Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 53


__ADS_3

"A-a-pa?"


"Apa ucapanku kurang jelas? Bersiap lah, sekarang juga saya antar kamu pulang ke kampungmu," ucap Rayyan.


"Sungguh?"


"Sepuluh menit lagi kita berangkat."


Ray berlalu dari hadapan Suci dan mbok Asih lalu menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


"Alhamdulillah, Nduk. Tuan Ray mau berbaik hati mengantarmu pulang," ucap mbok Asih.


"Aku titip tuan muda Arsen ya, Mbok."


"Kamu tidak usah khawatir, selagi kamu di kampung, mbok pasti akan menjaga tuan muda Arsen baik-baik."


Tepat sepuluh menit kemudian Rayyan kembali menghampiri mereka. Jaket kulit dan kacamata yang dikenakannya membuat duda satu anak itu semakin tampan saja meskipun wajahnya masih dipenuhi jambang.


"Saya titip rumah, Mbok. Kalau ada apa-apa cepat kabari saya," ucap Ray


Mbok Asih mengangguk paham.


"Aku pamit, Mbok," ucap Suci seraya mencium punggung tangan mbok Asih.


"Hati-hati, Nduk. Sampaikan salam mbok untuk bapak kamu."


"Assalamu'alaikum."


Suci dan Ray pun lalu meninggalkan rumah tersebut.


"Berapa lama perjalanan dari rumah saya menuju rumahmu?" tanya Ray sesaat setelah mobilnya melaju.


"Kalau naik bis sekitar empat jam, Tuan."


Awalnya perjalanan lancar, namun setelah sekitar satu jam, Suci mulai menunjukkan tanda-tanda jika dirinya mabuk perjalanan.


Wajahnya terlihat pucat, badannya panas dingin, dan perutnya begitu mual.


"Kamu kenapa?" tanya Ray.


"Sepertinya saya mabuk perjalanan," jawab Suci yang justru membuat sang tuan terkekeh.


"Memangnya kamu tidak pernah naik mobil?"


"Hampir tidak pernah, naik angkutan umum saja hanya kalau ke pasar."


"Pantas saja."


Ray lantas mengecilkan AC mobilnya. "Bagaimana, sekarang lebih baik?" tanyanya kemudian.


"Ya, tadi memang dingin sekali. Kenapa sekarang lebih hangat?"


"Tentu saja, saya mematikan AC mobilnya."


Tiba-tiba terdengar suara khas dari dalam perut Rayyan yang menandakan jika dirinya kini tengah diserang rasa lapar.


"Suara apa itu?" tanya Ray.


"Bukankah suara itu berasal dari perut Tuan?"


"Jangan sembarangan menuduh."


Suasana hening sejenak, namun justru membuat suara itu semakin terdengar jelas.


"Kalau Tuan memang lapar, kita berhenti dulu untuk makan," ucap Suci.


"Saya tidak lapar," bantahnya.


"Apa orang ganteng selalu begini ya? Mengaku lapar saja gengsi," batin Suci.


"Aww!" Sekitar sepuluh menit kemudian Ray memegangi perutnya sambil mengaduh kesakitan.


"Apa Tuan harus menunggu sakit perut dulu biar mau berhenti dan mencari makan?"


"Aku baru ingat, siang tadi aku melewatkan makan siangku karena tiba-tiba ada kunjungan klien. Apa restoran masih jauh dari sini?"


"Mana ada restoran. Paling-paling yang kita temui di pinggir jalan adalah pedagang bakso dan mie ayam."


"Makanan apa itu?"


"Memangnya Tuan belum pernah mendengar makanan itu?"

__ADS_1


"Selama ini aku lebih sering makan makanan siap saji. Sesekali saja aku makan nasi di rumah. Itupun harus mbok Asih yang memasaknya."


"Jadi, bagaimana? Apa Tuan mau makan mie ayam di warung pinggir jalan?"


"Wa-wa-rung pinggir jalan?"


"Ya. Bukankah tadi sudah kubilang tidak ada restoran di sepanjang jalan ini?"


"Ya sudah, apa saja, yang penting perutku terisi."


Lima menit kemudian Suci meminta Ray menepikan mobilnya.


"Kami yakin mengajakku makan di sini?" tanya Ray.


"Setelah warung ini yang akan kita lewati adalah hutan mahoni tanpa pemukiman kurang lebih sepanjang lima kilometer. Untuk menemukan warung makan pun sepertinya masih cukup jauh. Jika Tuan masih sanggup menahan lapar, lanjutkan saja perjalanannya."


"Krucuk … krucuk.." Suara perut Ray kini terdengar lebih nyaring dari sebelumnya.


"Ya sudah, tidak apa makan di sini saja," ucap Ray. Keduanya pun lantas turun dari dalam mobil dan menghampiri warung mie ayam bertenda biru itu. Ada rasa tidak nyaman saat Ray mulai menduduki bangku kayu di dalam sana.


"Satu porsi mie ayam dan segelas teh hangat, Pak " ucap Suci pada sang pedagang.


"Satu porsi saja?" tanyanya.


"Iya. Memangnya saya tidak boleh jika hanya memesan satu porsi?"


"Ah! Bapak ini seperti tidak pernah muda saja. Mbak dan mas ini pasti pengantin baru, mereka ingin makan mie ayam satu mangkuk berdua," ucap seorang perempuan paruh baya yang juga berada di warung tersebut.


"Kami bukan pas- …"


"Kalian dari mana mau kemana?" tanya pria pemilik warung seraya meletakkan semangkuk mie ayam dan segelas teh hangat yang masih mengepulkan asap itu di atas meja.


"Kami dari kota mau ke desa Makmur," jawab Suci.


"Silahkan, kami tinggal ke belakang dulu."


Sepasang suami istri itu lalu berjalan menuju bagian belakang tenda. Jika didengar dari suaranya, keduanya tengah mencuci mangkuk dan gelas bekas pengunjung.


Semangkuk mi dengan taburan daging ayam suwir dan bawang goreng telah tersaji di hadapan Ray, namun ia hanya memandanginya saja.


"Tuan lapar 'bukan? Apa dengan memandanginya saja bisa membuat perut Tuan kenyang?"


tanya Ray.


"Tuan suka makanan pedas?" Suci balik bertanya.


"Tidak terlalu suka."


Suci menuangkan kecap, saus, dan sesendok sambal ke dalam mangkuk lalu mengaduknya.


"Silahkan."


"Tinggal dimakan saja?"


"Memangnya mau dibungkus?"


Untuk pertama kalinya Ray menikmati makanan yang dijual di pinggir jalan. Ia sempat berpikir makanan yang dijajakan di tempat itu hanya dibuat dengan asal-asalan. Namun, apa yang dirasakan saat sendok pertama masuk ke dalam mulutnya sungguh di luar dugaan hingga membuatnya tak ingin berhenti memakannya. Hanya dalam waktu hitungan menit mangkuk itu telah kosong.


"Satu mangkuk lagi, Pak!"


"Tuan lapar apa doyan?" tanya Suci sambil menahan tawa.


"Ini makanan terlezat yang pernah saya makan."


"Sungguh? Bukankah makanan di restoran mahal lebih lezat?"


"Selama ini saya salah telah meremehkan makanan yang dijual di pinggir jalan begini."


"Makanya, jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja. Tidak jauh dari rumah saya di kampung juga ada penjual mi ayam."


"Nanti saya pasti mencobanya juga."


Beberapa saat kemudian mangkuk ke dua tersaji di hadapan Ray.


"Loh, kok Mas nya makan sendiri? Istrinya nggak disuapi?" tanya si perempuan pemilik warung.


"Kami ini bukan suami istri, Pak. Dia pengasuh anak saya di kota. Saya mau mengantarnya pulang karena ada saudaranya yang meninggal dunia."


"Baik sekali Mas ini. Jarang loh, ada majikan sebaik dia," ujar si perempuan perempuan pemilik warung.


Suci hanya menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.

__ADS_1


"Berapa semuanya, Pak?" tanya Ray setelah ia meneguk habis teh hangat gelas ke dua nya.


"Tiga puluh ribu saja, Mas?"


"Apa saya tidak salah dengar?"


"Dua mangkuk mie ayam harganya 24.000, dan dia gelas teh hangat harganya 6.000, jadi semuanya tiga puluh ribu," jelas pemilik warung.


"Kalau saya makan di restoran sampai sekenyang ini pasti habis ratusan ribu," batin Ray.


Ray mengambil selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada pemilik warung.


"Aduh! Uang kecil saja, Mas."


"Saya tidak punya uang kecil, Pak."


"Jadi, bagaimana? Saya juga tidak memiliki kembalian."


"Sudahlah, ambil saja kembaliannya. Menurut saya makanan selezat ini terlalu murah jika hanya dihargai tiga puluh ribu."


"Alhamdulillah, terima kasih, Mas. Saya do'akan semoga rezeki Mas berlimpah."


"Aamiin. Kalau begitu kami permisi dulu."


"Ehm … hati-hati, Mas, Mbak. Saya dengar di jalan sepi sekitar hutan mahoni seringkali terjadi aksi pembegalan, terutama saat sore menjelang petang begini," ucap pemilik warung.


"Terima kasih untuk informasinya, Pak. Jadi kami bisa lebih waspada dan berhati-hati," ucap Ray.


Suci dan Ray pun lantas meninggalkan warung tersebut.


"Apa benar yang dikatakan pemilik warung itu jika di jalan dekat hutan mahoni sering terjadi pembegalan?" tanya Ray sesaat setelah kembali melajukan mobilnya.


"Beberapa bulan yang lalu saya pernah membaca koran berisi aksi pembegalan di tempat itu. Pelaku kejahatan itu tidak hanya mengincar harta korbannya saja, mereka tidak segan melukai korbannya jika korban melawan."


"Mengerikan juga."


Berapa menit kemudian mobil mulai memasuki kawasan hutan mahoni. Sejauh mata memandang di kanan kiri jalan itu hanya terlihat pohon mahoni berukuran besar terlihat rumah ataupun ruko.


"Tiba-tiba perasaan saya tidak enak begini, Tuan," ucap Suci.


"Tenanglah, kamu pasti aman bersama saya."


Raut wajah Suci berubah panik saat tiba-tiba dua orang bertubuh kekar muncul dari arah hutan. Salah satu dari mereka memberi isyarat agar Ray menepikan mobilnya.


"Jangan berhenti, Tuan. Saya yakin mereka adalah pelaku kejahatan yang dimaksud oleh pemilik warung tadi," ucap Suci.


"Lihat, mereka menghalangi jalan kita. Apa saya harus menabrak mereka? Bisa-bisa saya dipenjara karena dituduh membunuh orang."


"Ada apa, Pak?" tanya Ray setelah menepikan mobilnya.


"Serahkan mobil kalian jika kalian ingin selamat!" ancam salah satu pria seraya menodongkan sebilah pisau lipat ke arah wajah Ray. Sementara pria lainnya juga melakukan hal yang sama pada Suci.


Ray dan Suci terlihat pasrah keluar dari dalam mobil sambil mengangkat kedua tangannya. Namun, bukan Suci namanya jika tidak melawan saat disakiti atau ditindas. Tiba-tiba saja gadis tomboy itu merebut pisau lipat dari tangan si pria. Keadaan berbalik, kini pria itu yang berada di bawah ancamannya.


"Pergi dari tempat ini atau kubuat kawanmu ini menjadi perkedel!" ancamnya.


Ray pun memanfaatkan kelengahan pria yang mengancamnya itu dengan cara menendang selangkangannya. Sontak pisau yang digenggamnya itu terlempar cukup jauh.


"Ayo kita pergi sebelum kita mati konyol di tangan mereka!" seru salah satu pria.


Keduanya pun lantas meninggalkan tempat tersebut.


"Saya tidak menyangka, ternyata kamu gadis pemberani," ucap Ray.


Suci mengulas senyum.


"Sedari kecil saya memang diajarkan bapak agar jangan mau ditindas. Selagi saya benar, saya harus melawan."


"Saya salut dengan cara mendidik bapak kamu," ujar Ray.


Suci menanggapi ucapan itu dengan senyum tipis di bibir.


"Deg! Kenapa aku merasa senyumnya juga mirip dengan senyum Arini?" batin Ray.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading..

__ADS_1


__ADS_2