
"Pasti ini yang menyebabkan Suci mendiamkankanku. Tapi, siapa yang mengirim foto ini?" gumamnya.
"Ayah, sudah waktunya makan malam. Ibu sudah menunggu di meja makan," ucap Arsen yang tiba-tiba saja berdiri di ambang pintu.
"Baiklah, ayah ganti baju dulu," ucap Ray. Setelah mengganti bajunya, ia pun lantas meninggalkan kamarnya lalu menuju ruang makan.
"Masak apa, Mbok?" sapanya pada mbok Asih yang batu saja muncul dari arah dapur.
"Semur daging, Tuan."
Ray menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.
"Kami nggak mau mengambilkan nasi untukku?" sindirnya pada Suci.
Suci pun meraih sebuah piring dari atas meja lalu menuangkan nasi dan semur daging ke dalamnya.
"Silahkan," ucapnya datar.
"Terima kasih."
"Kenapa dari tadi Ibu cemberut saja? Ibu lagi marah sama ayah ya?" tanya Arsen dengan mata polosnya.
"Ah, tidak, Sayang. Ibu hanya sedang malas bicara karena sedang sariawan."
"Sariawan dan puasa bicara itu beda tipis ya," sindir Ray.
"Oh ya, Yah. Besok Ayah tidak jadi keluar kota 'kan?" tanya Arsen. Ray menggelengkan kepalanya.
"Kan sudah tadi ke luar kota nya," timpal Suci yang lebih terdengar seperti sebuah sindiran.
"Jadi, Ayah bisa ikut acara pentas seni di sekolahku?"
"Sepertinya bisa."
"Hore!" sorak Arsen. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada Suci yang tampak biasa saja dengan obrolan itu.
"Ibu kok diam saja. Memangnya Ibu tidak senang kalau ayah ikut tampil bersama kita di pentas seni di sekolah besok?"
"Senang kok."
"Kamu sudah hafal 'kan puisinya?"
"Sudah dong."
"Oh ya, Mbok Siska di mana?" tanya Suci pada mbok Asih.
"Ada di kamarnya."
"Sudah makan malam?"
"Nanti kalau lapar juga nyari makan sendiri. Biasanya begitu."
"Ibu mau kemana?" tanya Arsen lantaran Suci tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
"Ibu sudah selesai makan malamnya."
"Loh, kok Ibu ke kamarku?"
"Sudah lama ibu tidak masuk ke kamarmu. Memangnya tidak boleh?"
"Ehm … boleh kok."
Suci pun lantas masuk ke dalam kamar Arsen.
Beberapa saat kemudian Arsen pun beranjak dari kursinya.
"Aku juga sudah selesai. Aku mau menyusul ibu ke kamar. Selamat malam, Ayah."
"Selamat malam."
"Kenapa dengan Suci, Tuan? Dari tadi dia terlihat murung," ucap mbok Asih sesaat setelah Arsen berlalu.
"Sepertinya Suci salah paham padaku."
"Salah paham?"
"Ya. Tapi Mbok tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya," ujar Ray. Mbok Asih mengangguk paham.
Di dalam kamar Arsen.
"Ibu boleh nggak tidur di sini?" tanya Suci sesaat setelah Arsen masuk ke dalam kamar.
"Memangnya kenapa, Bu?"
"Tidak apa, ibu hanya kangen ingin memelukmu saat tidur."
"Hore! Tidur sama ibu! Tapi, Ibu bacakan buku cerita ya."
"Boleh, memangnya kamu mau dibacakan cerita apa?"
"Ehm … Beauty and the Beast."
"Artinya apa?"
"Si cantik dan si buruk rupa."
__ADS_1
"OK. Ibu ambil buku nya dulu."
Suci beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil buku cerita tersebut di rak buku. Ia pun lantas mulai membacanya.
"Pada zaman dahulu, hidup lah dua ekor itik. Satu ekor memiliki bulu yang indah, satu ekor lainnya memiliki buku yang warnanya kurang cerah. Suatu ketika si itik buruk rupa bertanya pada si itik pemilik bulu yang indah itu.
"Hai, Itik. Bagaimana caranya memiliki bulu yang indah sepertimu?"
"Itik berwarna putih bersih itu pun menjawab, …"
Suci menutup buku cerita itu lantaran Arsen yang sedari tadi merebahkan kepalanya di atas pangkuannya itu sudah tertidur pulas. Ia pun lantas memindahkannya di atas bantal.
"Selamat malam, Sayang. Mimpi indah," ucap Suci seraya mendaratkan kecupan lembut di kening Arsen.
"Pssst … psssst…"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tengah berbisik dari depan pintu kamar. Sudah pasti Ray pelakunya.
"Ayo kita tidur," bisiknya.
"Malam ini aku tidur di sini saja."
"Aku tahu apa yang membuatmu marah padaku."
"Memangnya siapa yang marah?"
"Kamu dari tadi mendiamkanku, memangnya apalagi namanya kalau bukan marah?"
"Aku tidak marah kok."
"Kalau kamu tidak marah, ayo pindah ke kamar," bujuk Ray.
"Aku tidur di sini saja."
"Aku tidur bisa tidur sendirian."
"Bukankah selama ini Mas selalu tidur sendirian?"
"Sekarang 'kan aku sudah punya istri. Salah satu tugasnya 'kan menemani suaminya tidur."
"Memangnya ada undang-undang yang mengatur tugas istri?"
"Ada. Baru saja kusebutkan salah satu ayatnya."
"Nggak usah mengadi-ngadi," gerutu Suci.
"Ayolah," bujuk Ray setengah merengek.
"Aku tidur di sini saja."
"Ayolah, pindah ke kamar kita. Apa perlu aku menggendongmu?"
Ray membungkukkan badannya hendak mengangkat tubuh Suci namun Suci cepat-cepat beranjak dari tempat tidur Arsen.
"Tidak perlu digendong, aku berat. Lebih berat dari tubuh Rossa."
"Kita perlu bicara." Tiba-tiba Ray menggandeng tangan Suci lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar utama.
"Aku tahu, pasti foto ini 'kan yang menyebabkan kamu marah padaku."
Ray meraih ponsel Suci lalu menunjukkan foto dirinya yang tengah membopong sekertaris nya, Rossa.
Suci terdiam.
"Kamu salah paham, ini tidak seperti yang kamu lihat dan kamu pikirkan," ucap Ray.
"Mas bohong padaku 'kan?"
"Bohong?"
"Mas tidak benar-benar keluar kota untuk bekerja, tapi pergi berduaan dengan Rossa 'kan?"
"Kamu benar. Kami memang batal keluar kota."
"Kenapa Mas tega sama aku?"
"Dengar dulu, aku belum selesai bicara. Kami batal keluar kota karena ada sesuatu yang terjadi di luar rencana."
"Apa maksud Mas?"
"Ketika berhenti di pom bensin Rossa terlihat sakit, jadi dia pergi ke toilet. Karena merasa sudah terlalu lama, aku pun meminta bantuan seorang pengunjung untuk memeriksanya di toilet. Kamu tahu, apa yang terjadi?"
Suci menggeleng pelan.
"Rossa pingsan toilet. Foto yang dikirim ke nomormu adalah foto saat aku membopong Rossa yang tidak sadarkan diri dan hendak membawanya masuk ke dalam mobilku. Sepertinya ada orang yang sengaja mengambil foto itu dengan tujuan tidak baik."
Suci terdiam.
"Kamu masih belum percaya? Baiklah, mungkin saja kalau dengan cara ini kamu bisa percaya."
Ray mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan video dengan seseorang.
[Selamat malam, Rossa]
[Selamat malam, Tuan.]
__ADS_1
[Istri saya ingin bicara denganmu]
[Oh, boleh]
Ray mengarahkan layar ponselnya ke wajah Suci.
[Selamat malam, Nyonya Suci]
[Se-se-selamat malam]
[Coba kamu jelaskan di mana kamu sekarang]
[Saya sekarang di rumah sakit, Nyonya. Tadi saya pingsan di toilet SPBU saat dalam perjalanan keluar kota. Itulah sebabnya kami batal ke sana. Saya benar-benar minta maaf, gara-gara mengantarkan saya ke rumah sakit Tuan Ray gagal mendapatkan proyek besar.]
[Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri, kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi satu menit kemudian. Ya sudah, kamu sekarang istirahat. Semoga cepat sembuh]
[Terima kasih, Nyonya]
[Jangan panggil saya nyonya]
[Memangnya kenapa? Anda 'kan istrinya tuan Ray]
[Istri saya ini lebih suka dipanggil ibu Suci]
[Oh begitu. Baiklah. Terima kasih, Bu Suci. Selamat malam dan selamat beristirahat.]
Ray pun lalu mengakhiri panggilan video.
"Aku minta maaf sudah berburuk sangka pada Mas," ucap Suci.
"Berburuk sangka atau cemburu?" goda Ray.
"Siapa yang cemburu?"
"Sudahlah, mengaku saja kalau kamu cemburu. Setelah mendapat kiriman foto itu pasti kamu berpikir jika aku dan Rossa berbuat macam-macam. Apa benar begitu?"
"Aku sudah mengantuk, mau tidur."
"Tunggu dulu."
"Apa lagi?"
"Aku ingin ehm, …"
"Ingin apa?"
"Melanjutkan sesuatu yang tertunda."
"Maksud Mas apa?"
"Kamu pura-pura lupa atau benar-benar lupa? Beberapa hari yang lalu kita hampir menunaikan kewajiban sebagai suami istri, tapi 'kan tiba-tiba Arsen masuk ke kamar kita."
"Jadi?"
Tiba-tiba Ray menangkup wajah Suci lalu menatap lekat matanya.
"Kamu mau 'kan melanjutkannya?" tanyanya.
"Ehm … aku mau, tapi tidak sekarang."
"Ayolah."
Ray membopong tubuh Suci lalu membaringkannya di atas ranjang.
"Jangan sekarang, Mas."
"Aku mau sekarang."
"Tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa. Kita sudah sah melakukannya kapan pun."
"Aku tahu, tapi jangan sekarang."
"Aku mau sekarang." Ray mulai mencumbu leher Suci sementara tangannya membuka kancing baju tidur yang dikenakannya. Perlahan jari-jarinya mulai menjelajahi isi di dalamnya.
"Mas, jangan sekarang."
"Ayolah. Aku sudah mengunci pintu. Arsen juga sudah tidur nyenyak 'bukan?"
"Jangan sekarang."
"Dosa tau. Menolak permintaan suami saat mengajaknya berhubungan badan."
"Kalau sekarang aku nurut, Mas juga kena dosa nya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Mas mau tahu kenapa?"
"Memangnya kenapa?"
Suci mendekatkan wajahnya ke telinga Ray lalu membisikkan sesuatu padanya.
"Aku sedang datang bulan."
__ADS_1
Bersambung …