
Tini berjalan mendekati bu Panji. Entah apa yang merasuki pikirannya saat itu. Tiba-tiba saja dia menjambak rambut Bu Panji yang dikuncir ekor kuda itu hingga membuatnya menyeringai kesakitan.
"Lepaskan, Mbakyu," ucap Bimo seraya melepaskan tangan Tini dari rambut perempuan itu.
"Dasar gila! Kenapa kamu menyerangku 'hah!" Bu Panji menatap tajam mata Tini.
"Kamu jahat!" Kali ini Tini mengarahkan kuku-kuku tajamnya ke bagian wajah bu Panji hingga meninggalkan bekas goresan di sana. Tentu saja bu Panji tidak mau tinggal diam dengan perlahan itu. Ia membalas perlakuan Tini dengan berusaha mencekik lehernya.
"Ya Allah, Bu Panji. Jangan, Bu. Nanti Mbakyu Tini bisa kehabisan nafas!" pekik Bimo.
"Tolong! Tolong! Ada yang berkelahi!" jerit Murni seraya berlari ke arah teras rumah. Beberapa warga yang kebetulan melintas pun sontak menghampirinya.
"Ada apa, Mur?"
"Itu … budhe dan bu Panji berkelahi di dalam rumah. Bapak kesulitan melerainya."
Mereka bergegas masuk ke dalam ruaang tamu. Tampak bu Panji tengah mendorong Tini hingga ke dinding dan mencengkram lehernya dengan kedua tangannya seperti orang yang sedang kesetanan. Usaha Bimo yang sedari tadi berusaha memisahkan mereka rupanya sia-sia saja.
"Woi! Berhenti!" teriak salah satu warga. Bu Panji pun sontak menghentikan aksinya bersamaan dengan tubuh Tini yang ambruk tak sadarkan diri di atas lantai.
"Ya Allah, Mbakyu! Mbakyu!" Bimo mengguncang tubuh Tini namun ia tak bergeming.
"Kalau terjadi sesuatu pada Tini, kamu akan tahu akibatnya!" ancam salah satu warga. Ia pun lantas menghampiri Tini yang kini luruh di lantai. Diperiksanya detak jantung, hembusan nafas, hingga denyut nadinya.
"Mbakyuku hanya pingsan saja 'kan, Pak?" tanya Bimo dengan raut wajah panik.
Pria itu menggeleng pelan.
"Tini sudah tidak ada."
"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Mbakyu Tini tidak mungkin meninggal!" teriak Bimo seraya memeluk jasad Tini yang mulai terasa dingin.
"Pembunuh!" serunya seraya menatap mata bu Panji penuh amarah.
"Aku-aku tidak bermaksud membunuhnya. Aku hanya membela diri. Dia yang menyerangku tanpa sebab yang jelas," ungkap bu Panji.
"Cepat seret pembunuh mbakyuku ini ke kantor kelurahan. Biar dia jadi satu dengan suaminya di penjara!" seru Bimo.
"Jangan! Saya mohon jangan bawa saya ke kelurahan. Kalau saya dipenjara, bagaimana dengan kedua anak saya?"
"Ayo ikut kami ke kantor kelurahan!" Dua orang warga memegangi kedua tangan bu Panji lalu memaksanya meninggalkan tempat itu.
"Jangan bawa ibu … Jangan bawa ibu. Hu … hu … hu …" tangis si sulung Aldi mulai pecah.
"Ayo cepat!" Warga kembali memaksa perempuan itu untuk meninggalkan rumah Bimo namun ia terus memberontak.
"Lepaskan saya! Saya bukan pembunuh! Saya hanya membela diri!" teriak bu Panji.
Rupanya teriakannya yang cukup lantang kali ini membuat Ari yang tadi jatuh pingsan di jalan sepulangnya dari memecah batu itu siuman.
"Mas Adi, ibu mau dibawa kemana?" tanya Ari dengan mata polosnya.
"Lepaskan saya … jangan bawa saya ke kantor kelurahan." Suara bu Panji mulai terdengar lirih.
"Ibu! Ibu mau kemana? Kenapa tangan Ibu dipegangi begitu?"
"Maafkan ibu, Nak," ucap bu Panji parau.
__ADS_1
"Ayo bawa dia ke kantor kelurahan!" seru warga. Bu Panji hanya bisa pasrah saat warga membawanya meninggalkan rumah Bimo.
"Ibu! Ibu! Jangan tinggalkan Ari dan Adi," isak Adi.
"Kalau ibu pergi kita sama siapa, Bu," Ari.
"Kalau kita membawa bu Panji, bagaimana dengan anak-anak ini?" tanya salah satu warga.
"Sudahlah, itu kita pikirkan nanti. Sekarang bawa saja pembunuh ini ke kantor kelurahan!" seru pak Bimo.
*****
Sementara itu di rumah Rayyan.
Suci baru saja menidurkan Arsen setelah menyuapinya makan siang. Entah mengapa ia merasa begitu gelisah.
"Kamu Kenapa, Nduk?" tanya mbok Asih yang tiba-tiba melintas.
"Sedari tadi aku merasa gelisah dan tidak tenang. Aku terus terbayang-bayang wajah keluargaku di kampung.
Mbok Asih mengulas senyum.
"Itu artinya kamu kangen sama mereka. Kamu boleh minta cuti kalau kamu memang ingin mengunjungi keluargamu."
"Mungkin aku telepon bapak saja biar sedikit lebih tenang."
Suci mengambil ponselnya lalu beranjak dari kamar Arsen. Ia pun lantas menghubungi nomor sang ayah. Ia semakin bertambah panik lantaran sang ayah mengabaikan panggilan darinya. Padahal biasanya setiap kali Suci menelepon, sang ayah akan langsung menjawab panggilan darinya.
"Tidak diangkat," ucap Suci.
"Kalau memang ditinggal di rumah, harusnya Murni bisa menjawab teleponnya."
"Semoga keluargamu baik-baik saja. Kamu belum makan siang 'kan? Mari makan bareng mbok," ucap mbok Asih. Suci mengangguk setuju.
Rupanya pikiran Suci belum lepas dari keluarganya. Saat berada di meja dapur pun ia masih saja melamun. Isi piringnya pun sedari tadi hanya diaduk-aduk saja.
"Berpikir yang baik-baik saja, Nduk. Mbok tidak suka melihatmu begini. Selesai makan siang coba telepon lagi bapak kamu."
Setelah berkali-kali menghubungi nomor sang ayah, Suci merasa lega saat seseorang di seberang sana menjawab panggilannya.
[Ha … lo, Mbak Su … ci. Hu … hu … hu…]
[Ini Murni 'kan? Kenapa kamu menangis, Dek?]
[Hu … hu … hu]
[Murni, bilang sama mbak. Apa yang membuatmu menangis]
[Budhe Tini, Mbak. Budhe Tini … hu … hu …]
[Iya, kenapa dengan budhe Tini?]
[Hu … hu … hu]
[Bicara pelan-pelan, kenapa dengan budhe Tini?]
[Budhe Tini meninggal dunia, Mbak. Hu … hu … hu]
__ADS_1
[Me-me-ning-gal dunia? Murni jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu.]
[Aku nggak bercanda, Mbak. Budhe meninggal dunia sekitar satu jam yang lalu. Sekarang lagi mau dimandikan]
Suci merasa seluruh sendi-sendi nya lunglai hingga ponsel yang dipegangnya benar-benar terlepas dari genggamannya.
"Ya Allah, Nduk. Kamu kenapa?" tanya mbok Asih dengan raut wajah panik.
Tiba-tiba saja tangis Suci pecah. Mbok Asih mencoba menenangkannya dengan cara mengusap punggungnya berulang.
"Ada apa, Nduk? Bicara pelan-pelan sama mbok," ucapnya.
"Budhe, Mbok. Budhe … hu … hu … hu]
"Kenapa dengan budhemu?"
"Budhe Tini … Budhe Tini meninggal dunia. Hu … hu … hu …"
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Kamu yang sabar, Nduk. Segala yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Pada saatnya akan diambil kembali oleh pemiliknya."
"Aku harus pulang sekarang."
Suci beranjak dari dapur dan masuk ke dalam kamar Arsen yang sekaligus menjadi kamarnya. Dia pun bergegas memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.
"Ini sudah hampir jam tiga sore, Nduk. Mbok tidak yakin di terminal masih ada bus menuju kampung mu," ucap mbok Asih.
"Aku nggak peduli, Mbok. Walaupun harus jalan kaki sekali pun. Aku harus sampai di rumah untuk melihat jenazah.budhe sebelum ia dimakamkan."
"Kalau kamu jalan kaki, bisa-bisa besok pagi kamu baru sampai."
Suci terduduk lesu di lantai. Sedih, bingung, kacau, semuanya bercampur menjadi satu.
Di saat itulah terdengar deru mobil dari halaman rumah. Ray memasuki ruang tamu dan hendak menaiki tangga menuju kamarnya, namun ia justru membelokkan langkahnya menuju kamar Arsen lantaran mendengar Isak tangis seseorang dari arah sana.
"Suci? Kenapa kamu menangis, apa tidak malu sama Arsen?" tanyanya.
"Suci ini sedang sedih dan bingung, Tuan," ucap mbok Asih.
"Memangnya kenapa?"
"Barusan dia mendapat kabar jika budhe nya meninggal dunia."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."
"Suci bingung, mau pulang ke kampungnya tapi jika sudah sore begini bus di terminal yang menuju kampung nya belum tentu masih ada. Saya tahu perasaannya sekarang, dia ingin cepat tiba di rumahnya agar bisa melihat wajah budhe nya sebelum ia dimakamkan," jelas mbok Asih.
Suasana hening sejenak.
"Bersiap lah, saya akan mengantarmu pulang ke kampung," ucap Rayyan.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading..
__ADS_1