Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 71


__ADS_3

"Ayo, masuk." Ray mengulangi ucapannya.


Suci tahu, sebagai pasangan yang telah menikah, sudah seharusnya dirinya dan Ray tidur di dalam kamar yang sama dan di atas ranjang yang sama. Tapi yang jadi masalah apakah dia benar-benar sudsh siap untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri?


Suci melangkah perlahan mendekati ranjang berukuran king itu lalu duduk di atasnya.


"Tu-Tu-Tuan mau apa?" tanyanya saat mendapati Ray membuka kancing kemejanya.


"Tentu saja saya mau melepas kemeja ini. Sudah seharian aku memakainya."


Ray melepaskan satu persatu kancing bajunya lalu memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Jantung Suci semakin berdegup kencang ketika untuk pertama kalinya memandang dada bidang Ray. Pria yang kini telah menjadi pendamping hidupnya.


Suci memilih menutup matanya saat Ray mulai melepas ikat pinggang nya. Ia berpikir saat membuka mata nanti suaminya susah dalam keadaan bertelanjang bulat. Namun ia salah.


Ray melepaskan pakaiannya untuk menggantinya dengan piyama.


"Kamu tidak usah takut begitu, ayo kita tidur." Ray membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu menarik selimutnya.


"Selamat malam," ucapnya. Dia lantas mematikan lampu kamar kemudian menggantinya dengan lampu meja.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ray yang memang sudah begitu lelah dan mengantuk itu untuk terlelap.


Di antara temaram lampu meja itu tiba-tiba Suci mengamati wajah tampan Ray.


Rayyan yang di matanya begitu dingin, siapa sangka akan menjadi suaminya.


Suci mendekatkan jari-jari tangannya di bagian wajah Ray. Di saat bersamaan Ray membuka matanya. Suci yang hanya duduk di tepi ranjang itu pun tersentak kaget. Alhasil dia pun jatuh terjengkang dari atas ranjang.


"Aww!" pekiknya seraya memegangi bagian pinggangnya.


"Astaga. Bagaimana ceritanya kamu bisa jatuh dari atas ranjang?"


Ray mengangkat tubuh Suci lalu membantunya duduk kembali di atas ranjang.


"Bagian mana yang sakit?" tanyanya.


"Pinggangku."


"Apa saya perlu membangunkan mbok Asih untuk memijitmu?"


"Tidak perlu, Tuan. Pinggangku hanya sedikit pegal. Setelah bangun tidur besok pagi pasti sudah baikan."


"Ya sudah kalau begitu."


Ray menumpuk dua buah bantal lalu membantu Suci berbaring.


"Istirahat lah," ucapnya sebelum berbaring kembali di sampingnya.


"Selamat malam, suamiku," lirih Suci.


Tiba-tiba rasa kantuk menyerangnya. Perlahan matanya mulai terasa berat hingga akhirnya dia pun terlelap.


Keesokan harinya.


Suci terbangun lantaran suara Arsen yang memanggilnya dari depan pintu kamarnya.


Menoleh di sisi tempat tidurnya, namun ia tak menemukan Ray di sana.


"Apa tuan Ray terbiasa bangun sepagi ini?" gumamnya.


"Ibu," panggil Arsen.


Suci beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju pintu.


"Eh, kamu sudah bangun, Sayang."


"Ibu, ayo kita jogging."


"Jogging?"


"Iya, Bu. Kita jalan-jalan pagi di taman kota."

__ADS_1


"Kita shalat subuh dulu yuk," ucap Suci.


Bocah laki-laki itu mengangguk setuju.


Setelah menunaikan shalat Subuh, keduanya pun meninggalkan kamar dan berjalan menuju teras rumah.


"Kalian sudah siap?" tanya Ray.


"Tu-Tu-Tuan Ray? Saya pikir Tuan kemana."


"Bagaimana pinggangmu?"


"Pinggang?"


"Bukankah semalam kamu terjatuh dari atas tempat tidur?"


"Ah, sudah tidak terasa sakitnya."


"Bagaimana Ibu bisa jatuh dari atas tempat tidur?" tanya Arsen dengan mata polosnya.


"Ehm … ibu kurang hati-hati."


"Ya sudah, mari kita berangkat."


Suci dan baru saja beranjak dari teras ketika tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Suci!"


"Siska?"


"Kalian mau jogging ya? Aku ikut ya."


"Bukankah kamu harus membantu mbok Asih memasak?" tanya Ray.


"Ehm … barusan aku sudah bilang mbok Asih, katanya dia bisa kok masak sendiri."


"Bagaimana dengan pekerjaan yang lain?"


Ray mulai berlari kecil meninggalkan halaman rumahnya, di belakangnya Suci, Arsen, dan Siska mengekor.


Sepuluh menit kemudian mereka tiba di taman kota. Ray pun memilih beristirahat di sebuah bangku.


"Astaga. Aku lupa membawa air minum," ucapnya.


Gayung bersambut. Niatan Siska yang ingin mengambil perhatian Ray pun mendapatkan jalan.


"Tuan Ray mau minum? Saya membawa air minum kok. Karena saya tahu kita akan membutuhkannya saat jogging."


"Ehm … Suci. Apa kamu membawa air minum?"


"Bawa, Tuan."


Suci pun lalu menyodorkan sebotol air mineral untuk suaminya itu.


"Kalu saja si Suci lupa membawa air minum, pasti tuan Ray akan berterima kasih padaku," gumam Siska.


"Ibu, kita ke sana yuk," ucap Arsen.


"Siska, kamu mau ikut nggak?" tanya Suci.


"Kalau aku tetap di sini aku bisa berduaan dengan tuan Ray," batin Siska.


"Siska, kamu mau ikut ke sana, Nggak?" Suci mengulangi pertanyaannya.


"Ah, tiba-tiba kakiku pegal. Aku istirahat di sini saja."


"Ayah, kami ke sana dulu ya," ucap Arsen.


"Hati-hati."


Suci dan Arsen pun lantas berlalu dari hadapan Ray dan Siska.

__ADS_1


"Udaranya segar ya, Tuan." Siska memulai obrolan.


"Itulah alasan mengapa saya memilih jogging di pagi hari," ucap Ray. Pandangannya tak beralih dari Suci dan Arsen yang tengah berlarian di tengah taaman yang masih lengang.


"Ehm … Tuan tahu 'bukan? Seperti apa Suci. Dia gadis tomboi yang tidak pandai berdandan. Mengapa Tuan menikahinya?"


Ray mengulas senyum tipis.


"Mungkin dia memang sedikit tomboi, tapi kamu tahu, saat berdandan, dia akan terlihat seperti seorang puteri raja. Cantik, bahkan begitu cantik. Sampai-sampai saya nyaris tak mengenalinya."


"Hufht! Kenapa dia malah dipuji-puji begini sih!" gerutu Siska.


"Tuan Ray seorang pengusaha sukses, memangnya tidak malu memiliki istri gadis kampung seperti Suci? Tuan 'kan bisa menikahi perempuan yang berpendidikan."


"Kenapa harus malu? Meskipun berasal dari kampung, di mata saya Suci memiliki kepribadian yang elegan yang mungkin saja tidak dimiliki gadis kota. Dan satu lagi yang penting, Arsen begitu dekat dengannya. Dia sangat menyayangi mantan pengasuhnya itu."


"Astaga. Aku menyesal mengajukan pertanyaan itu," gumam Siska.


"Ngomong-ngomong saya pernah kuliah loh."


Siska belum menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba Arsen menghampirinya.


"Ayah, kaki ibu keseleo."


"Apa?! Di mana ibumu sekarang?"


"Di sana." Arsen mengacungkan jari telunjuknya ke arah Suci yang tengah terduduk di atas rerumputan.


"Syukurin!" umpat Siska.


Ray beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menghampiri Suci. Arsen dan Suci mengikuti di belakangnya.


"Kenapa kamu bisa keseleo?" tanyanya.


"Ayo marahi dia," batin Siska.


"Tadi ada dahan pohon yang tiba-tiba patah dan hampir saja menimpaku. Ibu mendorongku, tapi kakinya malah keseleo." Arsen mengacungkan jari telunjuknya ke arah dahan pohon yang berada tidak jauh dari tempat duduk Suci.


"Astaga. Apa kakimu baik-baik saja?"


"Tidak apa kok, Tuan. Saya masih bisa jalan."


Meski kesakitan pada bagian kakinya, Suci memaksakan diri untuk beranjak dari atas rerumputan. Namun, tubuhnya justru oleng dan hampir saja terjatuh.


"Ayo naik ke punggungku."


"A-a-pa?"


"Kakimu sedang sakit 'bukan? Kamu tidak mungkin pulang dengan berjalan kaki."


"Ah, ti-ti-tidak perlu. Saya masih bisa berjalan kok."


"Kamu yakin?"


"Iya. Saya bisa berjalan pelan-pelan."


"Aww!" pekik Siska tiba-tiba.


"Kamu kenapa?" tanya Ray.


"Kepalaku sakit."


"Lantas?"


"Aku tidak bisa berjalan kaki sampai ke rumah."


"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi pak Bondan untuk menjemputmu."


"Hufht! Susah sekali mengambil perhatian tuan tampan ini," batin Siska.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2