Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 38


__ADS_3

"Apa ini, Bu?" tanya pak Panji penasaran.


"Buka saja."


Pak Panji bergegas membuka amplop berwarna putih itu lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Matanya membulat saat tahu jika kertas tersebut berisi gugatan perceraian.


"Kumohon jangan lakukan ini, Bu. Apa kamu tidak kasihan pada anak-anak kita?"


Bu Panji menyeringai kecut.


"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Apakah saat kamu melakukan perbuatan keji itu kamu tidak memikirkan akibatnya?"


"Aku minta maaf, Bu. Aku mengaku khilaf. Jangan minta pisah dariku." Pak Panji menjatuhkan lututnya di lantai lalu merengkuh kedua kaki perempuan yang sudah memberinya dua anak laki-laki itu.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, Bu," rintihnya.


"Keputusanku sudah bulat. Jika sudah bebas nanti, aku tidak yakin penyakit mu ini akan sembuh."


"Aku janji, aku akan tobat. Aku akan menjadi contoh yang baik untuk anak-anak kita."


Bu Panji terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Ari dan Adi masih begitu kecil. Kasihan juga jika mereka menjadi bahan cemoohan kawan-kawan mereka jika mereka tidak memiliki ayah," gumamnya.


"Bangun lah."


Bu Panji meraih pundak suaminya itu lalu mengajaknya berdiri.


"Bapak janji 'kan mau berubah?"


"Iya, Bu. Bapak janji akan memperbaiki diri."


"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan ke dua. Aku akan membatalkan gugatan perceraian kita."


"Terima kasih, Bu."


Pak Panji hendak merengkuh bu Panji ke dalam pelukannya. Namun perempuan itu justru menggeser tubuhnya dan menjaga jarak.


"Kenapa, Bu?"


"Bapak boleh menyentuhku lagi kalau Bapak sudah membuktikan ucapan Bapak."


Tiba-tiba bu Panji mengamati wajah suaminya itu.


"Wajah Bapak kenapa, kok lebam-lebam begitu?" tanyanya.


"Ehm … tadi bapak tidak sengaja terpeleset dan jatuh di kamar mandi."


"Bapak yang hati-hati dong."


"Bagaimana dengan anak-anak kita? Apa mereka sering menanyakan bapak?"


"Hampir setiap waktu Ari bertanya kapan Bapak pulang. Aku pun hanya memberi jawaban Bapak akan pulang setelah pekerjaan di kota selesai. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami masalah yang kini menimpa Bapak."

__ADS_1


"Sampaikan salamku untuk mereka. Katakan jika aku sangat merindukan mereka."


"Ya sudah, aku pulang dulu. Mereka akan kebingungan jika pulang sekolah tidak menemukanku di rumah."


"Terima kasih, sudah memberiku kesempatan ke dua. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."


Bu Panji menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Aku pulang dulu, jaga diri Bapak baik-baik," ucap bu Panji. Tidak berselang lama, ia pun meninggalkan tempat tersebut.


Bu Panji menaiki angkutan umum yang kebetulan dikemudikan Yusuf. Sialnya lagi, hampir semua penumpang di dalamnya adalah warga kampung makmur.


"Eh, Bu Panji. Tumben sekali naik angkutan umum," ucap salah satu penumpang yang juga warga satu kampung tempat tinggalnya.


"Kalau tidak naik angkutan umum, terus naik apa? Sopir mobilnya kan lagi di penjara." Ibu lainnya menimpali.


"Memangnya kenapa kok suaminya dipenjara? Dia mencuri, atau menipu?"


"Suaminya yang katanya ketua RT teladan itu mencuri."


"Mencuri apa? Hewan ternak, atau uang?"


"Bukan dua-duanya."


"Lantas, apa yang dicuri?"


"Keperawanan," jawab si ibu yang disambut dengan gelak tawa beberapa penumpang yang berada di dalam angkutan tersebut.


"Hanya perempuan bodoh yang masih mau menerima suami macam begitu.'


Obrolan tersebut tentu saja membuat bu Panji geram.


"Ibu mau ke mana?" tanya Yusuf saat mendapati Bu Panji tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.


"Telinga saya panas di dalam angkutan ini lebih baik saya pindah ke angkutan lain."


"Silakan, kecuali Ibu mau menunggu sekitar setengah jam lagi untuk angkutan berikutnya."


"Apa?!"


"Terserah Ibu, kalau Ibu mau menunggu, silakan turun," ucap Yusuf.


"Kalau harus menunggu selama itu bisa-bisa anak-anakku kebingungan mencariku," gumam bu Panji.


"Sudahlah Bu, tidak usah ribet. Duduk manis saja. Sebentar lagi angkutan ini mau berangkat. Bener 'kan, Nak Yusuf?"


"Kami hanya bercanda kok, jangan dimasukkan ke hati," ucap salah satu ibu.


"Bercanda ya bercanda, tapi kira-kira," gerutu bu Panji kesal.


Obrolan pun berlanjut seiring dengan angkutan umum yang mulai melaju.


"Ngomong-ngomong kasihan ya si Tini. Di usianya sekarang dia belum menikah, eh keperawanannya direnggut oleh tetangganya sendiri."

__ADS_1


"Iya, saya dengar dia juga kehilangan ingatannya."


"Yang saya takutkan adalah bagaimana jika si Tini hamil. Sementara laki-laki be*at itu kini sedang berada di dalam penjara."


Entah mengapa kalimat terakhir yang terlontar dari salah satu Ibu ini membuat Bu Panji merasa resah.


"Bagaimana kalau si Tini hamil?" gumamnya.


"Sudah ibu-ibu. Ada yang telinganya panas," sindir Yusuf yang justru membuat ibu-ibu yang berada di dalam angkutan umum itu tertawa cekikikan.


"Biarkan saja mereka ngomongin suami saya sampai mulut mereka berbuih!" sungut bu Panji.


"Waktunya turun, Ibu-ibu," ucap salah satu penumpang.


Bu Panji yang kepalanya sudah terasa mendidih itu beranjak dari tempat duduknya. Entah disengaja atau tidak, ia menyenggol seorang penumpang hingga membuatnya terjatuh.


"Astaga. Yang benar saja, Bu Panji. Masa Bu Titik ditabrak begitu sampai jatuh."


"Rasain! Punya lidah kok tajam sekali!" sungutnya.


Bu Panji hendak melangkah keluar dari angkutan umum tersebut. Sial, rok yang dikenakannya justru tersangkut bangku penumpang. Bu Titik yang merasa didzolimi itu pun terpikir untuk berbuat iseng. Rok yang tersangkut itu ditarik, kemudian disentakkan.


"Brukk!" Perempuan berbobot lebih dari enam puluh kilogram itu jatuh tersungkur. Rupanya hari ini hari memang hari sialnya. Bu Panji jatuh tersungkur dan wajahnya tepat mengenai kotoran kerbau yang berasal dari lubang pembuangan seekor kerbau yang baru saja melintas.


Bukannya kasihan apalagi iba, tawa mereka justru meledak tak terkecuali sang pengemudi angkutan umum itu.


Bu Panji mendengus kesal sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut.


Setibanya di rumah.


"Ibu dari mana?"


"Muka Ibu kenapa kotor begitu?" tanya Adi dan Ari secara bergantian.


"Ehm … ibu dari rumah tetangga. Dia meminta ibu untuk memakai masker wajah keluaran terbaru."


"Masker kok baunya seperti kotoran kerbau begini," protes Ari seraya menutup lubang hidungnya.


Beberapa saat kemudian, muncullah ibu-ibu yang tadi menaiki angkutan umum yang sama dengannya.


"Bagaimana rasanya mencium kotoran kerbau, Bu? Hangat, atau empuk," ledek salah satu ibu.


"Pergi kalian! Sebelum sandal ini melayang!" Bu Panji meraih sebuah sandal lalu bersiap melemparnya ke arah ibu-ibu tersebut.


"Kabuurr!" seru mereka sembari lari berhamburan meninggalkan rumah tersebut.


Bersambung ….


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2