Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 74


__ADS_3

"Bukankah pria itu tuan Sean suaminya nyonya Sofia? Bagaimana mungkin orang yang sedang menjalani masa tahanan bisa berkeliaran bebas di jalanan?" ucap Suci.


Ia lalu mengucek kedua matanya untuk memastikan jika penglihatannya tidak sedang bermasalah.


"Sepertinya para pengkhianat itu sudah bebas dari penjara."


"Saya takut, Tuan, eh … Mas."


"Apa yang kamu takutkan?"


"Dulu kita menggagalkan aksi kejahatan mereka. Saya takut mereka akan membalas dendam pada kita."


"Kamu jangan khawatir, saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang-orang yang saya sayangi," ujar Ray.


"Terima kasih, Tuan. Eh … Mas."


Lima belas menit kemudian mereka tiba di rumah. Tentu saja kedatangan Suci disambut Arsen dengan suka cita.


"Baru juga ditinggal beberapa jam, kamu seperti ditinggal satu bulan," ucap Ray saat putera semata wayangnya itu tiba-tiba berlari dan mendekap tubuh Suci.


"Ibu lama sekali, aku tidak bisa tidur siang tanpa ditemani Ibu," rengeknya manja.


"Masa lama sih. Begitu acara makan siang nya selesai, ayah dan ibu langsung pulang kok. Oh ya, kamu sudah makan siang belum?"


"Belum. Aku 'kan nunggu Ibu pulang."


"Ya Allah, Nak. Ini sudah hampir sore, kenapa kamu belum makan siang?"


"Mbok sudah membujuk tuan muda untuk makan siang, tapi tuan muda bilang mau menunggu ayah dan ibunya pulang," jelas mbok Asih.


"Ya sudah, sekarang ibu temani kamu makan." Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya menuju ruang makan.


****


"Mbok … tadi aku dan mas Ray melihat tuan Sean," ucap Suci pada mbok Asih yang tengah menyetrika pakaian.


"Hah?! Apa, Nduk? Kalian melihat tuan Sean?"


"Benar, Mbok. Kami melihatnya saat berhenti di lampu merah."


"Bukankah dia masih dalam masa tahanan?"


"Mungkin dia sudah bebas, Mbok."


"Tidak ada salahnya kita lebih hati-hati. Bukan tidak mungkin tuan Sean dan nyonya Sofia kembali merencanakan kejahatan pada kita," ujar mbok Asih.


"Mungkin mulai besok aku akan mengantar jemput Arsen."


"Mbok setuju. Oh ya, bagaimana acara jamuan makan siang tadi?"


"Kawan-kawan mas Ray semuanya orang berdasi. Aku sempat kebingungan saat salah satu kawannya bertanya aku lulusan universitas mana dan mengambil jurusan apa."


"Lantas?"


Suci mengulas senyum.


"Mas Ray menjaga nama baikku dengan mengatakan pada mereka jika aku adalah lulusan salah satu universitas negeri di kota Y."


"Mbok rasa kamu tidak hanya berhasil mencuri hati tuan muda Arsen, tapi hati ayahnya juga," ujar mbok Asih.


"Ah, Mbok bisa saja."


"Ehm … ngomong-ngomong apa kamu sudah melakukan kewajibanmu sepenuhnya sebagai seorang istri?"


"Apa maksud Mbok?"


"Masa kamu tidak paham sih."


"Oh, itu." Anu … ehm … aku masih takut."


"Takut?"


"Untuk sekarang aku masih takut."

__ADS_1


"Bagaimana pun kamu sudah menjadi istri sah tuan Ray. Selain melayani kebutuhannya secara fisik, kamu juga harus melayaninya secara batin."


"Ya, aku paham, Mbok. Sepertinya aku hanya perlu waktu."


"Mbok yakin tuan Ray begitu pengertian sama kamu. Dia pasti mau menunggu sampai kamu benar-benar siap."


"Oh ya, di mana Siska?" tanya Suci.


"Mungkin sedang bermalas-malasan di dalam kamarnya. Sedari kamu dan tuan Ray berangkat tadi dia sama sekali tidak keluar dari dalam kamarnya."


"Jangan-jangan dia sakit. Biar aku periksa dulu." Suci beranjak dari ruang menyetrika lalu berjalan menuju kamar Siska.


"Kamu sudah makan siang atau belum, Sis?" tanya nya dari depan pintu kamar.


"Aku belum lapar."


"Apa aku boleh masuk?"


"Masuk lah."


"Mbok Sumi bilang dari tadi kamu tidak keluar dari kamar, apa kamu sedang tidak enak badan?"


"Aku capek disuruh ini dan itu sama wanita tua itu. Kamu bilang lah sama dia, jangan keras-keras sama aku."


"Menurutku mbok Asih sama sekali tidak keras, dia hanya tegas," ujar Suci.


"Ehm … Suci. Sebenarnya aku tidak enak mau ngomong."


"Kamu mau ngomong apa?"


"Ehm … aku mau pinjam uang."


"Buat apa?"


"Aku mulai bosan, aku ingin membeli handphone."


"Memangnya siapa yang ingin kamu telepon? Ibumu 'kan sudah tiada."


"Teman kuliahku banyak, nggak seperti kamu yang nggak punya teman."


"Suamimu pasti banyak uang. Kamu tinggal bilang saja ingin membeli keperluan pribadimu, make up atau apa kek. Pasti langsung dikasih uangnya."


"Tapi, …"


"Aku mohon. Nanti kamu bisa potong dari gaji bulanannmu."


"Tunggu sebentar."


Suci pun lantas meninggalkan kamar Siska. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa sejumlah uang di genggaman tangannya.


"Kebetulan aku masih punya tabungan, sepertinya cukup kalau untuk membeli handphone bekas."


"Apa? Handphone bekas? Masa aku disuruh membeli handphone bekas sih!"


"Untuk sementara tidak apa pakai handphone bekas. Nanti kalau kamu sudah terima gaji, kamu bisa membeli yang baru," ujar Suci.


"Ya sudah deh, nggak apa-apa, daripada nggak punya handphone sama sekali." Tiba-tiba Siska mengambil alih uang dari tangan Suci.


"Loh, kamu mau kemana?" tanya Suci saat saudara tirinya itu mengambil tas selempang miliknya.


"Ke Mall lah, beli handphone."


"Ini sudah sore, apa tidak bisa besok saja?"


"Aku tidak bisa menunggu sampai besok."


Siska melengang begitu saja dari hadapan Suci lalu meninggalkan kamarnya.


"Siska … Siska. Dari dulu kamu tidak berubah. Keras kepala dan dan mau menang sendiri," lirih Suci.


"Mau kemana gadis pemalas itu?" tanya mbok Asih saat Suci melintasi ruang tengah.


"Dia bilang mau membeli handphone."

__ADS_1


"Memangnya dia punya uang? Kemarin saja jadi gelandangan."


"Ehm … aku memberikan uang tabunganku."


"Apa, Nduk? Kamu memberinya uang?"


"Aku tidak tega, Mbok. Bagaimana pun dia saudaraku."


"Hanya mantan saudara tiri. Ibunya dan bapak kamu 'kan sudah bercerai. Artinya kalian sudah tidak memiliki hubungan saudara apapun."


"Meskipun begitu, aku tidak tega mengacuhkannya."


"Kamu orangnya terlalu baik, Nduk. Jadinya Siska memanfaatkanmu untuk kepentingannya sendiri," ujar mbok Asih.


****


Sementara itu Siska sudah tiba di salah satu toko handphone di Mall.


"Ada handphone bekas, Mas?" tanyanya pada penjaga toko.


"Banyak, silahkan pilih saja."


"Ehm … tapi … uang saya hanya empat ratus ribu rupiah."


"Tunggu sebentar."


"Ini handphone bekas yang harganya empat ratus ribu rupiah," ucap laki-laki itu seraya menyodorkan sebuah handphone pada Siska.


"Kuno sekali handphone ini," gumamnya.


"Ehm… Mas, apa ada model lain?"


"Model lain harganya di atas lima ratus ribu rupiah, Mbak."


"Ya sudah, aku ambil yang ini. Apa nggak bisa kurang, Mas?"


"Maaf, Mbak. Semua barang yang dijual di toko ini sudah harga pas. Ya sudah, saya kasih bonus kuota internet saja untuk satu bulan."


"Boleh deh. Sekalian pasang kartu SIM lama saya." Siska mengambil benda berukuran kecil itu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada penjaga toko untuk kemudian dipasang di handphone yang baru dibelinya itu.


Setelah membayar handphone yang dibelinya, Siska pun meninggalkan toko tersebut.


Siska baru saja membalikkan badannya. Di saat bersamaan seseorang melintas di hadapannya. Tabrakan pun tak terhindarkan. Alhasil handphone yang baru saja dibelinya terjatuh di lantai dan remuk menjadi beberapa bagian."


"Astaga! Handphone ku!" pekiknya.


"Kamu harus ganti rugi! Lihat handphone ku jadi rusak!" seru Suci.


"Oh, OK! Saya minta maaf, saya tidak sengaja. Saya akan mengganti handphone mu dengan yang baru."


"Apa aku tidak salah dengar? Pria ini mau mengganti handphone bekas kuno itu dengan yang baru," batin Siska.


"Silahkan, kamu pilih handphone mana saja yang kamu suka."


"Sungguh?" Tiba-tiba sorot mata gadis itu berbinar.


"Apa saya boleh meminta handphone dengan model terbaru, Pak?"


"Oh, silahkan."


"Harganya tujuh juta rupiah, Pak," ucap penjaga toko seraya meletakkan satu buah box berisi handphone model terbaru di atas etalase.


"Baik, saya bayar dengan kartu ATM saya." Pria berkemeja dan berdasi itu mengambil sebuah kartu ATM dalam dompetnya lalu memberikannya pada penjaga toko.


"Kamu suka handphone nya?" tanya pria itu.


"Suka sekali, terima kasih banyak, Pak."


"Oh ya, kita belum kenalan. Nama saya Freddy." Tangan pria itu terulur.


"Siska."


"Mimpi apa kamu, Sis. Dapat rejeki nomplok begini," batin Siska.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2