
Ray mulai memeriksa denyut nadi dan detak jantung pemuda itu, namun semuanya tak lagi bekerja. Pemuda yang belum sempat ia ketahui namanya itu telah tiada. Ada sedikit rasa kecewa di hati Ray lantaran pemuda itu menghembuskan nafas terakhirnya di saat ia hampir mendapatkan informasi penting darinya.
****
Ray memasuki rumahnya dengan langkah lesu.
"Bagaimana, Tuan? Apa Tuan berhasil menemukan pemuda itu?" tanya mbok Asih yang sengaja berjaga di ruang tamu demi menunggu kedatangan sang tuan.
Sementara Suci terlihat berdiri di sebelahnya.
"Pemuda itu sudah meninggal dunia," ucap Ray.
"Jadi benar, yang tadi kita lihat itu hantu?" tanya mbok Asih.
"Pemuda itu baru saja meninggal dunia karena dihajar massa."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Suci dan mbok Asih bersamaan.
"Kenapa dia sampai dihajar massa?" Suci menimpali.
"Pemuda itu tertangkap basah karena mencuri sebungkus roti di sebuah toko."
"Ya Allah, malang benar nasibnya," ujar mbok Asih. Jadi, siapa pemuda itu sebenarnya, Tuan?" tanyanya kemudian.
"Dugaan Mbok benar, pemuda itu adalah anak kandung ibu dari pernikahannya dengan laki-laki bernama Sean."
"Lantas, kenapa pemuda itu bisa diusir dari rumahnya?"
"Itu dia. Pemuda itu hampir saja menjawab pertanyaan saya, namun dia keburu menghembuskan nafas terakhirnya."
"Ngomong-ngomong ini sudah hampiri tengah malam dan nyonya Sofia belum pulang. Kalaupun dia memang pergi ke rumah suaminya, kenapa dia membiarkan saja anaknya diusir? Saya yakin sekali ada sesuatu yang tidak beres," ucap Suci.
"Benar, Tuan. Apa tidak sebaiknya kita mendatangi perumahan tempat tinggal Sean? Perasaan saya benar-benar tidak enak. Ya, meskipun saya dan nyonya seringkali berselisih paham, tetap saja saya khawatir jika terjadi sesuatu padanya," ucap mbok Asih.
"Mbok tahu di mana perumahan itu 'bukan?" tanya Ray. Mbok Asih menganggukkan kepalanya.
"Kita ke sana sekarang."
"Baik, Tuan."
"Hati-hati, Tuan … Mbok Asih."
Keduanya pun lantas meninggalkan ruangan itu.
Setengah jam kemudian mereka tiba di perumahan Anyelir.
Suasana perumahan di saat menjelang tengah malam tentu saja begitu sepi. Hanya terlihat seorang security yang berjaga di pintu masuk perumahan tersebut.
"Selamat malam, Pak," sapa Ray.
"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?"
"Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk mencari alamat rumah ibu Sofia."
"Nyonya Sofia?"
"Ehm … maksud saya rumah bapak Sean."
"Kalau boleh saya tahu, apa hubungan kalian dengan bapak Sean, dan ada keperluan apa mencarinya tengah malam begini?" cecar security.
"Saya … saya saudaranya, Pak."
"Bapak Sean sekarang berada di rumah sakit."
__ADS_1
"Apa dia sakit, Pak?"
"Bukan bapak Sean yang sakit, tetapi istrinya yang saya pun kurang tahu namanya. Dia seringkali datang ke rumah pak Sean namun hampir tidak pernah menginap."
"Memangnya apa yang terjadi dengan ibu Sofia?" tanya Ray.
"Entahlah, saya pun kurang paham. Karena saya baru mulai berjaga dari jam tujuh malam tadi. Tapi menurut keterangan salah satu warga, bapak Sean membawa istrinya ke rumah sakit karena terjadi kecelakaan di dalam rumah mereka."
Ray terdiam sejenak, ia lantas berpikir.
"Apa tadi pemuda itu ingin menyebut kata rumah sakit?" gumamnya.
"Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya. Sekarang juga kami langsung menuju rumah sakit."
****
Sementara itu Sean terlihat keluar dari ruang perawatan Sofia untuk mencari udara segar. Di saat itulah muncul dua orang perawat yang tengah mendorong sebuah trolly pasien. Sementara seorang polisi mengikuti di belakang mereka. Awalnya Sean acuh, namun, tiba-tiba saja ia tertarik untuk memandang wajah pasien yang berada di atas trolly tersebut.
"Astaga, Benny!" gumamnya.
"Suster! Tunggu!" serunya. Kedua perawat itu pun sontak menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Pak? Apa Bapak mengenali jenazah ini?" tanya salah satu perawat.
"Je-je-nazah, Sus?"
"Benar. Pasien ini sudah dalam keadaan meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit ini."
Dengan langkah gemetar Sean menghampiri trolly pasien itu. Tangisnya seketika pecah saat tahu jika pasien itu benar-benar putera kandungnya, Benny
"Benny! Bangun lah, Nak. Maafkan ayah," ucapnya parau.
"Jadi, anda mengenal pasien ini?" tanya perawat
"Benar, Sus. Dia adalah Benny, putera kandung saya. Apa Suster tahu apa yang terjadi padanya?"
"Astaga. Maksud Bapak, putera saya meninggal karena dihajar massa? Kenapa bisa begitu?" tanya Sean.
"Pasien ini tertangkap basah mencuri sebungkus roti di sebuah toko."
Sean terduduk lesu di bangku. Jika saja ia tidak menyalahkan dan mengusir Benny, kejadian buruk ini tidak akan pernah menimpanya.
"Sebagai keluarga pasien, saya harap Bapak segera mengurus pemakaman putera Bapak," ucap perawat. Tidak berselang lama kedua perawat dan polisi itu berlalu dari hadapan Sean.
"Bagaimana ini? Membayar biaya perawatan Sofi saja aku sudah bingung. Sekarang dengan mengurus pemakaman Benny," gumamnya.
Suara derit pintu membangunkan Sofia.
Yang gini hidup dalam kegelapan.
"Sayang, itu kamu 'kan?" tanyanya.
"Iya. Kamu mau makan, minum, atau ke toilet?"
Sofia menggelengkan kepalanya.
"Sofi … apa kamu tidak terpikir untuk menghubungi Ray?" tanya Sean.
"Apa kamu sudah kehilangan akal 'hah? Kalau dia datang ke sini, dia akan bertanya macam-macam. Aku tahu, dia sudah sulit percaya padaku."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Tampak seorang laki-laki dan seorang wanita paruh baya memasuki ruangan itu.
"Selamat pagi, Tuan Sean, Nyonya Sofia," sapa si laki-laki.
__ADS_1
"Bukankah itu suara Ray? Bagaimana dia bisa ada di sini?" gumam Sofia.
"Ray … kamu?"
"Benar, Bu. Ini aku, anak angkatmu, Rayyan. Aku datang ke tempat ini bersama mbok Asih."
"Bagaimana kamu bisa tahu ibu ada di sini?" tanya Sofia.
"Security yang memberitahuku."
"Selama ini Ray tidak pernah tahu tempat tinggal Sean. Bagaimana mungkin mungkin dia bisa mendatangi tempat itu?" batin Sofia.
"Jika Nyonya sedang berpikir bagaimana Ray bisa tahu tempat tinggal tuan Sean, saya lah yang memberitahunya, Nyonya," jelas mbok Asih.
"Mbok Asih?"
Sofia meraba-raba seolah mencari sesuatu. Dari situlah Ray sadar jika sesuatu telah terjadi pada ibu angkatnya itu.
"Ibu? Ibu kenapa?" tanyanya.
"Sofi buta," jawab Sean.
"Bu-bu-ta?"
"Benar."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ibu bisa buta?" tanya Ray lagi.
"Peristiwa ini bermula saat Sofi menginginkan mobil Benny. Dia ingin mengambil mobil itu, tapi Benny menolak memberikannya. Tarik menarik pun terjadi hingga akhirnya Benny mendorong tubuh Sofi hingga terjatuh. Keningnya tepat menghantam sudut meja. Dokter mengatakan ada kerusakan di saraf matanya. Hal itulah yang menyebabkan Sofi kehilangan penglihatannya," ungkap Sean.
"Saya mengerti sekarang. Tuan menyalahkan Benny dan mengusirnya 'bukan? Apa Tuan tahu, gara-gara Tuan Benny meninggal dunia?"
"A-a-pa? Benny meninggal dunia?" tanya Sofia setengah tak percaya.
"Benar, Nyonya. Semalam Benny sempat mendatangi rumah tuan Ray. Dia mengatakan dirinya tengah kelaparan karena diusir ayahnya. Tuan Ray yang memang belum mengenal Benny itu pun lantas mengajak Benny masuk ke dalam rumah dan menyuruh saya memberinya makan dan minum. Akan tetapi, saat saya sudah menyiapkan makanan untuknya, Benny justru menghilang."
"Sepertinya Benny panik setelah melihat foto Ibu di ruang tamu. Dia tahu jika aku lah Ray yang selama ini kalian manfaatkan. Itulah sebabnya dia memilih cepat-cepat meninggalkan rumah saya. Namun rupanya istilah urusan perut tidak bisa diajak kompromi itu benar adanya. Benny yang sedari sore kelaparan itu nekad mencuri roti dari sebuah toko. Hal itulah yang akhirnya mengantar Benny pada kematiannya," ungkap Ray.
"Kamu sudah membunuh Benny!" Sofia memukul tubuh Sean berulang. Namun pria itu hanya bisa pasrah.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku benar-benar tidak bermaksud begitu. Aku hanya marah pada Benny karena dia lah yang sudah membuatmu buta begini."
"Pembunuh! Pergi dari hadapanku!" teriak Sofia.
"Sayang … tenang lah." Sean mencoba merengkuh tubuh Sofia namun ia justru mendorong Sean dengan kasar.
"Jangan sentuh aku! Kamu pembunuh! Gara-gara kamu Benny ku mati!"
"Aku minta maaf, aku melakukannya karena aku begitu menyayangimu," ujar Sean.
"Aku buta … Benny mati. Ha ha ha! Buat apa aku hidup? Lebih baik aku menyusulnya." Sofia meraba meja yang berada di sisi tempat tidurnya. Hingga akhirnya tangannya menemukan sebuah gelas. Gelas itu pun lalu ia benturkan pada tepi meja hingga pecah setengahnya.
"Astaga. Sayang, kamu mau apa?"
"Lebih baik aku mati! Tidak ada gunanya lagi aku hidup!"
"Sadar lah! Jangan nekad!" sentak Sean.
Tentu saja semua pasang mata yang berada di ruangan itu panik melihat tingkah Sofia. Apalagi saat ia mulai mendekatkan pecahan gelas yang tajam dan runcing itu ke arah lehernya sendiri.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…