
"Ibu minta uang lagi, Nak," ucap Nyonya Sofia disela makan malamnya.
"Uang untuk apalagi, Bu? Bukankah beberapa hari yang lalu Ibu juga minta uang padaku dalam jumlah besar."
"Mobil ibu hilang."
"Astaga. Bagaimana bisa hilang, Bu?"
"Ibu … ibu dirampok."
"Dirampok di mana? Apa perampok itu melukai Ibu? Lantas, bagaimana dengan Seto?" tanya Rayyan.
"Ehm … mobil ibu dirampas tidak jauh dari perumahan saudara ibu yang ibu ceritakan itu. Mereka sama sekali tidak melukai ibu ataupun Seto. Sepertinya mereka hanya menginginkan mobil ibu saja."
"Jadi, di mana Seto sekarang?" tanya Rayyan lagi.
"Seto ehm … Seto meminta pulang ke kampung halamannya."
"Ibu sudah lapor polisi 'bukan?"
"Su-su-sudah, Nak. Tapi sepertinya sulit untuk menemukan perampok itu lantaran tidak ada saksi di tempat kejadian."
Suasana hening sejenak.
"Ibu boleh 'kan, minta uang lagi untuk membeli mobil baru?" Nyonya Sofia mengulangi pertanyaannya.
"Ehm … maaf, Bu. Bukannya apa. Beberapa hari yang lalu ibu sudah meminta uang dalam jumlah besar, bagaimana kalau untuk sementara waktu Ibu naik taksi jika ingin bepergian keluar rumah?"
"Yang benar saja masa ke mana-mana Ibu harus naik taksi. Apa kata orang nanti?"
"Bukankah tadi Ibu bilang sudah melaporkan peristiwa perampokan itu pada polisi? Kita tunggu saja polisi bekerja. Mungkin tidak lama lagi mobil itu bisa ditemukan," ucap Rayyan.
Nyonya Sofia mendengus kesal.
"Kamu ini perhitungan sekali sama ibu."
"Bukan begitu, Bu. Aku hanya, …"
Tiba-tiba nyonya Sofia beranjak dari tempat duduknya.
"Ibu mau ke mana?" tanya Rayyan.
"Segera makanku tiba-tiba hilang, aku mau ke kamar."
Nyonya Sofia meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2.
"Dengan Sofia Kenapa, Tuan? Sepertinya dia kesel sekali," ucap Mbok Asih yang baru saja muncul di ruangan itu.
"Sepertinya ibu marah padaku lantaran aku tidak mengabulkan keinginannya untuk membeli mobil baru."
"Mobil baru? Memangnya kenapa dengan mobil lamanya?"
"Siang tadi mobilnya dirampok di dekat perumahan tempat saudaranya."
"Astaghfirullahaldzim. Tapi bagaimana dengan Nyonya dan Seto? apa perampok itu melukai mereka?"
"Perampok itu tidak melukai mereka sedikitpun. Sepertinya mereka hanya menginginkan mobil ibu saja."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu."
"Ibu juga mengatakan Seto meminta pulang ke kampung halamannya."
"Seto minta pulang kampung? Sepertinya itu tidak mungkin."
"Apa maksud Mbok?"
"Untuk apa Seto pulang kampung? Dia tidak memiliki orang tua ataupun saudara lagi di sana.
"Entahlah, ibu yang mengatakannya padaku."
"Ehm … apa Tuan percaya begitu saja dengan ucapan nyonya jika mobilnya dirampok?"
"Apa maksud Mbok?"
"Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres, Tuan."
"Apa Mbok punya saran?"
"Teman Tuan 'kan banyak. Mungkin Tuan bisa meminta tolong pada mereka untuk melacak keberadaan mobil nyonya Sofia.
Terus terang saya tidak yakin jika mobil itu benar-benar dirampok."
"Mbok jangan membuat saya bingung," ucap Rayyan."
"Sebelumnya saya minta maaf jika selama ini saya sudah menyembunyikan rahasia besar dari Tuan."
"Rahasia besar apa, Mbok?" Ray mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya … sebenarnya … ehm."
"Sebenarnya Nyonya Sofia memiliki suami dan seorang anak laki-laki."
"Maksud Mbok, ibu menikah lagi?" tanya Rayyan.
"Benar, Tuan."
"Bahkan anak laki-lakinya itu kini sudah duduk di bangku SMA."
"Mbok tidak sedang bercanda 'bukan?"
"Mbok berani bersumpah demi apapun jika apa yang mbok katakan ini benar."
"Kejadian ini sudah terjadi lama sekali. Mbok mulai curiga saat Nyonya Sofia sering kali menelpon seseorang saat tengah malam. Hingga suatu hari mbok mendapati Nyonya Sofia bertemu dengan seorang laki-laki di cafe."
"Kapan kejadian itu, Mbok?"
"Sepertinya saat itu Tuan masih sekolah."
"Astaga. Ja-ja-di ibu berkhianat di belakang ayah?"
"Benar, Tuan. Dan Tuan Bayu pun mengetahuinya."
"Ayah tahu soal perselingkuhan itu?" tanya Rayyan setengah tak percaya.
"Benar, Tuan."
__ADS_1
"Kenapa ayah diam saja?"
"Entahlah. Setahu saya mendiang Tuan Bayu memang orangnya tertutup. Beliau lebih suka memendam masalahnya sendiri."
"Ehm … Tuan."
"Ya, Mbok."
"Saya menyimpan sesuatu yang mungkin hanya saya saja yang mengetahuinya."
"Apa yang Mbok simpan?"
"Tidak enak berbicara di sini. Mungkin kita bicara di dalam kamar mbok saja," ucap mbok Asih.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Rayyan pun mengikuti mbok Asih menuju kamarnya yang berada di bagian belakang rumah itu.
"Ini satu-satunya barang peninggalan mendiang tuan Bayu yang masih mbok simpan," ucap Mbok Asih seraya menyodorkan sebuah buku diary pada Rayyan.
"Bukankah ini buku Diary?" tanya Rayyan.
"Benar, Tuan. Mbok menemukannya di dalam kamar Tuan Bayu di saat hari kematiannya."
Rayyan meraih buku diary berwarna biru tua itu dan mulai membacanya.
Ray membaca halaman demi halaman buku diary tersebut kebanyakan berisi curahan hatinya tentang Ibu angkatnya Sofia. Iya tak menyangka jika selama menikahi sepanjang Sofia begitu banyak kepedihan yang dirasakannya dan itu semua hanya dituangkan dalam sebuah tulisan.
Ray tidak bisa lagi membendung air matanya saat dia membaca tulisan tangan di halaman terakhir buku diary tersebut.
Aku mencintaimu begitu dalam ,Sofi. Tapi kenapa luka ini yang engkau berikan?
Demi rasa cintaku yang begitu besar aku rela memendam rasa perih dan hancur karena pengkhianatanmu. Sean, kebetulan nama pria yang sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kita. Sungguh, aku tidak akan pernah memintamu untuk kembali padaku. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Aku percaya Tuhan tidak pernah tidur. Suatu saat nanti entah bagaimana caranya kamu pasti akan merasakan bagaimana sakit yang pernah aku rasakan.
Dan teruntuk putraku angkatku Rayyan, Aku memberikan hartaku sepenuhnya padamu.
"Perempuan pengkhianat! Iblis!"
Sumpah serapah meluncur begitu saja dari mulut Rayyan. Pun mbok Asih hanya memilih diam. Siapapun yang berada di posisinya akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan olehnya.
"Mbok minta maaf jika selama ini mbok menyembunyikan rahasia ini dari Tuan. Aku hanya meminta waktu yang tepat untuk mengungkapnya," ucap mbok Asih.
"Aku tahu sekarang. Orang yang seringkali ditemuinya itu bukanlah saudaranya. Pria itu pasti Sean."
"Jadi, apa rencana Tuan sekarang? Apa Tuan akan langsung mendesak nyonya Sofia untuk mengakui semua perbuatannya?"
Rayan menyeringai kecut.
"Tidak, Mbok. Cara itu terlalu murahan."
"Lantas, apa yang akan Tuan lakukan?"
"Aku akan membuatnya hancur perlahan."
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…