
"Ah, bukan apa-apa. Itu hanya gundukan tanah biasa," jawab pak Husein dengan raut wajah panik.
"Maaf, Pak Husein punya keluarga 'kan?" tanya Ray.
"Punya, Nak. Saya juga punya empat orang cucu."
"Apa Bapak tahu tempat apa ini?" tanya Ray lagi. Pria tua itu menggelengkan kepalanya.
"Tempat ini tempat maksiaat, Pak."
"Tempat maksiaat?"
"Benar. Saya sudah masuk ke lantai dua. Di tempat itulah biasanya dilakukan aktivitas seksuall."
"Astaghfirullahaldzim. Apa itu sebabnya saya dilarang keras memasuki bagian dalam bangunan ini?"
"Pak … Bapak tentunya Bapak ingin bekerja yang halal dan berkah bagi keluarga 'bukan?"
Pak Husein menganggukkan kepalanya.
"Bapak harus tahu benar pekerjaan apa yang Bapak geluti. Jangan hanya yang penting terima gaji."
"Sebenarnya saya sudah capek. Saya ingin sekali di hari tua saya hanya di rumah menemani cucu bermain tanpa perlu membanting tulang begini. Tapi keadaan yang memaksa saya. Saya memiliki empat orang anak yang sudah menikah tapi ekonomi mereka jauh dari kata cukup. Itulah sebabnya saya harus ikut turun tangan biar cucu-cucu saya bisa tetap bersekolah."
"Saya salut dengan semangat Pak Husein. Oh ya, apa Pak Husein pernah punya niatan untuk membuka usaha?"
Pak Husein membuang nafas.
"Saat anak-anak saya masih kecil, saya berjualan mie ayam keliling. Tapi ketika anak-anak saya mulai bersekolah, saya mulai terlilit hutang, hingga akhirnya usaha saya jatuh bangkrut. Sejak saat itu saya bekerja serabutan hingga sekarang."
"Apa Bapak masih ingin berjualan lagi?" tanya Ray.
"Jujur, saya kangen berjualan keliling lagi. Tapi saya tidak pernah memiliki modal. Mengajukan pinjaman ke bank pun selalu ditolak dengan berbagai alasan."
"Setelah ini kita ke rumah Bapak."
"Mau apa, Nak? Rumah saya kecil."
"Tidak apa, saya hanya ingin berkenalan dengan keluarga Bapak."
"Boleh saja."
"Ehm … Pak. Sekali lagi saya tanya. Dua gundukan tanah yang di sana itu sebenarnya apa?"
"Sebenarnya-sebenarnya, …"
"Ada apa, Pak? Apa ada sesuatu yang ingin Bapak sampaikan?"
"Sebenarnya dus gundukan itu adalah ma- ma-.."
Obrolan mereka terhenti saat Eva tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Tuan? Bukankah Tuan bilang mau mengambil dompet di mobil? Kenapa Tuan malah mengobrol di sini?"
__ADS_1
"Ah, tidak kok. Aku hanya menyapanya saja. Kalau begitu saya ambil dompetnya dulu." Ray pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Pak Husein bicara apa saja dengan pria itu?" tanya Eva.
"Ti-ti-tidak kok, Mbak. Tadi bapak itu hanya menyapa saya saja."
"Pak Husein harus ingat, kalau sampai rahasia tentang makam itu sampai terbongkar, Pak Husein akan tahu akibatnya," ancam Eva.
"Tidak kok, Mbak. Saya tidak bicara macam-macam."
"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan Bapak," ucap Eva sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu Ray baru saja memasuki mobilnya. Ia terlihat berkali-kali mengatur nafas seolah baru saja berlari maraton.
"Mas … apa semua baik-baik saja? Foto tas yang tadi Mas kirim itu salah satunya adalah tas pakaian milik Murni. Mas sudah bertemu dengannya 'bukan?"
Ray menggelengkan kepalanya.
"Semua tidak baik-baik saja."
"Apa maksud Mas?"
"Benar dugaanku. Tempat itu bukanlah salon, melainkan tempat praktek pijat plus-plus."
"Astaghfirullahaldzim. Apa itu sama artinya dengan tempat pelacuuran?"
"Bisa dibilang begitu."
"Ya Allah Gusti. Berarti Murni bekerja jadi, …" Suci membungkam mulutnya. Detik kemudian tangisnya pecah.
"Apa mungkin pak Husein berniat menyebutkan kata makam? Astaghfirullahaldzim! Jangan-jangan malam itu, …" Tiba-tiba raut wajah Suci berubah panik.
"Bagaimana ini, Mas? Aku takut kalau salah satu gundukan tanah itu adalah makam Murni. Hu … hu … hu …." Tangis Suci mulai pecah.
"Ssst … tenang lah," ucap Ray sembari meraih kepala Suci lalu meletakkannya di atas bahunya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Sepertinya kita harus bertindak. Dari awal aku sudah curiga jika Eva menyembunyikan sesuatu."
"Apa kita harus meminta bantuan polisi, Mas?" tanya Suci.
Ray menggelengkan kepalanya.
"Kita bukan warga daerah sini. Mungkin lebih baik jika kita membicarakannya lebih dulu dengan perangkat yang berwenang."
"Jadi?"
"Kita bisa bicara pada ibu pemilik warung makan lalu menanyakan padanya di mana rumah perangkat yang berwenang di daerah ini."
"Ya sudah, sekarang saja kita ke sana," ucap Suci. Ray pun lantas melajukan mobilnya menuju warung makan.
"Bagaimana, Pak … Bu. Apa kalian mendapatkan informasi tentang adik kalian?" tanya pemilik warung makan.
__ADS_1
"Benar dugaan kita, Bu. Tempat itu bukanlah salon kecantikan melainkan tempat praktek pijat plus-plus."
"Astaghfirullahaldzim! Ini tidak bisa dibiarkan. Sebagai warga di sini saya tidak sudi jika ada tempat maksiat di lingkungan tempat tinggal saya."
"Saya juga tidak setuju kalau ada tempat pelacuuran di lingkungan ini," timpal seorang warga yang kebetulan berada di warung.
"Jadi kita harus bagaimana, Bu?"
"Sekarang juga kita harus melaporkannya pada ketua RT."
"Apa Ibu tahu di mana rumah beliau?"
"Itu. Persis di sebelah warung saya."
"Alhamdulillah, kita tidak perlu jauh-jauh mencarinya."
"Mari saya temani ke sana."
"Warungnya bagaimana, Bu?" tanya Suci.
"Tidak apa ditinggal sebentar. "
Wanita yang kerap disapa Bu Ratna itu pun lantas meninggalkan warung makan miliknya lalu mendatangi rumah sang ketua RT.
"Ada apa Bu Ratna? Dan siapa kedua orang ini?" tanya pria bernama Zidan itu.
"Kami ingin melaporkan jika di lingkungan tempat tinggal kita ada tempat maksiaat."
"Di mana, Bu?"
"Rumah berlantai dua yang ada di jalan Dahlia."
"Dari mana Bu Ratna tahu jika rumah itu digunakan untuk tempat maksiaat?"
"Bapak ini yang melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang terjadi di dalam sana." Bu Ratna mengarahkan pandangan matanya pada Ray.
"Apa benar begitu, Pak … ehm …"
"Nama saya Rayyan."
"Apa yang Pak Rayyan temukan di tempat itu?"
"Karyawan di tempat itu sendiri yang mengatakan jika tempat itu adalah tempat praktek pijat plus-plus alias tempat prostitusii."
"Astaghfirullahaldzim."
"Kalau boleh saya tahu Bapak dan Ibu ini berasal dari mana dan datang ke tempat ini dengan tujuan apa?" tanya pak Zidan.
"Kami dari kota Y, dan datang ke sini untuk mencari adik kami."
"Adik Bapak bekerja di tempat itu?"
"Adik saya dan kedua kawannya yang baru lulus SMA tertarik dengan iming-iming gaji besar yang ditawarkan si pemasang iklan di media sosial. Tapi setelah sampai di tempat itu mereka tidak dapat dihubungi. Terlalu banyak kejanggalan yang saya temukan di sana. Ditambah lagi dengan penemuan dua gundukan tanah di bagian belakang bangunan itu. Saya khawatir jika dua gundukan tanah itu adalah makam."
__ADS_1
"Baiklah, sekarang juga kita datangi tempat itu," ucap pak Zidan.
Bersambung …