Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 67


__ADS_3

"Dok-dok-dokter Kinara?"


"Tunggu. Bukankah kamu pengasuh yang bekerja di rumah Ray itu? Apa ini? Kamu pikir baju dan sepatu ini pantas buatmu?" Kalau dasarnya kampungan ya kampungan saja. Sebagus apapun baju yang kamu pakai, tidak akan membohongi dari mana asalmu."


Meski tidak nyaman didengar, Suci memilih tidak menanggapi cibiran itu. Dia sudah paham betul seperti apa watak sang dokter.


"Ngomong-ngomong baju dan sepatu ini milik siapa? Jangan-jangan kamu memakai barang bekas mendiang Arini."


"Tidak, Dok. Barang-barang ini bukan milik almarhum nyonya Arini, tapi tuan Ray yang membelikannya untukku."


"Astaga. Kalau mimpi itu jangan ketinggian, nanti sakit kalau jatuh," ledek Kinara.


Tidak lama kemudian pintu toilet terbuka.


"Giliran Dokter, silahkan," ucap Suci.


Kinara pun lantas masuk ke dalam toilet. Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan dari dalam sana. Letak toilet yang berada cukup jauh dari area taman membuat tak seorangpun mendengar teriakannya.


"Ada apa, Dokter?" tanya Suci dari depan pintu toilet.


"Ada kecoa! Aku takut!"


"Pukul saja pakai gayung!" seru Suci.


"Tidak ada gayung di sini!"


"Semprot saja pakai air dari kran!"


"Air kran nya tidak menyala."


Suci mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu. Akhirnya ia menemukan sebuah balok kayu.


"Dokter buka pintu nya, kecoa nya biar saya pukul pakai balok kayu," ucapnya.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka.


Namun Suci tak menemukan seekor pun kecoa di dalam sana.


"Brrrrrrrrrrr"


Tiba-tiba saja selang air itu menyembur ke arah Suci. Alhasil wajah dan pakaiannya basah kuyup.


"Ups! Maaf, tadi kran nya mati, tiba-tiba saja menyala."


"Dokter mengerjai saya ya?"


"Siapa yang ngerjain kamu. Aku 'kan sudah bilang tadi kran nya mati dan tiba-tiba saja menyala saat kamu masuk."


"Lalu, di mana kecoa nya?"


"Mana kutahu. Ngapain aku nyariin binatang menjijikkan itu. Aku mau pergi, sudah selesai."


Kinara meninggalkan toilet lalu kembali ke taman. Sementara Suci memasuki kamar kecil tersebut.


Kinara tengah berjalan menuju kedai es krim. Di saat itulah dia melihat Ray dan Arsen yang tengah duduk di bangku. Ia pun memutuskan untuk menghampiri keduanya.


"Ray … Arsen. Kalian di sini juga?" tanyanya. Ia lantas duduk di sebuah bangku.


"Ya, Arsen ingin jalan-jalan dan makan es krim. Kamu sendiri sama siapa?"

__ADS_1


"Aku sama keponakanku. Mereka sedang bermain perosotan di sebelah sana. Arsen, ikut dokter Nara yuk, nanti dokter Nara kenalkan sama keponakan dokter. Sepertinya kalian seumuran."


"Nggak mau ah! Aku mau di sini saja menunggu ibu."


"Ibu? Maksudmu pasti mbok Asih."


"Bukan, aku datang ke sini bersama ibu juga. Ya 'kan, Yah?"


Ray menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya siapa ibu yang dimaksud Arsen? Bukankah Arini sudah begitu lama meninggal dunia?" batin Kinara.


"Ayah, ibu sudah terlalu lama berada di toilet. Aku susul saja ya," ucap Arsen.


"Baik, Nak. Hati-hati."


"Memangnya Arsen memanggil mbok Asih dengan sebutan ibu ya?" tanya Kinara penasaran.


"Tentu saja tidak."


"Lantas, siapa perempuan yang dipanggilnya ibu?"


"Nanti kamu juga tahu."


Tidak berselang lama Arsen kembali menghampiri mejanya dengan mengajukan serta Suci.


"Loh, kenapa baju kamu basah kuyup begitu?" tanya Ray.


"Ehm … tadi kran nya mati, tapi tiba-tiba menyala. Jadi aku tersiram air," jelas Suci.


"Kasihan ibu, Yah. Dia pasti kedinginan," ujar Arsen.


"Tidak salah kok, dia memang sudah menjadi ibuku."


"Sekarang kamu pandai bercanda ya." Kinara terkekeh.


"Arsen tidak bercanda. Mulai hari ini Suci memang sudah menjadi ibu sambungnya," timpal Rayyan.


"A-a-pa?"


"Hari ini aku dan Suci sudah resmi menjadi pasangan suami istri."


"Kalian kompak sekali membuat lelucon." Sekali lagi dokter angkuh itu terkekeh."


"Aku serius. Aku dan Suci sudah menikah yang otomatis menjadi ibu sambung Arsen."


"Ray! Apa kamu sudah tidak waras? Bagaimana mungkin kamu menikahi gadis kampung sepertinya?"


"Arsen, kamu temani ibumu sebentar ya. Ayah mau membeli baju untuknya," ucap Ray. Bocah keci itu menganggukkan kepalanya.


"Ibu pasti kedinginan ya?" Arsen mengusap lengan Suci berulang.


"Tidak apa, Sayang. Sebentar lagi ayahmu pasti datang."


Kinara masih sulit mempercayai jika Suci kini telah menjadi istri Rayyan. Pasti ada yang tidak beres.


"Hei, gadis kampung yang sok lugu! Guna-guna apa yang kamu pakai sehingga Ray mau menikahimu?!" sungut dokter Kinara.


"Aku-aku tidak memakai guna-guna apapun. Kalaupun tuan Ray menikahiku, itu karena kami memiliki perasaan cinta."

__ADS_1


"Omong kosong! Ray dan kamu itu jauh berbeda. Jika dia berpikir secara normal, dia tidak mungkin menikahi gadis kampung sepertimu."


"Kenapa dokter memarahi ibu? Memangnya ibu salah apa?" protes Arsen.


"Ibumu ini mencuri hati kalian dengan cara yang tidak baik."


"Apa maksud Dokter?"


"Dokter Kinara. Sebagai seorang dokter anak, Saya pikir anda lebih paham mana kata-kata yang pantas diucapkan di depan anak-anak seusia Arsen dan mana yang tidak pantas. Kalaupun anda memiliki masalah dengan saya, ada baiknya kita membicarakannya secara empat mata."


Tidak lama kemudian Ray kembali menghampiri mereka.


"Ini baju untukmu, cepat ganti bajumu atau kamu akan sakit," ucapnya sembari menyodorkan sebuah paper bag pada Suci.


"Terima kasih."


"Ayah, aku temani ibu ke toilet ya. Dari tadi dokter marah-marah terus sama ibu."


"Ayo, Sayang."


Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya menuju toilet.


"Pasti kamu ya yang sengaja menyiram pakaian Suci," ucap Ray setelah Suci dan Arsen berlalu.


"Bagaimana bisa kamu menuduhku berbuat begitu?"


"Aku tahu dari dulu kamu tidak pernah menyukai Suci."


"OK. Aku ngaku. Aku yang sudah sengaja menyiramnya dengan air saat di toilet."


"Kenapa kamu begitu membencinya?"


"Dan kenapa kamu tiba-tiba menikahinya?"


"Aku menikahi Suci Karena dia gadis yang baik, dia juga bisa merawat Arsen dengan begitu baik."


"Kamu ini sadar nggak sih, kamu ini diguna-guna."


"Ini tahun 2023. Kamu masih saja dengan hal yang berbau klenik begitu." Rayyan terkekeh.


"Dia itu gadis kampung, Ray. Dia sama sekali tidak pantas untukmu."


"Hanya aku saja yang tahu siapa perempuan yang pantas mendampingiku."


"Ray … Apa kamu tidak pernah tahu jika selama ini aku memendam perasaan padamu?" Tiba-tiba dokter Kinara meraih tangan Ray namun pria itu menepisnya.


"Selama ini mungkin kita dekat. Tapi maaf, aku tidak memiliki perasaan lebih padamu," ujar Rayyan.


"Dan ya, kamu lebih memilih seorang gadis kampung daripada seorang dokter yang terpelajar sepertiku."


"Meskipun Suci tidak berpendidikan tinggi sepertimu, dia pandai menghargai orang lain. Dan ketulusannya lah yang akhirnya membuatku jatuh cinta padanya."


Beberapa saat kemudian Suci dan Arsen kembali menghampiri meja mereka.


"Ayo Ayah kita pulang. Aku nggak mau berlama-lama di sini, nanti ibu dimarahi lagi sama dokter Kinara," ucap Arsen.


"Kami permisi dulu, Dokter Kinara yang berpendidikan tinggi," ucap Rayyan sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut.


"Lihat saja, Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia," lirih dokter Kinara.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2