
"Begini, Nak. Pagi itu saya hendak berangkat ke sawah. Saya berpapasan dengan pak Panji yang mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi dan hampir menyerempet saya. Hanya selang beberapa menit saya mendengar suara teriakan warga. Saat saya mendatangi sumber suara itu, ternyata warga sudah berkerumun karena menemukan Tini yang terkapar di jalan. Apa mungkin pak Panji pelaku tabrak lari itu?"
"Sebenarnya dugaan saya juga mengerucut pada pak Panji. Ditambah lagi budhe saya juga hampir setiap pagi membantu memasak di rumahnya. Tapi, saya belum memiliki bukti yang cukup untuk menuduh pak Panji sebagai pelakunya. Jika saya tidak berhati-hati beliau justru akan menyerang balik saya."
"Benar, Nak. Sebenarnya saya juga sedang mencari bukti."
"Bukti apa, Pak?"
Pak Wahyu menghela nafas berat.
"Peristiwa ini sudah terjadi sekitar dua Minggu yang lalu. Ini tentang putri saya, Aminah. Sudah dua Minggu ini dia enggan berangkat sekolah."
"Memangnya kenapa, Pak?"
"Itu dia. Aminah mengatakan dia malas berangkat sekolah karena takut melewati persawahan. Tempat itu tidak begitu jauh dari rumah pak Panji 'bukan? Yang lebih membuat saya khawatir, Aminah selalu merasa ketakutan saat saya atau anak laki-laki saya mendekatinya walaupun hanya mengajaknya mengobrol. Dia akan langsung mengurung diri di kamar," ungkap pak Wahyu.
"Apa Bapak pernah bertanya padanya, apakah ada seseorang yang mengganggunya saat dia melewati persawahan itu?"
"Saya sudah berkali-kali bertanya padanya, tapi dia malah menangis."
"Dari keterangan dokter saya pun tahu jika budhe saya tidak hanya menjadi korban tabrak lari. Tapi, …"
"Tapi kenapa, Nak?"
"Dokter menemukan cairan sper*a yang telah mengering di pakaian dalam budhe."
"Saya mengenal budhemu, dia perempuan baik-baik. Mana mungkin melakukan hubungan terlarang dengan laki-laki. Kecuali …"
"Budhe saya menjadi korban pelecehan seseorang. Begitu 'kan arah pembicaraan Bapak?"
"Ya, dan pelakunya berniat menghilangkan jejak dengan cara menabrak budhemu."
"Bapak sepemikiran dengan saya. Tapi saya masih belum memiliki bukti yang cukup untuk menuduh pak Panji. Apalagi setelah kecelakaan itu budhe saya mengalami hilang ingatan. Tentu sulit bagi kami untuk memperoleh informasi tentang peristiwa itu."
"Kita harus yakin kebenaran akan selalu terungkap. Yang penting kita jangan berhenti mencari bukti," ucap pak Wahyu.
"Oh ya. Apa Bapak merasa kehilangan sepasang sandal jepit berwarna hitam?"
"Saya hanya memiliki sepasang sandal. Ini pun sedang saya pakai. Memangnya kenapa?"
"Beberapa saat yang lalu saya menemukan sepasang sandal. Sandal Sebelah kanan saya temukan di dekat saluran irigasi, sementara yang pasangannya daya temukan cukup jauh yakni di semak-semak. Saya jadi berpikir sandal itu adalah pemilik pelaku tabrak lari pada budhe saya. Dia tidak sengaja menjatuhkan salah satu sandalnya, lalu sengaja membuang pasangannya. Selain untuk menghilangkan jejak, dia juga tidak akan membuang waktu untuk mencari sandalnya. Sudah pasti dia habis diamuk warga."
"Pemikirannu masuk akal juga. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah siapa pemilik sandal itu. Tidak mungkin kita menuduh pak Panji pemiliknya."
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdo'a agar Allah memberi kemudahan bagi kita untuk menyelidiki masalah budhemu, juga Aminah. Saya rasa pelakunya adalah orang yang sama," ucap pak Wahyu. Suci mengangguk setuju.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan."
"Terima kasih, Pak. Informasi dari Bapak cukup membantu saya."
"Oh ya, di mana Bimo?"
__ADS_1
"Bapak saya masih di rumah sakit menemani budhe."
"Oh, begitu. Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
*****
"Mbak Suci berapa hari di rumah?" tanya si bungsu Fitri di sela makan siangnya.
"Tidak bisa lama-lama, Dek. Besok sore mbak sudah harus kembali bekerja di kota."
"Jadi, Mbak hanya menginap satu malam saja?" Murni menimpali.
"Ya, Dek. Di kota 'kan Mbak kerja jadi pengasuh. Jadi Mbak tidak bisa berlama-lama meninggalkannya."
"Bayi yang diasuh Mbak Suci laki-laki atau perempuan? Namanya siapa?" tanya Fitri lagi.
Suci mengulas senyum.
"Bayi yang mbak asuh namanya Arsen, usianya satu tahun."
"Wah, pasti lucu sekali ya, Mbak?"
"Iya. Tuan muda Arsen tampan sekali. Kulitnya putih, bola matanya kebiruan, dan rambutnya pirang."
"Ibunya Arsen kerja ya, Mbak? Kok cari babysitter?" tanya Murni.
"Ibunya tuan muda Arsen meninggal dunia sehari setelah melahirkan."
"Kasihan sekali Arsen. Masih kecil sudah tidak punya ibu," ucap Fitri.
"Sama seperti kita," sambung Murni.
"Adik-adik mbak kok jadi sedih begini? Selesaikan makannya. Setelah makan ikut mbak ke pasar. Kalian mau sepatu baru tidak?"
"Mauuu!" seru keduanya kompak.
Usai makan siang, Suci dan kedua adik perempuannya itu pun lalu menuju pasar.
Kejadian tak terduga dialaminya saat mereka hendak memasuki toko sepatu.
Di sana Suci mendengar obrolan antara pelayan toko dengan salah satu pelanggannya.
"Bapak cari sandal atau sepatu?" tanya pelayan toko.
"Sandal jepit saja. Sandal saya hilang kemarin."
"Memangnya ada pencuri sandal jepit?" Pelayan toko itu terkekeh.
"Saya yang menjatuhkannya sendiri, lalu yang sebelah lagi saya buang."
__ADS_1
"Astaga. Bukannya dicari, malah yang sebelah lagi ikut dibuang." Pelayan toko itu lagi-lagi terkekeh.
"Saya buru-buru."
Tiba-tiba pria itu mengamati penampilan pelayan toko yang mengenakan kaus pendek dan celana jeans ketat hingga dadanya yang berukuran cukup besar itu terlihat menonjol.
"Kamu sudah nikah belum?"
"Ehm … saya janda, Pak."
"Panggil saja mas Panji. Saya masih muda loh, belum menikah," rayunya.
Pak panji tak menyadari jika sedari tadi Suci menyimak obrolan mereka dari balik salah satu rak sepatu..
"Masa sih Mas."
"Kamu mau 'kan jadi pacar saya? Uang saya banyak loh," rayu pak Panji lagi.
Ia lantas mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu mengibaskannya di hadapan wajah pelayan toko.
"Buat saya saja ya, Mas, uangnya."
"Boleh, tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
Pak Panji lantas membisikkan sesuatu di telinga pelayan toko itu.
"Kamu mau kan? Sebentar saja di dalam ruang ganti."
"Ah! Mas Panji ini nakal!"
"Mau nggak? Kalau mau uang ini buat kamu semuanya."
Tanpa diduga, gadis itu mengiyakan ajakan pak Panji. Keduanya pun lantas masuk ke dalam sebuah ruang ganti.
Diam-diam Suci dan kedua adiknya meninggalkan toko itu lalu melapor pada petugas keamanan pasar. Sementara ia sengaja meminta Murni dan Fitri untuk memasuki toko sepatu lain.
"Permisi, Pak. Saya ingin melapor. Di dalem toko sebelah sana ada dua orang bukan suami istri yang sedang berbuat me*um di dalam ruang ganti," ucap Suci.
Petugas keamanan itu pun lantas mengikuti Suci masuk ke dalam toko itu dan langsung menghampiri ruang ganti.
"Keluar kalian! Pasangan me*um!" teriak petugas keamanan.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1