
Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, Suci dan Yusuf pun tiba di rumah pak Panji.
"Assalamu'alaikum, Pak Panji … Bu Panji," sapa Yusuf dari luar pagar.
Beberapa saat kemudian tampak bu Panji keluar dari dalam rumah. Mendapati keberadaan Suci di depan rumahnya, tentu saja wanita paruh baya itu kebingungan.
"Waalaikumsalam. Suci? Kamu kok di sini? Bukannya kamu bekerja di luar kota?"
"Saya sengaja pulang ke kampung ini untuk menyelidiki kasus yang menimpa budhe Tini. Oh ya, di mana pak Panji?"
"Bapak … bapak ehm … bapak ada di dalam. Dia sedang tidak enak badan."
"Bu Panji kenapa panik begitu?" tanya Suci penuh selidik.
"Siapa yang panik. Biasa saja kok," bantahnya.
"Apa saya bisa menemui pak Panji sekarang?"
"Bukankah sudah saya bilang, bapak sedang sakit."
"Seberapa parah sakitnya hingga tidak bisa menemui tamu?"
"Bapak mengeluh pusing dan demam."
"Masih bisa jalan 'kan?"
"Kamu ini punya sopan santun nggak sih?!" sentak bu Panji.
"Saya hanya ingin bertemu pak Panji karena saya harus membawa surat pengantar dari ketua RT untuk mengurus KTP saya yang baru karena KTP saya hilang."
"Lain kali saja!" ketus bu Panji.
"Mana bisa begitu. Saya harus secepatnya mengurus KTP sebab saya juga harus segera kembali bekerja di kota."
"Kenapa kamu tidak paham juga? Suami saya sedang sakit. Dia tidak bisa mengurus hal-hal begini."
"Saya rasa kepentingan Suci ini cukup mendesak. Meskipun sedang sakit, pak Panji pasti bisa membantu Suci mengurus surat keterangan pembuatan KTP baru." Yusuf menimpali.
"Kenapa kamu jadi ikut-ikutan?" protes bu Panji.
"Saya hanya ingin membantu Suci agar masalahnya cepat selesai."
"Apa saya harus melaporkan pak Panji pada pak Lurah karena mengabaikan kepentingan warga?" ucap Suci setengah mengancam.
Bu Panji mendengus kesal.
"Ya sudah, tunggu di sini. Saya akan memanggil bapak!" sungutnya.
Entah mengapa tiba-tiba Suci merasa harus ke kamar kecil.
"Maaf, Bu. Apa saya boleh menumpang ke kamar kecil?" tanyanya.
"Di sana. Kamu bisa lewat samping rumah." Bu Panji mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah ruangan yang berada terpisah dari rumah utama.
Suci pun beranjak dari teras, ia lantas bergegas menuju toilet.
Suci menemukan keanehan saat mendapati pintu kamar mandi yang terbuat dari seng itu mengalami kerusakan seolah baru saja dibuka secara paksa.
"Maaf, Bu. Kalau saya boleh tahu, kenapa dengan pintu kamar mandinya, kok rusak begitu?" tanya Suci setelah kembali ke teras rumah.
"Oh, itu. Mungkin sudah waktunya diganti dengan pintu yang baru."
"Tapi sepertinya pintu itu dibuka secara paksa."
"Sebenarnya, maksud kedatangan kamu kesini untuk mengurus pembuatan KTP baru atau mau jadi petugas survey?" gerutu Bu Panji sebal.
Tidak berselang lama pak Panji pun muncul dari dalam rumah. Raut wajahnya segar bugar, sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri orang yang kurang sehat.
"Pak Panji sakit apa?" tanya Suci.
"Oh … anu-anu … saya pusing karena tekanan darah saya naik."
"Oh, begitu."
"Oh ya. Kapan terakhir kali budhe Tini datang ke rumah ini?" tanya Suci yang sontak membuat raut wajah sepasang suami istri itu kebingungan.
"Kemarin."
__ADS_1
"Kemarin kapan? Hari Rabu atau selasa?"
"Rabu."
"Selasa."
"Yang benar terakhir kali budhe saya ke sini itu kapan? Hari Selasa atau Rabu?" desak Suci.
"Hari Selasa."
"Sebenarnya kamu ini mau apa? Kenapa dari tadi bertanya yang tidak-tidak?" protes pak Panji.
"Budhe Tini adalah keluarga saya. Saya akan terus mencari tahu siapa pelaku yang sudah membuat budhe saya masuk rumah sakit. Kalau sampai ketemu orangnya, saya akan patahkan lehernya!"
Pak Panji menelan saliva nya. Membayangkan jika Suci mematahkan lehernya saja sudah ngeri. Apalagi jika hal itu benar-benar terjadi?
"Ini surat keterangan yang kamu butuhkan. Keperluan kamu itu saja 'bukan? Saya mau melanjutkan istirahat." Pak Panji menyodorkan selembar kertas pada Suci lau beranjak dari tempat duduknya.
"Terima kasih. Oh ya, mobil Bapak sudah saya kembalikan. Kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."
Suci dan Yusuf pun lalu meninggalkan rumah pak Panji.
"Sepertinya kamu curiga jika pak Panji adalah pelaku tabrakan itu," ucap Yusuf di tengah perjalanan pulang.
"Bukannya apa, pak Panji pernah memperlakukanku dengan tidak sopan meskipun pada akhirnya gagal karena bu Panji Tiba-tiba muncul."
"Tapi masalahnya sekarang budhemu kehilangan ingatannya. Kita tidak bisa mendapatkan keterangan apapun darinya," ucap Yusuf.
"Tidak ada kejahatan yang sempurna. Aku yakin serapi-rapi nya pelaku itu, tetap akan meninggalkan jejak," ujar Suci.
Langkah Suci terhenti saat tiba-tiba pandangannya menangkap sebuah sandal di tepi saluran irigasi persawahan yang tengah dilintasinya.
"Kenapa, Ci?" tanya Yusuf.
"Apa kamu tahu di mana pertama kali budheku ditemukan?"
"Aku tidak tahu persis di mana. Tapi warga bilang budhemu ditemukan tak sadarkan diri di dekat persawahan."
Suci pun lantas mengambil sandal jepit berwarna hitam itu lalu mengamatinya.
"Aku merasa sandal ini adalah sebuah petunjuk siapa pelaku yang sudah menabrak budhe."
"Kamu 'kan tahu ada banyak orang yang memakai sandal model itu. Lihat, aku pun memakainya. Bisa saja sandal itu tergeletak di sini karena hanyut terbawa air saat hujan."
Suci melanjutkan langkahnya. Entah mengapa dia begitu yakin jika sandal sebelah kanan itu akan memberi petunjuk baginya untuk memecahkan masalah sang bibi.
Untuk ke dua kalinya Suci berhenti lantaran kembali menemukan sebuah sandal. Kali ini sandal itu ditemukannya di antara semak-semak. Ia pun lantas mengambil sandal tersebut dan mencocokkannya dengan sandal yang ia temukan sebelumnya. Dan ternyata kedua sandal itu memang sepasang.
"Aku yakin sandal sepasang sandal ini milik pelaku tabrak lari itu," ucapnya.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Bisa saja sandal itu milik petani yang tertinggal."
"Apa kamu tidak melihat ada yang aneh. Sepasang sandal ini ditemukan terpisah.
Sebelah kanan kutemukan di dekat saluran irigasi, dan sebelahnya lagi kutemukan di semak-semak. Kurasa pelaku itu awalnya tidak sengaja menjatuhkan sandal sebelah kanan. Karena ingin menghilangkan barang bukti, ia pun melempar begitu saja pasangan sandal itu di semak-semak."
"Ehm … bisa jadi sih. Tapi masalahnya siapa pemilik sandal itu? Ini masalah yang rumit."
"Aku yakin, kebenaran akan terungkap."
Tidak terasa Suci telah sampai di rumahnya.
"Mbak Suci!" teriak si bungsu Fitri sembari berlari ke arahnya.
"Budhe, Mbak … Budhe," ucapnya.
"Iya, Dek. Ll sudah tahu. Tadi mbak langsung mampir ke rumah sakit. Di mana mbak Murni?"
"Lagi ngerjain PR di dalam."
"Yusuf, nggak mampir dulu?" tanya Suci.
"Lain kali saja. Aku harus segera berangkat narik angkot."
"Oh, begitu. Terima kasih sudah mengantar budhe ke rumah sakit."
"Sama-sama."
__ADS_1
Yusuf pun lantas melanjutkan meninggalkan tempat tersebut.
"Mbak Suci!"
Murni yang tengah berada di dalam kamarnya itu pun menyambut kedatangan sang kakak.
"Mbak Suci sudah tahu tentang budhe?" tanyanya.
Suci menganggukkan kepalanya.
"Kasihan budhe. Budhe selalu baik pada semua orang. Siapa orang yang tega berbuat jahat pada budhe?"
"Mbak yakin kita akan menemukan siapa pelakunya."
"Apa mungkin pelakunya warga sini ya, Mbak?"
"Kenapa kamu berpikiran begitu?"
"Budhe 'kan tidak pernah kemana-mana. Setiap hari dia hanya pergi ke rumah pak Panji. Jadi mana mungkin budhe punya musuh."
"Hmmm … masuk akal juga. Tapi jika memang warga di desa ini pelaku tabrak lari itu? Apa alasannya menabrak budhe? Tunggu! Dokter sempat mengatakan ditemukan cairan sper*a yang sudah mengering di pakaian dalam budhe, dan ia mengeluh kesakitan di bagian intinya. Bukankah ini berarti ada tindak kekerasan saat melakukan hubungan badan? Apakah sebelum menabrak budhe, pelaku itu sempat melakukan tindakan asusila pada budhe?" gumam Suci.
"Mbak Suci kenapa?"
"Ah. Ti-ti-tidak apa. Mbak hanya sedang mikir siapa kira-kira pelakunya."
Tiba-tiba pandangan Murni tertuju pada sepasang sandal yang kubawa.
"Itu sandal siapa, Mbak?" tanyanya.
"Entahlah. Mbak menemukannya di dekat saluran irigasi."
"Oh. Mbak Suci pasti lapar ya? Aku sudah masak tadi."
"Memangnya kamu masak apa?"
"Sayur nangka dan sambal terasi."
"Wah, sepertinya kamu sengaja memasak sayur itu untuk mbak ya?"
"Iya, Mbak. Aku tahu Mbak sayang pada budhe. Setelah mendengar kabar soal budhe, Mbak pasti akan mengusahakan pulang."
"Kalian sudah makan?"
Kedua gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kami menunggu Mbak Suci sampai rumah biar bisa makan siang bersama," ucap si bungsu Fitri.
"Terima kasih, Adek-adekku," ucap Suci dengan senyum haru.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucap salam dari arah teras.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam,"
"Kalian makan dulu ya. Mbak temui tamu dulu."
Suci membalikkan badannya dan kembali menuju teras.
"Pak Wahyu? Ada apa, Pak? Mari silahkan masuk."
"Ehm … begini, Ci. Saya datang ke sini dengan tujuan ingin menyampaikan sesuatu yang cukup mengganggu pikiran saya," ucap pria yang sehari-harinya bertani itu.
"Apa yang mau Bapak sampaikan?"
"Ini tentang peristiwa tabrakan itu."
"Apa Bapak tahu siapa pelakunya?"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1