Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 43


__ADS_3

"Mbok," panggil pak Bondan dari depan kamar mbok Asih.


Perlu menunggu beberapa saat sebelum mbok Asih membuka pintu.


"Pak Bondan? Ada apa, Pak?" tanyanya. Terlihat jelas rasa kantuk di raut wajahnya.


"Di depan ada tamu."


"Siapa?"


"Entahlah, aku tidak mengenalnya. Seorang pemuda, usianya kira-kira tujuh belas tahun. Dia bilang kelaparan dan baru saja diusir dari rumahnya."


"Ya Allah, malang benar nasibnya."


"Tuan Ray menyuruh Mbok untuk memberinya makan dan minum."


"Baik, tunggu sebentar. Biar aku siapkan. Kebetulan masih ada makanan sisa makan malam tadi."


Pak Bondan berlalu dari hadapan mbok Asih, sementara mbok Asih berjalan menuju dapur.


"Tunggu sebentar, Mbok Asih sedang menyiapkan makan- …Loh, kemana pemuda itu?"


Pak Bondan tercengang saat ia tak menemukan siapapun di ruang tamu.


Ia pun mencarinya hingga ke teras rumah. Namun hasilnya nihil.


Sementara itu mbok Asih telah berada di ruang tamu dengan membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas minuman yang ditujukan untuk si tamu.


"Di mana tamu nya, Pak?" tanyanya pada pak Bondan.


"Aku pun bingung, Mbok. Saat aku kembali ke ruangan ini, dia sudah tak ada. Aku sudah mencarinya hingga ke teras dan halaman rumah namun tak menemukannya."


"Aneh. Jangan-jangan dia bukan manusia."


"Mbok ini ngaco! Mana ada makhluk halus kelaparan."


"Buktinya tadi Pak Bondan bilang dia ada di ruang tamu, tapi tiba-tiba menghilang."


"Oh iya, aku baru ingat, malam ini 'kan malam Jum'at. Jangan-jangan dia memang bukan manusia. Aku kok jadi merinding begini ya?"


"Pak Bondan jangan nakut-nakutin aku. Aku tidur di kamar paling belakang," ucap mbok Sumi.


"Siapa yang nakut-nakutin. Aku sendiri juga takut."


"Ada apa ini?"


Keduanya tersentak kaget saat tiba-tiba Rayyan masuk ke dalam ruangan itu.


"Anu … anu … Tuan. Itu … ada hantu."


"Hantu? Di mana?"


"Pemuda yang tadi itu sepertinya bukan manusia, Tuan."


"Maksud Pak Bondan bagaimana?"


"Begini, Tuan. Tadi saya mengajak pemuda itu masuk ke dalam rumah dan saya menyuruhnya menunggu di ruang tamu sementara saya membangunkan mbok Asih untuk menyiapkan makanan untuknya. Tapi, aneh sekali. Saat saya kembali dari dapur, pemuda itu sudah tidak ada di ruangan ini lagi," jelas pak Bondan.


Ray mengulas senyum.


"Pemuda itu manusia kok, Pak. Sama seperti kita. Tadi setelah dari pos security saya sengaja berkeliling sampai di taman belakang. Saya melihat pemuda itu berjalan dengan langkah terburu-buru di halaman rumah. Saat saya tanya apakah dia sudah mendapatkan makanan dan minuman, dia menjawab sudah. Setelah menjawab sudah, dia pun pergi," ungkap Rayyan.

__ADS_1


"Aneh. Padahal dia belum makan loh, Tuan. Lihat nih, piring dan gelasnya masih penuh begini." Mbok Asih menimpali.


"Tadi dia bilang kelaparan dan tidak memiliki tempat tinggal, kenapa dia malah pergi di saat ada orang yang ingin memberinya makanan?"


"Tunggu. Apa ada sesuatu yang membuatnya ketakutan hingga ia kabur begitu saja dari rumah ini?" ucap mbok Asih.


"Takut sama apa, Mbok? Dia baru memasuki ruang tamu ini saja."


"Justru itu maksudku. Pasti ada sesuatu di ruangan ini yang membuatnya tidak nyaman hingga ia memutuskan kabur tanpa pamit."


"Tidak ada apapun di ruangan ini selain guci dan foto keluarga itu," ucap pak Bondan.


"Foto? Apa itu penyebabnya? Tapi, siapa yang dia takuti? Tuan Rayyan? Tidak mungkin. Mereka sudah bertemu di pos security. Mendiang tuan Bayu … dan mendiang nyonya Arini, sepertinya juga tidak mungkin. Bagaimana dengan nyonya Sofia? Jangan-jangan pemuda itu, …" batin mbok Asih.


"Lebih baik Pak Bondan cepat ke depan dan segera tutup pintu gerbangnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bisa saja saat kita mengobrol di sini, ada pencuri menyelinap masuk ke dalam rumah ini," ucap mbok Asih.


"Wah, gawat itu. Ya sudah, Tuan. Saya permisi ke depan dulu." Pak Bondan meninggalkan ruangan itu dan bergegas kembali ke pos security tempat sehari-hari berjaga.


"Saya ke kamar dulu, Mbok," ucap Rayyan.


"Tunggu, Tuan."


"Ada apa, Mbok?"


"Saya merasa ada yang janggal dengan kejadian ini."


"Janggal?"


"Ya. Entah mengapa saya berpikir jika pemuda itu ketakutan setelah melihat foto itu." Mbok Asih mengacungkan ibu jarinya ke arah bingkai foto yang tertempel di dinding.


"Memangnya siapa yang dia takuti?"


"Ibu?"


Rayyan terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Oh ya, Mbok. Sepertinya Mbok pernah bilang pada saya jika ibu menikah diam-diam dengan seorang laki-laki hingga ibu melahirkan seorang anak laki-laki yang mungkin sekarang sudah duduk di bangku SMA. Apa mungkin pemuda tadi itu anaknya ibu? Jika dilihat dari wajahnya, usianya sekitar 17 tahun an."


"Nah, itu dia maksud saya."


"Tadi dia bilang kelaparan karena diusir ayahnya karena sebuah kesalahan yang tidak sengaja dilakukannya. Apakah ini ada hubungannya dengan ibu?"


"Zola mengatakan dia sudah berkali-kali menghubungi nyonya Sofia namun tidak terhubung. Apakah terjadi sesuatu pada nyonya dan pemuda itu, …"


Tiba-tiba Ray beranjak dari ruangan itu dan menaiki tangga menuju kamarnya. Tidak berselang lama dia kembali ke ruang tamu dengan membawa kunci mobilnya.


"Tuan mau kemana?" tanya mbok Asih.


"Saya harus mengejar pemuda itu. Saya yakin dia mengetahui sesuatu tentang ibu."


Ray meninggalkan ruang tamu dan bergegas menuju mobilnya yang berada di halaman rumah.


"Pak Bondan, buka pintunya!" seru Rayyan.


"Tuan mau kemana?"


"Saya mau mengejar pemuda itu. Saya yakin dia mengetahui tahu sesuatu."


"Hati-hati, Tuan."


Ray melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya. Ia memperhatikan dengan seksama setiap jalan yang dilaluinya. Sudah cukup jauh berjalan, namun ia belum juga menemukan pemuda itu. Hingga suatu ketika sebuah kerumunan menarik perhatiannya. Ia pun menghentikan mobilnya di dekat kerumunan tersebut.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Ada apa ini?" tanyanya pada seorang laki-laki yang begitu di kerumunan itu.


"Ada pencuri yang sedang dihakimi warga," jawabnya.


"Pencuri?"


"Ya. Seorang pemuda tertangkap basah mencuri sebungkus roti di toko itu."


Ray keluar dari dalam mobilnya, ia lantas menghampiri kerumunan itu.


"Ampun, Pak. Saya terpaksa mencuri karena lapar," ucap seseorang di dalam kerumunan itu.


Ray yang merasa iba itu pun menerobos masuk ke dalam kerumunan. Alangkah terkejutnya saat melihat wajah pemuda yang menjadi bulan-bulanan masa itu.


Tidak salah lagi, dialah pemuda yang tadi sempat mendatangi rumahnya.


"Bubar semua! Jangan main hakim sendiri atau aku akan memanggil polisi!" ancamnya.


Ray menghampiri pemuda bertubuh kurus itu. Wajahnya tampak lebam, darah segar pun mengalir dari ujung bibirnya.


"Bukankah kamu yang tadi mendatangi rumah saya? Kenapa kamu pergi begitu saja?"


"Sa-sa-ya …" ucapnya terbata.


"Apa sebenarnya yang membuatmu begitu panik hingga pergi meninggalkan rumah saya?" tanya Ray.


Pemuda itu merintih kesakitan.


"Tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur. Siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu pergi setelah melihat foto Ibu Sofia di ruang tamu?"


"Sa-sa-ya sebenarnya …"


"Sa-sa-ya a-nak i-bu So-fia dan A-yah Se-an."


"Kenapa kamu bisa diusir dari rumahmu?"


"A-yah ma-rah- pa-da sa-sa-ya."


"Ma-rah-?"


"I-I-Ibu … Ibu … "


"Kenapa dengan ibumu?"


"I-bu-bu-bu-ta."


"Apa maksudmu?"


"Ibu di ru- …"


Nafas pemuda itu mulai tersengal hingga suatu ketika dia menarik nafas panjang dan tak lagi melanjutkan kata-katanya.


"Astaga. Sadarlah!" pekik Ray sembari mengguncang tubuh pemuda itu. Namun ia tak bergeming.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2