
Suci dan Ray tiba di kota menjelang sore.
Tentu saja kedatangan keduanya disambut suka cita oleh Arsen.
"Hore! Ayah dan Ibu sudah pulang!" soraknya riang.
"Alhamdulillah … kamu sudah sembuh, Nak?" tanya Suci.
"Sudah, Bu. Aku pulang dari rumah sakit kemarin siang."
"Mbok Asih di mana?"
"Tadi lagi nyuci pakaian di belakang."
"Kalau mbak Siska?"
"Nggak tahu. Tadi mbak Siska pergi dijemput mobil."
"Oh, begitu ya."
"Ibu beliin aku oleh-oleh 'kan?" tanya Arsen.
"Yah, ibu lupa."
"Kok lupa sih?"
Bocah laki-laki itu menundukkan wajahnya.
"Ibu yang lupa, tapi ayah tidak."
Sorot mata Arsen sontak berbinar saat Ray menyodorkan sebuah mainan berbentuk robot padanya.
"Bumblebee! Terima kasih, Ayah."
__ADS_1
"Sekarang Arsen main di kamar ya, nanti ibu temani," ucap Suci. Bocah tampan itu menganggukkan kepalanya.
"Aku istirahat di kamar dulu." Ray berlalu dari hadapan Suci lalu masuk ke dalam kamar utama. Sementara Suci berjalan menuju tempat mencuci pakaian.
"Banyak banget cuciannya, Mbok."
"Jabang bayik! Ya Allah, kamu to, Nduk. Bikin mbok jantungan saja."
"Mbok pasti lagi melamun ya? Padahal sama sekali nggak ngagetin Mbok loh."
"Mbok lagi mikirin kamu dan tuan Ray. Mbok takut kalian mendapatkan kesulitan."
Suci membuang nafas.
"Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan," ujarnya.
"Apa maksudmu?"
Apa Murni kabur setelah melakukan perbuatannya?" tanya mbok Asih.
"Begitulah. Aku dan mas Ray sudah mendatangi tempat Murni dan ke dua kawannya bekerja tapi apa yang kami temukan sungguh di luar dugaan."
"Apa yang terjadi, Nduk?" tanya mbok Asih penasaran.
Suci menghela nafas berat.
"Yang kami temukan di tempat itu adalah dua kawan Murni yang sudah tak bernyawa lagi."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Apa mereka menjadi korban pembunuhan?"
Suci menggeleng lemah.
"Tidak, Mbok. Mereka tidak tewas dibunuh tapi mengakhiri hidup mereka sendiri karena tidak kuat dengan tekanan pekerjaan yang harus mereka jalani."
__ADS_1
"Memangnya pekerjaan apa yang mereka jalani? Bukankah mereka sendiri yang mencarinya?"
"Murni dan kedua kawannya menjadi korban penipuan, Mbok. Pekerjaan di salon ternyata hanya kedok saja. Pekerjaan sesungguhnya adalah sebagai pelaacuurr."
"Astaghfirullahaldzim. Oh ya, tadi kamu sempat bilang hanya menemukan kedua kawan Murni saja, lalu bagaimana dengan Murni sendiri?"
Suci membuang nafas.
"Sampai detik ini aku tak tahu di mana keberadaannya. Tetapi karyawan di tempat itu mengatakan jika Murni berhasil melarikan diri saat bos pemilik tempat pekerjaan itu mencoba melecehkannya."
"Ya Allah Gusti, malang benar nasib ketiga gadis itu. Semoga di manapun Murni berada, dia dalam keadaan baik-baik saja."
"Aamiin. Oh ya, Arsen bagaimana, Mbok?" Tiba-tiba Suci mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, setelah menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi tuan muda berangsur membaik. Kamu tahu, saat sarapan tadi tuan muda 2x minta nambah bubur ayam."
"Oh ya? Aku senang mendengarnya," ujar Suci.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada keranjang berisi pakaian.
"Ngomong-ngomong kenapa cucian Mbok sebanyak in?"
"Bagaimana cucian mbok tidak menggunung, kalau selama mbok menunggu tuan muda di rumah sakit,
pakaian-pakaian kotor ini hanya didiamkan saja?"
"Apa Siska tidak bantu-bantu Mbok mengerjakan pekerjaan rumah?"
"Boro-boro, Nduk. Selama kami dan tuan Ray tidak di rumah, dia seringkali keluyuran tidak jelas. Dari pagi tadi saja mbok tidak tahu kemana perginya."
"Keterlaluan!"
Bersambung …
__ADS_1