Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 75


__ADS_3

Siska baru tiba di rumah Ray menjelang adzan Maghrib.


"Syukurlah, kamu pulang juga. Aku baru berencana meminta pak Bondan untuk menjemputmu," ucap Suci.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada handphone yang berada di genggaman tangan Siska.


"Uang empat ratus ribu bisa dapat handphone sebagus itu?" tanyanya.


"Kenapa, kamu heran? Memang begitu kenyataannya."


"Itu apalagi?" Suci menunjuk ke arah paper bag yang ditenteng saudara tirinya itu.


"Nggak usah kepo deh! Permisi, aku mau masuk dulu," ucap Siska. Dia lantas berjalan menuju kamarnya.


"Sepertinya itu bukan handphone bekas. Tapi, dia punya uang dari mana untuk membeli handphone sebagus itu?" batin Suci.


"Ibu."


Suci tersentak kaget saat Arsen tiba-tiba memanggilnya.


"Ya, Sayang. Ada apa?"


"Aku mendapat PR Bahasa Inggris, apa Ibu bisa mengajariku mengerjakannya?"


"Ehm … Arsen minta diajari ayah saja ya, maaf, ibu tidak bisa."


"Ayah sedang sibuk di ruang kerjanya, aku tidak berani mengganggunya."


"Sini, biar mbak Siska yang ajari," ucap Siska yang baru saja muncul dari dalam kamarnya.


"Memangnya Mbak Siska bisa?"


"Bisa dong. Masa anak kuliahan nggak bisa ngajarin PR Bahasa Inggris anak SD. Memangnya ibu kamu yang hanya tamatan SMP?" cibir Siska.


"Ya sudah, kita kerjakan di sini saja," ucap Arsen. Dia lantas duduk di atas sofa.


Bagi Siska yang pernah menempuh pendidikan di universitas, pelajaran Bahasa Inggris tingkat sekolah dasar tentu saja hal yang mudah baginya.


Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam pekerjaan rumah Arsen pun telah selesai.


"Kok ngerjain PR nya di sini?" tegur Ray yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"Ehm … aku dapat PR Bahasa Inggris. Ibu tidak bisa mengajari, jadi mbak Siska yang mengajari," jelas Arsen.


"Kalau saja istri Tuan perempuan yang berpendidikan tinggi, Arsen juga pasti akan senang karena ada yang mengajarinya mengerjakan PR yang sulit."


"Arsen, PR nya sudah selesai 'kan?" tanya Ray.


"Sudah, Yah."


"Simpan bukumu di kamar ya."


"Baik, Yah."

__ADS_1


Arsen merapikan buku-bukunya lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Saya tidak suka kalau kamu merendahkan Suci, ingat itu!" sentak Ray.


"Saya tidak merendahkan Suci kok. Saya hanya bicara apa adanya kalau Suci memang hanya tamatan SMP, jadi dia tidak bisa mengajari PR Bahasa Inggris tuan muda Arsen."


"Satu lagi, jangan pernah mengorek kekurangan ibunya di depan Arsen. Kalau kamu memang mengaku perempuan terpelajar, seharusnya kamu paham kalimat mana yang pantas didengar anak seusia Arsen, dan mana yang tidak."


"Hufht! Apa yang kulakukan memang tak pernah ada benarnya di mata tuan yang satu ini. Untung tampan, kalau tidak pasti sudah kulawan," gerutu Siska.


Ray beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju kamarnya.


"Makanya jadi orang tidak usah kebanyakan mulut. Tahu rasa 'kan sekarang?" sungut mbok Asih yang tiba-tiba saja muncul di ruang itu.


Siska enggan menanggapi ucapan itu, dia justru mulai memainkan ponsel barunya.


"Sekarang bantu mbok memasak untuk makan malam," ucap mbok Asih.


Siska yang tengah senang karena memilki mainan baru itu pun tak menghiraukan perintah mbok Asih. Ia justru terlihat tertawa cekikikan sembari berbalas pesan dengan seseorang.


"Siska! Kamu dengar tidak saya bicara?!"


"Astaga. Tidak usah bentak-bentak begitu 'kan bisa. Telingaku masih sangat normal."


"Ya sudah, simpan handphone mu, lalu ke dapur."


"Iya, Mbok Asih."


Siska memasukkan handphone baru itu ke dalam saku celananya sebelum akhirnya berjalan menuju dapur.


"Kamu kenapa?" tanya Ray pada Suci yang tengah duduk termenung di depan meja rias.


"Ah, tidak apa. Saya hanya, …"


"Saya tahu, kamu pasti memikirkan ucapan Siska tadi."


"Benar apa yang dikatakan Siska. Kalau saja istri Tuan … eh Mas adalah perempuan yang berpendidikan, Arsen akan senang karena bisa bertanya padanya jika dia mendapatkan PR yang sulit dari sekolahnya. Apalah saya yang hanya tamatan SMP."


"Saya tahu saat sekolah dulu kamu adalah siswa yang pintar. Kamu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi terkendala biaya. Benar begitu 'bukan?"


"Ehm … dari mana Tuan … eh Mas tahu hal itu?"


Ray mengulas senyum tipis.


"Bapak menceritakan semua tentang kamu pada saya."


"Sungguh?"


"Beliau juga menceritakan masa kecil kamu yang yang suka mencuri mangga di pohon milik tetangga. Kawanmu yang laki-laki di bawah, sementara kamu yang memanjat pohonnya," ungkap Ray. Dia lalu terkekeh.


"Ya Allah Gusti, bapak kok buka kartu As ku sih," batin Suci.


"Ehm … bapak cerita apalagi pada Tuan … eh Mas?"

__ADS_1


"Panjang kali lebar. Satu jam tidak selesai jika saya menceritakannya ulang."


"Aduh, malu-maluin saja."


"Saya justru iri dengan masa kecil kamu yang penuh warna dan cerita. Tidak seperti masa kecil saya yang hanya begitu-begitu saja."


Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba terdengar suara mbok Asih dari depan pintu kamar.


"Tuan … Nduk. Makan malam sudah siap."


"Ya, Mbok. Sebentar lagi kami ke ruang makan," sahut Suci.


"Saya ke kamar Arsen dulu."


Suci keluar dari dalam kamarnya lalu berjalan menuju kamar Arsen.


"Arsen Sayang, makan malam dulu, Nak," ucap Suci.


"Iya, Bu."


Tidak berselang lama bocah itu pun keluar dari dalam kamarnya dan menuju ruang makan.


"Kata mbok Asih, Tuan Ray sangat menyukai tumis sayur kangkung ya?" tanya Siska yang baru saja muncul dari arah dapur. Di tangannya tampak semangkuk sayur kangkung yang masih mengepulkan asap.


"Ini saya yang masak loh," imbuhnya.


"Letakkan saja di atas meja, nanti saya ambil sendiri," titah Ray.


"Biar saya ambilkan." Siska yang memang sedang mencari cara merebut hati Ray itu tiba-tiba mengambil piring Ray yang telah berisi nasi dan hendak menambahkan sayur tersebut ke dalamnya.


"Sudah saya bilang, nanti saya akan mengambilnya sendiri!" sentak Ray.


"Mas, jangan terlalu keras sama Siska, dia berniat baik kok," ujar Suci.


"Sudah sana lanjutkan pekerjaanmu," ucap Ray.


Siska mendengus kesal sebelum akhirnya meninggalkan meja makan. Sementara mbok Asih yang juga berada di dalam ruangan itu terlihat menahan tawa.


"Tadi mbok lihat handphone Siska bagus, malah seperti handphone baru. Memangnya kamu memberi uang berapa padanya?" ucap mbok Asih sesaat setelah Siska berlalu.


"Aku juga heran, Mbok. Aku hanya memberinya uang empat ratus ribu saja, tapi kenapa dia bisa dapat handphone sebagus itu?"


"Sebenarnya kalian sedang ngobrolin apa?" tanya Ray penasaran.


"Begini, Tuan … eh, Mas. Tadi Siska ingin meminjam uang dari saya untuk membeli handphone. Karena kasihan, saya pun memberikan uang tabungan saya sebesar empat ratus ribu padanya. Tapi yang membuat saya heran, Siska membawa pulang handphone bagus," papar Suci.


"Mbok takut dia nekad berhutang demi mendapatkan handphone mahal itu."


"Kamu sudah tanya belum, dari mana handuk itu?" tanya Ray.


"Saya sudah bertanya padanya, tapi dia mengabaikan pertanyaan saya."


"Kalaupun dia memang membeli handphone baru dengan harga mahal, biar lah itu akan menjadi urusannya," ujar Ray.

__ADS_1


"Semoga saja tidak menimbulkan masalah di kemudian hari," timpal mbok Asih.


Bersambung …


__ADS_2