
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Masuk," ucap Ray."
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Rupanya Rossa yang memasuki ruangan itu.
"Maaf mengganggu makan siang Tuan dan Nyonya."
"Ada apa?"
"Tuan Cliff baru saja menelpon, beliau mengajak Tuan untuk mendatangi lokasi proyek baru."
"Sekarang? Bukannya jadwal nya besok?"
"Tuan Cliff bilang kontraktor ingin bertemu dengan Tuan sekarang juga.
"Baiklah. Kamu persiapkan yang harus kamu bawa, lalu kita berangkat."
"Ayah mau pergi ya?" sela Arsen.
"Ya, Nak. Ayah harus ke luar kota sekarang."
"Yaaah. Padahal aku ingin seharian di sini menemani Ayah bekerja." Arsen memberengutkan wajahnya.
"Ayah harus pergi untuk bekerja, Sayang. Besok atau lusa kita bisa ke sini lagi 'bukan?" bujuk Suci.
"Ayah janji belikan kamu oleh-oleh deh."
Arsen menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mengharapkan oleh-oleh. Aku hanya ingin Ayah kembali ke rumah dengan selamat."
"Arsen do'a kan ayah ya," ucap Suci.
Bocah laki-laki itu mengangguk paham.
"Mari, Tuan," ucap Rossa sembari menarik gagang pintu.
"Aku berangkat dulu," pamit Rayyan pada Suci.
"Mas pulang 'kan malam ini?"
Ray mengulas senyum tipis.
"Memangnya kenapa?"
"Ehm … ti-ti-tidak. Maksudku Mas tidak menginap di hotel?"
"Tergantung. Jika pekerjaan cepat selesai, aku langsung pulang."
"Semoga pekerjaan Mas cepat selesai, jadi Mas bisa bisa cepat pulang," ujar Suci.
Ray menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Arsen Sayang, ayah pergi dulu."
"Hati-hati Ayah."
"Kalian tidak apa 'kan naik taksi?"
"Ah, tidak apa, Mas."
Setelah menyalami Suci dan Arsen secara bergantian, Ray pun meninggalkan ruangannya.
"Ibu kita pulang saja yuk. Ayah pergi, nggak seru lagi," ucap Arsen. Suci mengangguk setuju. Setelah membereskan kotak bekal, keduanya pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
****
"Keluarga kecil Tuan begitu harmonis, saya iri melihatnya," ucap Rossa saat dalam perjalanan ke luar kota.
"Iri?"
"Ya. Kelihatannya Tuan begitu menyayangi istri Tuan."
Ray mengulas senyum tipis.
"Tentu saja aku menyayanginya, kalau tidak mana mungkin aku menjadikannya istri," ujarnya.
"Seandainya suami saya pria yang romantis, saya akan sangat berbahagia."
"Memangnya suami kamu bagaimana?"
"Suami saya orangnya dingin dan cuek. Jangankan hari ulang tahun pernikahan, hari ulang tahun saya pun tak pernah ingat."
"Kamu dan suamimu menikah bukan karena perjodohan 'bukan?" tanya Ray.
"Bukan, Tuan. Kami menikah karena keinginan sendiri. Tapi dari dulu sifatnya memang dingin."
__ADS_1
"Tidak masalah suamimu cuek dan dingin, yang penting dia setia," ujar Ray.
"Justru itulah yang sekarang menjadi pikiran saya. Akhir-akhir ini suami saya sering pergi dengan alasan tidak jelas."
"Memangnya suami kamu bekerja di mana?"
"Suami saya membuka usaha toko pakaian di dekat rumah. Tapi semenjak kedatangan karyawan baru itu, penghasilan toko kami justru semakin berkurang. Saya curiga suami saya menggambil uang dari toko lalu memberikannya pada karyawan baru itu."
"Karyawan toko suamimu perempuan?" tanya Ray.
"Benar, Tuan. Usianya bahkan baru 20 tahun."
"Dalam rumah tangga kejujuran dan kepercayaan adalah hal yang paling penting. Jika karyawan toko perempuan menjadi pemicu prasangka yang kurang baik, saya menyarankan agar kalian menggantinya dengan karyawan laki-laki saja. Saya sering melihat karyawan laki-laki di toko atau swalayan, mereka tetap bisa melayani pembeli dengan baik."
"Benar juga. Mungkin selama ini kami kurang melakukan komunikasi. Terima kasih atas sarannya, Tuan."
"Oh ya, bagaimana kabar Cherry?" tanya Arsen.
"Kabarnya baik, Tuan. Dia juga sudah duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar."
"Oh ya, aku baru ingat, dulu dia lahir hanya selang tiga hari setelah Arsen lahir."
Tiba-tiba saja raut wajah Ray berubah murung.
"Tuan kenapa?" tanya Rossa.
"Ah, tidak apa."
"Maaf jika obrolan ini membuat Tuan teringat mendiang nyonya Arini."
Ray menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
Keduanya tak melanjutkan obrolan. Ray mengalihkan pandangannya keluar mobil. Rupanya gerimis mulai turun.
"Kamu yang tenang di atas sana, Arini. Arsen kita telah mendapatkan ibu sambung yang baik," batinnya.
"Tuan, sepertinya kita harus mengisi bahan bakar,"sela pak Idris, sopir yang biasa disewanya saat ia melakukan perjalanan ke luar kota.
"Baiklah." Ray mengambil dua lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada sang sopir.
Sesampainya di SPBU.
"Wajahmu terlihat pucat, kamu sakit?" tanya Ray pada Rossa.
"Tiba-tiba perut saya mual, Tuan. Saya permisi ke toilet sebentar."
"Baiklah."
Lima belas menit berlalu, namun Rossa belum juga kembali.
"Pak, tepikan sebentar mobilnya, saya mau menyusul Rossa ke toilet," titah Ray.
"Baik, Tuan."
Ray turun dari dalam mobilnya lalu menuju toilet.
"Permisi, Pak," sapanya pada petugas penjaga toilet.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf, apa di sini ada petugas penjaga toilet perempuan?"
"Ada, Tuan. Tapi kebetulan hari ini dia masuk malam. Memangnya kenapa?"
"Kawan saya pamit ke toilet tapi sudah lima belas menit belum juga kembali ke mobil saya. Saya ingin meminta tolong untuk memeriksanya di salah satu toilet," papar Ray.
"Waduh. Gimana ya? Petugas perempuan nya giliran shift malam." Pria berusia 40 tahunan itu berpikir beberapa saat sebelum akhirnya ia menghampiri seorang pengendara sepeda motor yang tengah antre di pom bensin itu.
"Maaf, Mbak, mengganggu waktunya ."
"Oh tidak. Ada apa, Pak?"
"Begini, Mbak. Saya mau minta tolong pada Mbak untuk memeriksa salah satu toilet di sini. Ada seorang perempuan yang sudah cukup lama berada di dalam toilet tapi belum keluar juga. Mbak bisa memanggil namanya lebih dulu, jika sekiranya tidak ada jawaban, Mbak bisa membukanya dengan kunci duplikat ini," papar penjaga toilet. Perempuan itu mengangguk paham.
"Maaf, Tuan. Siapa nama kawan Tuan itu?" tanya penjaga toilet pada Ray.
"Namanya Rossa."
Perempuan itu pun lantas menghampiri salah satu ruang toilet yang sedari tadi tertutup.
"Mbak Rossa … apa Mbak masih di dalam?" ucapnya dari depan pintu.
"I-i-iya. Tolong saya," sahut seseorang dari dalam sana. Suaranya terdengar begitu lemah.
"Mbak Rossa kenapa?"
Kali ini tak ada sahutan.
__ADS_1
"Mbak … Mbak Rossa," panggil perempuan itu seraya mengetuk pintu.
Namun tetap tak ada sahutan. Ia pun akhirnya memasukkan anak kunci ke dalam lubangnya. Alangkah terkejutnya ia saat membuka pintu tersebut lantaran mendapati Rossa telah tergeletak di atas lantai.
"Tolong! Itu kawan Tuan pingsan di dalam toilet," jelas perempuan itu pada Ray.
"Maaf, dia berpakaian lengkap 'kan, Mbak?" tanya Ray.
"Iya, Tuan."
Ray pun bergegas menghampiri toilet. Benar saja, Rossa kini telah tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai.
"Astaga! Rossa! Bangun lah!" pekik Ray.
Namun sekretaris nya itu tak bergeming.
"Sepertinya kawan Tuan sakit, wajahnya terlihat begitu pucat. Sebaiknya Tuan segera membawanya ke rumah sakit," ucap si perempuan.
Ray terdiam sejenak, ia lantas berpikir.
"Jika aku membawanya ke rumah sakit, aku kan terlambat bertemu tuan Cliff. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Rossa di sini," gumamnya.
"Terima kasih atas bantuannya, Mbak. Saya akan membawa kawan saya ini ke rumah sakit terdekat," ucap Ray.
"Sama-sama, Tuan. Semoga kawan Tuan baik-baik saja."
"Aamiin."
Ray mengangkat tubuh Rossa dari lantai toilet lalu membopongnya untuk kemudian dibawa masuk ke dalam mobilnya.
"Loh, mbak Rossa kenapa, Tuan?" tanya pak Idris saat Ray sampai di mobilnya.
"Rossa pingsan, Pak. Sekarang juga kita bawa ke rumah sakit. Tapi Tuan bisa terlambat. Bagaimana jika gara-gara Tuan terlambat, proyek itu gagal?"
"Keselamatan Rossa lebih penting, kita ke rumah sakit sekarang."
"Baik, Tuan." Pak Idris pun lantas melajukan mobil Ray menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan kawan saya, Dok?" tanya Ray pada dokter sesaat setelah memeriksa Rossa.
"Pasien menderita maag akut, jadi harus dirawat inap. Silahkan anda urus administrasi nya."
"Baik, Dokter."
Ray baru saja melangkahkan kakinya menuju bagian administrasi ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya tuan Cliff yang menelpon.
[Selamat siang, Tuan Ray.]
[Selamat siang, Tuan Cliff.]
[Anda berada di mana sekarang? Tuan Hans sudah cukup lama menunggu anda. Anda sudah dekat dengan cafe tempat pertemuan kita 'bukan?]
[Ehm … saya-saya masih di kota A.]
[Anda jangan main-main, Tuan. Tuan Hans sudah jauh-jauh datang untuk menemui kita, kenapa anda masih di kota A?]
[Saya sudah menuju kota B, namun di tengah perjalanan saya mendapat masalah. Rossa, sekretaris saya jatuh sakit, jadi saya mengantarnya ke rumah sakit. Dia juga harus dirawat inap.]
[Ini proyek besar, Tuan. Nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Kenapa anda menukarnya dengan urusan lain yang tidak penting?]
[Selama ini Rossa sudah banyak membantu saya Saya tidak mungkin meninggalkannya di pom bensin.]
[Tuan Hans baru saja menggagalkan kerja sama kita. Beliau tidak suka jika harus menunggu apalagi sampai berjam-jam. Selamat siang.]
-Panggilan terputus-
"Siapa yang menelepon, Tuan?" tanya pak Idris.
"Tuan Cliff."
"Beliau pasti sudah menunggu Tuan. Mari kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Pak Idris.
"Tidak perlu, Pak."
"Loh, memangnya kenapa?"
"Tuan Hans sudah membatalkan kerja sama kami."
"Jadi? Anda rugi ratusan juta karena mbak Rossa?"
"Ini sama sekali bukan kesalahan Rossa. Mungkin memang belum menjadi rejeki saya. Saya yakin Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Saya permisi ke bagian administrasi dulu," ucap Ray sebelum akhirnya berlalu dari hadapan pak Idris.
"Saya salut pada Tuan Rayyan. Dia selalu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri," gumam pak Idris.
Bersambung …
__ADS_1