Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 63


__ADS_3

Sementara itu di sebuah hotel terjadi kegaduhan di bagian resepsionist.


"Kenapa kamu tidak diperbolehkan untuk check out dari hotel ini?" protes seorang wanita.


"Ya, bukankah kami sudah membayar tagihan hotel ini secara penuh?" Si pria menimpali.


"Maaf, Tuan … Nyonya, saya hanya menjalankan tugas dari pemilik hotel ini untuk menahan kalian agar tidak meninggalkan hotel ini," jelas si resepsionist.


"Mana bisa begitu? Sekarang juga kami harus meninggalkan hotel ini."


"Maaf Tuan … Nyonya … tidak bisa. Jika kalian memaksa terpaksa kami harus memanggil security," ucap resepsionist hotel setengah mengancam.


"Memangnya apa salah kami sehingga kami ditahan di hotel ini?" protes seorang gadis berdiri tidak jauh dari pria dan wanita itu.


Ya, ketika pengunjung hotel yang sedang bertempat dengan resepsionist itu adalah Nyonya Sofia, Sean dan Zola.


Pihak hotel menahan ketiganya atas perintah dari Rayyan.


Tidak berselang lama muncul seorang laki-laki dan perempuan beserta seorang anak kecil dalam ruangan tersebut.


"Selamat pagi Nyonya Sofia … Tuan Sean … dan Zola," sapa laki-laki itu.


"Astaga. Ray? Suci? Ba-ba-ba-gaimana kalian bisa berada di hotel ini?" ucap nyonya Sofia dengan raut wajah gugup.


Ketiganya semakin bertambah panik ketika tiba-tiba tiga orang berseragam memasuki ruangan itu.


"A-a-ada apa ini? Kenapa ada polisi di sini?" tanya Nyonya Sofia.


"Nyonya Sofia … Tuan Sean … dan Nona Zola. Kalian bertiga kami tangkap dengan tuduhan perampokan dan penculikan," jelas polisi.


"A-a-pa maksudnya? Saya sama sekali tidak paham dengan maksud Bapak," ucap nyonya Sofia.


"Sekarang kalian ikut kami ke kantor."


Masing-masing polisi lantas memasang rantai besi pada ketiga orang itu.


"Ray! Kenapa kamu diam saja ibu diperlakukan begini?!" seru nyonya Sofia.


"Tuan Rayyan inilah yang melaporkan kalian bertiga," jelas polisi.


"Tega sekali kamu Ray!" sentak nyonya Sofia.


"Jika aku tega, lantas sebutan apa yang pantas kuberikan untuk tiga orang dewasa yang menyekap seorang bayi berusia 1 tahun di dalam toilet 'hah!"

__ADS_1


"Itu sama sekali tidak benar. Aku-aku, …"


"Bawa mereka bertiga, Pak," titah Rayyan pada polisi.


"Kamu salah menuduh orang!" pekik nyonya Sofia.


"Sampai bertemu di pengadilan," ucapkan sesaat sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Beberapa hari kemudian.


Sidang pun berlangsung. Nyonya Sofia, Sean, dan Zola terbukti bersalah telah melakukan perampokan di rumah Rey serta menculik Arsen dan menguncinya di dalam toilet di sebuah pom bensin. Ketiganya dijatuhi hukuman selama 5 tahun penjara.


****


Sementara itu Siska diberhentikan dari pekerjaannya karena terbukti melakukan pencurian sejumlah uang di ruangan manager cafe. Lantaran tak mampu membayar uang sewa kamar kostnya, ia pun dipaksa pergi meninggalkan tempat tinggalnya tersebut.


Siska berjalan tak tentu arah, hingga suatu ketika dia berhenti di warung penjual minuman yang juga berjualan koran dan majalah. Entah mengapa ia tertarik untuk membeli koran di tempat itu.


Siska mulai membaca koran tersebut hingga akhirnya dia menemukan sebuah judul berita yang membuat matanya terbelalak.


"Seorang wanita ditemukan tewas tertabrak truk bermuatan semen di jalan Cempaka. Dari kartu identitas yang ditemukan di dalam dompetnya, wanita paruh baya itu bernama Widya yang berasal dari desa Makmur."


Tangis Siska pun seketika pecah. Menyesal, itulah yang dirasakannya kini. Namun ia tidak bisa memutar kembali waktu.


****


Waktu terus berjalan. Kini Arsen telah berusia 4 tahun dan siap memasuki sekolah.


"Tuan muda Arsen sudah bisa melakukan apapun sendiri. Sepertinya aku tidak lagi diperlukan di sini, apalagi hutang ku juga sudah lunas. Aku akan minta izin pada tuan Ray untuk berhenti dari pekerjaan ini. Aku ingin merawat bapak di kampung. Murni bilang bapak sekarang sudah mulai sakit-sakitan," ucap Suci pada Mbok Asih siang itu.


"Kalau nggak boleh jujur, mbok tidak ingin kamu meninggalkan rumah ini, Nduk. Tapi jika alasannya untuk merawat bapakmu, mbok tidak berhak menghalangimu," ujar mbok Asih.


"Oh ya, di mana tuan muda Arsen?" tanya Suci.


"Tuan muda Arsen sedang bermain sepeda di taman belakang bersama Tuan Ray."


"Sepertinya inilah saat yang tepat untuk berbicara pada mereka."


Suci pun berlalu dari hadapan mbok Asih lalu melangkahkan kakinya menuju taman kecil yang berada di bagian belakang rumah.


"Mbak Suci … Arsen sudah bisa naik sepeda!" teriak bocah laki-laki tampan itu.


"Hebat!" seru Suci seraya mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


"Ehm … Tu-Tu-Tuan."


"Ya, ada apa?"


"Ehm … Tuan muda Arsen sekarang sudah tumbuh besar dan bisa mandiri. Sepertinya saya tidak dibutuhkan lagi di sini. Saya berniat berhenti dari pekerjaan ini dan ingin merawat bapak saya di kampung yang sudah mulai sakit-sakitan," ungkap Suci.


Ray membuang nafas.


"Kalau itu demi kebaikan keluargamu, saya bisa apa. Meskipun saya tahu Arsen akan akan keberatan jika ditinggalkan kamu."


Rupanya obrolan keduanya didengar oleh Arsen.


"Mbak Suci mau ke mana?" tanyanya.


"Ehm … maaf, Tuan muda. Mbak Suci harus pamit pulang kampung untuk merawat bapak mbak suci yang sering sakit-sakitan."


Arsen tak menanggapi ucapan Suci. Tiba-tiba saja ia turun dari sepedanya dan berlari ke dalam rumah.


"Arsen! Kamu mau kemana, Nak?!" teriak Ray seraya mengejar putra semata wayangnya itu. Suci sudah bisa menebak, bocah laki-laki itu pasti masuk dalam kamarnya. Pun ia tak punya pilihan lain untuk segera meninggalkan rumah itu. Sang ayah lebih membutuhkannya sekarang. Setelah mengemasi barang-barangnya, Suci pun berpamitan pada Arsen.


"Tuan muda, mbak Suci pamit," ucapnya dari depan pintu kamar Arsen.


Tak ada jawaban dari dalam sana.


"Suci pamit, Mbok. Terima kasih untuk semuanya, Suci juga minta maaf jika selama ini punya banyak salah sama Mbok," ucap Suci.


"Mbok senang sekali bisa bertemu dengan gadis baik kamu, Nduk. Mbok harap kamu tidak akan pernah melupakan mbok sampai kapanpun," ucap mbok Asih. Sorot matanya terlihat berkaca-kaca.


Suci tak mampu lagi berkata-kata, ia pun lantas merengkuh tubuh wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya itu ke dalam pelukannya.


"Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali, Nduk," ucap mbok Asih sesaat setelah melonggarkan pelukannya.


Dari ruang dapur, Suci bergeser menuju ruang kerja Ray yang berada di lantai 2.


"Saya pamit dulu, Tuan. Terima kasih untuk semua kebaikan Tuan selama ini. Saya juga minta maaf jika selama ini saya telah membuat banyak kesalahan," ucap Suci.


"Terima kasih selama ini telah merawat bersin dengan baik hingga dia tumbuh besar. Hati-hati di jalan salam untuk keluargamu," ucap Ray.


"Baik, Tuan."


Suci pun beranjak meninggalkan ruang kerja Ray. Tanpa ia sadari, buliran bening itu mengalir begitu saja dari sudut matanya.


"Perpisahan itu memang menyakitkan," gumamnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2