Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 28


__ADS_3

Suci masih terus mengawasi gerak-gerik wanita berambut sebahu itu. Bisa saja ia meneriakinya maling atau pencopet. Namun, ia memilih untuk menangkap basah pencuri tersebut dengan cara yang lebih halus.


Salah satu tangan wanita itu mulai menerobos masuk ke dalam tas berukuran cukup besar tersebut. Sementara penumpang yang tengah asyik memainkan ponsel tentu saja tidak menyadari jika dompet miliknya kini sudah berpindah tangan.


Suci berpikir setelah berhasil mendapatkan barang incarannya, wanita itu akan langsung pergi menjauh dari tempat itu. Namun dia salah. Wanita itu sepertinya sudah mendapatkan sasaran ke dua yakni seorang pria paruh baya yang menyimpan dompet miliknya di bagian belakang satu celananya.


Entah apa yang mereka obrolkan. Wanita yang duduk membelakangi pria itu dengan begitu mudahnya mengambil dompet tersebut lalu memasukkannya ke dalam tas miliknya. Benar-benar lihai.


Pandangan Suci masih belum lepas dari wanita pencuri itu. Setelah mendapatkan dua dompet, wanita itu lantas memasuki sebuah toilet yang berada di antara deretan ruko. Apalagi yang dilakukannya selain membuang barang bukti kejahatannya?


Dengan langkah santai wanita itu mendatangi sebuah warung makan dan memesan makanan.


Beberapa saat kemudian terjadi kegaduhan. Penyebabnya tak lain adalah dua orang calon penumpang yang kebingungan lantaran kehilangan dompet mereka.


Saatnya Suci beraksi.


"Pak, saya turun sebentar beli air mineral," ucapnya pada kondektur yang tengah membersihkan bus.


"Baik, Neng."


Suci turun dari bus lalu menghampiri penumpang pria itu.


"Dompet saya hilang. Padahal di dalamnya ada uang untuk anak saya bayar kuliah. Hu … hu … hu…"


"Dompet saya hilang. Di dalamnya ada uang untuk membayar biaya berobat ibu saya di rumah sakit. Hu … hu … hu …"


Begitulah ratapan kesedihan dari dua korban kejahatan wanita itu.


"Bapak tenang, tidak lama lagi dompet Bapak akan kembali," ucap Suci.


"Apa maksudmu, Nak?" tanya security yang berjaga di terminal itu.


"Mari Bapak ikut saya."


Suci mengajak pria berseragam itu mendatangi sebuah warung.


"Kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanyanya.


Suci lantas membisikkan sesuatu di telinga security itu.


"Selamat siang, Mbak," sapa Suci pada wanita itu.


"Selamat siang. Kamu siapa? Dan kenapa membawa security ke sini?"


"Mbak pasti masih ingat wajah saya."


"Tidak. Saya tidak mengenalimu. Mungkin kamu salah orang. Sudah pergi sana, mengganggu orang makan saja!" gerutu wanita itu.


"Brak!" Security menggebrak meja itu hingga membuat wanita itu berjingkat.


"Bapak ini apa-apaan?!"


"Di mana dompet yang tadi kamu curi?" tanyanya.

__ADS_1


"Dom-dom-dompet apa yang Bapak maksud? Saya tidak mengerti."


"Tidak usah mengelak. Mbak ini yang melihat dengan mata kepalanya sendiri saat kamu mencuri dompet mereka."


"Kamu jangan sembarangan menuduh. Bapak bisa memeriksa isi tas saya apakah dompet itu ada di dalamnya."


"Tentu saja dompet itu tidak berada di dalam tas mu. Sebab kamu sudah sengaja membuangnya di bak sampah toilet," ucap Suci.


"Brak! Maksud kamu apa 'hah?!"


Wanita itu menggebrak meja lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Bapak tahan wanita ini sebentar."


Suci berlalu dari hadapan wanita itu. Tidak lama kemudian dia muncul dengan membawa sebuah tempat sampah.


"Dompet ini yang sudah kamu buang 'kan?" tanyanya.


"Kamu jangan menuduh sembarangan!" bantah wanita itu.


"Pak, apa bisa saya minta tolong, ajak kedua orang yang kehilangan dompetnya kemari," ucap Suci.


"Baik, Mbak."


Security itu lantas berlalu dari hadapan Suci. Tidak lama kemudian dia muncul dengan mengajak serta dua orang yang mengaku kehilangan dompet.


"Apa ini dompet Bapak-bapak?" tanya Suci seraya menyodorkan kedua dompet itu ke arah mereka.


"Iya, benar. Ini dompet milik saya."


"Loh! Uangnya kemana? Kok dompet saya kosong?" ucap salah satu pria.


"Iya. Dompet saya juga tinggal KTP saja. Di mana uang saya?"


"Bapak tanya saja pada wanita ini. Dikemanakan yang kalian," ucap Suci.


"Woi! Kembalikan uang saya!" bentak pria itu.


"Apa maksud Bapak? Kenapa saya tiba-tiba diminta mengembalikan uang Bapak?"


"Sudahlah, mengaku saja. Kamu yang sudah mencuri dompet kami 'kan? Uangnya kamu ambil, lalu dompetnya kamu buang di tempat sampah," desak salah satu pria.


"Saya tidak pernah mencuri!" bantah wanita itu.


"Baiklah, saya akan memeriksa isi tas mu," ucap security.


"Bapak tidak punya hak memeriksa isi tas saya!" Wanita itu mendekap erat tas punggungnya. Namun security bertubuh kekar itu merebut paksa tas tersebut hingga akhirnya wanita itu memilih pasrah saat security membongkar isi tas nya.


"Uang saya distaples."


"Uang saya sebagian saya ikat dengan karet."


Petugas keamanan itu mulai mengeluarkan satu persatu isi tas tersebut. Wanita itu tidak bisa menyangkal lagi saat di dalam tasnya ditemukan sejumlah uang dengan ciri-ciri yang disebutkan kedua korban.

__ADS_1


"Itu uang saya."


"Dasar pencuri! Kamu tahu, saya rela menjual sapi saya demi membayar uang kuliah anak saya. Seenaknya saja kamu curi!"


"Ma-ma-af, Pak. Saya khilaf."


"Khilaf kamu bilang? Beberapa waktu yang lalu kamu juga mencuri dompet saya 'bukan? Kamu menawarkan air minum yang sudah dicampur obat tidur. Saat saya terbangun, dompet saya sudah raib," ucap Suci.


"Sebenarnya selama ini saya sering mendengar laporan penumpang yang kehilangan dompetnya sebelum mereka naik bus. Tapi saya cukup sulit mencari pelakunya. Berkat keberanian Mbak akhirnya pencuri yang meresahkan ini bisa ditangkap," ungkap security.


"Ini uang ala kadarnya buat kamu. Jika tanpa bantuan kamu, saya pasti sudah kehilangan semua uang saya."


"Ini juga, silahkan diterima."


Kedua pria itu berniat memberikan uang pada Suci sebagai tanda terima kasih. Tentu saja ia menolaknya dengan halus.


"Bapak-bapak, saya ikhlas menolong. Simpan saja uangnya. Bukankah kalian bilang sedang membutuhkan uang itu?"


"Tidak apa, Nak. Kami juga ikhlas memberikannya."


"Tidak, Pak. Bapak simpan saja uang itu."


"Baiklah kalau begitu. Semoga Allah selalu mempermudah urusanmu dan memberimu rezeki yang melimpah."


"Aaamiin, terima kasih untuk do'a nya. Do'a yang sama untuk Bapak."


"Ayo ikut saya ke kantor polisi!" Security itu menarik salah satu lengan si pencuri.


"Jangan bawa saya ke kantor polisi, Pak. Saya tidak mau dipenjara."


"Kalau kamu dibiarkan bebas, kamu hanya akan merugikan orang banyak!"


"Benar, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" Salah satu pria menimpali.


"Ampun … Pak. Ampun." Wanita pencuri itu terus menolak, namun akhirnya ia harus menyerah saat salah satu pria juga ikut menariknya untuk meninggalkan tempat itu.


"Sekali lagi terima kasih, Nak," ucap kedua pria itu.


"Ya, Pak. Bapak lebih hati-hati lagi menyimpan dompetnya."


"Kami permisi dulu."


Kedua pria itu pun lantas berlalu dari hadapan Suci.


"Bus tujuan Kota Y segera berangkat!" seru kernet bus.


Suci beranjak meninggalkan warung itu dan bergegas menaiki bus tujuannya.


Jam empat sore Suci tiba di kediaman Rayyan. Namun ia terkejut mendapati seseorang yang begitu dikenalnya berdiri di depan pintu gerbang.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2