja yang dikehendaki Nya, pasti terjadi.


"Tidak! Dia tidak mungkin hamil! Bayi itu pasti bukan anakku!"


"Plak!" Sebuah tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di wajah Aldi. Ini adalah tamparan pertama semenjak keduanya menikah.


"Bayi yang dikandung Widya adalah anakmu!" tegas Kanaya.


"Mana dia? Sekarang juga aku akan memintanya untuk menggugurkan kandungannya."


"Istighfar, Mas. Itu sama artinya kamu membunuh!"


"Suasana hening sejenak."


"Biarkan Widya tinggal di rumah kita sampai dia melahirkan."


"Apa maksudmu?"


"Selama ini Mas begitu menginginkan anak di dalam pernikahan kita 'bukan? Mungkin ini cara Allah mengabulkan permintaan Mas, meskipun bayi itu tidak berasal dari rahimku sendiri."


Aldi terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Selama ini aku sudah cukup bersabar menerima sindiran dan ejekan dari kawan-kawanku, kini saatnya kubuktikan pada mereka jika aku bukanlah pria mandul," gumamnya.


"Saya harap pasien tidak kelelahan ataupun terlalu lama banyak pikiran," ucap dokter."


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu, selamat malam."


Keesokan paginya.


Demi kandungan Widya, pagi itu Kanaya rela bangun lebih awal untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya menjadi tugas Widya.


Ketika ia selesai menyiapkan sarapan itulah terdengar suara seperti mengetuk pintu depan rumahnya.


"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gumamnya.


Kanaya beranjak dari ruang makan dan menghampiri pintu. Alangkah terkejutnya saat tahu siapa tamunya pagi itu.


"I-I-Ibu?"


Ya, perempuan paruh baya yang kini berdiri di hadapannya adalah ibu mertuanya yang kerap disapa bu Asti.


Aldi sendiri adalah anak tunggalnya.


"Kenapa kamu kaget begitu, seperti melihat se*an saja!" sungutnya.


"Ti-ti-tidak, Bu. Aku hanya sedikit kaget pagi-pagi begini Ibu sudah datang ke rumah kami." Kanaya lantas meraih tangan ibu mertuanya itu dan menciumnya penuh takdzim.


Sebagai satu-satunya menantu, Bu Asti kerap kali menekan Kanaya agar cepat-cepat memberinya keturunan. Bahkan tak jarang ia memaksa Aldi agar menceraikannya jika dalam tahun sepuluh tahun pernikahan mereka, is tak kunjung memberinya cucu.


"Mari silahkan masuk, Bu."


Kanaya mengambil alih tas milik ibu mertuanya itu dan berniat hendak membawanya ke kamar tamu. Tunggu dulu, sudah hampir sebulan ini kamar tamu di rumahnya ditempati Widya. Lantas, di mana ibu mertuanya itu akan tinggal? Satu-satunya pilihan adalah ia membersihkan kamar kosong yang berada di dekat dapur dan menyuruh Widya pindah dari kamar tamu ke kamar tersebut.


"Tunggu sebentar, saya buatkan minum untuk Ibu," ucap Kanaya seraya berjalan menuju dapur.


Tidak berselang lama Aldi keluar dari dalam kamarnya. Tentu saja ia terkejut mendapati sang ibu sudah berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Ibu? Kapan Ibu datang? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu?" protesnya.


"Ibu datang ke rumah anak ibu sendiri, kenapa harus pakai acara permisi."


"Di mana Kanaya?" tanya Aldi.


Tidak lama Kanaya muncul dari arah dapur. Ia tampak membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan setoples camilan.


"Bagaimana, apa kamu sudah menunjukkan tanda-tanda hamil?" tanya bu Asti.


Sepasang mata Naya dan Aldi saling bersitatap sebelum Naya memberi jawaban.


"Be-be-lum, Bu. Mungkin harus lebih sabar lagi."


"Mau sabar sampai kapan lagi? Kamu pikir delapan tahun itu waktu yang sebentar?" cecarnya.


Seperti biasa, Naya dan Aldi hanya bisa tertunduk diam saat perempuan itu menanyakan perihal kehamilan Naya. Lagi dan lagi.


Tiba-tiba terdengar suara derit pintu dari arah kamar tamu.


"Loh, Memangnya selain kalian, siapa lagi yang tinggal di rumah ini?" tanyanya.


"Ehm … itu … anu, Bu. Dia Widya, kerabat jauhku. Kami mengajaknya tinggal di sini lantaran ia tidak memiliki keluarga ataupun tempat tinggal. Keluarganya tewas dalam musibah kebakaran," jelas Naya.


Suara obrolan dari ruang tamu itu pun memaksa Widya menghampirinya.


"Bu," sapanya seraya mengangguk sopan pada bu Asti.


"Kamu sudah menikah?" tanya bu Asti.


Tentu saja Widya kebingungan menjawab pertanyaan itu. Entah apa yang ada di pikirannya, saat tiba-tiba sebuah jawaban meluncur dari mulutnya.


"Saya sudah menikah, Bu. Sekarang saya sedang hamil, namun suami saya tewas dalam musibah kebakaran itu.


"Kenapa Widya harus menceritakan perihal kehamilannya pada ibu?" batin Kanaya.


Mendengar pengakuan Widya jika dirinya tengah berbadan dua, entah mengapa sikap bu Asti tiba-tiba berubah ramah.


"Ayo sini duduk, perempuan hamil tidak baik terlalu lama berdiri." Bu Asti menggandeng tangan Widya lalu mengajaknya duduk persis di sebelahnya.


"Naya, buatkan teh hangat untuknya."


Meski sedikit kesal, Naya memilih melakukan perintah sang ibu.


"Pilih istri tuh yang begini, bisa hamil dan memberi keturunan," ucap bu Asti saat Naya kembali dari dapur.


"Ehm … sarapan sudah siap." Naya cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. Hal yang membuatnya tidak nyaman adalah saat ibu mertuanya itu mulai membahas perihal kehamilan.


"Kamu makan yang banyak. Ingat, ada bayi di dalam perutmu yang harus kamu beri makan juga," ucap bu Asti seraya menuangkan sesendok sayur dan sepotong ayam goreng ke dalam piring Widya. Perlakuan yang belum pernah dilakukannya pada Kanaya.


"Oh ya, Nay. Belikan juga susu ibu hamil untuk Widya biar ibu dan bayinya sehat," ucap bu Asti lagi.


"Ya, Bu," ucap Naya. Tentu saja dengan raut wajah kesal.


"Kalau aku yang ada di posisi Widya saat ini, apakah Ibu akan memperlakukanku sama seperti ini?" tanya Naya.


"Sepertinya sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa hamil. Atau jangan-jangan kamu memang mandul," ketus bu Asti.


"Mandul? Apa benar aku mandul?"


batin Naya. Tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading..


__ADS_2