Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 31


__ADS_3

"Kalau mau berhenti tinggal berhenti saja. Tidak usah kebanyakan drama. Aku bisa mencari pengasuh yang jauh lebih baik daripada kamu!" ketus sang nyonya.


"Baik! Saya berhenti dari pekerjaan ini!" 


Suci menarik pintu lalu meninggalkan ruangan tersebut.


"Ci … ikut …" rengek Arsen.


"Kamu di sini ya, Sayang. Ada ayah, nenek, dan mbak Zola. Gara-gara Suci kamu sakit begini," ucap nyonya Sofia. Bukannya menurut bocah laki-laki itu justru mulai menangis.


"Ikut Ci! Ikut Ci!" Tangisnya kini terdengar lebih keras.


"Ray! Kamu mau kemana! Tetap di sini!" sentak nyonya Sofia saat mendapati Rayyan berlari keluar ruangan.


"Suci! Tunggu!" teriak Rayyan sembari mengejar Suci yang kini berlari menyusuri lorong rumah sakit.


Suci menghentikan sejenak langkahnya.


"Saya minta maaf, Tuan. Saya tidak bisa melanjutkan bekerja di rumah Tuan. Mengenai hutang saya, Tuan jangan khawatir, saya pasti akan membayarnya meskipun dengan cara mencicil."


"Dengar. Arsen menangisi kepergianmu. Apa kamu tega meninggalkannya?"


"Saya manusia biasa yang memiliki perasaan. Saya juga bisa tersinggung dan sakit hati jika seseorang menuduh saya yang bukan-bukan."


"Kamu tahu 'bukan? Bagaimana watak ibu angkatku itu. Dia memang begitu. Tapi kami harus ingat, aku yang membayarmu, jadi hanya aku yang berhak memecatmu, bukan ibu."


Suci diam dan merenungi ucapan Rayyan. Jika boleh jujur, ia tidak tega meninggalkan Arsen. Dia baru sadar bocah laki-laki tampan itu sudah membuatnya jatuh cinta.


Tiba-tiba Rayyan menatap lekat mata Suci.


"Kembalilah, demi Arsen," ucapnya.


Sementara dari ruang perawatan itu tangis Arsen belum juga mereda, bahkan terdengar semakin lantang.


"Apa aku perlu bersujud di kakimu?" 


Rayyan membungkukkan badannya hendak bersujud di Suci namun pengasuh itu menahannya.


"Jangan lakukan itu, Tuan. Baiklah, demi Arsen saya akan kembali," ucapnya.


"Terima kasih," ucap Rayyan. Sorot matanya terlihat berkaca-kaca.


Rayyan lantas berjalan menuju ruang perawatan Arsen, sementara Suci mengikuti di belakangnya.


"Ci! Ci!" teriak Arsen saat mendapati pengasuh kesayangannya itu telah kembali.


"Apa-apaan ini! Kenapa kamu kembali lagi ke sini? Bukankah tadi kamu bilang ingin berhenti dari pekerjaanmu sebagai pengasuh Arsen?" sungut sang nyonya.


"Aku yang menahan Suci pergi," ucap Rayyan.

__ADS_1


"Ibu benar-benar tidak habis pikir. Kenapa kamu selalu saja membela gadis kampung yang pembangkang dan suka melawan ini!'


"Semut pun akan menggigit apabila terinjak. Apalagi saya manusia yang punya hati dan perasaan," ujar Suci.


"Arsen begitu membutuhkan Suci. Ibu lihat sendiri 'bukan? Bagaimana Arsen menangis histeris saat Suci meninggalkannya tadi."


"Anak kecil wajar jika menangis. Nanti dia juga akan terbiasa. Memangnya apa bedanya dia dengan pengasuh yang lain?"


"Arsen adalah puteraku. Aku tahu apa yang terbaik untuknya, aku juga yang membayar Suci. Hanya aku yang berhak memecatnya."


"Kamu memang keras kepala! Jika suatu hari nanti gadis kampung ini membuatmu menyesal, jangan pernah menyalahkan ibu! Ayo, Zola. Kita tinggalkan tempat ini!"


Nyonya Sofia dan Zola pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Saya merasa tidak enak hati. Hanya karena mempertahankan saya agar tetap bekerja di sini, Tuan harus berdebat dengan nyonya," ucap Suci sesaat setelah sang nyonya dan Zola berlalu.


"Saya harap kamu bisa menjadi pengasuh Rayyan sampai dia benar-benar bisa mandiri," ucap Rayyan.


"Saya juga sadar, saya masih memiliki tanggungan hutang yang jumlahnya cukup besar. Setidaknya saya akan bertahan dengan pekerjaan saya hingga hutang saya lunas," ucap Suci.


Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba pintu terbuka. Rupanya dokter yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Selamat pagi, jagoan," sapanya pada Arsen.


"Selamat pagi, Dok," sahut Rayyan.


"Bagaimana keadaanmu hari ini, Nak?" Dokter berkacamata itu menempelkan punggung tangannya di kening Arsen kemudian mengusap lembut rambut pirangnya.


"Apa Arsen sudah diizinkan meninggalkan rumah sakit, Dok?" tanya Rayyan.


"Ya. Pagi ini juga dia bisa pulang."


"Tuan muda bisa pulang hari ini," ucap Suci yang ditanggapi bocah itu dengan senyum lebar.


"Ya sudah, kamu bereskan barang-barang Arsen, saya ke bagian administrasi dulu," ucap Rayyan. Suci mengangguk paham.


Suci baru saja hendak menggendong Arsen, ketika tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka.


"Semuanya sudah siap, Tu- …"


Suci salah, ternyata orang yang baru saja memasuki ruangan itu bukanlah Rayyan.


"Dok-Dok-ter Kinara?"


"Arsen, Sayang. Saya dengar kamu sakit ya? Bagian mana yang sakit? Maaf, saya baru datang karena kebetulan Minggu ini giliran saya shift pagi," ucap dokter yang kerap disapa dokter Nara itu.


"Tuan muda Arsen semalam panas tinggi, tapi Alhamdulillah pagi ini panas nya sudah turun. Dokter juga sudah mengizinkannya pulang," jelas Suci.


"Saya heran. Kenapa sejak diasuh kamu Arsen seringkali jatuh sakit. Sebenarnya kamu ini becus atau tidak mengasuhnya?" ketus dokter Nara.

__ADS_1


"Sebagai seorang dokter, seharusnya anda paham jika balita seusia tuan muda Arsen rentan mengalami demam. Bukankah demam bukan sesuatu yang berbahaya? Hal itu justru salah satu bentuk perlawanan tubuh pada serangan virus atau bakteri?"


"Sial! Pengasuh kampungan ini ternyata memang tidak sebodoh yang kupikir!" umpat sang dokter.


"Dokter Nara? Sejak kapan Dokter datang?" tanya Rayyan yang baru saja memasuki ruangan itu. 


"Ehm … belum lama, Ray. Maaf, aku baru sempat menjenguk Arsen, kebetulan Minggu ini giliranku shift pagi."


"Tidak masalah. Arsen hanya demam, hari ini juga dia sudah diperbolehkan pulang."


"Kenapa kamu masih saja mempertahankan pengasuh ini, Ray? Dia tidak bisa merawat dan mengasuh Arsen dengan baik."


Ray tersenyum tipis.


"Sepertinya wajar jika bayi seusia Arsen sakit demam. Aku juga tahu kedekatan Suci dan Arsen. Hanya ditinggal pulang kampung sehari saja Arsen rewel."


"Kenapa cuma sehari saja pulang kampung nya? Kenapa tidak selamanya?" batin dokter Nara.


"Ehm … aku sudah menyelesaikan administrasi. Sekarang juga aku akan mengajak Arsen pulang."


Rayyan mengulurkan kedua tangannya berniat menggendong Arsen, namun bocah laki-laki itu justru menggelengkan kepalanya.


"Ci … Ci …" 


"Oh, Arsen minta digendong mbak Suci?" tanyanya. Bocah itu menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, Arsen digendong mbak Suci saja," ucap Rayyan.


Suci pun lantas menggendong tubuh mungil itu.


"Saya tunggu di tempat parkir, Tuan," ucap Suci seraya berlalu dari hadapan keduanya.


"Ray, …" panggil dokter Kinara.


"Ya. Ada apa, Dokter?"


"Bukankah aku sudah bilang saat kita hanya berdua, panggil namaku saja," protesnya.


"Baiklah. Ada apa, Kinara?" 


"Apa kamu tidak merasa pengasuh itu mencoba menjauhkanmu dari Arsen?" tanya Kinara.


"Apa maksudmu?"


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2