
"Siska sudah membohongimu mentah-mentah. Dia ini bukan adik tuan Ray, melainkan Asisten rumah tangga nya," ungkap mbok Asih.
"A-a-pa, Mbok? Asisten rumah tangga?!"
Pernyataan mbok Asih tentu saja membuat Davin kaget sekaligus tercengang.
"Nggak usah dengarin dia, Vin. Dari dulu dia memang tidak pernah menyukaiku," ucap Siska.
"Ehm … maaf, sepertinya aku harus pulang sekarang. Siang ini aku harus ke kampus."
"Padahal aku ingin mengajakmu jalan," sergah Siska.
"Maaf, aku tidak bisa." Davin menaiki sepeda motornya. Tidak lama kemudian dia pun meninggalkan halaman rumah Ray.
"Kenapa sih Mbok selalu ikut campur dalam setiap urusanku?"
"Aku hanya berkata apa adanya. Kamu memang asisten rumah tangga di rumah ini, kenapa harus mengaku sebagai adik tuan Ray? Kalau tuan Ray sampai tahu dia bisa marah besar."
"Hufht! Mbok memang manusia paling menjengkelkan yang pernah kutemui!"
"Kamu pikir kamu orang baik? Aku pun heran dengan gadis yang bertabiat buruk sepertimu. Wajar jika nasibmu juga tidak seberuntung Suci."
"Suci bisa dapat suami pengusaha. OK! Lihat saja nanti. Aku akan menikah dengan pria yang jauh lebih kaya dari tuan Ray!"
"Kamu jangan besar kepala. Memangnya siapa yang mau menikahi gadis mata duitan sepertimu," cibir mbok Asih.
"Mbok bisa buktikan ucapanku nanti. Minggir! Aku mau masuk! Siska sengaja mendorong tubuh mbok Asih hingga membuat wanita berusia lebih dari setengah abad itu nyaris terjatuh.
"Siska! Apa kamu tidak bisa sopan pada orang yang lebih tua?!" Tiba-tiba saja Suci muncul dari dalam rumah.
"Dia yang reseh duluan."
"Reseh kamu bilang? Kamu tahu, Nduk. Mantan saudara tiri kamu ini mengaku pada Davin kalau dia adik kandungnya tuan Ray."
"Apa benar begitu? Kalau mas Ray tahu, dia bisa marah besar."
"Udah deh! Nggak usah pada berlebihan begitu. Aku hanya bilang begitu pada Davin saja kok. Itupun hanya untuk mengambil simpatinya. Aku lapar, tadi belum jadi makan." Siska beranjak dari teras lalu masuk ke dalam rumah.
Mbok Asih hanya menggeleng heran dengan sikap Siska.
"Mbok mau membuang sampah ya? Itu 'kan pekerjaan Siska.
"Tadi sudah mbok suruh tapi melawan. Nggak apa-apa biar mbok saja yang buang. Mbok sudah capek berdebat terus dengan gadis pemalas itu."
"Siska … Siska. Kapan kamu berubah?"
gumam Suci.
Suci beranjak dari teras lalu masuk ke dalam rumahnya. Dia lantas menghampiri Siska yang kini berada di ruang makan.
"Setelah makan tolong kamu potong rumput di taman belakang. Sepertinya sudah mulai tinggi," titahnya.
"Memotong rumput 'kan pekerjaan laki-laki? Kenapa aku yang harus mengerjakannya?" protes Siska sembari menikmati santap siangnya.
"Sebenarnya ini tugas mbok Asih, tapi sejak pagi buta dia sudah mengerjakan ini dan itu. Kasihan dia kalau masih harus memotong rumput."
"Kamu bisa ya kasihan sama orang lain. Tapi tidak kasihan padaku, saudara kamu."
"Mantan saudara tiri lebih tepatnya," ralat Suci.
"Ya, apalah itu namanya. Kita 'kan pernah menjadi saudara."
"Jadi, kamu mau nggak memotong rumput di taman belakang? Jangan sampai mbok Asih atau Arsen melihatku memotong rumput lalu mereka mengadukannya pada mas Ray."
"Iya, iya. Nanti aku kerjakan!"
"Saat ini kamu bisa menyuruhku ini dan itu. Lihat saja nanti kalau aku sudah menikah dengan pria kaya itu, aku tidak sudi mengenalmu lagi," batin Siska.
"Ya sudah, aku ke kamar Arsen dulu."
Suci berlalu dari meja makan lalu masuk ke dalam kamar Arsen.
__ADS_1
"Arsen Sayang, waktunya makan siang, Nak," ucap Suci.
"Kepalaku pusing, Bu," rintih Arsen.
"Astaghfirullahaldzim!" Suci tersentak kaget saat tangannya bersentuhan dengan kulit Arsen.
"Badanmu panas sekali, Nak. Ibu ambil air dan kain kompres dulu."
Suci beranjak dari sisi Arsen lalu meninggalkan kamar. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa wadah berisi air dan kain. Ia pun lantas membasahi kain tersebut kemudian menempelkannya di kening Arsen.
Bukannya panas badannya menurun, kini Arsen justru mulai menggigil.
"Ya Allah, Nak. Kamu kenapa?"
"Dingin, Bu."
Suci meraih kain bedcover lalu menutup tubuh Arsen. Ia juga mematikan pendingin udara di kamar. Namun bocah itu masih saja menggigil kedinginan.
"Mbok! Mbok!" teriaknya.
Tidak lama kemudian mbok Asih pun muncul.
"Ada apa, Nduk? Kok teriak-teriak?"
"Arsen panas tinggi, Mbok," ucap Suvi dengan suara bergetar.
Mbok Asih mendekati Arsen lalu meletakkan punggung tangannya di dahi bocah itu.
"Astaghfirullahaldzim! Badannya panas tinggi. Tuan muda harus dibawa ke rumah sakit."
Suci tidak membuang waktu lagi. Dia lekas mengambil jaket Arsen dari dalam lemari lalu mengenakannya di badannya.
"Aku mau membawa Arsen ke rumah sakit sekarang," ucapnya.
"Tapi bagaimana kamu membawanya ke sana? Davin juga sudah pulang."
"Aku bisa naik taksi, Mbok."
Suci mengangkat tubuh Arsen lalu menggendongnya. Sama seperti yang dilakukannya saat Arsen masih bayi.
"Ya, Nduk. Mari mbok antar sampai kamu naik taksi."
Suci meninggalkan kamar Arsen lalu keluar menuju halaman rumahnya. Mbok Asih di belakangnya mengekor.
"Loh, Tuan muda kenapa digendong?" tanya pak Bondan. Security yang berjaga di dekat pintu gerbang.
"Arsen sakit, Pak. Saya mau membawanya ke rumah sakit."
Tidak lama kemudian sebuah taksi melintas.
"Pak, tolong antarkan mereka ke rumah sakit ya," ucap pak Bondan pada sopir taksi.
"Baik, Pak."
Pak Bondan membuka pintu belakang lalu mempersilahkan Suci dan Arsen masuk ke dalamnya.
"Hati-hati, Nduk," ucap mbok Asih.
"Ya Allah, lindungi lah tuan muda. Semoga dia baik-baik saja," gumamnya.
"Tuan muda kenapa lagi, Mbok?" tanya pak Bondan.
"Badannya panas tinggi. Astaghfirullahaldzim!"
"Kenapa, Mbok?"
"Karena buru-buru Suci meninggalkan handphone nya di kamar."
"Lebih baik kamu cepat memberitahu tuan Ray," ucap pak Bondan. Mbok Asih pun mengangguk paham.
Mbok Asih meninggalkan halaman rumah lalu masuk ke dalam ruang tamu. Tanpa membuang waktu lagi dia menghubungi nomor Ray.
__ADS_1
[Halo, Mbok. Tumben sekali menelpon saya dengan telepon rumah.]
[Ehm … anu, Tuan. Tuan muda, …]
[Iya. Kenapa dengan Arsen?]
[Tuan muda masuk rumah sakit.]
[Astaga!]
[Kenapa Suci tidak memberitahu saya?]
[Suci panik dan buru-buru, Tuan. Handphone nya tertinggal di kamar.]
[Ya sudah, Mbok. Saya ke rumah sakit sekarang.]
-Panggilan terputus-
"Ada apa sih! Mbok kok heboh sekali?" tegur Siska saat keduanya berpapasan di ruang makan.
"Apa kamu tidak bisa membedakan mana heboh dan mana panik? Aku panik karena tuan muda sakit."
"Anak kecil sakit itu hal biasa. Nggak usah lebay deh!"
"Tuan muda panas tinggi dan Suci sedang membawanya ke rumah sakit."
"Ya udah sih, kenapa harus panik begitu? Di rumah sakit nanti kan dia ditangani dokter, urusan selesai," ucap Siska enteng.
"Aku panik karena tuan muda tidak pernah panas setinggi itu. Apalagi dia sempat muntah-muntah di sekolahnya."
"Ah! Bodo amat! Aku kehausan setelah memotong rumput di belakang. Buatin aku minuman dingin dong."
"Bodo amat! Kamu yang haus 'kan? Buat saja sendiri!" ucap mbok Asih ketus.
"Dasar wanita tua menjengkelkan!" umpat Siska.
Mbok Asih berlalu dari hadapan Siska lalu berjalan menuju dapur.
Entah apa yang merasuki pikiran Siska. Dia ingin sekali memasuki kamar Suci. Ia masih penasaran dengan kotak berwarna merah yang pernah dilihatnya beberapa waktu yang lalu saat membantu Suci membereskan baju-baju lama mendiang Arini di kamar itu.
"Mumpung mbok Asih di dapur dan Suci tidak di rumah, aku masuk saja ke kamar itu," batinnya.
Siska berjalan perlahan menuju kamar utama. Dia memutar gagang pintu lalu mendorongnya. Gayung pun bersambut, rupanya kamar itu tidak dikunci.
Hawa sejuk langsung menyeruak saat ia masuk ke dalam kamar berukuran luas itu. Siska membuka lemari bercat putih yang berisi pakaian Suci.
"Sayang sekali gaun-gaun mahal ini tidak pernah dipakai," batinnya.
Dari puluhan gaul mahal yang tergantung rapi di dalam lemari itu, ia tertarik dengan sepotong gaun berwarna maroon berhiaskan payet berkilauan di bagian dadanya.
"Astaga. Cantik sekali gaun ini. Suci bodoh sekali tidak pernah mengenakannya. Pasti cocok bila aku yang mengenakannya."
Siska melepas gaun itu dari hanger lalu mengenakannya.
"Ah, aku benar-benar seperti seorang ratu di istana," gumamnya.
Tiba-tiba Siska menguap.
"Aku pasti mengantuk karena kekenyangan," gumamnya lagi.
Siska pun merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk berukuran King itu. Perlahan matanya mulai berat hingga akhirnya ia pun terlelap.
Sementara itu d luar langit tiba-tiba saja berubah mendung.
"Siska! Tolong angkat jemurannya!" seru mbok Asih dari arah dapur.
Tak ada sahutan.
"Siska! Angkat jemurannya sebelum hujan!"
Masih tak ada sahutan.
__ADS_1
"Kemana lagi gadis pemalas itu? Jangan-jangan dia pergi karena capek bertengkar denganku," gumam mbok Asih.
Bersambung …