Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 104


__ADS_3

Ray kembali ke dalam ruang perawatan Arsen bersama seorang dokter. 


"Dokter Kinara? Anda di sini juga?" tanya dokter berkacamata itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tangan ibu ini bisa terluka?" tanyanya lagi.


"Dokter Kinara merebut pisau itu dari tangan ibu dengan kasar. Jadinya tangan ibu terluka," jelas Arsen.


"Itu tidak benar, Ray. Aku hanya, …"


"Anak sekecil ini tidak mungkin berbohong," potong Ray.


"Iya-iya, aku salah. Aku minta maaf."


"Mari, Bu. Saya obati lukanya," ucap dokter. Suci mengangguk setuju.


"Kamu ini seorang dokter. Apa tidak malu bersikap kekanak-kanakan di depan Arsen?" ucap Ray.


"Aku hanya ingin mengupas buah apel untuk Arsen, tapi dia tiba-tiba merebut pisaunya."


"Sayangnya aku lebih mempercayai ucapan Arsen," ujar Ray.


"Aku pulang sekarang saja!" 


"Kurasa itu lebih baik. Keberadaanmu di sini hanya menimbulkan masalah."


"Hufht!" Kinara mendengus kesal sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.


"Tangan bu Suci sudah saya obati ya, Pak," ucap dokter.


"Apa lukanya berbahaya, Dok?" tanya Ray.


"Tidak, Pak. Tapi untuk beberapa hari ke depan sebaiknya tangan kanan bu Suci tidak melakukan aktivitas apapun sampai lukanya benar-benar kering," jelas dokter.


Ray pun mengangguk paham.


Dari Ray, pandangan dokter itu tertuju pada Arsen.


"Hai, Jagoan. Bagaimana kabarmu hari ini?" sapanya.


"Kepalaku masih pusing, Dokter. Lidahku juga masih pahit."


"Kalau kamu rajin minum obat, pasti cepat sembuh."


Arsen menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Saya permisi dulu, Pak … Bu. Selamat malam."


"Terima kasih, Dokter."


Dokter itu pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Ayo kita makan dulu." Ray meraih kantong plastik dari atas meja lalu membawanya menuju sofa yang berada di dalam ruangan itu.


"Mas beli makanan apa?" tanya Suci.


"Nasi goreng spesial."


"Pakai telur ya?"


"Bukan."


"Pakai daging?" 


"Bukan juga."


"Lantas, pakai apa?"

__ADS_1


"Pakai cinta."


"Malu ah didengar Arsen."


"Biarin aja!"


"Aku suapin ya," ucap Ray.


"Memangnya aku anak kecil?"


"Lihat, telapak tanganmu diperban begitu. Memangnya bisa pegang sendok?"


"Ehm … 'kan masih bisa pakai tangan kiri."


"Coba saja."


Ray mengamati Suci yang tengah menikmati santap malamnya dengan menggunakan tangan kirinya. Nyatanya ia merasa kesulitan melakukannya. 


"Sudahlah, tidak perlu sungkan. Aku ini 'kan suami kamu."


"Masa Mas menyuapiku di depan Arsen."


"Memangnya kenapa? Dia tahu kok kalau tangan kananmu sedang terluka. Cepat buka mulutmu yang lebar. Aaaa."


"Aaa … Aaaa … Aaa… Mas, mana nasinya."


"Oh, ma-ma-af. Tadi aku malah memandang wajahmu."


"Sudah, Mas juga cepat makan. Ini sudah lewat dari jam makan malam."


"Iya. Ini aku juga mau makan."


Arsen hanya tersenyum memandangi tingkah sang ayah dan ibu sambungnya itu.


*****


"Bapak mohon jangan pergi, Nduk," ucap Bimo saat mendapati Murni keluar dari dalam kamarnya dengan menenteng tas berukuran besar.


"Aku sudah terlanjur janjian dengan kawanku untuk berangkat hari ini."


"Pekerjaan itu tidak jelas, Nduk. Bapak mohon jangan pergi."


"Tidak jelas bagaimana? Gaji yang ditawarkan cukup besar kok."


"Justru itu yang membuat bapak khawatir. Mana mungkin kerja di salon dengan gaji sebesar itu."


"Sebaiknya Mbak Murni menurut apa kata bapak." Si bungsu Fitri yang baru saja keluar dari dalam kamarnya itu menimpali.


"Kamu nggak usah ikut-ikutan deh! Aku sudah besar, jadi aku berhak menentukan masa depanku sendiri."


"Apa Mbak Murni tega meninggalkan kami hanya berdua saja di rumah?"


"Dengar, aku pergi untuk bekerja, bukan untuk bermain-main. Jika nanti aku punya banyak uang, kalian juga ikut senang."


"Ini bukan masalah uang, Nduk. Bapak tidak tenang membiarkanmu sendirian di perantauan."


"Kenapa dulu Bapak mengizinkan mbak Suci bekerja di kota?" protes Murni.


"Dulu keadaan yang memaksa mbakyumu untuk merantau."


"Bapak lihat 'kan? Setelah merantau mbak Suci bisa memiliki suami yang kaya. Aku juga ingin begitu, Pak. Aku bosan jadi orang kampung."


"Kita tidak pernah tahu nasib ataupun jodoh. Mungkin nasib mbakyumu memang baik, tapi kamu jangan terlalu berharap nasib kamu sama sepertinya. Kamu juga harus tahu jika takdir setiap orang berbeda-beda."


"Jadi, Bapak berharap aku bernasib buruk, begitu?" 


"Bukan begitu maksud bapak, Nduk. Bapak hanya tidak ingin kamu berpikir jika bekerja di kota pasti mendapatkan suami kaya. Terkadang apa yang kita harapkan jauh dari kenyataan."

__ADS_1


"Apa jangan-jangan Bapak hanya mendo'akan yang baik-baik untuk mbak Suci saja? Tidak untukku juga?"


"Bagaimana mungkin kamu bisa bicara begitu? Kamu, mbak Suci, dan adikmu Fitri adalah puteri bapak. Bapak selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian. Bapak mohon batalkan niatmu untuk bekerja di luar kota."


"Tidak bisa, Pak. Aku harus berangkat sekarang."


"Kalau kamu masih menganggap bapak ini orangtuamu, dengar kata-kata bapak!" tegas Bimo.


Tiba-tiba handphone Murni berdering. Ia pun bergegas menjawab panggilan itu. Rupanya telepon dari salah satu kawannya.


[Halo, Lin.]


[Kamu di mana? Jadi berangkat nggak? Aku sama Rita sudah sampai di terminal nih.]


[Jadi dong. Sebentar lagi aku berangkat.]


[Ya sudah, kami tunggu ya. Bye.]


"Aku pamit, Pak." Murni meraih tangan Bimo lalu menciumnya. Bimo terlihat enggan menanggapinya.


"Mbak … Mbak Murni jangan pergi, Mbak," rengek Fitri seraya menarik lengan Murni.


"Ih! Apaan sih! Aku sudah ditunggu teman-temanku nih. Aku harus segera sampai di terminal."


"Jangan pergi, Mbak."


Murni mulai kesal lantaran gadis berusia dua belas tahun itu menarik tali tas selempang yang dikenakannya.


"Lepasin!" sentaknya.


"Mbak Murni nggak boleh pergi."


"Lepasin nggak!" Murni yang tealh dikuasai amarah itu pun mendorong tubuh Fitri dengan cukup kasar hingga membuatnya terjatuh. Bagian belakang epalanya pun membentur tepi meja dengan begitu keras. Detik kemudian tubuhnya pun luruh di atas lantai.


"Astaghfirullahaldzim! Nduk! Bangun, Nduk!" pekik sang ayah.


"Fitri pasti pura-pura pingsan agar aku membatalkan niatku untuk pergi."


"Adikmu tidak pura-pura pingsan."


"Ah! Tidak usah panik begitu. Tidak lama lagi dia pasti siuman," ucap Murni.


"Fitri! Bangun, Nak." Bimo mengguncang tubuh putri bungsunya itu namun tak bergeming.


Sekali lagi handphone Murni berdering.


"Aku berangkat dulu. Kawanku sudah menunggu terlalu lama di terminal," ucap Murni sembari beranjak dari ruang tamu.


Ia lantas menunggu tukang ojek yang tadi telah dipesannya melalui aplikasi.


Sementara itu Bimo terus berusaha membuat Fitri sadar. Ia mengguncang tubuh putri bungsunya itu sambil sesekali menepuk pipinya. Jantungku berdegup kencang saat tiba-tiba merasa tubuh putrinya itu mulai terasa dingin.


"Ya Allah, Nduk. Bangun, Nduk. Buka matamu!" pekik Bimo.


Dengan tangan bergetar pria paruh baya itu memeriksa nafas di dekat lubang hidungnya. Namun ia tak merasakan hembusan. Dari lubang hidung, ia pun lantas memeriksa denyut nadinya.


"Ke terminal ya, Pak," ucap Murni pada pengemudi ojek sesaat setelah dia membonceng sepeda motornya.


"Fitri!" jerit Bimo dari dalam sana.


"Itu ada apa di dalam, Mbak?" tanya si pengemudi ojek.


"Bukan apa-apa. Mari kita berangkat. Saya sudah terlambat."


Murni benar-benar meninggalkan rumahnya tanpa peduli apa makna jeritan dari sang ayah barusan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2