
Satu persatu siswa didampingi orangtuanya tampil di atas panggung. Hingga tiba lah giliran Arsen dan Suci untuk tampil di atas panggung.
"Ibu, aku takut," ucap Arsen sesaat setelah pembawa acara memanggil nama mereka.
Suci mengulas senyum lalu menggenggam tangan putera sambungnya itu.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sayang. Kamu pasti bisa. Ada ibu di sini," ucapnya. Bocah laki-laki itu pun akhirnya mengangguk mantap.
Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya naik ke atas panggung. Jika boleh jujur ini adalah kali pertama dirinya tampil di hadapan umum. Malu, dan cemas, itu sudah pasti. Namun demi Arsen dia harus melawan perasaan itu.
"Selamat pagi semuanya, kami akan membacakan sebuah puisi yang berjudul
Cinta tanpa tapi," ucap Suci yang kemudian disambut riuh tepuk tangan.
Cinta … satu kata sejuta makna
Kekuatannya yang luar biasa bisa merubah kebencian menjadi kasih
Suci dan Arsen bergantian membaca baris demi baris puisi yang ditulis Ray itu. Hingga sampailah di baris terakhir yang seharusnya menjadi giliran Arsen. Yakni sebuah kalimat dalam bahasa Inggris.
"Because love … because love … ehm …"
Arsen tampak kebingungan lantaran dia tiba-tiba lupa dengan kalimat terakhir itu sementara Suci yang berdiri di dekatnya sudah harap-harap cemas.
"Because love … because love .. ehm …"
Arsen masih berusaha mengingat kalimat di bait terakhir puisi yang dibacakannya itu namun dia benar-benar gagal hingga suatu ketika seseorang melalui muncul dan mengucapkan kalimat terakhir itu.
"Because love does not need a reason."
Detik kemudian ruangan itu pun dipenuhi riuh tepuk tangan dari para hadirin.
"Ayah!" Arsen menyambut kedatangan Ray lalu menghambur ke dalam pelukannya.
"Puisi yang luar biasa. Terima kasih, Arsen beserta ayah dan bunda," ucap pembawa acara.
Setelah memberikan salam penghormatan pada para hadirin, ketiganya pun lantas turun dari panggung.
"Tadi kamu lupa ya dengan kalimat terakhir nya?" tanya Rayyan sesaat setelah mereka duduk di bangku.
"I-i-iya, aku gugup sekali. Untung Ayah datang. Kalau tidak aku bisa menangis di atas panggung."
"Astaga. Masa anak laki-laki menangis sih." Ray mengacak rambut Arsen.
"Mas sudah jadi bertemu pak Aldrick?" tanya Suci.
"Ya. Beliau akan menanamkan investasi di perusahaanku dengan jumlah besar."
"Alhamdulillah … rezeki anak Sholeh," ujar Suci.
"Ini berkat do'a kamu juga, istriku."
Satu jam kemudian acara pentas seni pun selesai.
"Ehm … Mas. Mas mau nggak nganterin aku?"
"Kemana?"
"Ke rumah teman lamaku."
"Siapa? Perempuan 'kan?"
"Laki-laki. Tentu saja perempuan."
"Boleh. Di mana rumahnya?"
"Di belakang pasar. Kalau dari sini mungkin setengah jam perjalanan saja."
"Boleh."
"Aku kirim pesan buat Davin dulu biar nggak jemput ke sini. Kasihan kalau nanti dia kebingungan." Suci mengambil ponselnya lalu mengirim pesan untuk sopir pribadi Arsen itu.
Ketiganya meninggalkan aula lalu menuju halaman sekolah. Di saat itulah tanpa sengaja Ray bertabrakan dengan seorang perempuan yang terlihat kesusahan berjalan.
"Maaf, saya tidak sengaja."
__ADS_1
"Kaki saya sedang sakit, malah ditabrak!" gerutunya. Namun beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah panik saat tahu jika pria yang ditabraknya itu adalah Rayyan.
"Pak Ray."
"Ibu Dania."
"Ibu yang tadi itu kan?" tanya Suci.
"Ayah, ibu ini tadi yang menghina ibu di depan orang-orang," jelas Arsen.
"Menghina?"
"Iya, Yah. Ibu ini bilang jika ibu perempuan kampung dan tidak pantas menjadi istri Ayah."
"Apa benar begitu, Bu Dania?" cecar Rayyan.
"Ehm … saya-saya, … minta maaf, Pak Ray."
"Kenapa anda minta maaf pada saya? Minta maaf lah pada istri saya."
"Ehm … Bu Suci, saya minta atas sikap saya tadi."
Suci mengulas senyum.
"Sudahlah, Bu. Lupakan saja. Semoga Ibu bisa lebih menghargai orang lain. Jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja."
"Pak Ray beruntung memiliki istri sebaik bu Suci," ujar bu Dania.
"Ibu dan Yoga pulang naik taksi ya?" tanya Ray.
"Ah, tidak, Pak. Saya diantar sopir pribadi keluarga saya. Saya sudah menelponnya, mungkin sebentar lagi dia datang."
"Oh, begitu."
Beberapa saat kemudian seseorang menghampiri mereka.
"Kaki saya sakit, tolong bantu saya ke mobil," titah bu Dania.
Tiba-tiba Ray mengamati wajah pria itu.
"Pak Sean?"
"Rayyan?"
Ya. Sopir pribadi bu Dania ternyata Sean, suami Sofia.
"Loh, kalian sudah saling mengenal?"
"Ehm … saya-saya, …"
"Pak Sean ini adalah … "
"Saya pernah bekerja di rumah pak Rayyan, Bu."
"Oh, begitu. Ya sudah, kami permisi dulu, selamat siang." Bu Dania bersama Yoga dan Sean pun lantas meninggalkan tempat itu.
"Kenapa dia mengaku begitu?" tanya Suci pada Ray.
"Mana mungkin dia mengaku jika dirinya adalah orang yang pernah berbuat jahat pada kita."
"Ibu … aku lapar," rengek Arsen.
"Oh ya, ini sudah jam makan siang. Kita makan di luar saja ya. Ibu mau ke rumah kawan ibu."
"Aku mau makan bakso. Boleh kan, Yah?"
"Ehm … kita makan di cafe saja ya," bujuk Ray.
"Tapi, aku mau makan bakso."
"Sesekali nggak apa-apa Mas, Arsen makan bakso. Kita cari kios yang bersih," ucap Suci.
"Karena ibumu yang minta, boleh deh."
"Hore! Makan bakso yang besar itu ya, Yah?"
__ADS_1
"Bakso besar?"
"Iya, bakso yang ukurannya satu mangkuk."
"Memangnya kamu mampu menghabiskan bakso sebesar itu?"
"Kalau nggak habis Ayah yang habisin." Arsen terkekeh.
"Mana bisa begitu. Kamu yang minta, jadi harus memakannya sampai habis."
"Ya sudah, ayo kita ke warung bakso," ajak Suci.
Ketiganya pun lantas masuk ke dalam mobil untuk kemudian menuju sebuah warung bakso.
"Bakso nya tiga porsi, dan es jeruk tiga gelas," ucap Ray pada pemilik warung.
"Baik, Pak. Mohon ditunggu sebentar. Saya akan segera menyiapkan pesanan Bapak.
Ray beserta isti dan anak laki-lakinya itu pun lalu memilih menempati sebuah meja.
Tidak lama kemudian seorang laki-laki muncul dari arah dalam dengan membawa setumpuk mangkuk bersih yang baru selesai dicuci.
"Kamu antarkan pesanan ini ke meja nomor 4." Pemilik warung menyodorkan nampan besar berisi tiga mangkuk bakso dan tiga gelas es jeruk pada laki-laki tersebut. Ia pun lantas membawanya ke meja Suci.
"Hanafi? Kamu Hanafi 'kan?" tanya Suci.
Laki-laki itu pun lantas mengamati wajah Suci. Meskipun sudah cukup lama tidak bertemu dan penampilan Suci sudah berubah, ia masih bisa mengenalinya.
"Astaga! Kamu Suci 'kan?"
"Aku pikir kamu sudah lupa. Oh ya, kamu bekerja di warung ini ya?"
"Ya. Kalau pagi aku bekerja sebagai tukang parkir di kantor pos dan kalau siang sampai sore aku bekerja di sini," papar Hanafi.
"Kamu pekerja keras."
"Begitu lah. Aku sedang membutuhkan banyak uang. Bulan ini istriku melahirkan."
"Alhamdulillah, kalau kamu sudah menikah."
Tiba-tiba Hanafi mengamati penampilan kawan lamanya itu.
"Penampilanmu sekarang sudah banyak berubah. Aku nyaris tidak mengenalimu. Oh ya, kamu masih bekerja sebagai pengasuh di rumah itu?"
"Ya. Sekarang aku merawat ayahnya juga."
"Apa maksudmu?" Hanafi mengerutkan keningnya.
"Ehm … aku-aku."
"Saya sudah menikahi Suci," timpal Ray.
"A-a-pa? Menikah?"
"Ya, kami sudah menikah dan resmi' menjadi pasangan suami-istri."
"Nasibmu bagus, Suci. Kamu mendapatkan jodoh pria tampan dan kaya. Tidak sepertiku yang dari dulu begini-begini saja," batin Hanafi.
"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Suci.
"Masih di tempat kost lamaku. Sebenarnya tempat itulah terlalu sempit. Apalagi sebentar lagi aku memiliki bayi. Aku ingin sekali pindah ke rumah kontrakan.yang lebih besar, tapi aku belum memiliki cukup uang untuk pindah dari tempat kost lamaku."
"Semoga suatu saat nanti kamu dan keluargamu bisa memiliki rumah sendiri."
"Sepertinya itu permintaan yang mustahil terwujud. Aku tidak mungkin memiliki rumah di kota ini."
"Jangan bicara begitu. Tidak ada yang tidak mungkin selagi kamu masih mau berusaha," ujar Suci.
"Ah, silahkan nikmati bakso nya selagi hangat." Hanafi beranjak dari meja itu lalu kembali ke bagian depan warung.
"Kamu kenal dengan perempuan itu?" tanya pemilik warung pada Hanafi.
"Iya, Pak. Perempuan itu adalah kawan lama saya."
"Oh, begitu. Saya kira dia mantan pacarmu." Pria paruh baya itu terkekeh.
__ADS_1
"Suci … seandainya kamu tahu, aku perlu waktu bertahun-tahun untuk melupakanmu hingga akhirnya aku bisa membuka kembali hatiku untuk perempuan lain. Di saat aku benar-benar sudah melupakanmu, kenapa Tuhan mempertemukan kita kembali?" batin Hanafi.
Bersambung …