Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 118


__ADS_3

Pagi itu Suci dan Ray terlihat mendatangi lembaga pemasyarakatan tempat Bimo ditahan.


"Bagaimana, Nduk? Apa kalian sudah menemukan Murni?" tanya Bimo.


Suci menggeleng lemah.


"Kami tidak menemukan Murni, Pak. Apa yang kami temukan justru di luar dugaan."


"Apa maksudmu?"


"Benar dugaan kita, Murni dan kedua kawannya tidak benar-benar dipekerjakan di salon, melainkan di tempat prostitusii."


"Astaghfirullahaldzim! Kalian sudah mendatangi tempat itu 'bukan? Lalu, kenapa kalian tidak menemukan Murni?"


Suci dan Ray saling bertukar pandang sebelum Ray menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada ayah mertuanya itu.


"Begini, Pak. Kami memang mendatangi alamat itu, tapi yang kami temukan justru … ehm …"


"Apa yang kalian temukan?"


"Kami justru menemukan dua orang jenazah."


"Je-je-nazah? Jenazah siapa yang kalian maksud?" desak Bimo.


"Ehm … jenazah Rita dan Lina."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Apa yang sebenarnya terjadi, Nduk? Jangan membuat bapak bingung. Mereka pergi untuk bekerja, lalu kenapa yang mereka dapatkan justru kematian?"

__ADS_1


"Dari keterangan karyawan nya, Rita dan Lina tewas akibat bunuh diri. Mungkin mereka tidak kuat dengan pekerjaan kotor yang harus mereka jalani, jadi mereka memilih mengakhiri hidupnya sendiri."


"Malang benar nasib kalian, Nak," ujar Bimo. Lalu, di mana Murni?" tanyanya kemudian.


"Murni berhasil melarikan diri dari kejaran sang big boss yang ingin merudapaksanya. Tapi tak ada seorang pun yang tahu di mana keberadaannya sekarang."


"Seandainya adikmu itu mau menurut nasehat kita, semua masalah ini tidak akan terjadi," ujar Bimo.


"Nasi sudah menjadi bubur, Pak. Semuanya sudah terjadi," ucap Suci.


"Ya Allah, di mana adikmu sekarang? Bagaimana kalau dia ditangkap orang jahat?"


"Murni sudah dewasa, Pak. Insyaallah dia bisa menjaga dirinya sendiri."


"Oh ya, bagaimana dengan jenazah Rita dan Lina?" tanya Bimo.


"Semalam kami sudah mengantar mereka pada keluarganya."


"Semalam ibunya Rita sempat tak sadarkan diri saat tahu jika jenazah yang diantarkan ke rumahnya adalah jenazah putri semata wayangnya."


"Apa yang terjadi pada Rita tentu menjadi pukulan berat bagi ibunya," ujar Bimo.


"Pak … sampai kapan Bapak ditahan atas perbuatan yang tidak pernah Bapak lakukan?" ucap Suci penuh rasa iba.


"Ketahuilah, Nduk. Orangtua akan melakukan apapun demi keselamatan buah hatinya bahkan jika harus memberikan nyawanya sekalpun," ujar Bimo.


"Tapi aku tidak tega membiarkan Bapak harus tidur di lantai yang dingin." Suara Suci mulai bergetar.

__ADS_1


"Bapak ikhlas melakukan ini, Nduk. Jika berada di posisi bapak, orangtua lain juga pasti melakukan hal yang sama."


Beberapa saat kemudian seorang petugas menghampiri mereka.


"Maaf, jam besuk sudah habis. Bapak Bimo harus kembali ke sel tahanan," ucapnya.


"Pak, ini aku bawakan makanan kesukaan Bapak, lontong sayur." Suci meletakkan rantang susun dua di atas meja. "Dihabiskan ya, Pak," imbuhnya.


"Terima kasih, Nduk."


"Bapak jaga kesehatan dan jangan meninggalkan sholat."


"Insyaallah."


"Kami pamit kembali ke kota, Pak. Pekerjaan mas Ray sudah terlalu lama ditinggalkan. Insyaallah setiap akhir pekan kami akan menjenguk Bapak," ucap Suci.


"Kalian hati-hati."


Setelah menyalami Bimo secara bergantian, suami-istri itu pun lantas meninggalkan tempat tersebut.


"Kita kembali ke kota sekarang saja, Mas. Aku sudah kangen banget sama Arsen," ucap Suci. Ray mengangguk setuju.


Keduanya pun lalu memasuki mobil untuk selanjutnya menuju rumah mereka di kota.


"Kira-kira kemana perginya Murni ya, Mas?" tanya Suci sesaat setelah mobil melaju.


"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdo'a, di manapun dia berada semoga dalam keadaan baik-baik saja," ujar Ray.

__ADS_1


"Aamiin."


Bersambung …


__ADS_2