Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 116


__ADS_3

Mendapati mobil polisi di di halaman tempat usahanya, tentu saja membuat sang bos besar keheranan. Demi menjawab rasa penasarannya, ia pun menaiki lantai dua bangunan tersebut. Raut wajahnya berubah panik saat melihat Eva, sang asisten pribadi kini tengah ditahan Ray.


"Astaga! Ada apa ini?!"


"Apa anda pemilik tempat usaha ini?" tanya salah satu polisi.


"Benar. Ini ada apa?"


"Kami mendapatkan laporan dari saudara Ray, jika tempat ini adalah tempat bisnis prostitusii."


"Itu tidak benar! Tempat ini hanya salon kecantikan biasa," bantah sang bos besar.


"Anda tidak usah mengelak. Kami mendengar perlakuan langsung dari beberapa karyawan dan pelanggaran di tempat ini, tempat ini bukanlah salon, melainkan sebuah panti pijat plus."


Tiba-tiba saja pria keturunan China itu membalikkan badannya.


"Anda jangan coba-coba melarikan diri dari tempat ini!" seru salah satu polisi.


Alih-alih menurut, pria itu justru merebut sepucuk senjata api dari tangan salah satu polisi lalu menyandera Suci.


"Biarkan saya lolos, maka perempuan ini selamat!" ancamnya seraya menodongkan senjata apa itu di bagian leher Suci.


Apa yang terjadi selanjutnya sungguh di liar dugaan. Tiba-tiba salah satu tangan Suci menyikut perut pria itu sementara kakinya menginjaknya kuat-kuat.


"Aw!" pekik pria itu hingga membuat senjata api yang berada di genggaman tangannya terjatuh di lantai. Anggota kepolisian yang lain dengan sigap membekuknya sebelum ia kembali berusaha kabur.

__ADS_1


Ray terlihat membisikkan sesuatu pada salah seorang polisi. Sebelum ia meminta pemilik tempat usaha itu untuk menuju halaman belakang bangunan. Di sana terlihat pak Husein tengah memotong rumput.


"Apa anda bisa menjelaskan dua gundukan tanah itu?" tanya salah satu polisi.


"Ehm … itu-itu hanya gundukan tanah biasa. Pak Husein akan menanaminya dengan pohon pisang. Benar begitu 'kan, Pak?"


"Ehm … sebenarnya-sebenarnya, …"


"Ada apa, Pak? Apa Bapak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Ray.


"Ehm … anu-anu, Pakm sebenarnya, …"


"Bapak tidak perlu takut. Bapak justru bisa ditangkap jika turut menghalangi penyelidikan.."


"Sebenarnya … gundukan itu adalah makam."


"Pak Husein jangan mengada-ada!" sentak sang big Boss.


"Diam! Dengarkan dulu penjelasan bapak Husein!" Polisi balas membentak. "Silahkan dilanjutkan, Pak," imbuhnya.


"Dua gundukan tanah itu sebenarnya adalah makam dua orang gadis yang meninggal dunia dengan cara mengakhiri hidupnya," jelas pak Husein.


"Mas … aku takut. Bagaimana jika ternyata jenazah itu adalah Murni." Raut wajah Suci tiba-tiba berubah panik.


"Apa Bapak tahu siapa jenazah yang dikuburkan di makam itu?"

__ADS_1


"Maaf, saya kurang tahu siapa namanya. Tapi yang jelas keduanya adalah dua orang gadis."


Dari pak Husein, pandangan Suci tertuju pada Eva.


"Kamu pasti tahu apa yang terjadi di tempat ini."


"Saya-saya tidak tahu, Bu."


"Jangan bohong! Cepat katakan siapa jenazah yang dikuburkan di makam ini!" desak Suci.


"Mereka berdua adalah dua karyawan baru yang berasal dari kota Y."


"Siapa namanya? Cepat katakan!" bentak Suci.


"Ehm … namanya ehm, …"


"Rita dan … satu orang lagi saya lupa namanya."


"Astaghfirullahaldzim! Rita?" Suci membekap mulutnya.


"Apa benar Rita adalah nama gadis yang sedang kalian cari?" tanya bu Ratna.


"Ya, Bu. Rita adalah nama kawan adik saya," jawab Suci.


"Coba anda ingin nama gadis yang lainnya."

__ADS_1


"Namanya … "


"Cepat katakan!" desak Suci. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.


__ADS_2